Showing posts with label personal life. Show all posts
Showing posts with label personal life. Show all posts

26 August 2014

Learning Process


Semua manusia di dunia ini akan terus belajar selama hidupnya. Sama halnya dengan bernapas, makan dan minum, serta tidur. Konteks belajar yang saya maksud bukan belajar formal dengan duduk manis di dalam kelas, namun belajar dalam konteks luas. Proses belajar yang tidak terikat waktu maupun jadwal, dengan guru bisa berupa apa saja—siapa saja.

Kalau disuruh menceritakan apa saja yang saya pelajari setiap harinya, mungkin saya bisa sekalian menulis novel. Because there’s a bunch of it. Mulai dari orangtua, teman-teman, bahkan dari orang asing yang saya temui di jalan. Karenanya, jauh lebih mudah apabila saya menceritakan hal apa yang dipelajari teman saya dari saya.

Saat sedang mengobrol dengan seorang teman, tiba-tiba dia menyeletuk, “Lo tahu nggak, Ve, ada satu hal penting yang gue pelajari sejak temenan sama lo.” Melihat sebelah alis saya terangkat—bingung karena celetukannya yang sangat random—dia pun melanjutkan, “Gue jadi sadar kalau gue nggak seharusnya belajar terlalu ngotot pas musim ujian. Kayak yang lo bilang, belajar memang harus, tapi refreshing juga penting,” tutupnya dengan senyum, yang langsung menulari saya.

Saya mengerti maksudnya. Satu hal penting yang ‘katanya’ dipelajari dari saya itu memang sudah menjadi semacam motto hidup saya sejak SD.

Mungkin cara belajar ini tidak bisa dipraktekkan oleh semua orang, karena setiap orang memiliki cara belajarnya masing-masing, serta kemampuan belajar yang berbeda-beda. Biasanya yang saya lakukan saat musim ujian datang adalah menyeimbangkan waktu antara belajar dan bersenang-senang. Saya bukan tipe orang yang bisa belajar berjam-jam nonstop. Memelototi berbagai rumus, membaca materi, maupun mengerjakan soal-soal latihan selama dua jam merupakan limit saya. Lebih dari itu, yang ada saya berakhir dengan pose salah satu sisi wajah menempel ke meja sambil tidur-tiduran atau mencoret-coret kertas. Atau kalaupun tubuh saya tetap dalam posisi belajar, pikiran saya sudah melanglang buana ke mana-mana.

Didasari hal tersebut, saya mulai berpikir, “Gue nggak bisa terus-terusan belajar dengan cara kayak gini.” Kemudian lahirlah ide untuk mengistirahatkan tubuh dan otak saya sejenak. Caranya bisa bermacam-macam, yang intinya: lakukan apapun yang kita sukai. Nonton, main games, baca novel/komik, etc. Tapi tahu diri juga, jangan sampai kebablasan. Meski rasanya pasti malas untuk kembali mulai menyentuh buku pelajaran, tapi kita harus mengikuti komitmen yang telah kita buat dengan diri kita sendiri.

Tidak jarang saya mendapat tatapan penuh tuduhan ‘Ini-kan-lagi-musim-ujian-kok-lo-bisa-bisanya-pergi-nonton’ dari teman-teman saya yang terlalu strict dengan peraturan yang mereka buat sendiri mengenai ‘standby belajar seharian, hanya boleh take a break untuk mandi-makan-tidur’. Tapi kembali lagi, setiap orang punya cara masing-masing dalam belajar. Saya malah merasa bisa lebih cepat menyerap materi ujian dengan belajar ala saya tersebut. Ujian dapat nilai bagus, jauh dari stres, dan hatipun senang he he he.


Saya tidak menyangka, gaya belajar saya itu bisa ikut diadopsi oleh teman saya. Lebih tidak menyangka lagi, teman saya itu menganggapnya sebagai hal penting yang dia pelajari dari saya. Meskipun terdengar sepele, tapi saya tetap senang karena bisa menginspirasi orang lain. Apalagi kalau gaya belajar saya itu bisa membuatnya belajar dengan lebih efektif dan efisien.

Picture: flickr.com

20 August 2013

10 Tahun Bersamamu, 10 Tahun Tanpamu


20 Agustus 2003 – 20 Agustus 2013

Engkong, begitu panggilan saya untuk beliau.

Engkong pergi 26 hari sebelum ulang tahun saya yang ke-10. Tak banyak yang melekat dalam ingatan saya tentang sosok beliau, meski saya sempat tinggal selama dua tahun bersama kakak sepupu pria saya di rumah beliau. Mungkin karena usia saya yang masih terlalu muda saat beliau dipanggil menghadap-Nya, juga karena tak terasa sudah sepuluh tahun berlalu sejak hari itu.

Engkong dalam ingatan saya adalah sosok kakek yang enerjik, banyak ide, hangat tapi tegas, dan berprinsip.

Engkong yang selalu menjemput (terkadang juga mengantar) saya dan kakak sepupu saya sekolah dengan bajaj. Saya masih TK saat itu, sementara sepupu saya sudah duduk di bangku sekolah dasar.

Engkong yang tidak pernah melewatkan tayangan berita di TV, baik itu berita pagi, siang, maupun petang.

Engkong yang tidak pernah lupa minum cuka apel setiap hari karena mengetahui bahwa minuman itu baik untuk jantung.

Engkong yang suka memoleskan potongan mentimun di siku tangan beliau setelah makan, entah demi tujuan apa.

Engkong yang selalu mengingatkan secara halus saat Emak (panggilan saya untuk nenek saya) bicara dengan suara terlalu keras.

Engkong yang mahir memperbaiki berbagai barang, juga menambahkan roda di kaki lemari guna memudahkan ketika hendak dipindah-posisi.

Engkong yang sering mengajari saya banyak hal, mulai dari hitung-hitungan, bahasa Inggris, sampai ‘pelajaran hidup’.

Engkong yang sering memuji saya ketika mendapat nilai bagus atau saat menjadi ranking kelas.

Engkong yang memarahi sepupu saya yang kadang bandel dan menjahili saya (walau untuk kasus ini saya sering merasa bersalah setiap mengingatnya karena saya termasuk cengeng kala itu).

Engkong yang menegur kepala sekolah TK saya karena membela teman yang menjahili saya sehingga membuat saya sempat takut pergi ke sekolah.

Engkong yang selalu mengharapkan cucu-cucu beliau yang kala itu terdiri dari tiga pria dan tiga perempuan (dua tahun setelah kepergian beliau bertambah satu cucu perempuan) bisa menjadi orang yang berguna, berhasil, dan berbakti pada orangtua masing-masing.

Engkong yang pergi secara mendadak setelah jatuh sakit (masalah pencernaan) selama dua hari. Bahkan saya dan ibu saya sempat menginap di rumah beliau saat mendengar kabar beliau sakit.

Sayangnya saya tidak berada di sisi beliau pada saat-saat terakhir. Karena ibu saya tidak menyangka keadaan Engkong separah itu dan karena pertimbangan saya masih kecil jadi rentan tertular penyakit, saya tidak diajak ikut serta ke rumah sakit.

Rabu dini hari (sekitar pukul empat), ibu saya ditelepon kakaknya–Om saya–dan langsung datang ke rumah sakit. Rupanya saat itu jantung Engkong sudah tidak lagi berdetak, namun Om saya tidak menyampaikan lewat telepon karena takut ibu saya syok.

Saya ingat, saya masih pergi sekolah hari itu. Saya akhirnya mengetahui bahwa Engkong sudah pergi untuk selamanya sekitar pukul sepuluh, setelah ibu saya datang ke sekolah untuk minta izin membawa saya pulang pada wali kelas.

Seperti yang sudah saya tuliskan di awal, tidak banyak yang saya ingat tentang sosok beliau, juga pengalaman saya menghabiskan waktu dengan beliau. Tapi satu hal yang saya tahu pasti. Saya merasa beruntung pernah mengenal beliau selama sepuluh tahun. Banyak hal baik, juga cara pandang positif yang saya pelajari dan dapatkan dari sosok beliau.



Semoga Engkong tenang dan bahagia di sisi-Nya.


Pictures : private collection

18 August 2013

Sebuah Perjalanan di atas Rel


Sore itu, saya sedang chatting via WhatsApp dengan seorang sahabat yang sudah saya kenal sejak pertama kali masuk kelompok bermain. Kebetulan dia yang kuliah di HongKong, sedang berada di Jakarta dalam rangka liburan. Sementara saya sedang berada di Semarang, dengan tujuan utama menjenguk nenek dan keluarga tante saya, yang disambi dengan liburan. Sahabat saya itu kemudian menanyakan kapan saya akan kembali ke Jakarta, supaya kami bisa janjian bertemu.

  • Gue balik Jumat pukul 4 sore. Naik kereta jadi sampainya sekitar pukul 10 malam.
Tak lama kemudian dia membalas:

  • Asik banget Phe (panggilannya untuk saya). Gue pengin nih naik kereta.
Sambil tertawa, kedua jempol saya sibuk bergerak-gerak di atas keypad.

  • Enak apanya? Biasa aja, Neng.
Hanya percakapan santai dan ringan. Tapi herannya, melekat di pikiran saya.

Hari kepulangan saya ke Jakarta pun tiba. Saat kereta masih diam di Stasiun Tawang, saya kembali mengulang percakapan dengan sahabat saya beberapa hari sebelumnya di dalam hati.

Tidak ada yang spesial dengan naik kereta. Apalagi, saat itu bukan kali pertama saya memanfaatkan jasa transportasi massal ini.

Kemudian saya mengingat menit-menit yang saya lalui selama perjalanan menuju Semarang, yang juga ditempuh dengan kereta. Saat itu, entah apa yang membuat sepasang mata saya terpaku menatap pemandangan di luar jendela. Tak lagi tertarik untuk menonton film yang sengaja diputar, menyalakan laptop, atau membaca. Hanya lagu-lagu dalam playlist smartphone yang menjadi teman perjalanan.

Pemandangannya standar. Langit biru, sawah, ladang jagung, pepohonan, pemakaman penduduk setempat, jalan raya dengan kendaraan roda dua dan empat yang berhenti di belakang palang, sungai, jembatan, juga laut yang birunya terlihat menyatu dengan langit.

Namun, pemandangan yang berkelebat cepat seiring laju kereta, terasa begitu familiar. Kemudian saya menyadarinya. Familiar, karena sama seperti kehidupan itu sendiri. Berjalan begitu cepat. Hari demi hari terlewat tanpa kita menyadarinya. Sepenuhnya kendali kita. Mau membiarkannya berlalu begitu saja, atau mencoba menikmati gulirnya.

Sama seperti delapan hari yang saya lalui di Semarang. Tak terasa hari demi hari terlewat, sampai akhirnya tiba hari kepulangan.

Seperti hari-hari liburan pergantian semester selama hampir dua bulan yang tak terasa hanya tersisa beberapa hari saja.

Semua yang saya lihat di balik jendela kereta adalah hari-hari itu. Kadang terasa sangat standar, tidak istimewa, begitu-begitu saja. Kita cenderung membiarkan hari semacam itu berlalu begitu saja. Padahal mungkin saja hari itu bisa menjadi di luar standar, istimewa, tidak begitu-begitu saja, di saat kita mencoba menikmatinya.

Kembali ke sore itu. Kebetulan tempat duduk saya diapit oleh para penumpang yang membawa putra-putri mereka. Di kursi depan, belakang, samping, dua baris di depan. Saya sempat merasa perjalanan pulang kali ini akan menjadi tidak menyenangkan dengan keributan atau tangisan yang ditimbulkan para balita itu. Ibu saya dengan kalemnya mengatakan, “Anggap saja latihan, supaya kamu bisa tahan sabar.”

Dan ternyata pemikiran saya salah. Perjalanan enam jam bahkan tidak terasa sama sekali. Saya menyumbat kedua telinga saya dengan earphone. Menonton film Taxi 2 yang ditayangkan, membaca novel, mengamati sekitar. Kali ini tanpa menatap keluar jendela seperti yang saya lakukan dalam perjalan keberangkatan, karena kegelapan langit menyembunyikan sawah, ladang jagung, pepohonan, pemakaman penduduk setempat, jalan raya dengan kendaraan roda dua dan empat yang berhenti di belakang palang, sungai, jembatan, juga laut.

Tapi saya merasa nyaman. Bahkan di saat saya menikmati santap malam sederhan berwujud mie instan tanpa mengenakan earphone, saya tidak terganggu dengan kebisingan di dalam gerbong yang didominasi oleh tiga anak yang duduk tepat di belakang kursi saya. Entah seperti perkataan ibu saya, ‘tahan sabar’, atau karena saya memilih untuk mengabaikannya.

Maka, saya pun mengamini balasan sederhana dari sahabat saya. Naik kereta yang mulanya saya katakan biasa saja, ternyata bisa menjadi sebuah perjalanan yang membuat saya menemukan sesuatu di luar kata ‘biasa’.

Picture : tumblr.com

20 July 2013

Arogansi Profesi


Beberapa waktu yang lalu, saya sempat terjebak bersama penumpang Bus TransJakarta lainnya, dalam sebuah perkelahian antara petugas penjaga pintu bus dengan seorang penumpang. Perkelahian yang seharusnya tidak perlu dan tidak pantas terjadi. Alasannya sederhana, karena penumpang yang mengaku-ngaku berprofesi sebagai wartawan tersebut, tidak terima dengan peringatan dari petugas bus.

Keadaan di bus gandeng koridor 1 menuju Kota memang cukup ramai di bagian belakang. Hal itulah yang menyebabkan ada beberapa pria yang berdiri di area khusus wanita. Sudah sejak awal si petugas bus memperingatkan para penumpang pria untuk bergerak ke belakang.

Saat naik bus pertama kali, sebenarnya saya dan teman saya sempat membicarakan mengenai gaya bicara petugas bus yang terkesan nyolot.

‘Kalau ada yang tidak senang dengan gayanya, bisa panjang nih ceritanya.’ Pikiran semacam itu bahkan sempat singgah dalam benak saya.

Benar saja, setelah sekian lama, akhirnya si penumpang naik darah. Dia berseru gusar kepada si petugas, “Coba saja kamu ke sini. Lihat! Tidak ada tempat! Bagaimana caranya saya bisa berdiri di sana? Dari tadi saya perhatikan gaya kamu itu tidak pantas!”

Si petugas tidak mau kalah. Tetap teguh memegang peraturan.

“Kamu tidak tahu siapa saya? Saya ini wartawan! Saya bisa menulis nama dan gaya kamu ini di tulisan saya!” seru si penumpang untuk kedua kalinya. Kali ini diiringi protes dari penumpang lain. Kebanyakan menanyakan kredibilitas penumpang tersebut.

“Wartawan apa gayanya seperti ini?”

“Memangnya kenapa kalau wartawan? Sok banget!”

Bahkan ada juga yang mengatakan, “Wartawan apa? Wartawan kasus kriminal ya, makanya gayanya seperti itu?”

Hasilnya, banyak penumpang yang semuanya wanita, jadi berada di sisi si petugas.

Supir bus sampai merasa perlu turun tangan melerai keduanya. Peringatan lewat pengeras suara yang tidak digubris, membuat si supir menghentikan laju bus, kemudian memasuki TKP.

Untungnya, perselisihan dapat dihentikan. Mungkin keduanya akan menyelesaikan unfinished business mereka di halte akhir, seperti saran dari supir. Entahlah.

Yang dapat saya simpulkan, perkelahian tersebut terjadi karena arogansi profesi dari kedua belah pihak. 

Sebagai petugas bus, dia merasa bisa mengatur penumpang. Memang, apa yang dilakukannya semata demi menjalankan peraturan, sekaligus menjaga kenyamanan penumpang. Sayangnya, dengan cara yang memang kurang sesuai. Sebagai bagian dari usaha jasa, seharusnya dia bisa menyampaikannya dengan cara lebih baik.

Sementara si penumpang, jelas menyalahgunakan profesinya untuk sesuatu yang tidak tepat. Memangnya kenapa kalau dia wartawan? Hanya karena dia bisa membuat artikel atau pemberitaan, lantas dia merasa bisa melakukan segala sesuatu sesuai kehendaknya? Bahkan sampai menggunakan profesi sebagai modal ancaman.

Bukankah dengan memuat berita mengenai kejadian tersebut, justru akan menghancurkan reputasinya? Kecuali kalau dia mengedit beberapa bagian. Which is, sangat memalukan untuk dilakukan oleh seseorang berprofesi seperti yang dia bangga-banggakan.

Profesi adalah tanggung jawab, bukan sesuatu yang perlu dibangga-banggakan atau bahkan dimanfaatkan untuk hal-hal tertentu. Untuk alasan apapun, memanfaatkan persepsi yang mungkin sudah terbentuk dalam masyarakat karena profesi yang dijalani, sungguh merupakan tindakan pengecut, kekanakan, dan memalukan.

Profesi seharusnya diisi dengan prestasi, bukan arogansi.

Picture: pinkpastels.tumblr.com

17 March 2013

Don't Trust Too Much



I do believe everyone deserves a second chance, but not a third.

Saya pernah membiarkan diri saya dikecewakan oleh seseorang satu kali. Berpegang pada kepercayaan tersebut, saya dengan tulus memberinya kesempatan kedua. Saya belajar untuk bisa mempercayainya kembali dari nol. Tapi hasil akhir sepenuhnya berada di tangannya. Saat ia memutuskan untuk tidak memanfaatkan kesempatan kedua yang saya berikan, maaf, tidak akan ada kesempatan ketiga dan seterusnya.

Trust is like a mirror. Once it’s broken, you can never look at it the same again.

Jangan pernah membuat janji yang tidak bisa ditepati. Apalagi dengan gaya yang sangat meyakinkan.

Mungkin baginya janji yang ia buat dengan saya tidak begitu penting. Dengan gampangnya ia bisa membatalkan janji yang sudah kami susun dari jauh-jauh hari. Janji yang pertama dibatalkan lewat perantara ibunya, disampaikan bahkan kepada ibu saya, tidak langsung kepada saya. Sedangkan janji kedua dibatalkan hanya dengan tiga kata yang dikirim lewat layanan Blackberry Messenger ‘Paling nggak jadi’, kurang dari dua jam sebelum waktu janjian yang telah ditentukan.

Saya cuma manusia biasa yang punya batas kesabaran. Saat membalas BBM-nya dengan sebuah kalimat ‘Jangan bikin janji kalau emang lo nggak niat dan ujung-ujungnya ngebatalin beberapa jam sebelum waktu janjian’, saya tahu, kepercayaan saya padanya sudah tak lagi tersisa.

Kalau berani membuat janji dengan begitu meyakinkan di awal, kenapa lantas tidak berani membatalkannya dengan tingkat keberanian yang sama? Langsung kepada saya, tanpa perantara. Atau setidaknya memberikan alasan yang bisa diterima akal, bukannya membiarkan BBM saya berubah tanda menjadi ‘R’ tanpa dibalas.

Berdasarkan hasil uji kepribadian yang pernah saya ikuti sewaktu SMA dulu, dikatakan bahwa saya akan kecewa bila tidak dapat menepati janji atau bila suatu hal tidak sesuai dengan keinginan saya. Mungkin karena inilah, saya juga tidak suka kalau orang yang sudah membuat janji dengan saya tidak menepatinya. Sesederhana apapun jenis janji itu.

Don’t trust too much, don’t love too much. Because that too much will hurt you so much.

Sepertinya quotes tersebut perlu saya tanamkan dalam pikiran saya. Saya harus bisa mengatasi kelemahan saya. Dalam kasus ini, terlalu percaya pada orang lain (tampaknya karakter yang satu ini diwariskan dari ibu saya). Terlalu yakin bahwa orang lain akan memperlakukan saya, sama dengan bagaimana saya memperlakukan mereka.

Ungkapan “Jangan mencubit kalau tidak mau dicubit” terbukti tidak selalu berlaku. Terhadap orang-orang tertentu, meski saya berusaha untuk tidak mengecewakan mereka dengan sebisa mungkin menepati janji yang keluar dari mulut saya, nyatanya mereka tidak melakukan hal yang sama.

Picture : ennatumbul.tumblr.com

02 February 2013

To Make Her Proud



Pernah bertemu dengan ibu-ibu yang heboh (cenderung show off) membanggakan prestasi anak-anaknya? “Anak saya pulang sekolah sore terus karena sibuk ikut science club. Dia memang pintar, sih. Nilai mata pelajaran IPA-nya tidak pernah di bawah angka 90. Dia juga selalu masuk lima besar ranking pararel satu angkatan. Padahal belajarnya tidak terlalu lama. Mungkin karena otaknya sudah encer dari sananya, ya. Blablabla.”

Saya sering bertemu dengan ibu-ibu tipe seperti itu, dan terkadang dibuat tidak nyaman karenanya. Mungkin karena ibu saya sendiri tidak pernah melakukan hal itu.

Ibu saya tidak pernah membanggakan saya di depan orang lain, baik itu prestasi akademis maupun non-akademis. Saya juga tidak bermasalah dengan hal itu. Karena bagi saya, cukup ibu saya saja yang mengetahui prestasi saya. Meski tidak pernah membaginya dengan orang lain, bukan berarti beliau tidak menyadari usaha yang saya lakukan selama ini. Beliau adalah tipe orangtua yang memuji putrinya dalam batasan tidak berlebihan.

Selagi kecil terkadang mungkin saya sering menginginkan pujian lebih. Tapi seiring bertambahnya usia dan semakin banyak hal yang dimengerti, saya ikut menyadari, bahwa pujian yang berlebihan malah akan melemahkan mental.

Orangtua yang memuji anaknya ketika berhasil meraih sesuatu memang terbukti bisa meningkatkan kepercayaan diri anak tersebut. Tapi segala sesuatu yang baik jika dilakukan secara berlebihan hasilnya malah tidak baik lagi, terbukti adanya. Memuji anak (baik hanya di depan anak tersebut atau di depan orang lain) secara berlebihan malah bisa membuat si anak akhirnya menjadi besar kepala, dan tidak lagi termotivasi untuk meraih sesuatu yang lebih. Atau justru membuat si anak haus akan pujian, sehingga tidak menutup kemungkinan berusaha untuk memperolehnya dengan cara apapun (sehat maupun tidak).

Tidak ada orangtua yang tidak bangga jika anaknya mampu melakukan hal baik. Tapi rasa bangga mereka itu tidak lantas perlu ditunjukkan secara gamblang. Dengan memberi perhatian pada apa yang dikerjakan oleh anak, sudah cukup menjadi penanda bahwa mereka tahu dan bangga.

Dan saya tahu, ibu saya selalu memberi perhatian pada hal-hal positif yang saya lakukan selama ini. Dengan atau tanpa menunjukkannya secara terang-terangan. Saya tidak mengharapkan pujian dari khalayak ramai. Cukup rasa bangga dari ibu saya, bahwa beliau bahagia memiliki putri seperti saya. Hal itulah yang sampai saat ini selalu dan akan tetap saya perjuangkan.

Picture : lovetexts.tumblr.com

27 January 2013

Smile is not a Happy Sign




Saya punya seorang teman yang terlihat sangat percaya diri, selalu menjadi ‘pusat’ dari setiap gelak tawa yang keluar saat kami sedang berkumpul, sekaligus yang dilabeli ‘sangar’ oleh adik kelas. Seolah ia terlahir untuk menjadi penyemarak suasana dan penarik perhatian dalam kumpulan kami.

Orang bilang, kepribadian seseorang sekarang ini justru bisa dilihat dari tweet atau status mereka di social media lain (e.g Facebook, Blackberry Messenger, Line, etc). Kalau benar seperti itu, berarti di balik perawakan teman saya yang sepertinya tanpa beban—tertawa dan melucu, meluapkan emosi dan temperamen—semua itu hanya kedok belaka. Karena nyatanya ia seperti berubah 180 derajat saat tidak sedang bersama saya dan teman-teman lain. Hilang sudah semua banyolannya, digantikan dengan untaian kata kepedihan. Sosoknya yang penuh percaya diri musnah ditelah pemikiran insecure-nya.

Selama ini saya selalu percaya bahwa ada dua kelompok orang bahagia di dunia ini. Yang pertama adalah kelompok orang yang tersenyum dan tertawa karena benar-benar bahagia. Yang lainnya tersenyum juga tertawa hanya untuk melindungi dirinya dari pertanyaan orang lain. Mencegah orang lain menemukan kondisinya yang sebenarnya.

Mereka pikir, orang-orang akan berheti menanyakan keadaan mereka jikalau mereka menyodorkan senyum sebagai jawabannya. Mereka pikir bisa diperlakukan berbeda dengan menunjukkan citra bahagia dalam diri mereka.

Saya juga terkadang seperti itu. Mengatakan ‘baik-baik saja’ padahal kenyataannya sangat jauh dari baik-baik saja. Karena kata itu adalah jawaban paling praktis. Menghentikan pertanyaan lebih lanjut, mencegah keharusan untuk menceritakan yang sebenarnya sambil mengorek luka yang belum sepenuhnya kering. Juga tersenyum padahal sebenarnya bibir ini terasa kaku untuk digerakkan. Karena senyuman sekali lagi adalah alat ampuh untuk menunjukkan pada dunia bahwa kita bisa bahagia dan tidak perlu dikasihani.


Jadi, jangan tertipu dengan wajah cerah ceria ala badut festival. Kita tidak tahu bagaimana ekspresi manusia di balik pakaian dan riasannya. Bisa saja ia sedang menangis di kala menjalankan tugas sebagai penghibur. Yang dilihat publik hanyalah apa yang mereka inginkan untuk dilihat.

Senyuman tidak selalu menjadi pertanda kebahagiaan. Sama saja, air mata tidak selalu melambangkan kesedihan. Ada senyum yang penuh kepahitan di baliknya. Pun air mata yang tumpah karena perasaan terlalu bahagia.

Picture : Twitter | searchquotes.com

16 January 2013

No More 'Stupid in Love'



Baru-baru ini peneliti menemukan bahwa ketika seseorang jatuh cinta, aktivitas otak di bagian frontal cortex yang berfungsi saat melakukan penilaian, tidak berfungsi. Yang artinya, kita susah melihat sisi buruk dari orang yang sedang kita cintai. Semua tindakannya terasa baik-baik saja. Gara-gara frontal cortex yang lagi mogok kerja inilah, yang menyebabkan kita bersedia melakukan sesuatu (bahkan apa pun) atas nama cinta.
Sumber: Rubrik Hi Girls majalah kaWanku #140 oleh Trinzi Mulamawitri

Sahabat saya termasuk salah satu contoh konkritnya. (Luckily) dia akhirnya sadar dan sekarang sudah putus dari cowoknya yang kurang ajarnya ampun-ampunan itu. Selama pacaran, dia sering dikatai bego, idiot, didorong sampai jatuh, ditinggal pulang saat cowok itu sedang ngambek, bahkan sampai mengatai agama sahabat saya.

Sejak pertama kali sahabat saya curhat mengenai perlakukan mantannya itu, saya selalu menyuruhnya berpikir baik-baik, apakah cowok seperti itu pantas dan layak dipertahankan. Berkali-kali pengin menyuruh dia untuk putus (termasuk geregetan mau memberi ‘pelajaran’ buat si cowok yang satu kampus dengan saya), tapi saya bukan orangtuanya. Saya masih sadar kapasitas saya sebagai sahabat hanya sebatas menasihati dan 'menyadarkannya'.

Sampai akhirnya hampir setahun kemudian, (thank God) dia bisa berpikir jernih dan membuat keputusan untuk berpisah.

Jatuh cinta itu sama sekali bukan kesalahan. Semua manusia di dunia ini berhak mencintai dan dicintai. Cinta adalah salah satu anugerah terindah dari milyaran kebaikan Tuhan di dunia. Tapi bukan berarti kita diperbudak oleh cinta.
Setiap orang punya caranya masing-masing ketika sudah berhadapan dengan cinta. Ada yang memilih memberikan cintanya 100 persen. Namun ada pula yang memberikan hanya 80 persen, dan sisanya berada dalam zona netral, di mana rasio tetap dipertahankan.
Ada yang rela-rela saja melakukan apa pun‒bahkan saat apa pun itu termasuk mengorbankan diri mereka sendiri‒demi orang yang dicintainya. Rasanya kok rasa cinta saya terhadap diri sendiri masih cukup besar sampai tidak ingin menyakiti atau mengorbankan diri demi seorang cewek. Mungkin terdengar egois, tapi kalau bukan kita yang menjaga diri kita sendiri, lantas siapa? Orangtua, kakak/adik, teman, dan manusia lainnya kan tidak mungkin menjaga kita 24/7.
Percayalah, di saat seorang cowok mengatakan, “Katanya kamu sayang sama aku. Kalau gitu, berarti kamu pasti mau...” (isilah titik-titik tersebut dengan berbagai jenis permintaan), itu adalah ciri-ciri cowok itu tidak layak untuk dipertahankan, apalagi diperjuangkan. Cowok yang baik, di saat mereka tahu kalau kita mencintainya, mereka tidak akan menyuruh kita melakukan apa pun demi cinta kita padanya. Mereka justru akan menjaga bagaimana supaya rasa cinta kita tetap bertahan bahkan semakin besar padanya, dengan cara-cara yang baik dan positif.
Cinta memang buta, tapi jangan sampai kita dibutakan oleh cinta.

Cinta memang bisa membuat seseorang jadi bodoh, tapi jangan sampai kita dibodohi oleh cinta.

Apalagi kalau yang sudah sampai melakukan kekerasan, baik secara fisik, mental, seksual, verbal, ekonomi (you know, kayak minta dibeliin dan dibayarin ini-itu), dll. Itu sih, nggak perlu pikir-pikir segala. Langsung saja minta putus. Karena menurut psikolog, kalau seseorang pernah melakukan kekerasan terhadap pasangannya, sangat tidak mungkin perbuatan yang sama akan terulang di kemudian hari. Jadi lebih baik berpisah saat terjadi kekerasan pertama kali, karena jelas, orang-orang seperti itu sama sekali tidak pantas diberikan kesempatan kedua.
Kekerasan dalam sebuah hubungan punya siklus klise. Setelah terjadi kekerasan, si pelaku langsung minta maaf, mengaku bersalah dan menyesal, blablabla. Karena nggak tega, akhirnya korban menerima permintaan maaf, dan hubungan kembali rukun. Baru deh, setelah beberapa lama berlanjut dengan konflik lain yang ujung-ujungnya berakhir dengan kekerasan berikutnya. Yang namanya siklus, tentu saja bisa terjadi berulang-ulang.
Sekarang bukan lagi zamannya cewek diam saja dan cenderung nurut diperlakukan dengan tidak baik oleh pasangan. Jangan biarkan cinta menyeret kita ke dalam zona cinta buta. Kalau memang mau pacaran, pacaran lah dengan sehat. Libatkan logika dan rasio, jangan lagi terbuai dengan dua kata basi “Demi cinta”.


Come on! It’s soooo last year. Harusnya kita mengganti mindset kita dengan kalimat ini:


p.s : Please lupakan soal hubungan Rihanna dan Chris Brown yang drama banget bahkan menyaingi sinetron di berbagai stasiun TV Indonesia, karena bukan sesuatu yang perlu ditiru sama sekali, dan tidak ada hubungannya dengan posting ini (kecuali judulnya yang terinspirasi dari judul lagu penyanyi asal Barbados itu).

Pictures: facebook.com | wordsoverpixels.com | naylaa.com

29 November 2012

Pribadi (tak) Bertopeng



Salahkah pribadi-pribadi yang menunjukkan karakter mereka sesungguhnya?
Hanya karena mereka ingin dilihat sebagaimana mereka
Karena mereka tidak bisa memainkan watak pribadi lain
Karena mereka terlalu lelah menampakkan ekspresi kepalsuan
Tertawa di depan orang yang mempermainkan emosi
Tersenyum bagi si pembawa perih dan kekecewaan

Lantas mereka dilabeli yang aneh-aneh
Sarkastik, sinis, judes, entah apa lagi
Hanya karena mereka tidak terbiasa berakting manis demi memuaskan khalayak
Karena mereka muak dengan sosok seperti itu dan tidak ingin menjadi bagian dari kumpulan itu
Karena mereka bosan tertipu kebaikan yang sifatnya fana

Sayangnya manusia lebih senang dipuaskan dengan kebohongan
Meski kebohongan itu akhirnya menjelma jadi racun yang perlahan mencekik
Sayangnya manusia lebih senang menjauhi pribadi-pribadi tak bertopeng
Meski tersimpan ketulusan di dalamnya

Picture : imgfave.com

13 November 2012

Hanya Pemain



Lucu.

Akhirnya kita sampai pada fase hubungan semacam ini.

Saat aku dan kamu bisa melafalkan nama satu sama lain tanpa rasa canggung. Saat aku dan kamu bisa bertukar kata dalam harmoni. Saat aku dan kamu bisa saling menatap dalam damai, tanpa duka pun pula rasa sesal yang dulu sempat hadir.

Jalan pikiran Tuhan sama misteriusnya dengan permainan kehidupan. Sama misteriusnya seperti kita. Ralat. Tak ada lagi ‘kita’. Yang ada hanya aku dan kamu. Dua pribadi yang tak lagi terlibat dalam hubungan romansa, tapi tetap bergumul entah dalam hubungan jenis apa.

Lucu.

Bagaimana selama belasan tahun namamu selalu disandingkan dengan namaku. Tapi nyatanya itu bukan takdir. Aku dan kamu dipertemukan sejak masih belum mengerti permainan dunia. Aku dan kamu hanya memainkan bagian masing-masing.

Rasa itu usai sudah. Yang tersisa hanya kenangan untuk diingat dalam tawa.

Aku dan kamu, hanya bidak dalam permainan dunia.

Picture : xoxjustsmilexox.tumblr.com

02 November 2012

Comfort Zone



Kebanyakan manusia memilih untuk stay dalam comfort zone mereka masing-masing. Untuk apa keluar dari zona aman, hanya untuk pindah ke zona lain yang belum teruji apakah aman atau tidak. Untuk apa mengorbankan kebiasaan lama yang sudah menjadi bagian kehidupan kita, hanya untuk menjalani aktivitas lain yang belum tentu membawa perbaikan, atau malah mendatangkan masalah?

Pemikiran semacam itu sangat wajar timbul setiap kali kita hendak move on dari comfort zone. Masing-masing manusia punya definisi berbeda mengenai comfort zone. Sama seperti selera dan opini. Bentuk comfort zone pun bervariasi, mulai dari yang paling sederhana seperti sarapan dengan roti, sampai pada hal yang sangat krusial seperti memutuskan untuk berhenti kerja kantoran demi memulai usaha sendiri.

Saya senang melihat segala sesuatu dari sisi yang paling sederhana.  Termasuk soalcomfort zone.
Yang termasuk comfort zone saya adalah berambut panjang. Setelah melewati masa balita, saya selalu bertahan dengan rambut lurus-hitam-panjang (sepunggung). Tidak seperti teman-teman cewek saya yang suka ke salon entah itu untuk potong rambut atau melakukan berbagai treatment lain, saya baru akan pergi ke salon di saat benar-benar ingin menggunting rambut.
Sampai akhirnya suatu hari, tepatnya sehari setelah ulang tahun saya yang ke-19, saya memutuskan untuk memotong rambut yang saat itu bisa dikatakan rambut terpanjang saya selama ini.
Sama seperti biasanya, saya hanya akan menggunting rambut saya tidak lebih dari lima senti, sampai-sampai lebih sering terlihat tidak ada bedanya antara sebelum dan sesudah gunting rambut. Saat itu pun saya mengatakan kepada kapster bahwa saya ingin memotong rambut saya sekitar satu jengkal.
Yang terjadi selanjutnya benar-benar di luar dugaan saya. Saya terlambat menyadari bahwa rambut saya sudah digunting hampir separuhnya. Sempat syok, tapi akhirnya saya menguatkan hati dan terus mengatakan ‘tidak apa-apa’ kepada diri saya sendiri.
Hari-hari awal, saya sempat merasa aneh dan tidak pede dengan rambut sebahu saya. Terakhir kali rambut saya sependek ini saat berusia tiga sampai empat tahun, dan itu berarti sudah hampir lima belas tahun yang lalu. Tapi mau diapakan lagi, rambut saya sudah terlanjur digunting. Saya bisa saja melakukan hair extension. Tapi rambut saya yang pertamanya terlihat aneh karena istilahnya masih ‘belum nurut’, perlahan tidak lagi terlihat aneh. Beberapa orang sempat kaget melihat rambut pendek saya, tapi tidak ada yang mengatakan jelek. Hanya belum terbiasa, begitu kata mereka.

Walaupun bisa dikatakan sebagai ‘kecelakaan’, saya tidak menyesal sama sekali. Kalaukapster itu tidak terlalu ‘bernafsu’ menggunting rambut saya, mungkin sampai bertahun-tahun ke depan saya akan tetap bertahan dengan rambut panjang. Padahal surprisingly, short hair is not that bad.
Hal sesederhana ini juga bisa diaplikasikan pada hal yang lebih krusial.
Karena kita sudah terlalu nyaman dan aman dalam comfort zone kita, kita jadi terlalu ‘betah’ dan tidak ingin beranjak. Padahal keluar dari comfort zone sekali-sekali dapat memberikan perubahan. Maybe the life changing one.

Tempat di luar comfort zone yang dalam bayangan kita akan menjadi tempat yang menyeramkan, bisa jadi memberikan banyak pengalaman berharga yang tidak akan kita dapatkan kalau terus-terusan stay dalam comfort zone.
Kalaupun ternyata kita ‘celaka’ di luar sana, setidaknya kita mendapat kesempatan untuk belajar dari ‘kecelakaan’ tersebut.
"Sometimes, being out of your comfort zone is a good thing." - Frost Nixon (2008)
Picture: piccsy.com

13 September 2012

Birthday is a time to...



... stop at the railway station, to think where you've been and choose tracks for the new year of your life.

Picture : kristinamayer.blogg.no

31 August 2012

Pelajaran Berharga di Penghujung Bulan




31 Agustus 2012
Hari ini adalah hari yang benar-benar 'membekas' bagi saya. Hari yang membahagiakan sekaligus menggemparkan. Hari yang mengajarkan saya banyak hal.
Saya mengawali hari ini dengan sangat baik.
    1.      Today is Friday
    2.      Mata kuliah hari ini hanya ada satu kelas (100 menit) dan menyenangkan
    3.      Saya akhirnya bisa bertemu dengan dua sahabat SD saya setelah beberapa kali gagal
            karena tidak menemukan jadwal yang cocok
Tapi semua kebaikan itu berubah seratus delapan puluh derajat.
Setelah menghabiskan waktu dengan reuni kecil-kecilan, saya dan seorang sahabat yang kebetulan rumahnya berseberangan dengan saya pulang bersama menggunakan bus Trans Jakarta koridor 1 Blok M - Kota.
Kami naik di Halte Tosari dalam keadaan bus penuh sesak. Sampai di Halte Sarinah, dompet saya sudah tidak ada lagi di dalam tas. Hilang dicopet orang.
Kejadiannya kurang lebih seperti ini:
Orang-orang sudah turun dari bus di Halte Sarinah. Tas saya memang seletingnya bermasalah, makanya saya selalu memeganginya, tidak terkecuali saat itu. Karena keadaan bus penuh sesak, saya sempat terdorong (saksi melihat saya sengaja didorong). Otomatis, tangan saya refleks mencari pegangan supaya tidak terjatuh.
Setelah pintu bus tertutup dan bus siap melaju kembali, seorang penumpang mengatakan bahwa dia melihat seseorang merogoh tas saya dan orang tersebut sudah keluar dari bus. Saya langsung menyampaikan pada petugas penjaga pintu bahwa saya sudah kecopetan. Kemudian petugas tersebut menyuruh supir menutup pintu dan berjalan maju. Petugas tersebut lantas menelepon rekannya yang ada di Monas untuk melakukan patroli, serta tidak mengizinkan penumpang yang masih ada di bus untuk turun. Di halte selanjutnya, Halte Bank Indonesia, penumpang yang akan turun digeledah terlebih dahulu oleh petugas tersebut dan rekannya yang ikut bergabung. Keadaan saya saat itu benar-benar kacau.
Saya dan sahabat saya akhirnya memutuskan turun di Halte Harmoni, meskipun petugas menyuruh kami untuk tetap ikut bus tersebut sampai ke halte terakhir (Halte Kota). Petugas di Halte Harmoni menyuruh saya duduk dan menenangkan diri, bahkan meminjamkan ponselnya yang kemudian digunakan oleh sahabat saya untuk menghubungi call centerbank bersangkutan berbekal nomor yang diberikan oleh penumpang lain.
Karena di Duta Merlin terdapat dua kantor bank yang bersangkutan, saya dan sahabat saya lantas pergi ke kantor bank tersebut. Meskipun sudah tutup, masih ada beberapa pegawai di bank pertama yang kami datangi. Salah satunya membantu saya menghubungi call center dan beruntung saya bisa memblokir kartu debet saya. Di bank satunya, seorang sekuriti yang sedang bersantai langsung sigap membantu.
Di balik semua kekacauan yang terjadi, saya mendapatkan banyak sekali pelajaran berharga yang bahkan tidak bisa dibandingkan dengan kerugian materiil yang saya alami.
Tuhan menegur saya yang tidak menjaga barang bawaan saya dengan hati-hati. Tuhan ingin saya belajar untuk lebih bertanggung jawab dengan keselamatan diri dan harta benda saya.
Selama ini orangtua saya selalu berpesan supaya saya selalu hati-hati ketika naik angkutan umum atau di tempat umum. Dan seringkali saya menganggapnya sebagai angin lalu (masuk telinga kiri keluar telinga kanan), meremehkan nasihat mereka, bahkan menganggap mereka cerewet dan menyebalkan. Tuhan ingin saya merubah sifat jelek itu, supaya bisa menjadi pribadi yang lebih baik.
Tuhan juga ingin menunjukkan secara langsung kepada saya, bahwa di balik peristiwa yang tidak menyenangkan dalam hidup kita, akan selalu ada orang-orang yang diutus oleh-Nya untuk mengulurkan tangannya kepada kita, untuk membantu kita. Sekali pun kita menyusahkan mereka, membuat mereka repot.
Mulai dari sahabat saya, petugas bus Trans Jakarta, penumpang lain, orang-orang yang saya temui, pegawai dan sekuriti bank, pengemudi taksi, dan orang-orang lain yang mungkin terlupakan selama otak saya tidak berfungsi dengan baik di sela-sela kepanikan. Mereka (selain sahabat saya tentunya) tidak mengenal saya, tapi mereka menaruh perhatian, rela tasnya digeledah petugas, tidak memaki saya karena mereka ikut direpotkan karena kecerobohan saya, tidak marah-marah pada saya karena perjalanan bus jadi tertunda, bahkan sampai menimbulkan kemacetan.
Yang paling berjasa besar tentunya adalah sahabat saya, Kartika. Dia ikut panik, membantu menelepon, juga berusaha menenangkan saya. Sahabat sejati adalah orang yang ada di samping kita di saat kita mengalami kesulitan. Hal itu sudah tidak perlu saya ragukan lagi darinya.
Jujur, tidak sedetik pun setelah peristiwa tersebut terjadi, saya membenci orang yang telah mengambil dompet saya. Orang itu memang melakukan hal yang salah karena mengambil dompet saya, tapi saya jauh lebih bersalah karena tidak menjaga barang saya dengan baik dan memberikan kesempatan kepada orang tersebut untuk melakukan perbuatan dosa.
Terima kasih Tuhan untuk penghujung bulan yang luar biasa ini. Saya telah belajar banyak, dan akan ' meng-upgrade' diri saya untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
Picture : imattthew.tumblr.com

22 August 2012

Peephole



Melihat ke pintu pagar melalui celah kecil di pintu ini selalu menjadi keinginan sederhana saya saat masih kanak-kanak. Sulit rasanya, karena tinggi saya jauh di bawah tinggi celah tersebut. Saya bisa mencapainya dengan naik ke bangku, tapi rasa puas yang diperoleh berkurang. Saya ingin bisa melihat jelas lewat celah itu tanpa alat bantu apapun, persis dengan kedua kaki saya.
Dan sekarang, saat tinggi saya sudah jauh bertambah, melihat melalui celah itu menjadi hal yang mudah. Saya kehilangan minat untuk mengintip melalui celah itu lagi. Karena sudah tidak ada tantangan. Karena saya sudah mencapai keinginan kanak-kanak saya.
Sama seperti mimpi. Saat kita masih belum bisa meraihnya, mimpi akan terlihat sangat jauh, begitu menggoda untuk bisa ditaklukan. Tapi begitu kita berhasil meraihnya, apa lantas cerita berhenti sampai di situ?
Itu sebabnya jangan hanya memiliki satu mimpi saja. Kalau selama kita hidup, kita hanya memiliki satu mimpi, apa yang akan kita lakukan ketika mimpi tersebut sudah terwujud? Selama kita masih ada di dunia ini, bangunlah kerajaan mimpi kita setinggi mungkin. Supaya ketika satu mimpi berhasil didapat, masih ada banya mimpi-mimpi lain yang mengantri untuk kembali ditaklukkan.
Bermimpi adalah cambuk paling ampuh untuk memacu diri bergerak, melanjutkan hari demi hari, melakukan sesuatu yang memiliki arti.
Picture : thelindmandiary.blogspot.com

17 August 2012

Hari 17 Boelan 8 Tahoen 2012



Mungkin kita sering dibuat gusar oleh ulah para petinggi negara ini yang malah menyalahgunakan kekuasaan mereka demi usaha memperkaya diri.
Mungkin kita sering dibuat kecewa oleh berbagai peraturan dan kebijakan yang dibuat oleh para birokrat.
Mungkin kita sering dibuat prihatin dengan taraf hidup masyarakat yang bukannya membaik malah semakin mundur.
Mungkin kita sering bertanya pada diri kita sendiri, “Kenapa saya harus lahir di Indonesia? Kenapa saya harus hidup di negara ini?”
Sama seperti keluarga. Kita tidak bisa memilih di keluarga mana kita akan lahir. Di keluarga seperti apa kita dibesarkan. Mungkin ada saatnya kita kecewa dengan perlakuan orangtua kita. Mungkin ada kalanya kita memilih untuk lahir di keluarga lain. Tapi pada akhirnya kita tahu, keluarga kita mungkin bukan keluarga terbaik di dunia, tapi mereka lah yang terbaik untuk kita. Begitu pula Indonesia. Negara ini bukan negara terbaik di dunia, tapi percayalah bahwa Indonesia adalah negara terbaik di hati kita.
Saya sempat membaca di timeline saya pagi ini, sebuah tweet yang berbunyi: Kita mencintai Indonesia bukan karena lahir di negara ini, tapi karena Indonesia telah lahir dalam hati kita.
Jangan terus memfokuskan penglihatan pada kebobrokan negara ini. Buka mata lebih lebar, buka telinga dan dengarkan baik-baik. Bagaimana putra bangsa dan usaha mereka mengharumkan nama Indonesia di mata dunia. Bagaimana budaya negara ini menarik jutaan manusia dari berbagai penjuru dunia.
Lihatlah betapa indahnya setiap inci Tanah Air. Maka kita akan jatuh cinta pada Indonesia lebih dan lebih lagi setiap harinya.
Mencintai harus bisa menerima apa adanya, baik dan buruknya, bukan? Ya, saya mencintai Indonesia di balik setiap kekurangannya.
DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA-KU TERCINTA!
Picture : private collection