20 October 2011

Sekolah Berjalan



Bus TransJakarta (atau yang sering salah dipersepsikan oleh sebagian besar warga Jakarta sebagai busway) bagi saya merupakan tempat pembelajaran yang sangat riil tentang kehidupan. Kendaraan umum ini seolah menjadi kaca display yang menampilkan berbagai jenis individu dengan keunikannya masing-masing. Singkatnya, segala macam sifat manusia bisa kita temukan selama menggunakan jasa transportasi satu ini.
Mulai dari ramainya gerombolan anak remaja dengan berbagai keceriaannya (jadi ingat dulu saya dan teman-teman saya pernah ditegur oleh penumpang lain dan supir bus saking berisiknya).
Egoisnya anak muda atau pria yang menikmati kenyamanan memperoleh tempat duduk dan tidak mau memberikan tempatnya bagi wanita, ibu hamil, atau manula.
Kemesraan pasangan sejoli di mana tangan sang pria tidak pernah lepas dari pasangannya untuk menjaga agar jangan sampai terpisah atau terjatuh.
Sampai dengan hal menggelikan yang mungkin tidak sengaja kita curi dengar dari obrolan orang lain.
Selain itu, saya juga bisa menikmati aktivitas yang dikerjakan penumpang lain. Mungkin aneh jika disebut menikmati. Tapi memang itulah yang biasanya saya lakukan. Mencermati, mengamati, menikmati.
Mulai dari remaja yang sibuk SMS-an, BBM-an, menulis status, atau mendengarkan lagu lewat earphone.
Orang yang larut dalam buku yang sedang dibacanya.
Pekerja yang berpakaian rapi dan sibuk dengan smartphone-nya.
Orang-orang yang saling berbincang, tertidur, mengamati jalan, or simply just do nothing.
That’s why bus TransJakarta (atau mungkin kendaraan umum lain) menjadi tempat yang tepat untuk mengamati karakter orang lain, menemukan sesuatu yang baru, atau bahkan untuk belajar tentang kehidupan.

Belajar? How can?
Dengan menggunakan transportasi umum, kita belajar untuk mengantri, menunggu giliran dengan tertib, menghargai orang lain, toleransi, simpati, dan banyak aspek penting dalam kehidupan lainnya.
Sekaligus membuat kita sadar kalau kita tidak hidup sendirian di dunia ini. Ada banyak orang dengan berbagai kepribadian dan sifat berbeda. Itulah sebabnya dibutuhkan rasa pengertian dan toleransi.
Karena kalau kita tidak memiliki hal tersebut, maka saat kaki kita tidak sengaja terinjak oleh orang lain, maka bisa berakhir di kantor polisi dan berbuntut panjang. Tidak sengaja tersenggol, terinjak, terdorong, dan lain sebagainya itu hal yang wajar. Prinsip saya, kalau tidak mau tersenggol, ya, jangan naik kendaraan umum. Naik kendaraan pribadi saja. Atau yang lebih ekstrim lagi, pakai baju berduri. Dijamin, tidak akan ada yang menyenggol karena sudah keburu luka-luka duluan.
Begitu pula dengan masalah memberikan bangku yang kita duduki kepada orang lain yang lebih membutuhkan. Wanita yang lebih tua, ibu dengan anak kecil apalagi yang sedang mengandung, manula, adalah pihak-pihak yang WAJIB kita berikan tempat duduk. Di luar itu, kalau jarak tempuh kita tidak terlalu jauh atau kita tidak sedang kelelahan, apa salahnya memberikan tempat duduk untuk orang lain, tanpa memikirkan untung-ruginya. Berdiri selama beberapa saat tidak akan membuat kaki kita patah, atau tulang kita remuk. Selagi masih diberi kesempatan untuk bisa berdiri, dengan tubuh yang sehat dan anggota badan yang lengkap, kenapa tidak kita coba syukuri?
Saat kebetulan naik bus TransJakarta, cobalah amati sekeliling kita. Pasti akan ada saja hal yang membuat sebal, membuat kita tertawa terbahak-bahak, bahkan mungkin menjadi sarana untuk instrospeksi diri.
Karena belajar tidak hanya bisa dilakukan di kelas. Setuju? Kita bisa belajar di mana saja, melalui setiap hal yang terjadi dalam hidup kita, mulai dari yang sederhana sampai yang paling kompleks sekalipun. Banyak jalan menuju Roma, banyak cara untuk belajar.
Picture : yustisi.com

18 October 2011

Go Slowly and See a Lot



“Your drama has a long way to go before it’s over. So don’t force yourself to go quickly. If you go slowly, you can see a lot more, in more detail, than the people who go quickly. If you ask me who would grow more between those two, I’d say it’s the one who goes slowly and sees a lot.” -Kang Oh Hyuk
Penggalan kalimat yang saya dapatkan ketika menonton serial Korea 'Dream High' ini melahirkan sebuah perenungan baru bagi saya. Pemikiran yang sangat unik. Kembali mengingatkan saya bahwa untuk meraih mimpi, kita tidak bisa memaksa diri untuk berlari tergesa-gesa. Banyak hal yang bisa didapatkan selama perjalanan mencapai mimpi. Hal berharga yang dapat dijadikan pelajaran. Proses yang menempa kita untuk kelak menghargai apa yang berhasil kita raih.
Picture : littlemissinvisible.tumblr.com

17 October 2011

SKS [Sistem Kebut SeJAM]



Kalau SKS yang satunya adalah Sistem Kebut Semalam, coba bayangkan kalau malam itu berubah menjadi jam. Itulah yang saya jalani selama masa SMA dan bahkan terbawa sampai kuliah. Saya tidak tahu apa ada orang lain yang mengalami hal serupa dengan saya, karena saya memang baru akan optimal belajar ketika berada dalam keadaan terdesak.
Biasanya saya akan datang lebih pagi ke sekolah saat ujian berlangsung, kemudian belajar dengan mendengarkan teman-teman saya yang lain belajar. Saya adalah tipe orang yang lebih bisa belajar dengan cara seperti itu ketimbang harus membaca kumpulan soal atau materi.
SKS (baik Semalam / Sejam) tentu saja lebih banyak berakhir dengan kekecewaan. Terkadang, selesai mengerjakan soal ujian, saya akan keluar ruangan dengan raut wajah bahagia karena otak saya masih fresh dalam menyimpan memori pelajaran, sehingga dapat menjawab soal-soal dengan baik. Tapi tentu saja hal tersebut terjadi ketika Dewi Fortuna sedang berpihak kepada saya. Jika sedang kurang beruntung, saya akan keluar dengan lemas dan kata-kata seperti ini yang biasanya terucap "Ah, coba gue belajar lebih lama!" maupun kata-kata lain yang intinya sama, penyesalan.

The conclusion is : SKS is NOT effective! Don't try this at home.
Lantas, kalau SKS tidak disarankan untuk dilakukan, apa yang harus dipersiapkan untuk menghadapi ujian?
1. Buat jadwal belajar sesuai dengan kemampuan kita. Maksudnya, kalau sudah berani membuat jadwal belajar selama dua jam, maka kita harus belajar selama dua jam, tanpa mendiskonnya menjadi satu jam. Discipline is the key to success!

2. Ciptakan suasana belajar yang kondusif. Untuk sementara, selama belajar, jauhkan diri kita dari handphone, internet, atau apapun yang bisa membuat pikiran kita bercabang.

3. Menyicil dari jauh-jauh hari. Dont be such a procrastinator! Dengan menunda-nunda waktu belajar, maka pada akhirnya bahan yang harus dipelajari menjadi menumpuk dan kita sudah terlanjur malas belajar.

4. Belajar bersama teman. Segala sesuatu yang dilakukan bersama teman pasti akan terasa lebih menyenangkan, termasuk belajar. Siapa tahu kita akan lebih memahami materi pelajaran kalau diajari oleh teman, karena menggunakan bahasa yang lebih simpledan akrab di telinga.
5. Buat target nilai. Dengan membuat target nilai, maka kita akan terpacu untuk mencapai nilai tersebut. Kalau perlu tuliskan nama saingan utama kita di kelas dalam hal pelajaran. Bukan berarti kita memusuhi mereka karena merasa tersaingi. Sebaliknya, justru kita bisa belajar dengan teman kita tersebut. Manfaatnya bukan hanya kita menjadi lebih pintar, tapi juga membuat teman kita lebih pintar, karena dengan mengajarkan kita, maka dia akan menjadi lebih mahir dalam materi tersebut.
6. Rileks dan teliti. Belajar sudah, berarti tinggal menunggu waktu mengerjakan ujian. Ingat, segala sesuatu yang dikerjakan dengan diliputi kepanikan pasti akan berakhir kacau. Jadi, rilekskan tubuh dan pikiran kita. Kalau cara belajar kita memang sudah benar, tidak ada alasan untuk takut dan panik lagi. Jangan lupa cek kembali pekerjaan kita, mulai dari hitung-hitungan (mafia + ekonomi), ataupun jawaban yang sudah kita tulis di lembar jawab.
#notetomyself Tidak hanya berbagi tips belajar yang benar. Mulai sekarang, saya harus mempraktekkan cara tersebut. Sudah cukup pengalaman UTS pertama saya di bangku kuliah yang tidak berakhir maksimal.
Picture : facebook.com

15 October 2011

Dunia yang Tak Lagi Polos



Kata orang, dunia anak-anak itu begitu polos. Tidak ada drama, tidak ada masalah. Tapi lihatlah apa yang terjadi dengan anak-anak di masa kini.
Jujur saja, saya kaget begitu mendengar cerita salah seorang teman tentang keponakannya yang masih balita. Singkatnya, teman saya itu tinggal bersama dengan kakaknya yang sudah berkeluarga. Kakaknya ini memiliki seorang anak perempuan, yang memang terkenal paling nakal di keluarganya. Setiap kali teman saya itu tidak mengikuti keinginannya, maka anak itu akan langsung berkata, “Kalau enggak mau, enggak usah tinggal di sini lagi.” Tidak hanya itu saja, dia bahkan berani memanggil teman saya dengan sebutan pembantu. Sungguh, kenyataan ini membuat saya tidak habis pikir sekaligus prihatin.
Kalau mau diceritakan, ada banyak tingkah anak kecil yang membuat saya meragukan pendapat yang tertulis di awal posting ini. Saya maklum kalau memang ada anak yang nakal. Tapi apakah perilaku tersebut masih masuk dalam kenakalan anak-anak pada umumnya?
Ke mana semua kepolosan mereka? Kalau sejak kecil saja watak dan cara berpikir seorang anak sudah sebegitu mengerikannya, mau jadi apa mereka kelak?
Apa yang menyebabkan mereka bisa bertingkah seperti itu?
Anak kecil pada umumnya meniru apa yang dilihat atau didengarnya dari berbagai sumber dalam kehidupan sehari-hari. Jadi, dapat disimpulkan entah mereka meniru dari orangtua dan orang-orang di sekeliling mereka, atau melalui media.
Itulah mengapa saya setuju dengan opini masyarakat bahwa media adalah sarana yang paling mempengaruhi tingkah laku seseorang. Seperti dua sisi mata uang, di satu sisi media memberikan dampak positif sebagai penyaluran informasi. Tapi di sisi lain, jika digunakan tidak pada kaedah sebenarnya, media dapat menjadi sesuatu yang sangat merugikan, bahkan merusak moral suatu bangsa.
Sayangnya, hal itulah yang terjadi di Indonesia dewasa ini. Coba saja jelajahi stasiun televisi di Indonesia. Kita bisa menemukan berbagai format dan model acara, mulai dari sinetron asli Indonesia, serial Asia (Korea dan Taiwan), film-film Hollywood, reality show, variety show, infotaiment, game show, dan masih banyak lagi. Tapi seiring berjalannya waktu, acara yang ditawarkan bisa dikatakan semakin tidak bermutu dan berkualitas.

Saya ingat, kalau dulu sewaktu masih kecil, saya bisa dengan mudah menemukan serial kartun di berbagai channel. Sekarang, hanya ada beberapa channel yang masih menayangkannya. Apakah anak kecil di Indonesia harus mengkonsumsi sinetron, reality show, maupun infotaiment yang jelas-jelas tidak mendukung perkembangan mental mereka?
Dari kecil sampai SD, saya bisa berada di depan televisi dari bangun tidur sampai tidur lagi. Semua acara televisi pernah saya tonton. Sekarang, melihat acara yang ada saja sudah membuat saya ingin cepat-cepat mematikan televisi.
Kalau dulu, sinetron ditayangkan seminggu sekali, dengan alur dan setting yang masih bisa diterima akal sehat. Lihat saja apa yang terjadi sekarang ini. Sinetron ditayangkan setiap hari, sehingga tidak ada lagi rasa penasaran menanti episode selanjutnya, yang ada malah menciptakan rasa bosan. Belum lagi alur dan setting yang tidak bisa diterima nalar. Kalau sedang musim pemeran utama mengalami amnesia, maka beberapa sinetron akan menampilkan scene serupa. Bahkan karakter antagonis dibuat tak ubahnya seperti titisan iblis saking kejamnya. Saya rasa, di kehidupan asli saja mungkin tidak ada yang separah dengan yang digambarkan di dalam sinetron. Apakah masuk akal, orang baru bangun tidur sudah memakai make up tebal? Setting yang digunakan kebanyakan rumah-rumah mewah, atau ada juga yang menggunakan efek elang terbang, siluman berbagai wujud, dan lain sebagainya. Karakter yang diceritakan miskin dalam sebuah cerita saja bisa memakai tas bermerk. Seperti hanya menjual mimpi dan bualan belaka.

Cukup tentang sinetron, sekarang coba kita lihat reality show yang ada. Bahkan dalam acara kompetisi memasak saja, terdapat drama yang jelas terlihat terlalu mengada-ada. Sekalian saja diganti formatnya menjadi sinetron, jangan lagi kompetisi memasak.
Acara menghipnotis orang, di mana pasangan saling membuka aib masing-masing, yang kemudian dijadikan bahan tertawaan. Apa itu pantas?
Infotaiment yang hadir bahkan menandingi acara berita, dengan pemberitaan yang dalam satu hari bisa saja sama semua.

Acara-acara di mana host-nya akan mengunjungi tempat-tempat yang terkenal angker, kemudian tiba-tiba tubuhnya kejang-kejang karena kesurupan.
Sungguh menyedihkan.
Tidak heran kalau anak kecil sekarang sudah bisa bertengkar karena memperebutkan cewek atau cowok. Tidak heran kalau anak kecil sekarang bisa mengikuti gaya bicara hostacara gosip dengan mata melotot dan suara yang sengaja diseram-seramkan. Tidak heran kalau anak sekarang bisa menjadi semengerikan tokoh antagonis dalam sinetron, lengkap dengan kalimat-kalimat yang tidak selayaknya diucapkan oleh mereka.
Kalau dunia pertelevisian di Indonesia tidak kunjung diperbaiki ke arah yang lebih baik, saya sudah tidak tahu lagi akan jadi seperti apa generasi muda bangsa ini. Bagaimana mereka bisa maju, kalau apa yang mereka konsumsi sehari-hari adalah tayangan tidak mendidik seperti yang sudah disebutkan sebelumnya?
Picture : simply-fap.tumblr.com

02 October 2011

Local Tradition, National Pride



Hari ini adalah Hari Batik Nasional. Saatnya kita sebagai bangsa Indonesia, untuk semakin bangga terhadap batik. Enggak perlu berlebihan sampai belajar membatik segala. Dengan memakai batik, baik sebagai outfit sehari-hari, atau ke event-event khusus saja, sudah berarti kita bangga dan berkontribusi dalam melestarikan batik.

Almamater SMA saya mewajibkan para siswanya mengenakan batik (motif dan model terserah) setiap hari Jumat. Saya sangat senang dengan ketentuan yang baru berjalan sejak kurang-lebih dua tahun tersebut. Tapi saya ingat betul, ada salah seorang kakak kelas yang begitu mendengar peraturan baru ini dari kepala sekolah, langsung memposting kalimat kurang-lebih seperti ini dalam akun twitter-nya: Males banget sih, harus pakai batik segala. Kampungan!

Bayangkan, kata-kata seperti itu ditulis oleh seorang warga negara Indonesia, yang bahkan masih tinggal dan hidup di Indonesia! Di saat orang-orang dari berbagai negara mengagumi batik, manusia yang berasal dari tempat asal batik malah menyebutkan bahwa memakai batik itu kampungan. Sungguh keterlaluan.


Supaya tidak ada lagi orang-orang seperti itu di Indonesia, tugas kitalah untuk menjadi 'duta' bagi batik. Batik adalah warisan budaya yang sangat membanggakan. Dengan proses pengerjaannya yang rumit dan membutuhkan nilai seni yang tinggi, sayang sekali kalau sampai tidak dilestarikan.



Pictures : google | private collection

Video courtesy of Youtube

26 September 2011

Energi Positif di Hari Senin



Pagi tadi, saya tidak bisa meneriakkan kata “I love Monday”, karena memang hari ini bukanlah Senin ideal bagi saya. Tapi pada akhirnya, saya bisa meneriakkan kata-kata tersebut.

Be positive, that’s the key.

Seperti yang sudah saya tuliskan di bagian awal, hari ini bukanlah Senin ideal bagi saya. Dimulai dengan terjebak dalam kemacetan Jakarta saat berangkat kuliah. Kalau biasanya, terjebak macet di hari Senin masih bisa saya tanggapi biasa-biasa saja (karena dosen Pendidikan Kewarganegaraan, mata kuliah pertama, memberi dispensasi waktu selama setengah jam), tidak demikian pagi ini. Saya harus melakukan presentasi. Terang saja hal tersebut membuat saya gelisah dan panik.

Tapi kemudian, saat tiba di kelas setelah berjalan-semi-berlari dari tempat yang jaraknya lumayan jauh dari gedung kampus, saya bisa menarik napas lega karena dosen saya rupanya juga belum datang. Bahkan saya masih bisa santai sejenak sebelum kemudian melakukan presentasi.

Next, the second case. Beberapa waktu yang lalu, saya sangat bersemangat untuk mengikuti seleksi perekrutan anggota BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa). Namun niat tersebut kandas terbentur berbagai pertimbangan.

Hari ini, beberapa orang teman sekelas saya yang telah resmi menjadi anggota BEM, mayoritas tidak hadir karena sakit. Dua orang hadir dengan wajah merah menyaingi kepiting. Dalam hati, saya kembali bersyukur. Bukan karena saya tidak siap dengan berbagai tempaan fisik (mengikuti paskibra sewaktu SMA menempa saya menjadi sosok yang ‘tahan banting’). Tapi karena saya mendapati, bahwa pilihan saya tepat.

Sebelum memutuskan untuk tidak ikut seleksi, saya sempat berdoa meminta petunjuk apakah keputusan saya benar atau tidak. Sekarang saya sadar, saya mungkin kehilangan kesempatan untuk mencicipi berbagai pengalaman baru, tapi saya mempunyai lebih banyak waktu untuk belajar dan istirahat. Jujur, sampai saat ini saya masih belum bisa beradaptasi cukup baik dengan rutinitas kuliah. Baru minggu awal saja, saya sudah langsung jatuh sakit. Saya yakin, Tuhan akan memberikan pengalaman berharga bagi saya lewat jalan lain.

Berlanjut ke pengalaman ketiga. Hari ini saya memutuskan untuk pulang sendiri menggunakan Bus TransJakarta. Sejak awal kuliah, saya terlanjur menjadi anak manja karena selalu diantar-jemput. Sekaranglah pertama kalinya saya pulang sendiri dengan transportasi umum.

Awalnya saya mengeluh capek, panas, belum lagi harus berdesakan dan tidak mendapatkan tempat duduk. Tapi kemudian saya sadar, seharusnya saya bersyukur, karena diberikan kesempatan untuk menjadi lebih mandiri, juga hitung-hitung berolahraga dan membakar kalori. Berapa banyak orang di luar sana yang harus berjalan berkilo-kilo meter jauhnya karena tidak memiliki uang untuk membayar karcis bus? Berapa banyak orang di luar sana yang tidak bisa lagi berjalan?

Dari pengalaman dalam satu hari saja, saya bisa menemukan banyak hal yang mampu disyukuri dan dianggap sebagai sebuah kebahagiaan, di balik segala hal yang pada saat tersebut saya keluhkan sebagai sesuatu yang menyebalkan.

Sesuatu yang seringkali luput dari perhatian kita, karena kita terlanjur dikuasai oleh pemikiran untuk selalu mengeluh, mengeluh, dan mengeluh. Kenapa tidak kita ubah cara pandang kita terhadap sesuatu?

Dengan selalu berpikir positif, maka hidup kita akan terasa semakin damai dan menyenangkan. Saat sudah siap meledak marah atau bahkan memaki karena suatu hal yang kita anggap menyebalkan, coba diam sejenak. Pikirkan hal tersebut dari sisi positifnya, maka kita akan menemukan hal baik yang mampu mencegah kita untuk memaki dan mengeluh.

Picture : flickr.com

21 September 2011

Pulang ke 'Rumah'



Hampir sebulan ini, saya merasa ada sesuatu yang hilang.
Saya merasa seperti robot. Bangun tidur, kuliah (kadang benar-benar belajar, kadang menjadi tubuh tanpa raga dan pikiran di dalam kelas), pulang, tidur. Begitu terus selama berhari-hari. Segala hal yang saya lakukan seperti tidak memiliki arti. Waktu terus berjalan, saya merasa semakin tak karuan.
Saya sempat bertanya kepada diri saya sendiri ‘Apa saya sudah melupakan tujuan hidup saya?’ dan ‘Ke mana rencana-rencana yang selama ini sudah terpetakan dengan begitu jelas dalam pikiran saya?’.
Kalau dulu saya menulis hampir setiap hari, dengan perasaan gembira dan bersemangat. Sekarang saya hanya menulis kurang dari satu jam, itupun karena tuntutan pekerjaan dan status. Menulis, hal yang selama ini menjadi bagian hidup saya, perlahan mulai hilang begitu saja. Saya menulis karena kewajiban, bukan lagi karena saya suka dan saya mau. Begitu melihat layar putih microsoft word saja tangan saya sudah kaku. Pikiran pertama yang mencuat adalah rasa tidak niat yang mendominasi.
Saya takut, akan ada hari di mana saya tidak lagi merasa menulis adalah comfort zonesaya. Saya tidak mau itu terjadi. Saya tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
Waktu, tugas kuliah, inspirasi, dan berbagai hal lain menjadi kambing hitam. Semuanya menjadi semacam pembenaran atas tindakan ‘gila’ saya yang melarikan diri dari rumah. Ya, saya mengumpamakannya dengan kabur dari rumah.
‘Rumah’ adalah tempat di mana kita merasa nyaman. Rumah yang saya maksudkan di sini bukan rumah dalam bentuk fisik. Keluarga dan sahabat, mereka lah 'rumah' kita. Tidak peduli di manapun, asalkan bersama mereka, kita merasa seperti kembali ke 'rumah', karena kita merasa nyaman. Begitu pula dengan menulis. Bagi saya, menulis adalah 'rumah', karena saya merasa nyaman ketika menulis.
Tapi kemudian, sebulan ini, saya malah melakukan aksi melarikan diri dari 'rumah'. Saya lari sejauh-jauhnya, sekencang-kencangnya dari 'rumah' saya. Meninggalkan semua kenyamanan, untuk pergi entah ke mana. Ke tempat yang sama sekali tidak jelas. Seperti melayang. Saya hampa, saya tersesat.
Sampai kemudian sesuatu menyadarkan saya. Seperti marka jalan, sesuatu ini memberi peringatan bahwa saya sudah berjalan terlalu jauh. Bahwa saya berjalan semakin dekat kepada jurang kehancuran.
Hanya orang nekad (atau bodoh?) yang memilih sesuatu yang belum jelas, padahal segala sesuatu yang baik sudah ada dalam genggamannya.
Tiba saatnya bagi saya untuk berhenti berlari. Sudah cukup waktu yang saya sia-siakan untuk sesuatu yang tidak jelas. Saatnya saya kembali ke jalur yang benar, jalur yang akan mengantarkan saya kembali ke 'rumah' saya.
Kenapa dulu saya bisa memiliki banyak ide cerita, tapi sekarang tidak? Kenapa dulu, sesibuk apapun saya, seletih apapun saya, saya masih bisa menghasilkan paling tidak suatu karya dalam bentuk tulisan? Apa bedanya dengan sekarang? Inspirasi bisa dicari dari segala sesuatu yang ada di sekeliling. Masih ada dua puluh empat jam dalam sehari.
NIAT dan KEMAUAN. Itu kuncinya. Sejenius apapun seseorang, dia tidak akan mungkin bisa berhasil tanpa ada kedua hal tersebut. Segala penemuan manusia di dunia ini terjadi karena ada NIAT dan KEMAUAN. Dua hal krusial tersebutlah yang bisa mengubah hidup seseorang, bahkan hidup jutaan orang di luar sana.
Saatnya saya menghentikan pelarian ini sekarang juga. Saatnya saya mencari penunjuk jalan bernama NIAT dan KEMAUAN. Saatnya saya kembali menjadi 'manusia', bukan lagi robot bernapas. Saatnya saya pulang ke 'rumah'...
Picture : odnoklassniki.ru

14 September 2011

Officially 18th





Rasanya baru kemarin saya merayakan ulangtahun yang ke-17. Dan sekarang usia saya sudah 18. Entah mengapa rasanya 365 hari berlalu dengan sangat cepat. Banyak yang telah terjadi selama setahun ini. Usia 17 adalah fase di mana saya merasakan banyak sekali pengalaman baru, perubahan, juga harus beradaptasi dengan cepat. Dimulai dengan masa-masa pra hingga pasca kelulusan, sampai akhirnya status saya kini resmi menjadi mahasiswi.

Pada hari ini pula, saya disadarkan akan satu hal. Hal yang mungkin saya nilai sepele selama ini, tapi nyatanya cukup krusial. Perhatian.

Mulai pukul sebelas malam tanggal 12, sudah ada beberapa orang yang mengucapkan selamat via Facebook. Sampai beberapa menit sebelum pergantian tanggal 13 pun, ucapan selamat terus berdatangan mulai dari secara langsung, via telepon, BlackBerry Messenger, Twitter, Facebook, dan SMS. Bahkan beberapa di antara orang yang mengucapkan selamat melalui Facebook tidak pernah saya kenal.

Kenyataan ini benar-benar menohok saya. Selama ini, ketika membaca e-mail notifikasi kiriman Facebook yang berisi tentang siapa saja teman saya yang berulang tahun dalam seminggu ke depan, saya tidak begitu menaruh perhatian. Apalagi kepada orang yang tidak saya kenal, yang entah mengapa bisa ada dalam daftar teman saya. Saya selalu berpikir ‘Saya tidak mengenalnya, jadi untuk apa mengucapkan selamat ulang tahun?’. Sungguh, egois sekali diri saya ini.

Tanpa dapat dielakan, setiap kali saya membaca ucapan selamat, entah dari siapapun orangnya, kenal ataupun tidak, saya sudah sangat senang. Berlebihan? Mungkin. Tapi saya senang karena menyadari banyak orang yang menaruh perhatian kepada saya. Se-simple apapun ucapan itu, seperti hanya tulisan ‘Happy birthday’, atau yang disertai serangkaian doa, semuanya menunjukkan perhatian mereka terhadap eksistensi saya. Bahwa mereka ikut mendoakan saya di hari spesial saya.

Perasaan bersalah mengganjal di hati saya. Betapa kurang pedulinya saya selama ini. Hanya mengetik ucapan selamat, tidak akan membuat jari saya patah. Hanya perlu beberapa detik dari waktu selama 24 jam yang saya miliki dalam sehari. Apa susahnya itu semua? Mengapa saya perhitungan sekali? Kalau saya kenal, maka saya baru akan memberi selamat?
Lebih perhatian kepada orang-orang di sekitar saya. Itulah PR saya di usia 18 ini.

Untuk itu, saya mencoba untuk sedikit ‘menebus dosa’ dengan membalas ucapan mereka satu per satu. Ada beberapa orang yang memilih untuk membalas ucapan selamat lewat statusnya (contoh : Thank’s for the wishes, guys), atau meng-copy-paste ucapan terima kasih kepada setiap orang yang memberi selamat. Itu hak mereka, sepenuhnya terserah mereka. Tapi saya memilih untuk membalas satu per satu, dengan bahasa yang berbeda-beda, karena saya ingin mereka tahu, saya sangat menghargai perhatian mereka. Tidak hanya dilatarbelakangi formalitas semata. Saya menulis ‘terima kasih’ karena memang saya benar-benar berterima kasih. Even though i’m so careless to people around me, they still pay attention to me.

Mulai sekarang, saya akan lebih perhatian lagi kepada orang-orang di sekitar saya. Karena saya telah merasakan sendiri, sebuah perhatian, sekecil apapun itu, mampu membuat sebuah senyuman merekah di wajah si penerima perhatian, bahkan mungkin mampu menghangatkan perasaan mereka.

Thank you for all the birthday wishes! I’m so blessed to be surrounded by great person like all of you -xoxo-

Picture : private collection

07 September 2011

Mendapatkan Apa yang Kita Butuhkan



Saat kita meminta sesuatu kepada Tuhan, kemudian apa yang kita nantikan itu tidak kunjung datang, tidak juga terwujud, kita langsung marah. Kita langsung menuding Tuhan itu tidak adil, tidak lagi sayang kepada kita. Berbagai tudingan lain kita keluarkan, semata-mata demi mencurahkan protes kita, menunjukkan amarah kita. Kita seolah diracuni dengan paradigma "Segala sesuatu yang kita minta dalam doa kita akan dikabulkan oleh Tuhan". Sebuah paradigma yang menyedihkan.
Karena kenyataannya, tidak semua yang kita minta pasti akan dikabulkan. Tuhan lah yang menciptakan kita. Tuhan itu Maha Besar, Maha Agung, Maha Adil, maha segala-galanya. Dialah yang paling tau apa yang terbaik untuk segala ciptaan-Nya. Oleh sebab itu, Tuhan pasti punya alasan kuat mengapa Ia tidak mengabulkan doa kita.
Ada banyak kemungkinan. Bisa jadi, memang cara kita meminta yang salah. Atau bisa juga, Tuhan punya pertimbangan lain. Tidak memberikan apa yang kita minta bukan berarti Ia tidak lagi menyayangi kita. Justru, itulah bukti cinta-Nya yang begitu besar. Cara berpikir kita dengan Tuhan jauh berbeda. Apa yang menurut kita baik, belum tentu baik pula di mata-Nya. Mungkin karena itulah Tuhan tidak memberikan apa yang kita minta. Pastinya Tuhan tengah merencanakan sesuatu yang jauh lebih indah, sesuatu yang sesuai dengan apa yang kita butuhkan. Atau mungkin, waktunya yang belum tepat. Kita manusia begitu kecil di hadapan Tuhan. Karenanya, kita tidak mampu menebak apa yang sedang Ia siapkan untuk kehidupan kita.
Bahkan ada saatnya di mana kita sudah lupa akan permohonan kita tersebut. Tapi tidak begitu dengan Tuhan. Ia akan selalu ingat dengan apa yang dibutuhkan oleh ciptaan-Nya. Bahkan tanpa kita meminta pun, sudah berapa banyak kelimpahan yang Ia berikan kepada kita? Tidak terhitung! Tanpa meminta nafas kehidupan, hari baru, udara-matahari-air untuk bertahan hidup pun, Tuhan sudah memberikannya secara cuma-cuma.
Saya suka sekali dengan ilustrasi di bawah ini. Sebuah ilustrasi yang menampar saya. Menyadarkan saya dari paradigma berpikir saya yang menyedihkan. Menanamkan pengharapan baru, sukacita baru. Mendekatkan diri saya pada Tuhan :
Aku meminta setangkai bunga segar pada Tuhan, 
Ia memberiku kaktus berduri. 
Aku meminta binatang mungil nan cantik pada Tuhan, 
kemudian Ia memberiku ulat bulu. 
Aku sempat sedih! Protes! 
Dan aku kecewa... 
Betapa tidak adilnya Tuhan. 
Namun kemudian, lama-kelamaan kaktus itu mulai berbunga. 
Sangat indah! 
Dan ulat bulu itupun tumbuh, 
menjadi kupu-kupu yang sangat cantik.
Itulah jalan Tuhan, indah pada waktunya. 
Tuhan tidak memberi apa yang kita inginkan, 
namun memberikan apa yang kita perlukan. 
Kadang kita sedih, kecewa, terluka. 
Tapi jauh di atas segalanya, 
Ia sedang merajut yang terbaik untuk kehidupan kita.
Aku meminta kekuatan, 
dan Tuhan memberiku kesulitan untuk kuhadapi agar aku menjadi lebih tegar. 
Aku meminta kebijaksanaan, 
dan Tuhan memberiku permasalahan untuk kuselesaikan agar aku berpikir. 
Aku meminta kesejahteraan, 
dan Tuhan memberiku otak dan tenaga supaya aku bisa bekerja. 
Aku meminta keberanian, 
dan Tuhan memberiku rintangan untuk kuhadapi. 
Aku meminta cinta, 
dan Tuhan memberiku orang-orang bermasalah untuk kutolong dan kusayangi. 
Aku meminta kemurahan hati, 
dan Tuhan memberiku kesempatan. 
Aku tidak mendapatkan apa yang kuminta. 
Aku tidak mendapatkan apa yang kuinginkan. 
Tapi aku mendapatkan apa yang kubutuhkan.
Karenanya, ketika kita merasa tidak bisa mendapatkan apa yang kita inginkan, inginkanlah apa yang kita dapatkan. Dengan begitu, kita akan mensyukuri apapun yang kita peroleh.
Picture : flickr.com