20 July 2013

Arogansi Profesi


Beberapa waktu yang lalu, saya sempat terjebak bersama penumpang Bus TransJakarta lainnya, dalam sebuah perkelahian antara petugas penjaga pintu bus dengan seorang penumpang. Perkelahian yang seharusnya tidak perlu dan tidak pantas terjadi. Alasannya sederhana, karena penumpang yang mengaku-ngaku berprofesi sebagai wartawan tersebut, tidak terima dengan peringatan dari petugas bus.

Keadaan di bus gandeng koridor 1 menuju Kota memang cukup ramai di bagian belakang. Hal itulah yang menyebabkan ada beberapa pria yang berdiri di area khusus wanita. Sudah sejak awal si petugas bus memperingatkan para penumpang pria untuk bergerak ke belakang.

Saat naik bus pertama kali, sebenarnya saya dan teman saya sempat membicarakan mengenai gaya bicara petugas bus yang terkesan nyolot.

‘Kalau ada yang tidak senang dengan gayanya, bisa panjang nih ceritanya.’ Pikiran semacam itu bahkan sempat singgah dalam benak saya.

Benar saja, setelah sekian lama, akhirnya si penumpang naik darah. Dia berseru gusar kepada si petugas, “Coba saja kamu ke sini. Lihat! Tidak ada tempat! Bagaimana caranya saya bisa berdiri di sana? Dari tadi saya perhatikan gaya kamu itu tidak pantas!”

Si petugas tidak mau kalah. Tetap teguh memegang peraturan.

“Kamu tidak tahu siapa saya? Saya ini wartawan! Saya bisa menulis nama dan gaya kamu ini di tulisan saya!” seru si penumpang untuk kedua kalinya. Kali ini diiringi protes dari penumpang lain. Kebanyakan menanyakan kredibilitas penumpang tersebut.

“Wartawan apa gayanya seperti ini?”

“Memangnya kenapa kalau wartawan? Sok banget!”

Bahkan ada juga yang mengatakan, “Wartawan apa? Wartawan kasus kriminal ya, makanya gayanya seperti itu?”

Hasilnya, banyak penumpang yang semuanya wanita, jadi berada di sisi si petugas.

Supir bus sampai merasa perlu turun tangan melerai keduanya. Peringatan lewat pengeras suara yang tidak digubris, membuat si supir menghentikan laju bus, kemudian memasuki TKP.

Untungnya, perselisihan dapat dihentikan. Mungkin keduanya akan menyelesaikan unfinished business mereka di halte akhir, seperti saran dari supir. Entahlah.

Yang dapat saya simpulkan, perkelahian tersebut terjadi karena arogansi profesi dari kedua belah pihak. 

Sebagai petugas bus, dia merasa bisa mengatur penumpang. Memang, apa yang dilakukannya semata demi menjalankan peraturan, sekaligus menjaga kenyamanan penumpang. Sayangnya, dengan cara yang memang kurang sesuai. Sebagai bagian dari usaha jasa, seharusnya dia bisa menyampaikannya dengan cara lebih baik.

Sementara si penumpang, jelas menyalahgunakan profesinya untuk sesuatu yang tidak tepat. Memangnya kenapa kalau dia wartawan? Hanya karena dia bisa membuat artikel atau pemberitaan, lantas dia merasa bisa melakukan segala sesuatu sesuai kehendaknya? Bahkan sampai menggunakan profesi sebagai modal ancaman.

Bukankah dengan memuat berita mengenai kejadian tersebut, justru akan menghancurkan reputasinya? Kecuali kalau dia mengedit beberapa bagian. Which is, sangat memalukan untuk dilakukan oleh seseorang berprofesi seperti yang dia bangga-banggakan.

Profesi adalah tanggung jawab, bukan sesuatu yang perlu dibangga-banggakan atau bahkan dimanfaatkan untuk hal-hal tertentu. Untuk alasan apapun, memanfaatkan persepsi yang mungkin sudah terbentuk dalam masyarakat karena profesi yang dijalani, sungguh merupakan tindakan pengecut, kekanakan, dan memalukan.

Profesi seharusnya diisi dengan prestasi, bukan arogansi.

Picture: pinkpastels.tumblr.com

04 July 2013

Alasan Lain


Sky sudah tidak ada. Jadi kita tidak perlu bertemu lagi.
               Dengan tangan gemetar, akhirnya kutekan tombol send. Lima menit, setengah jam, bahkan sampai dua jam setelahnya, tidak ada balasan apapun. Rasa kecewa yang mendalam perlahan merayapi hatiku. Pesan yang tak kunjung mengisi inbox ponsel kumaknai sebagai persetujuan.
               Semuanya sudah jelas. Aku dan Aska telah kehilangan alasan itu. Alasan yang sampai kemarin masih melandasi hubungan entah jenis apa yang terjalin di antara kami.
Aku langsung menyadarinya begitu melihat tubuh berbulu cokelat keemasan Sky tergolek tak berdaya di tengah jalan kemarin. Aroma anyir yang menyeruak segera menghadirkan sensasi yang begitu mengerikan. Ekspresi horor tak hanya tercipta di wajahku. Bagai sedang berkaca, ekspresi yang sama juga menghiasi wajah Aska yang biasanya didominasi senyuman hangat. Oh, Sky kami yang malang!
               Aku menatap hampa taman kecil yang selalu kusinggahi setiap sore. Seharusnya sekarang aku sedang tertawa bersama Sky. Dan Aska. Seperti yang selalu terjadi setiap kali kami bertukar momen indah selama satu hingga dua jam.
               Sky bukan sekedar anjing Golden Retriever yang kutemukan dalam keadaan terluka di tempat yang sama tiga tahun yang lalu. Pertemuan dengannya juga menandai perjumpaan pertamaku dengan Aska. Tanpa sadar, kami memainkan peran sebagai orangtua Sky. Membawanya pulang bergantian. Melimpahkan kasih sayang padanya.
Aku tidak ingat kapan kali pertama kami memulai topik pembicaraan di luar hal-hal yang menyangkut Sky. Satu yang kuingat pasti, saat itu aku tidak lagi merasa kesepian.
               Tapi hari ini akhirnya datang juga. Hari di mana aku kehilangan keduanya. Yang satu karena maut, sedang yang lainnya karena diriku yang terlalu pengecut ini merasa tidak ada lagi alasan untuk tetap mempertahankan sosoknya. Bagiku, Aska hanya terjangkau di saat Sky berada di tengah kami.
               “Sky memang sudah tidak ada. Tapi aku ingin kita tetap bisa bertemu. Tidak hanya di taman ini, tapi juga di tempat lain. Tidak hanya di sore hari, tapi kapan saja kita ingin bertemu.” Untaian suara selembut angin senja menggelitik indra pendengaranku. Suara yang terlalu familiar, dan tak kusangka masih bisa kudengar. Terlebih di saat ini, di saat alasan untuk mendengarnya telah tiada.
               “Hari itu, bukan kita yang menemukan Sky. Tapi Sky-lah yang mempertemukan kita. Aku sudah kehilangan Sky, dan tidak ingin kehilangan lagi.”***


Picture : tumblr.com

17 March 2013

Don't Trust Too Much



I do believe everyone deserves a second chance, but not a third.

Saya pernah membiarkan diri saya dikecewakan oleh seseorang satu kali. Berpegang pada kepercayaan tersebut, saya dengan tulus memberinya kesempatan kedua. Saya belajar untuk bisa mempercayainya kembali dari nol. Tapi hasil akhir sepenuhnya berada di tangannya. Saat ia memutuskan untuk tidak memanfaatkan kesempatan kedua yang saya berikan, maaf, tidak akan ada kesempatan ketiga dan seterusnya.

Trust is like a mirror. Once it’s broken, you can never look at it the same again.

Jangan pernah membuat janji yang tidak bisa ditepati. Apalagi dengan gaya yang sangat meyakinkan.

Mungkin baginya janji yang ia buat dengan saya tidak begitu penting. Dengan gampangnya ia bisa membatalkan janji yang sudah kami susun dari jauh-jauh hari. Janji yang pertama dibatalkan lewat perantara ibunya, disampaikan bahkan kepada ibu saya, tidak langsung kepada saya. Sedangkan janji kedua dibatalkan hanya dengan tiga kata yang dikirim lewat layanan Blackberry Messenger ‘Paling nggak jadi’, kurang dari dua jam sebelum waktu janjian yang telah ditentukan.

Saya cuma manusia biasa yang punya batas kesabaran. Saat membalas BBM-nya dengan sebuah kalimat ‘Jangan bikin janji kalau emang lo nggak niat dan ujung-ujungnya ngebatalin beberapa jam sebelum waktu janjian’, saya tahu, kepercayaan saya padanya sudah tak lagi tersisa.

Kalau berani membuat janji dengan begitu meyakinkan di awal, kenapa lantas tidak berani membatalkannya dengan tingkat keberanian yang sama? Langsung kepada saya, tanpa perantara. Atau setidaknya memberikan alasan yang bisa diterima akal, bukannya membiarkan BBM saya berubah tanda menjadi ‘R’ tanpa dibalas.

Berdasarkan hasil uji kepribadian yang pernah saya ikuti sewaktu SMA dulu, dikatakan bahwa saya akan kecewa bila tidak dapat menepati janji atau bila suatu hal tidak sesuai dengan keinginan saya. Mungkin karena inilah, saya juga tidak suka kalau orang yang sudah membuat janji dengan saya tidak menepatinya. Sesederhana apapun jenis janji itu.

Don’t trust too much, don’t love too much. Because that too much will hurt you so much.

Sepertinya quotes tersebut perlu saya tanamkan dalam pikiran saya. Saya harus bisa mengatasi kelemahan saya. Dalam kasus ini, terlalu percaya pada orang lain (tampaknya karakter yang satu ini diwariskan dari ibu saya). Terlalu yakin bahwa orang lain akan memperlakukan saya, sama dengan bagaimana saya memperlakukan mereka.

Ungkapan “Jangan mencubit kalau tidak mau dicubit” terbukti tidak selalu berlaku. Terhadap orang-orang tertentu, meski saya berusaha untuk tidak mengecewakan mereka dengan sebisa mungkin menepati janji yang keluar dari mulut saya, nyatanya mereka tidak melakukan hal yang sama.

Picture : ennatumbul.tumblr.com

23 February 2013

Saat Bersamamu



Tangan kiriku memencet bel rumah, sementara tangan yang lain menyembunyikan rangkaian bunga matahari di belakang tubuh. Aku ingat, kamu pernah bilang bunga matahari adalah bunga kesukaanmu. Pintu terbuka. Kamu muncul dengan pakaian rumah yang jauh dari kesan modis, tapi tetap mampu membangunkan kupu-kupu yang bersarang dalam perutku. Kuucapakan untaian selamat pagi sebelum menyodorkan rangkaian bunga kuning itu ke hadapanmu. Tak perlu ucapan terima kasih. Sebuah kecupan singkat di bibirku sudah mewakili segalanya.

Tangan kita tidak sengaja beradu beberapa kali selama berjalan di taman kota yang sepi pengunjung. Kunyalakan iPod, lantas menyelipkan earphone. Satu di telinga kiriku, sisanya di telinga kananmu. Lavender yang dibawakan oleh group band Marillion serasa diciptakan untuk menemani kita menikmati sore ini. Tangan kiriku berhasil menemukan tangan kananmu. Seolah keduanya diciptakan untuk saling tertaut.

Aku bisa membayangkan bibirmu yang maju beberapa senti ketika membaca pesan singkatku di layar ponsel. Kamu pasti membatin sedih, menerka-nerka apakah kadar pentingya eksistensimu sudah dikalahkan dengan segudang aktivitasku. Dengan seringai penuh kemenangan, kukirimkan pesan kedua. ‘Coba lihat ke belakang’. Mulutmu terbuka dan menutup bergantian, kehilangan kata-kata. Atau mungkin sedang berusaha meyakinkan diri, bahwa sosokku yang sedang memegang baki berisi dua cangkir capuccino bukan hanya bayang semu.

Suara Ingrid Michaelson menyanyikan ulang Can’t Help Falling in Love memenuhi seisi ruangan. Kamu langsung memekik kegirangan. “Oh, ini lagu kesukaanku!”Entah murni di luar kendali, atau mengandung makna tersirat di baliknya. Tanpa banyak berpikir, kuraih tangan kananmu. Sebelum sepatah kata meluncur dari bibirmu, kutarik tubuhmu merapat di kehangatan tubuhku. Menenggelamkan kepalamu di dadaku, menikmati harum vanila yang menguar dari rambut ikalmu. “Jangan bicara. Nikmati saja momen ini. Nikmati setiap detiknya.”

* * *

Kutatap seikat bunga matahari yang tergeletak di jok kiri mobil. Kemudian beralih pada rangkaian lain yang ada dalam dekapanmu. Dan kamu yang ada dalam dekapannya.

Kurasakan tangan kiriku mendingin di dalam saku celana. Mendamba kehangatan tangan kananmu yang berada dalam genggamannya. Kuresapi lirik Lavender milik Marillion. Kata demi kata, bait demi bait. Menebak-nebak apakah lagu yang terdengar lewat earphone di telinga kananmu juga memainkan lagu yang sama.

Kuperhatikan wajahmu yang mendadak mendung dari kejauhan. Menggambarkan kesedihan karena lagi-lagi dinomorduakan. Tak sampai semenit kemudian, bibir cemberut itu berganti posisi melengkung ke bawah, melihatnya membawa baki berisi dua cangkir capuccino. Sama dengan dua cangkir yang hanya teronggok di mejaku tanpa tersentuh sama sekali.

Kuhabiskan cairan putih di gelasku dalam sekali teguk. Rasa pahit yang mengaliri tenggorokanku bahkan berhasil membuat lagu semanis Can’t Help Falling in Love ikut terdengar pahit. Lagu kesukaanmu, aku masih ingat. Tapi maaf, tidak akan jadi lagu kesukaanku. Selamat menikmati momen ini... bersamanya...

Maafkan aku yang hanya mampu berangan-angan. Maafkan aku yang dikuasai kebodohan, diperdaya ketidakpekaan, diperbudak ego.

*) Terinspirasi dari lirik lagu When I Was Your Man oleh Bruno Mars

Picture : no-raj.tumblr.com

02 February 2013

To Make Her Proud



Pernah bertemu dengan ibu-ibu yang heboh (cenderung show off) membanggakan prestasi anak-anaknya? “Anak saya pulang sekolah sore terus karena sibuk ikut science club. Dia memang pintar, sih. Nilai mata pelajaran IPA-nya tidak pernah di bawah angka 90. Dia juga selalu masuk lima besar ranking pararel satu angkatan. Padahal belajarnya tidak terlalu lama. Mungkin karena otaknya sudah encer dari sananya, ya. Blablabla.”

Saya sering bertemu dengan ibu-ibu tipe seperti itu, dan terkadang dibuat tidak nyaman karenanya. Mungkin karena ibu saya sendiri tidak pernah melakukan hal itu.

Ibu saya tidak pernah membanggakan saya di depan orang lain, baik itu prestasi akademis maupun non-akademis. Saya juga tidak bermasalah dengan hal itu. Karena bagi saya, cukup ibu saya saja yang mengetahui prestasi saya. Meski tidak pernah membaginya dengan orang lain, bukan berarti beliau tidak menyadari usaha yang saya lakukan selama ini. Beliau adalah tipe orangtua yang memuji putrinya dalam batasan tidak berlebihan.

Selagi kecil terkadang mungkin saya sering menginginkan pujian lebih. Tapi seiring bertambahnya usia dan semakin banyak hal yang dimengerti, saya ikut menyadari, bahwa pujian yang berlebihan malah akan melemahkan mental.

Orangtua yang memuji anaknya ketika berhasil meraih sesuatu memang terbukti bisa meningkatkan kepercayaan diri anak tersebut. Tapi segala sesuatu yang baik jika dilakukan secara berlebihan hasilnya malah tidak baik lagi, terbukti adanya. Memuji anak (baik hanya di depan anak tersebut atau di depan orang lain) secara berlebihan malah bisa membuat si anak akhirnya menjadi besar kepala, dan tidak lagi termotivasi untuk meraih sesuatu yang lebih. Atau justru membuat si anak haus akan pujian, sehingga tidak menutup kemungkinan berusaha untuk memperolehnya dengan cara apapun (sehat maupun tidak).

Tidak ada orangtua yang tidak bangga jika anaknya mampu melakukan hal baik. Tapi rasa bangga mereka itu tidak lantas perlu ditunjukkan secara gamblang. Dengan memberi perhatian pada apa yang dikerjakan oleh anak, sudah cukup menjadi penanda bahwa mereka tahu dan bangga.

Dan saya tahu, ibu saya selalu memberi perhatian pada hal-hal positif yang saya lakukan selama ini. Dengan atau tanpa menunjukkannya secara terang-terangan. Saya tidak mengharapkan pujian dari khalayak ramai. Cukup rasa bangga dari ibu saya, bahwa beliau bahagia memiliki putri seperti saya. Hal itulah yang sampai saat ini selalu dan akan tetap saya perjuangkan.

Picture : lovetexts.tumblr.com

29 January 2013

Lingkaran Setan



“Aku tidak akan mengatakan aku tidak bisa hidup tanpamu, karena kenyataannya tidak seperti itu. Aku bisa hidup tanpamu, hanya saja aku tidak mau.”

“Kau harus bisa, juga harus mau.”

“Kenapa? Beri aku satu alasan yang masuk akal.”

“Karena kau tidak boleh mencintaiku.”

“Tidak ada manusia yang tidak boleh mencintai siapapun. Dan tidak ada manusia yang tidak boleh dicintai oleh siapapun.”

“Karena kita terlalu berbeda.

“Kamu manusia, aku pun demikian. Kita sama-sama melihat dengan sepasang mata. Mendengar dengan sepasang telinga. Membaui dengan sebuah hidung. Berbicara dengan sebuah mulut. Menggenggam dengan sepasang tangan. Berdiri dengan sepasang kaki.”

“Tapi kau mencintai dengan hati, sedang aku mencintai dengan otak.”

“Mencintai memang tidak melulu menggunakan hati. Otak juga harus ikut ambil bagian.”

“Tidakkah kau mengerti? Aku mencintaimu hanya dengan otakku. Otak yang dipenuhi pikiran tamak. Dan aku benci diriku yang seperti itu.”

“Kalau begitu, aku akan melepaskan predikatku. Juga meninggalkan seluruh hartaku. Supaya kau tidak perlu membenci dirimu yang mencintaiku dengan otak dipenuhi pikiran tamak.”

“Memang, jika kau melepaskan predikatmu dan meninggalkan seluruh hartamu, aku tidak akan membenci diriku. Karena aku juga tidak lagi mencintaimu. Bahkan dengan otak dipenuhi pikiran tamak sekalipun.”

“Kau...”

“Lihat, sejak awal sudah kukatakan, kau tidak boleh mencintaiku. Sekarang kau sudah mengerti, bukan?”

“Tidak. Aku tidak mau mengerti. Aku tidak akan melepaskan predikatku dan meninggalkan hartaku. Jadi, tetaplah mencintaiku dengan otak yang dipenuhi pikiran tamak. Biar kau dan aku sama-sama menderita dalam lingkaran setan berlabel cinta ini.”

*) Terinspirasi dari cerita drama Korea berjudul Cheongdam-dong Alice

Picture : nduknha.blogspot.com

27 January 2013

Smile is not a Happy Sign




Saya punya seorang teman yang terlihat sangat percaya diri, selalu menjadi ‘pusat’ dari setiap gelak tawa yang keluar saat kami sedang berkumpul, sekaligus yang dilabeli ‘sangar’ oleh adik kelas. Seolah ia terlahir untuk menjadi penyemarak suasana dan penarik perhatian dalam kumpulan kami.

Orang bilang, kepribadian seseorang sekarang ini justru bisa dilihat dari tweet atau status mereka di social media lain (e.g Facebook, Blackberry Messenger, Line, etc). Kalau benar seperti itu, berarti di balik perawakan teman saya yang sepertinya tanpa beban—tertawa dan melucu, meluapkan emosi dan temperamen—semua itu hanya kedok belaka. Karena nyatanya ia seperti berubah 180 derajat saat tidak sedang bersama saya dan teman-teman lain. Hilang sudah semua banyolannya, digantikan dengan untaian kata kepedihan. Sosoknya yang penuh percaya diri musnah ditelah pemikiran insecure-nya.

Selama ini saya selalu percaya bahwa ada dua kelompok orang bahagia di dunia ini. Yang pertama adalah kelompok orang yang tersenyum dan tertawa karena benar-benar bahagia. Yang lainnya tersenyum juga tertawa hanya untuk melindungi dirinya dari pertanyaan orang lain. Mencegah orang lain menemukan kondisinya yang sebenarnya.

Mereka pikir, orang-orang akan berheti menanyakan keadaan mereka jikalau mereka menyodorkan senyum sebagai jawabannya. Mereka pikir bisa diperlakukan berbeda dengan menunjukkan citra bahagia dalam diri mereka.

Saya juga terkadang seperti itu. Mengatakan ‘baik-baik saja’ padahal kenyataannya sangat jauh dari baik-baik saja. Karena kata itu adalah jawaban paling praktis. Menghentikan pertanyaan lebih lanjut, mencegah keharusan untuk menceritakan yang sebenarnya sambil mengorek luka yang belum sepenuhnya kering. Juga tersenyum padahal sebenarnya bibir ini terasa kaku untuk digerakkan. Karena senyuman sekali lagi adalah alat ampuh untuk menunjukkan pada dunia bahwa kita bisa bahagia dan tidak perlu dikasihani.


Jadi, jangan tertipu dengan wajah cerah ceria ala badut festival. Kita tidak tahu bagaimana ekspresi manusia di balik pakaian dan riasannya. Bisa saja ia sedang menangis di kala menjalankan tugas sebagai penghibur. Yang dilihat publik hanyalah apa yang mereka inginkan untuk dilihat.

Senyuman tidak selalu menjadi pertanda kebahagiaan. Sama saja, air mata tidak selalu melambangkan kesedihan. Ada senyum yang penuh kepahitan di baliknya. Pun air mata yang tumpah karena perasaan terlalu bahagia.

Picture : Twitter | searchquotes.com

22 January 2013

When Life Hits You



Siapa yang pernah membayangkan bahwa adegan indah menonton TV dan berkumpul bersama keluarga di malam harinya, lenyap begitu saja keesokan harinya disapu banjir yang memporak-porandakan ibukota Jakarta? Atau adegan manis liburan bersama teman yang keesokan harinya berganti dengan guncangan dahsyat gempat bumi?

Segala sesuatu di dunia ini sifatnya fana. Begitu pula dengan kebahagiaan dan kesedihan. Kebaikan dan keburukan. Kenyamanan dan kesusahan.

Selama kita masih diberkahi dengan hal-hal baik, nikmatilah dan jangan lupa untuk terus bersyukur. Saat kesusahan pun, tetaplah bersyukur karena sesusah apapun situasi yang kita hadapi, percayalah hal tersebut tidak akan berlangsung lama. Bahwa akan ada akhir dalam setiap badai‒yang terparah sekalipun. Bahwa Tuhan sedang menyiapkan skenario yang lebih indah bagi perjalanan hidup kita.

Jangan melulu membandingkan situasi yang harus kita hadapi dengan situasi orang lain yang lebih baik. Sebaliknya, ingatlah bahwa masih banyak yang mengalami situasi lebih berat dari kita. Dengan cara itu lah kita bisa berkali-kali lipat merasa terberkati.

“Everything in life is temporary. So if things are going good, enjoy it because it won’t last forever. And if things are going bad, don’t worry. It can’t last forever either.”

Picture : pieceofyouinsideofme.tumblr.com

20 January 2013

Just Simply Adore Her



Today is the 20th Anniversary of Audrey Hepburn's death.

Audrey Hepburn was born Audrey Kathleen Ruston on 4 May 1929 at number 48 Rue Keyenveld in Ixelles, a municipality in Brussels, Belgium. On the evening of 20 January 1993, at her home in Tolochenaz, Vaud, Switzerland, Hepburn died in her sleep of appendiceal cancer. Her legacy as an actress and a personality has endured long after her death. 

Best movies of hers:
Roman Holiday (1953)
Sabrina (1954)
The Nun's Story (1959)
Breakfast at Tiffany's (1961)
My Fair Lady (1964)

QUOTES:

“Happy girls are the prettiest.” 

“Nothing is impossible, the word itself says 'I'm possible'!” 

“Laugh. It cures a multitude of ills. It's probably the most important thing in a person.” 

“The most important thing is to enjoy your life—to be happy—it's all that matters.”

“The beauty of a woman is not in the clothes she wears, the figure that she carries, or the way she combs her hair. The beauty of a woman is seen in her eyes, because that is the doorway to her heart, the place where love resides. True beauty in a woman is reflected in her soul. It's the caring that she lovingly gives, the passion that she shows & the beauty of a woman only grows with passing years.” 

“Your heart just breaks, that's all. But you can't judge or point fingers. You just have to be lucky enough to find someone who appreciates you.” 

“You can tell more about a person by what he says about others than you can by what others say about him.” 

“The beauty of a woman is not in a facial mole, but true beauty in a woman is reflected in her soul. It is the caring that she lovingly gives, the passion that she knows.” 

“Why change? Everyone has his own style. When you have found it, you should stick to it.” 

“Opportunities don't often come along. So, when they do, you have to grab them.” 

“Make-up can only make you look pretty on the outside but it doesn't help if your ugly on the inside. Unless you eat the make-up.” 

“True friends are families which you can select.” 

“If my world were to cave in tomorrow, I would look back on all the pleasures, excitements and worthwhilenesses I have been lucky enough to have had. Not the sadness, not my miscarriages, but the joy of everything else. It will have been enough.” 

“I tried always to do better: saw always a little further. I tried to stretch myself.” 

“Good things aren't supposed to just fall into your lap. God is very generous, but He expects you to do your part first.” 

“As you grow older, you will discover that you have two hands, one for helping yourself, the other for helping others.” 

“For beautiful eyes, look for the good in others; for beautiful lips, speak only words of kindness; and for poise, walk with the knowledge that you are never alone.”

Picture : fanpop.com | possumsal.com | frontrowreviews.co.uk | imgfave.com | pinterest.com