28 April 2012

All about Balance



Satu hal yang selalu saya pertanyakan sampai sekarang: Setiap kali musim ujian, teman-teman saya beramai-ramai bertransformasi menjadi ‘anak rumahan’ (baca: menolak ajakan ke manapun, tidak peduli sebentar atau lama). Semuanya sibuk menggunakan alasan seragam 'Gue mau belajar'.

Saya tahu sebagai pelajar  ̶  mahasiswa sekalipun (yang sering dianggap santai)  ̶  tetap harus belajar.

Belajar dengan baik ---> dapat nilai bagus ---> IPK tinggi ---> diterima kerja di perusahaan unggulan ---> peningkatan taraf hidup ---> masa depan terjamin.

Tapi mereka juga tidak akan belajar selama 24 jam non-stop kan? Perhaps too much of everything is bad, including study. Tetap harus ada waktu sejenak untuk rileks.

Kalau saya pribadi saat ujian akan tetap menyediakan waktu untuk melakukan hal yang saya suka: nonton film dan baca buku di luar buku pelajaran. Bukan bermaksud untuk meremehkan esensi ujian itu sendiri. Saya melakukannya untuk menjaga agar otak saya tetap waras. Agar pikiran saya menjadi lebih fresh, sehingga daya tampung untuk materi ujian lebih besar. Supaya saya bisa belajar dengan lebih efektif dan efisien.

Everything in life is about balance, I believe in that. Mungkin karena saya mahasiswa fakultas ekonomi, saya sudah terbiasa dengan segala sesuatu yang balance. Kan memang sudah tugas saya untuk membuat agar jurnal dan financial statement yang saya kerjakan balance, both in debit and credit side.

Hal tersebut tidak hanya berlaku dalam urusan jurnal, tapi juga dalam kehidupan.

Belajar dan bersantai sejenak, keduanya dalam porsi yang seimbang. Jangan terlalu memaksakan diri belajar tanpa istirahat sedikitpun, tapi jangan juga terlalu lama beristirahat (baca: berleha-leha) sampai lupa belajar.

Picture: flickr.com

18 April 2012

Takut pada Peraturan



“Penyebab negara ini tidak kunjung berkembang adalah karena sumber daya manusianya hanya takut pada manusia, bukan kepada peraturan.”

Saya sangat setuju dengan apa yang disampaikan oleh dosen Ekonomi Makro saya tersebut. Alasannya? Karena terkadang saya juga masuk dalam kategori sumber daya manusia seperti itu.

Bukti konkritnya, banyak kecelakaan lalu lintas yang terjadi karena pengguna jalan hanya takut pada manusia, dalam hal ini polisi lalu lintas, bukan kepada peraturan lalu lintas yang berlaku. Saat lampu lalu lintas berwarna merah, menandakan bahwa mereka seharusnya berhenti. Saat ada polisi, mereka akan mematuhi aturan ini supaya tidak kena tilang. Tapi saat tidak menemukan tanda-tandar keberadaan polisi, tanpa pikir panjang mereka langsung menerobos lampu merah, yang tidak jarang mengantar mereka pada kecelakaan berujung maut.

Realita di atas hanyalah satu dari sekian banyak hal yang mendukung teori yang tertulis di awal posting.

Melalui posting ini, saya sama sekali tidak bermaksud untuk menghakimi siapapun. Tidak juga bermaksud membandingkan sumber daya Indonesia dengan negara lain. Sebaliknya, saya hanya ingin mengajak kita semua merefleksi diri kita masing-masing. Seperti yang sudah saya sebutkan, saya juga terkadang masuk ke dalam kategori sumber daya manusia seperti itu.

Karenanya, marilah kita berjuang merubah paradigma keliru yang sudah terlanjur mendarah daging bagi sebagian besar komunitas masyarakat, dimulai dari diri kita sendiri.

Biasakan diri untuk selalu menaati peraturan yang berlaku, dimulai dari hal-hal yang kelihatan sederhana dan tidak penting. Buang jauh-jauh pikiran ‘Peraturan dibuat untuk dilanggar’. It’s sooo last year. Pikiran semacam itu cukup menjadi pikiran saya saat masih duduk di bangku SMP.

Peraturan dibuat dengan alasan yang jelas dan pemikiran yang matang. Peraturan dibuat karena memiliki tujuan positif.

Sama halnya seperti ajaran agama kita masing-masing. Apa kita selama ini menghindari hal-hal yang dikatakan agama buruk hanya semata-mata karena ada orang lain yang mengawasi? Atau karena kita yakin Tuhan yang tidak bisa kita lihat wujud-Nya secara fisik tidak pernah sekalipun mengalihkan perhatian-Nya dari kita? Bahwa perbuatan buruk, dengan atau tanpa dilihat dan diketahui orang lain tetap saja merupakan sebuah dosa?

Ayo sama-sama bertransformasi menjadi sumber daya manusia yang jauh lebih berkualitas, dimulai dari sekarang dan dari diri kita masing-masing!

Picture : tumblr.com 

16 April 2012

Menolong dengan Bijaksana



Di tepi sungai, ada seorang pertapa yang sedang melakukan meditasi. Di sela-sela meditasi tersebut, ia mendengar suara berisik gemericik air yang tidak biasa. Ternyata ada seekor kepiting yang sedang berusaha menyelamatkan diri agar tidak terseret arus sungai yang deras. Terdorong oleh belas kasihan, pertapa tersebut menjulurkan tangannya untuk menolong si kepiting. Tentu saja kepiting itu mencapitnya, menimbulkan luka pada tangan si pertapa. Tapi karena niatnya memang menolong, pertapa tersebut tetap merasa senang. Kejadian seperti itu berlangsung berkali-kali, sampai akhirnya tangan si pertapa bengkak akibat capitan kepiting-kepiting yang ditolongnya. Kemudian datanglah pertapa lain yang lebih senior. Melihat tangan pertapa muda, ia menanyakan penyebabnya. Pertapa muda pun menjelaskan kejadian yang dialaminya. Kemudian pertapa tua mengambil ranting pohon dan menunjukkan kepada si pertapa muda, bagaimana cara menolong kepiting tanpa perlu melukai tangannya.
Dari ilustrasi singkat ini, tentu saja ada nilai yang bisa kita ambil.

Menolong sesama yang sedang kesusahan memang sebuah kewajiban. Tapi kita juga harus bisa bertindak dengan bijaksana. Menolong dengan tulus bukan berarti mengorbankan diri sendiri, kan?

Contohnya dalam kehidupan modern sehari-hari bisa diilustrasikan sebagai berikut:

Teman kita kebetulan tidak bisa mengikuti mata kuliah A karena ada urusan lain, kemudian minta tolong kita untuk menandatangani absennya, dengan alasan dosen mata kuliah tersebut jarang mengabsen mahasiswa dengan memanggil nama satu per satu. Karena kasihan dan berniat membantu, kita pun menandatangani absennya. Tapi sialnya, hari itu dosen yang bersangkutan mengabsen satu per satu dengan memanggil nama. Apa yang terjadi selanjutnya? Bukankah kita dan teman yang niatnya kita bantu itu malah sama-sama mendapatkan sanksi?

Intinya, bantulah sesama yang membutuhkan dengan setulus hati, juga dengan bijaksana :)

Picture : thefaintestspark.tumblr.com

02 March 2012

Kontributor Kehidupan



“In life, you’ll meet two kinds of people. The ones who build you up and the ones who tear you down. In the end, you’ll thank them both.”

Segala sesuatu yang terjadi di dunia ini selalu memiliki dua sisi yang berlawanan. Saya percaya itu. Seperti vice versa, yin & yang, dua sisi mata uang,  kutub utara dan kutub selatan, etc. Termasuk juga orang-orang yang datang dan pergi, masuk dan keluar dari kehidupan kita.
Ada yang menyukai kita, ada pula yang membenci kita. Ada yang menyanjung kita, ada pula yang menghujat kita. Ada yang memberikan dampak positif bagi kita, ada pula yang memberikan dampak negatif. Ada yang membuat kita tertawa bahagia, ada pula yang membuat kita sedih dan menangis.
Akan terus seperti itu, karena memang begitulah kehidupan. Kita tidak bisa membuat semua orang menyukai kita. Apa yang menurut si A merupakan kelebihan kita, bisa jadi menurut si B malah merupakan kelemahan kita.
Namun di balik itu semua, pada akhirnya setiap orang yang menyukai maupun membenci kita, akan menyumbangkan kontribusi penting bagi kita. Setiap orang yang menyanjung maupun menghujat kita, memiliki peranan masing-masing dalam perjalanan hidup kita. Setiap orang yang memberi dampak positif maupun negatif kepada kita, sama-sama layak mendapatkan ucapan terima kasih dari kita.
Orang-orang yang menyanyangi kita dengan tulus, membuat kita tidak berhenti bersyukur. Membuat kita mampu bertahan menghadapi hujatan atau kebencian dari orang di kubu yang berlawanan. Orang-orang yang membawa dampak negatif sekalipun, membuat kita bisa belajar untuk membedakan mana yang baik dan mana yang tidak. Bisa membuat kita menyadari adanya pilihan dan konsekuensi di balik pilihan tersebut. Orang yang membuat kita menangis atau sakit hati, bisa membuat kita semakin kuat dan ‘tahan banting’.
Jadi, jangan pernah merasa terganggu apalagi sampai depresi memikirkan berapa banyak orang yang membenci kita. Bahkan orang terbaik di dunia sekalipun, akan ada saja yang membenci. Begitu pula dengan orang terjahat di dunia, tetap saja ada minimal satu orang yang menyayanginya dengan tulus.
Selama orang yang menyukai kita jumlahnya jauh lebih banyak dibandingkan orang yang membenci kita, menandakan bahwa kita masih berada di jalur yang benar. Lebih baik memfokuskan pikiran kita kepada orang-orang yang menyayangi kita itu, daripada memenuhinya dengan ketakutan terhadap orang-orang yang membenci kita. Mereka punya hak untuk membenci kita. Itu semua urusan mereka, sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dengan kita.
Sebaliknya, selalu ingat untuk bersyukur dan mengubah segala hal negatif dalam hidup kita, menjadi sesuatu yang positif dan bermanfaat. Omongan para haters itu justru seharusnya bisa kita jadikan motivasi.
Kalau mereka mengatai kita bodoh, kita jangan malah ikut berpikir bahwa kita bodoh dan menjadi rendah diri apalagi terintimidasi karenanya. Justru waktunya kita untuk berusaha sebaik mungkin, agar suatu saat kita bisa menunjukkan kepada mereka bahwa kita tidak bodoh. Bahwa mereka tidak punya alasan untuk men-judge kita seenaknya. Bahwa tuduhan mereka itu salah besar. Tentunya hal tersebut baru bisa terwujud apabila kita mau terus belajar dan tidak membiarkan kata-kata orang lain menghentikan kita untuk bertransformasi menjadi pribadi yang lebih baik.
Picture : cruel-kid.blogspot.com

17 February 2012

Menulis dengan Bahagia



Editor majalah remaja di tempat saya bekerja sebagai tenaga freelance pernah berpesan, “Emosi saat kita menulis sesuatu dapat dirasakan oleh pembaca. Jadi, menulislah dengan gembira, jangan karena terpaksa, apalagi sambil mengomel.”
Saya menjadikan pesan itu sebagai pedoman sampai saat ini, karena saya sudah merasakan sendiri efeknya berulang kali.
Mungkin kita berpikir, komunikasi via SMS, BBM, Twitter, Facebook, Chat Messanger, atau media komunikasi non verbal lainnya bisa menyembunyikan emosi dan perasaan kita yang sebenarnya. Sayangnya yang terjadi tidak seperti itu.
Dengan berbalas pesan secara tulisan, sebenarnya kita sama saja sedang ‘berbicara’ dengan si pembaca. Memang tidak ada nada atau intonasi yang bisa didengar oleh orang tersebut. Tapi itulah kekuatan tulisan.
Saat kita menulis dalam keadaan bad mood atau kesal, maka si pembaca (dengan catatan pembaca tersebut normal secara pemikiran dan emosional), akan bisa menangkap emosi kita lewat tulisan tersebut. Kita bisa saja menambahkan emoticontersenyum, tertawa, atau ‘hehe’, ‘wkwk’, dan sebagainya untuk menyamarkan perasaan kesal kita, tapi pasti akan ada perbedaan dengan tulisan yang kita kirim di saat mood kita sedang baik. Terlebih kalau kita berbalas pesan dengan orang yang sudah sangat mengenal kita, atau dekat dengan kita.
Saya pernah menjadi si pengirim pesan, juga menjadi ‘korban’ alias pembaca. Berkomunikasi tanpa bertatap muka, kita tidak tahu apa yang sedang dilakukan oleh lawan bicara kita. Kita tidak bisa mengetahui apakah perasaannya sedang baik atau tidak. Bisa saja lawan bicara kita baru saja menghadapi masalah dengan orang lain, kemudian kita yang menjadi ‘sasaran pelampiasan’ karena kebetulan mengirim pesan di saat yang tidak tepat.
Biasanya, kalau saya sedang bad mood kemudian membalas pesan dari teman atau orang-orang yang sudah mengenal saya cukup baik, mereka seperti bisa merasakan bahwa mood saya sedang tidak bagus, meskipun saya mencoba menulis senormal mungkin. Seolah mereka berada di depan saya, dan bisa mendengarkan pesan tersebut keluar langsung dari mulut saya dengan intonasi yang tidak baik, lengkap dengan ekspresi keruh. Begitu pula saat giliran orang yang saya kirimi pesan kemudian membalas dalam suasana hati kurang bagus.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita lebih sering berbalas pesan dengan orang-orang yang sudah kita kenal sebelumnya, sehingga kemungkinan besar mereka bisa memaklumi keadaan kita. Tapi akan beda ceritanya kalau kita sedang berbalas pesan dengan orang penting. Contohnya, atasan di tempat kerja, perwakilan dari perusahaan tempat kita baru saja melamar, orangtua pacar, dosen pembimbing skripsi, dan orang penting lainnya. Bukannya malah akan menjadi boomerang bagi diri kita sendiri?
Terlebih lagi kalau kita bekerja di dunia penulisan, seperti jurnalis/reporter atau penulis. Pembaca yang membaca hasil tulisan kita, juga bisa merasakan emosi kita saat menulis. Misalkan kita menulis sebuah artikel yang tidak kita sukai, tidak kita kuasai materinya dengan baik, plus deadline yang singkat. Kemudian kita menulis artikel itu dengan terpaksa demi memenuhi kewajiban, sambil terus-menerus mengeluh, dengan perasaan kesal. Bukankah pembaca akan merasakan perasaan negatif itu?

Karenanya, usahakan sebisa mungkin untuk menulis dalam keadaan emosi yang terkendali, dan tentunya dengan senang hati. Kalau kebetulan saat itu mood kita sedang tidak baik, tenangkan diri terlebih dahulu. Saat merasa sudah lebih baik, baru balas pesan atau mulai menulis. Dengan begitu, orang yang membaca pesan atau tulisan kita tidak akan terkena imbas negatif.
Picture: lifestyle.allwomenstalk.com

15 February 2012

No More Anti Fans



Siapa bilang jadi artis itu enak karena punya banyak fans? Kenyataannya, enggak semua orang bisa suka sama sesuatu atau seseorang. Di balik fans loyal yang mengelilingi mereka, artis juga harus siap dengan aksi para anti fans (antis).

Who Are They?

Anti fans adalah kumpulan orang-orang yang enggak suka sama artis tertentu. Mereka biasanya mencari hal-hal yang bisa menjatuhkan artis yang mereka benci, bahkan juga melakukan aksi yang bisa mengganggu artis tersebut.

Antis membentuk forum tersendiri di dunia maya, tempat di mana mereka bisa menuliskan hal-hal jelek tentang artis yang enggak mereka suka, membuat parodi, dan melakukan hal lain demi mengekspresikan rasa benci mereka.

Alasan yang melatarbelakangi rasa benci mereka itu sering kali sama sekali enggak masuk akal. Contohnya, artis enggak suka sama HanGeng (eks Super Junior) karena dia orang Cina yang sukses di Korea. Ada lagi antis yang enggak suka sama MinHo SHINee karena matanya belo, enggak kayak orang Korea kebanyakan. Ya ampun, enggak make sense banget, kan?

Aksi Mengerikan Antis

Berbagai makian dan ancaman sih, udah biasa diterima oleh para artis. Contohnya, kasus yang menimpa Park JaeBum (Jay Park) mantan leader 2PM. Ada antis yang menemukan posting lama di akun MySpace Jay yang berisi kalimat kalau dia benci Korea. Hal ini langsung memicu emosi antis lain. Lebih dari tiga ribu orang menandatangani petisi ‘JaeBum should commit suicide’. Karena enggak tahan sama semua tekanan itu, Jay memutuskan keluar dari 2PM dan balik ke Amerika.

Enggak cuma itu, mereka bahkan nekad melakukan hal-hal yang bisa membahayakan nyawa artis yang mereka benci. Yoon EunHye yang terkenal lewat Princess Hours, pernah sampai mengalami kerusakan kornea mata karena ada antis yang menyemprotkan cairan kecap dan cuka tepat ke matanya dengan pistol mainan. Karena kejadian itu EunHye jadi takut banget sama antis dan trauma enggak mau foto sama fans.

YunHo TVXQ juga sampai harus masuk rumah sakit karena minumannya dicampur lem super oleh antis. Hiii, serem banget ya!

Enggak Cuma di Korea

Antis memang enggak cuma ada di Korea. Di negara lain juga ada, enggak terkecuali di Indonesia.
Seperti yang kita tahu, belakangan ini dunia musik Indonesia kebanjiran boyband dan girlband. Banyak orang yang anti banget sama boy/girl band  tertentu, karena menurut mereka boy/girl band itu plagiat boy/girl band Korea. Coba saja search di Google, kita bisa menemukan ratusan forum tempat antis boy/girl band Indonesia, di antaranya SM*SH, 7 Icons, CherryBelle, dan masih banyak lagi.

Memang sih, di Indonesia, aksi para antis belum sampai separah di Korea. Antis biasanya cuma memaki atau menuliskan hal-hal jelek tentang artis yang mereka benci. Tapi tetap saja, hal ini perlu jadi perhatian kita bersama, karena kalau dibiarkan, enggak menutup kemungkinan kejadian kayak di Korea bisa terjadi. Duh, jangan sampai deh…

What to do?

Enggak suka sama artis itu hal yang wajar. Enggak ada aturan supaya kita menyukai (atau disukai) oleh semua orang. Tapi akan jadi enggak wajar kalau kita membenci seorang artis (atau siapa pun juga) dengan terlalu berlebihan. Kalau enggak suka, ya udah, enggak usah nonton acara yang ada artis itu. Enggak perlu juga baca artikel soal mereka. As simple as that.

Sering kali, yang para antis ini lakukan malah sebaliknya. Mereka enggak suka, tapi buang-buang begitu banyak waktu untuk browsing buat cari kejelekan sang artis. Atau buang-buang waktu dan tenaga dengan mengedit foto buat menjelek-jelekkan, atau mengurus forum antis. Iiih… aneh banget, kan? Katanya enggak suka, jadi ngapain kita menghabiskan begitu banyak waktu untuk fokus sama orang yang enggak kita sukai?

In the end, kita semua punya hak buat enggak suka sama seseorang, tapi ingat, mereka juga punya hak buat terus berkarya, selama apa yang mereka lakukan enggak merugikan orang lain.

Buat apa sih, mengotori hati dengan mengurusi orang lain yang bahkan enggak mengenal kita secara langsung? Mending cari kegiatan lain yang lebih positif dan berkarya saja, yuk. Siapa tahu kita bisa sekeren atau bahkan mengalahkan orang yang kita benci. Pasti jadi ‘pembalasan’ yang jauh lebih oke.
(averina)


Dimuat di Majalah kaWanku No. 118/2012
Picture : glamromance.tumblr.com | dok : kaWanku

02 January 2012

Seniman Abadi



Detik bergulir
berlari meninggalkan insan penikmatnya
merangkak menyambut matahari baru
menjanjikan nuansa dekorasi semarak
dihiasi pita keyakinan, dibalut cahaya kepercayaan
memikat siapa saja yang terperosok ke dalamnya
tuk kagumi, nikmati, miliki.

Dunia ini fana
tiap menit, jam, hari
tiap minggu, bulan, tahun
semuanya hanya pengukur
pengontrol tiap penghuninya
'tuk kejar peti harta karun berlabel bahagia.

Hingar bingar pesta pora
pendaran cahaya menari di pekatnya langit
memamerkan keindahan sepintas
lalu hempaskan senyum itu tak tersisa
sadar kini kita sendiri
dengan sejumput asa, setumpuk dosa

Lanjutkan melukisi kanvas hidup ini
dengan cat aneka warna
hitam, putih, merah, biru, kuning
pilih yang mana kau suka
torehkan kuas tanpa kenal lelah
karena itulah kerja kita
pelukis hari, seniman abadi.

Averina Lita
1 Januari 2011

Picture : absolutivity.tumblr.com

26 December 2011

Untuk Dilindungi, Bukan Disakiti



Belakangan, berbagai media ramai memberitakan soal pembantaian orangutan di Kalimantan. Miris rasanya, kalau primata pintar yang enggak berdosa ini malah jadi korban akibat keserakahan manusia.

Orangutan hanya terdapat di Indonesia dan Malaysia, khususnya di hutan hujan Pulau Sumatera dan Kalimantan. Hewan ini termasuk golongan kera besar yang terbagi dalam dua spesies, yakni orangutan Sumatera (dengan nama latin Pongo abelii), dan orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Orangutan memiliki kekerabatan yang dekat sama manusia, karena kesamaan DNA sebesar 96,4%.

Orangutan hidup di atas pohon-pohon besar, dan jarang turun ke tanah. Mereka rajin berpindah dari satu pohon ke pohon lain (brachiating). Saat berpindah inilah, biji dari buah yang mereka makan berjatuhan dan menyebar di tanah, kemudian menjadi cikal bakal pohon-pohon baru. Itulah sebabnya orangutan disebut sebagai penjaga ekosistem hutan.

Orangutan ditetapkan sebagai hewan yang wajib dilindungi oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN), karena jumlah populasinya yang semakin mendekati kepunahan. Mereka membutuhkan waktu reproduksi yang terbilang lama untuk ukuran hewan. Orangutan betina biasanya melahirkan setiap 7-10 tahun sekali, dengan lama kandungan mirip manusia, 8.5 sampai 9 bulan. Setiap kali mereka melahirkan, hanya akan ada satu bayi orangutan. Umur orangutan di alam liar bisa mencapai 45 tahun, dan sepanjang hidup, mereka cuma bisa punya tiga anak.

Setelah proses kelahiran, bayi orangutan akan tinggal bersama induk mereka sampai umur enam atau tujuh tahun. Hubungan antara bayi orangutan dan induk mereka sangat dekat, karena sifat protektif dari sang induk. Selama masih tinggal bersama induk mereka, mereka akan diajarkan banyak hal, tentang bagaimana harus bertahan hidup di alam bebas.

Ancaman orangutan datang dari keserakahan manusia. Habitat mereka semakin sempit karena kawasan hutan hujan yang selama ini mereka tinggali dijadikan lahan kelapa sawit dan pertambangan. Pohon-pohon di hutan juga banyak ditebang buat diambil kayunya.

Orangutan kehilangan 80% wilayah habitatnya dalam waktu kurang dari 20 tahun. Mereka juga sering disakiti bahkan dibunuh para petani karena dianggap sebagai hama. Padahal, mereka cuma mau cari makan, karena makanan mereka di hutan udah enggak ada lagi.

Saking protektifnya induk orangutan terhadap anak mereka, para pemburu yang enggak punya hati itu tega membunuh induk orangutan, supaya bisa mengambil anak mereka dan menjualnya secara ilegal.

Kasus pembantaian orangutan di Kalimantan

Pembantaian orangutan secara massal di Desa Puan Cepak, Kutai Kertanegara, Tenggarong, Kalimantan Timur sudah dilakukan sejak tahun 2008, tapi beritanya baru ramai dibicarakan sekarang. Banyak ditemukan bangkai orangutan dalam kondisi mengenaskan, akibat disakiti oleh masyarakat sekitar atas perintah dari PT Khaldea Agroprima Mandiri. Baru-baru ini juga ditemukan fakta lain yang lebih menyedihkan, bahwa pembantaian tersebut bukan hanya dilakukan oleh manusia, tapi juga anjing pemburu yang terlatih.

Pemburu akan diantar oleh anjing pemburu ke lokasi yang terdapat banyak orangutan. Orangutan yang ada di kebun sawit akan dikejar oleh anjing pemburu. Kalau kabur, mereka akan ditembak dengan senapan angin atau ditombak sampai mati. Mayat orangutan difoto sebagai bukti ke perusahaan. Lewat foto itulah, mereka mendapat gaji 1,2 juta per bulan, plus 1 juta rupiah kalau berhasil membunuh orangutan. Benar-benar kejam dan enggak punya perasaan!

The real hero
Di balik kekejaman dan ketidakadilan tersebut, untungnya masih ada Biruté Galdikas (65), perempuan asal Jerman yang concern banget sama nasib orangutan. Beliau udah menulis beberapa buku tentang kelangkaan orangutan. Galdikas sampai di Kalimantan saat berumur 25 tahun. Sejak itu, beliau terus melakukan berbagai upaya untuk memencegah kepunahan orangutan dengan membangun pusat rehabilitasi. Bukan cuma itu, beliau juga membuat film dokumenter berjudul Born to Be Wild 3D (April 2011).

Trivia

- Tinggi orangutan sekitar 1.25-1.5 meter, sementara beratnya sekitar 50-90 kg (jantan) dan 30-50 kg (betina).
- Orangutan suka makan durian, madu, dan jamur.
- Orangutan bisa berjalan dengan dua kaki, tapi enggak bisa berenang.
-Orangutan adalah hewan semi-soliter, yang artinya, mereka enggak hidup dalam kawanan besar. Orangutan jantan biasanya ditemukan sendirian, sementara yang betina bersama dengan beberapa anaknya.
-Orangutan jantan bisa membuat panggilan jarak jauh yang terdengar sampai radius 1 km karena punya kantung tenggorokan yang besar. Gunanya untuk mengawasi arealnya, memanggil orangutan betina, ataupun mencegah gangguan dari orangutan jantan lain.
- Predator terbesar orangutan antara lain macan tutul, babi, buaya, ular phyton, elang hitam, dan... manusia!
- Menurut data WWF, terjadi penjualan orangutan ke Taiwan mencapai 1000 ekor antara tahun 1985-1990.

Dimuat di Majalah kaWanku No. 114/2011


Picture : orangutanphotos.blogspot.com | dok : kaWanku

07 December 2011

Kegagalan = Awal dari Segalanya



Hari ini, lagi-lagi saya mendapatkan naskah novel yang dikirimkan kembali dari penerbit, lengkap dengan surat pernyataan bahwa naskah saya belum layak untuk diterbitkan. Entah sudah keberapa kalinya hal seperti ini terjadi. Tapi setidaknya, hari-hari penuh ketidakpastian itu telah usai. Saya tidak perlu lagi menandai hari demi hari yang terlewati di kalender meja belajar tentang nasib naskah saya.
Sejak awal mengirimkan naskah tersebut, saya tau pasti hanya akan ada dua jawaban. Diterbitkan atau dikembalikan secara utuh (baca: ditolak). Bohong kalau saya mengatakan saya baik-baik saja. Tidak, saya tidak sepenuhnya baik-baik saja. Tentu, ada rasa kecewa yang mendera. Saya masih manusia normal yang tidak luput dari emosi. Tapi rasa kecewa itu tidak akan menghentikan perjuangan saya.
Kalau Thomas A. Edison saja harus mengalami kegagalan sampai 9.998 kali, baru akhirnya berhasil dan bahkan namanya dikenang sampai saat ini, kenapa saya harus berhenti saat baru mengalami kegagalan 3 kali?
Kalau Stephen King saja harus mengalami penolakan berkali-kali atas naskah yang ia kirimkan, sampai membuatnya memakukan surat-surat penolakan tersebut ke dinding rumah sebagai motivasi pribadi, kenapa saya harus behenti berkarya dan belajar? (cerita mengenai Stephen King bisa dibaca di sini).
Ibu saya sering sekali menasihati saya untuk tidak mudah menyerah saat mengalami kegagalan. “Hanya manusia sakti yang tidak pernah sekalipun mengalami kegagalan dalam kehidupan mereka. Bahkan orang terhebat yang dikenal pun, suatu saat pernah mengalami kegagalan. Bedanya, mereka memilih untuk terus berjuang dan memperbaiki diri, bukannya meratapi kegagalan tersebut terus-menerus.” Itulah kalimat yang selalu dipesankan oleh ibu saya.
Karena kegagalan lah, manusia baru bisa menyadari arti penting perjuangan dan kerja keras. Karena kegagalancpula lah, manusia tau bagaimana rasanya menikmati dan menghargai keberhasilan ketika saatnya tiba.
Saya sedang mengalami kegagalan kali ini. Tapi saya tidak akan pernah mau menjadi orang yang gagal. Orang gagal yang hanya mampu berkubang dalam rasa penyesalan dan rendah diri. Saya bukan tipe orang seperti itu. Saya akan terus berusaha, mengeluarkan kemampuan terbaik saya. Memperbaiki kesalahan yang menyebabkan kegagalan sebelumnya, dan bekerja dengan lebih baik lagi.
Perjuangan saya masih panjang. Masih akan ada banyak tikungan berbahaya, jalanan bergelombang, maupun hambatan dan rintangan lainnya. Tapi dengan terus mengingat bahwa akan ada akhir dari semua perjalanan, saya akan terus memacu diri untuk mencapai batas akhir tersebut. Batas akhir yang akan mengarah pada keberhasilan meraih impian saya.
‘Kegagalan bukan akhir segalanya’ bukan hanya ungkapan penyemangat semata. Karena kenyataannya, kegagalan justru adalah awal dari segalanya. Awal dari perjuangan yang lebih keras, dan awal yang akan membawa seseorang semakin dekat dengan keberhasilan.
Picture : orangeandkalamansi.tumblr.com