Showing posts with label photos. Show all posts
Showing posts with label photos. Show all posts

20 August 2013

10 Tahun Bersamamu, 10 Tahun Tanpamu


20 Agustus 2003 – 20 Agustus 2013

Engkong, begitu panggilan saya untuk beliau.

Engkong pergi 26 hari sebelum ulang tahun saya yang ke-10. Tak banyak yang melekat dalam ingatan saya tentang sosok beliau, meski saya sempat tinggal selama dua tahun bersama kakak sepupu pria saya di rumah beliau. Mungkin karena usia saya yang masih terlalu muda saat beliau dipanggil menghadap-Nya, juga karena tak terasa sudah sepuluh tahun berlalu sejak hari itu.

Engkong dalam ingatan saya adalah sosok kakek yang enerjik, banyak ide, hangat tapi tegas, dan berprinsip.

Engkong yang selalu menjemput (terkadang juga mengantar) saya dan kakak sepupu saya sekolah dengan bajaj. Saya masih TK saat itu, sementara sepupu saya sudah duduk di bangku sekolah dasar.

Engkong yang tidak pernah melewatkan tayangan berita di TV, baik itu berita pagi, siang, maupun petang.

Engkong yang tidak pernah lupa minum cuka apel setiap hari karena mengetahui bahwa minuman itu baik untuk jantung.

Engkong yang suka memoleskan potongan mentimun di siku tangan beliau setelah makan, entah demi tujuan apa.

Engkong yang selalu mengingatkan secara halus saat Emak (panggilan saya untuk nenek saya) bicara dengan suara terlalu keras.

Engkong yang mahir memperbaiki berbagai barang, juga menambahkan roda di kaki lemari guna memudahkan ketika hendak dipindah-posisi.

Engkong yang sering mengajari saya banyak hal, mulai dari hitung-hitungan, bahasa Inggris, sampai ‘pelajaran hidup’.

Engkong yang sering memuji saya ketika mendapat nilai bagus atau saat menjadi ranking kelas.

Engkong yang memarahi sepupu saya yang kadang bandel dan menjahili saya (walau untuk kasus ini saya sering merasa bersalah setiap mengingatnya karena saya termasuk cengeng kala itu).

Engkong yang menegur kepala sekolah TK saya karena membela teman yang menjahili saya sehingga membuat saya sempat takut pergi ke sekolah.

Engkong yang selalu mengharapkan cucu-cucu beliau yang kala itu terdiri dari tiga pria dan tiga perempuan (dua tahun setelah kepergian beliau bertambah satu cucu perempuan) bisa menjadi orang yang berguna, berhasil, dan berbakti pada orangtua masing-masing.

Engkong yang pergi secara mendadak setelah jatuh sakit (masalah pencernaan) selama dua hari. Bahkan saya dan ibu saya sempat menginap di rumah beliau saat mendengar kabar beliau sakit.

Sayangnya saya tidak berada di sisi beliau pada saat-saat terakhir. Karena ibu saya tidak menyangka keadaan Engkong separah itu dan karena pertimbangan saya masih kecil jadi rentan tertular penyakit, saya tidak diajak ikut serta ke rumah sakit.

Rabu dini hari (sekitar pukul empat), ibu saya ditelepon kakaknya–Om saya–dan langsung datang ke rumah sakit. Rupanya saat itu jantung Engkong sudah tidak lagi berdetak, namun Om saya tidak menyampaikan lewat telepon karena takut ibu saya syok.

Saya ingat, saya masih pergi sekolah hari itu. Saya akhirnya mengetahui bahwa Engkong sudah pergi untuk selamanya sekitar pukul sepuluh, setelah ibu saya datang ke sekolah untuk minta izin membawa saya pulang pada wali kelas.

Seperti yang sudah saya tuliskan di awal, tidak banyak yang saya ingat tentang sosok beliau, juga pengalaman saya menghabiskan waktu dengan beliau. Tapi satu hal yang saya tahu pasti. Saya merasa beruntung pernah mengenal beliau selama sepuluh tahun. Banyak hal baik, juga cara pandang positif yang saya pelajari dan dapatkan dari sosok beliau.



Semoga Engkong tenang dan bahagia di sisi-Nya.


Pictures : private collection

17 August 2012

Hari 17 Boelan 8 Tahoen 2012



Mungkin kita sering dibuat gusar oleh ulah para petinggi negara ini yang malah menyalahgunakan kekuasaan mereka demi usaha memperkaya diri.
Mungkin kita sering dibuat kecewa oleh berbagai peraturan dan kebijakan yang dibuat oleh para birokrat.
Mungkin kita sering dibuat prihatin dengan taraf hidup masyarakat yang bukannya membaik malah semakin mundur.
Mungkin kita sering bertanya pada diri kita sendiri, “Kenapa saya harus lahir di Indonesia? Kenapa saya harus hidup di negara ini?”
Sama seperti keluarga. Kita tidak bisa memilih di keluarga mana kita akan lahir. Di keluarga seperti apa kita dibesarkan. Mungkin ada saatnya kita kecewa dengan perlakuan orangtua kita. Mungkin ada kalanya kita memilih untuk lahir di keluarga lain. Tapi pada akhirnya kita tahu, keluarga kita mungkin bukan keluarga terbaik di dunia, tapi mereka lah yang terbaik untuk kita. Begitu pula Indonesia. Negara ini bukan negara terbaik di dunia, tapi percayalah bahwa Indonesia adalah negara terbaik di hati kita.
Saya sempat membaca di timeline saya pagi ini, sebuah tweet yang berbunyi: Kita mencintai Indonesia bukan karena lahir di negara ini, tapi karena Indonesia telah lahir dalam hati kita.
Jangan terus memfokuskan penglihatan pada kebobrokan negara ini. Buka mata lebih lebar, buka telinga dan dengarkan baik-baik. Bagaimana putra bangsa dan usaha mereka mengharumkan nama Indonesia di mata dunia. Bagaimana budaya negara ini menarik jutaan manusia dari berbagai penjuru dunia.
Lihatlah betapa indahnya setiap inci Tanah Air. Maka kita akan jatuh cinta pada Indonesia lebih dan lebih lagi setiap harinya.
Mencintai harus bisa menerima apa adanya, baik dan buruknya, bukan? Ya, saya mencintai Indonesia di balik setiap kekurangannya.
DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA-KU TERCINTA!
Picture : private collection

28 October 2011

Bangga Menjadi Pemuda Indonesia


Delapan puluh tiga tahun yang lalu, pemuda Indonesia melakukan sebuah pergerakan yang menjadi bukti nyata kecintaan mereka terhadap Indonesia melalui Sumpah Pemuda. Namun lihat apa yang terjadi pada pemuda Indonesia di masa sekarang ini. Bahkan rasa nasionalis sudah luntur dari jiwa kita sebagai pemuda.

Jangan mengaku sebagai pemuda Indonesia yang nasionalis, kalau kerjaan kita hanya mencela negeri sendiri. Kalau mau disebut nasionalis, buktikan rasa cinta kita terhadap Tanah Air dengan bukti nyata. Tidak perlu sampai mengikuti demo. Dari hal-hal sederhana saja, kita sudah bisa ikut serta dalam membangun negeri ke arah yang lebih baik, contohnya seperti ini: 


1. Bangga menggunakan batik dan kebaya (saat hangout atau special ocassion)
Batik dan kebaya tidak lagi identik dengan pakaian nenek-nenek. Kalau tahu cara mix n' match dengan benar... voila! Kita bisa terlihat stylish sekaligus nasionalis di saat yang bersamaan. Pilih kebaya encim yang tidak terlalu mencolok, kemudian padukan dengan celan atau rok jins. Dengan begitu, maka tidak akan menimbulkan kesan too much. 


2. Menonton saluran TV lokal
Tentunya dengan catatan hanya menonton acara-acara yang memberikan dampak positif (seperti acara kuliner, traveling, budaya, dll). Kompas TV dan Metro TV menjadi channel favorit saya, karena menyajikan berbagai acara edukatif yang membuat kita semakin jatuh cinta dengan Indonesia.


3. Merawat diri dengan cara tradisional
Bangsa ndonesia sudah sejak dulu terkenal dengan kepiawaiannya meracik berbagai bahan tradisional sebagai alat mempercantik diri. No wonder kalau Mustika Ratu menjadi perusahaan make-up kebanggaan Indonesia yang tidak perlu diragukan eksistensinya di kancah internasional. So, enggak butuh kosmetik dengan harga selangit, karena bahan-bahan yang biasa tersedia di dapur pun bisa dimanfaatkan! 


4. Bersikap tertib saat mengikuti Upacara Bendera
Enggak perlu sampai ikut paskibra. Cukup dengan mengikuti upacara dari awal sampai akhir dengan khidmat dan tertib, kita sudah bisa membuktikan rasa cinta kita kepada Tanah Air. Berdiri tegap dan memberi hormat saat pengibaran Bendera dan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya selama beberapa menit tidak akan membuat tangan kita patah, kok. 


5. Mendengarkan cerita dari kakek atau nenek tetang sejarah Indonesia
Kakek dan nenek kita yang sudah lahir dan bahkan menjadi bagian dari sejarah Indonesia tentunya dapat menceritakan semuanya itu dalam versi yang lebih seru. Sayangnya saya sudah tidak bisa mendengarkan itu semua, karena Kakek saya yang dulu suka bercerita telah tiada. Jadi, beruntunglah kalian yang masih memiliki kakek atau nenek yang dapat berbagi cerita. Membaca buku atau browsingsitus sejarah Indonesia juga bisa jadi alternatif pilihan. 


6. Traveling ke negara sendiri dulu, baru ke negara lain
Kalau wisatawan asing saja hobi banget traveling ke negara kita ini, masa kita yang tinggal di Indonesia kalah? Indonesia memiliki banyak sekali tempat-tempat wisata yang sangat indah dan harus menjadi tujuan utama destinasi liburan kita. Belum lagi pantai-pantainya yang super fabulous. 


7. Mengikuti kursus atau ekstrakurikuler tari daerah
Tarian tradisional yang dimiliki negara kita enggak kalah cool jika dibandingkan dengan tarian dari negara-negara lain. Malahan, tarian tradisional jauh lebih susah dibanding tarian luar. Jadi, kalau kita bisa menguasai tarian tradisional, tentunya kita bisa sedikit pamer sama teman-teman kita yang ada di luar negeri. 


8. Mencoba berbagai kuliner asli Indonesia
Indonesia terkenal dengan makanan tradisionalnya yang super yummy! Kalau mau dibikin list-nya, bisa sampai berlembar-lembar. Jadi, ayo ajak teman-teman kita untuk mencoba makanan tradisional Indonesia (lebih seru lagi kalau di warung pinggir jalan, karena rasanya yang masih original)!

Intinya, jalani semuanya dari hati, karena cuma hati kita yang bisa dengan jujur merefleksikan seberapa besar rasa cinta kita kepada tanah tempat kita berpijak saat ini.

Selamat Hari Sumpah Pemuda!

Pictures : private collection | gettyimages.com | wikipedia.com | lemper-abon.tumblr.com

14 September 2011

Officially 18th





Rasanya baru kemarin saya merayakan ulangtahun yang ke-17. Dan sekarang usia saya sudah 18. Entah mengapa rasanya 365 hari berlalu dengan sangat cepat. Banyak yang telah terjadi selama setahun ini. Usia 17 adalah fase di mana saya merasakan banyak sekali pengalaman baru, perubahan, juga harus beradaptasi dengan cepat. Dimulai dengan masa-masa pra hingga pasca kelulusan, sampai akhirnya status saya kini resmi menjadi mahasiswi.

Pada hari ini pula, saya disadarkan akan satu hal. Hal yang mungkin saya nilai sepele selama ini, tapi nyatanya cukup krusial. Perhatian.

Mulai pukul sebelas malam tanggal 12, sudah ada beberapa orang yang mengucapkan selamat via Facebook. Sampai beberapa menit sebelum pergantian tanggal 13 pun, ucapan selamat terus berdatangan mulai dari secara langsung, via telepon, BlackBerry Messenger, Twitter, Facebook, dan SMS. Bahkan beberapa di antara orang yang mengucapkan selamat melalui Facebook tidak pernah saya kenal.

Kenyataan ini benar-benar menohok saya. Selama ini, ketika membaca e-mail notifikasi kiriman Facebook yang berisi tentang siapa saja teman saya yang berulang tahun dalam seminggu ke depan, saya tidak begitu menaruh perhatian. Apalagi kepada orang yang tidak saya kenal, yang entah mengapa bisa ada dalam daftar teman saya. Saya selalu berpikir ‘Saya tidak mengenalnya, jadi untuk apa mengucapkan selamat ulang tahun?’. Sungguh, egois sekali diri saya ini.

Tanpa dapat dielakan, setiap kali saya membaca ucapan selamat, entah dari siapapun orangnya, kenal ataupun tidak, saya sudah sangat senang. Berlebihan? Mungkin. Tapi saya senang karena menyadari banyak orang yang menaruh perhatian kepada saya. Se-simple apapun ucapan itu, seperti hanya tulisan ‘Happy birthday’, atau yang disertai serangkaian doa, semuanya menunjukkan perhatian mereka terhadap eksistensi saya. Bahwa mereka ikut mendoakan saya di hari spesial saya.

Perasaan bersalah mengganjal di hati saya. Betapa kurang pedulinya saya selama ini. Hanya mengetik ucapan selamat, tidak akan membuat jari saya patah. Hanya perlu beberapa detik dari waktu selama 24 jam yang saya miliki dalam sehari. Apa susahnya itu semua? Mengapa saya perhitungan sekali? Kalau saya kenal, maka saya baru akan memberi selamat?
Lebih perhatian kepada orang-orang di sekitar saya. Itulah PR saya di usia 18 ini.

Untuk itu, saya mencoba untuk sedikit ‘menebus dosa’ dengan membalas ucapan mereka satu per satu. Ada beberapa orang yang memilih untuk membalas ucapan selamat lewat statusnya (contoh : Thank’s for the wishes, guys), atau meng-copy-paste ucapan terima kasih kepada setiap orang yang memberi selamat. Itu hak mereka, sepenuhnya terserah mereka. Tapi saya memilih untuk membalas satu per satu, dengan bahasa yang berbeda-beda, karena saya ingin mereka tahu, saya sangat menghargai perhatian mereka. Tidak hanya dilatarbelakangi formalitas semata. Saya menulis ‘terima kasih’ karena memang saya benar-benar berterima kasih. Even though i’m so careless to people around me, they still pay attention to me.

Mulai sekarang, saya akan lebih perhatian lagi kepada orang-orang di sekitar saya. Karena saya telah merasakan sendiri, sebuah perhatian, sekecil apapun itu, mampu membuat sebuah senyuman merekah di wajah si penerima perhatian, bahkan mungkin mampu menghangatkan perasaan mereka.

Thank you for all the birthday wishes! I’m so blessed to be surrounded by great person like all of you -xoxo-

Picture : private collection

17 August 2011

Indonesia = KITA



HUT RI bukan hanya menjadi waktu di mana kita mengadakan upacara atau mungkin menonton liputan upacara di seluruh stasiun TV. HUT RI juga bukan hanya menjadi ajang untuk bersenang-senang dengan berbagai perlombaan, mulai dari bakiak, balap karung, makan kerupuk, panjat pinang, dan sebagainya.

Peringatan HUT RI justru harusnya membuat kita merenungkan kembali, apa benar kemerdekaan yang berhasil direbut oleh bangsa ini 66 tahun yang lalu sudah benar-benar terwujud? Atau selama ini kita hanya mampu berteriak 'Merdeka!', padahal sesungguhnya kita belum merasakan kemerdekaan itu sendiri. Penjajah kita saat ini bukan lagi Belanda atau Jepang, tetapi bangsa ini sendiri. Justru itulah yang jauh lebih berbahaya. 

Bagaimana budaya KKN terus mendarah daging, bagaimana kemiskinan masih merajalela, bagaimana konflik antar etnis dan golongan terus menghiasi berbagai media pemberitaan.
Apa itu, arti merdeka yang sesungguhnya? Saya rasa tidak.

Itulah tugas KITA SEMUA. Bukan tugas pemerintah, bukan tugas warga negara. Tugas KITA. Tidak akan ada gunanya memaki-maki koruptor. Mulailah perubahan itu dari diri kita sendiri. Kalau semua orang berubah menjadi lebih baik, saya percaya dan yakin Indonesia bisa benar-benar merasakan kemerdekaan.

Ayo kita membangun bangsa ini menjadi lebih baik lagi dimulai dari diri kita masing-masing!
DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA KE-66

“Indonesia merdeka bukan tujuan akhir kita. Indonesia merdeka hanya syarat untuk bisa mencapai kebahagiaan dan kemakmuran rakyat. Indonesia merdeka tidak ada gunanya bagi kita, apabila kita tidak sanggup untuk mempergunakannya memenuhi cita-cita rakyat kita: hidup bahagia dan makmur dalam pengertian jasmani maupun rohani. Maka dengan tercapainya penyerahan kedaulatan, perjuangan belum selesai. Malahan kita berada pada permulaan perjuangan yang jauh lebih berat dan lebih mulia, yaitu perjuangan untuk mencapai kemerdekaan daripada segala macam penindasan…” -Mohammad Hatta, sidang pleno KNIP (19 Desember 1949)

Picture : private collection

23 June 2011

I Know It's Kinda Late, but Happy Birthday



Ulang tahun Jakarta memang telah berlalu, karena keterbatasan waktu saya tidak bisa memposting opini saya ini tepat pada harinya. Tapi terlambat satu hari lebih baik daripada tidak sama sekali, bukan?

Tahun ini Jakarta genap berusia 484 tahun. Wow! Sebuah usia yang fantastis. Membutuhkan perjuangan luar biasa untuk mempertahankan kota ini selama sekian ratus tahun. Belum lagi dengan predikat sebagai ibu kota yang disandang.

Sebagai orang yang lahir dan besar di Jakarta, tentunya saya memiliki segudang pengalaman dengan kota ini. Mulai dari kenangan masa kecil yang begitu manis, sampai kejadian-kejadian yang membuat emosi membuncah.

Selama ini orang-orang terus mengeluh. Kemacetan, banjir, polusi, kriminalitas, kepadatan penduduk adalah beberapa masalah utama Jakarta. Tapi apa gunanya terus-menerus mengeluh tanpa melakukan apapun? Kita lah yang menjadi penyebab utama masalah-masalah tersebut. Bukan Jakarta yang salah, karena pada kenyataannya Jakarta tidak memiliki daya apapun untuk menyusahkan warganya. Kita lah yang menyusahkan diri kita sendiri, dan orang lain yang juga menjadi pengisi kota ini.

Lantas apa yang kemudian kita lakukan? Mengeluh sambil bertopang dagu? Mengadukan jeritan hati tanpa sadar kita semakin memperburuk keadaan?

Mungkin kebanyakan dari kita akan melemparkan tanggung jawab kepada para pembesar negara dan kota. Jakarta adalah ibu kota negara, sudah selayaknya mendapatkan treatment khusus. Karena banyak pusat pemerintahan yang berhubungan dengan luar negeri berada di kota ini. Karena banyak investor asing yang menanamkan modalnya pada perkantoran yang menjulang di kota ini. Karena Jakarta akan terus disorot, baik oleh seluruh penduduk Indonesia, maupun penduduk dunia.

Kalau saja pemda (pemerintah daerah) mau menggunakan dana yang tersedia sebagai mestinya, maka sarana dan prasarana Jakarta akan bisa disandingkan dengan ibu kota negara lain yang telah terlebih dulu sukses. Tapi semuanya itu percuma saja tanpa dukungan dan kerja sama dari kita sebagai penghuninya.

Mari kita ambil salah satu contoh. Pemda sudah menyediakan transportasi senyaman TransJakarta. Namun siapa yang membuatnya menjadi tidak nyaman? Semuanya kembali kepada para penggunanya, kepada para pengurusnya. Kalau saja kita mau tertib mengantri, mau tertib membuang sampah di tempatnya, mau terus waspada terhadap tangan-tangan jahil, maka kita akan merasakan kenyamanan transportasi massal tersebut. Kalau saja pengurusnya mau memeriksa kesiapan kendaraan secara berkala, mau menerapkan sistem yang lebih baik, mau menomorsatukan kepuasan konsumen, maka tidak akan ada kecelakaan atau malapetaka lainnya.

Coba kita berkaca, kenapa kendaraan semacam TransJakarta di negara lain bisa dimanfaatkan dengan baik? Bisa terasa nyaman dan aman? Jawabannya hanya satu :sumber daya manusia yang berkualitas, tertib, dan sudah siap menjadi dewasa seutuhnya.

Pertanyaannya, apa kita sudah siap menjadi penduduk yang dewasa seutuhnya? Seharusnya kita sebagai warga Jakarta ikut bertumbuh bersama kota ini. Teknologi semakin berkembang pesat. Kalau kita tidak bisa mengiringinya dengan perkembangan mental kita, maka sia-sialah sudah.

Kita bisa memperbaiki keadaan kota kita tercinta mulai dari diri kita sendiri. Tertibkan diri kita masing-masing. Selalu buang sampah di tempatnya. Sekarang ini tempat sampah sudah mudah ditemui di berbagai lokasi. Peka terhadap keadaan di sekeliling kita. Budayakan antri. Walau mungkin kata-kata ini terdengar kolot sekali, tapi memang inilah yang menjadi sifat jelek yang telah mendarah daging bagi sebagian besar warga Jakarta (atau Indonesia?).
Saya yakin, jika kita sudah bisa menjadi dewasa seutuhnya, maka Jakarta pun tidak akan kalah majunya dengan kota-kota lain di dunia. Saya percaya, dengan ketertiban yang dimulai dari tiap-tiap individu, Jakarta dapat tumbuh menjadi contoh yang baik sekaligus menjadi motivasi bagi kota-kota lain di Indonesia.


Selamat ulang tahun kotaku tercinta, Jakarta!
Selamat bertumbuh menjadi dewasa, warga Indonesia!

Dok : baliin-donesia.info | private collection

17 May 2011

It's Not The End, It's Just a New Beginning



Rasanya baru beberapa hari yang lalu saya memasuki kelas baru di bangku SMA. Rasanya baru beberapa hari yang lalu saya mengenakan seragam putih abu-abu. Rasanya baru beberapa hari yang lalu saya mencicipi masa SMA.

Dan tau-tau, semuanya itu telah betul-betul berakhir. Masa-masa berkutat dengan tugas dan ujian telah berbuah manis. Selembar kertas dengan lima huruf yang membentuk kata L-U-L-U-S mengakhiri perjuangan selama tiga tahun. Tiga tahun yang berlalu begitu saja, seolah waktu berlari meninggalkan saya. Meninggalkan saya yang belum rela meninggalkan masa-masa itu, masih terbuai dalam comfort zone saya.

Tapi kemudian saya disadarkan, life must go on. Seorang bayi tidak akan belajar berjalan terus-menerus, bukan? Begitu pula dengan saya. Inilah saat bagi saya untuk merajut hari-hari baru di jenjang yang lebih tinggi lagi.


College.

Tempat di mana cita-cita terasa semakin dekat di depan mata.

Sebenarnya tidak banyak perbedaan antara high school dan college. Sama-sama masih harus bergelut dengan tugas dan ujian, masih harus bertemu dengan guru (walau dengan nama berbeda, dosen), masih terikat dengan berbagai aturan (walau mungkin tidak seketat dulu), masih merupakan sarana untuk bersosialisasi dan mengejar impian.

Perbedaannya hanya pada sistem belajar, ilmu yang didapat. And of course, no more boring uniform (I love this part!).

Intinya, siap tidak siap, saya harus tetap menapaki jenjang baru ini. Selangkah lebih maju. Fase baru dalam kehidupan saya. Karena lulus dari bangku SMA bukan berarti akhir dari perjuangan saya. Justru inilah satu awal baru dari hidup saya.

Dan akhirnya, lahirlah sebuah optimisme baru, bahwa college tidak akan semengerikan seperti yang selama ini saya pikirkan. Bahwa college akan menjadi sama menyenangkannya dengan high school. Let's pray for it!

Pictures : Private collection | scarlettkey.wordpress.com

30 March 2011

13 Facts about Me



1. Waktu kecil pernah punya cita-cita jadi fortune teller (yeah, i'm such a weirdo).

2. Dari kecil sampai SMP suka banget sama warna pink, setelah masuk SMA malah jadi ilfil dan berpaling ke hitam dan merah.

3. Amat-sangat-sensitif. Setiap kali nonton film atau baca novel yang ada adegan sedihnya, pasti langsung nangis. Dan yang lebih parah, denger lagu yang liriknya menohok juga bisa tiba-tiba nangis!

4. Dalam jangka waktu kurang dari satu tahun, dua kali jatuh dari undakan satu tangga, dan akhirnya terkilir di bagian kaki yang sama.

5. Setiap masak, asal masukin bumbu dan nggak pernah dicicipi setelahnya. Tapi herannya, rasanya enak-enak aja tuh (bukan cuma opini saya, tapi menurut orang lain yang mencobanya).

6. Dari kelas satu sampai lima SD, benci matematika dan hari Jumat (karena setiap Jumat pasti ada ulangan matematika). Tapi setelah ikut Kumon, malah jadi suka sama matematika.

7. Bisa nonton Gossip Girl sampai berulang kali (mulai dari season satu sampai terakhir, tapi khusus scene Blair & Chuck).

8. Nggak pernah bisa main game yang membutuhkan kecepatan dan ketangkasan (kayakWinning Eleven, Audition, dll).

9. Hobi ngisi TTS dan kuis-kuis di majalah.

10. Punya satu jam tangan kesayangan yang udah dipakai dari kelas tujuh, sampai sekarang.

11. Susah tidur kalau lampu dinyalalakan.

12. Pecinta hujan. Suka dengan suasana sentimentilnya, wangi tanah setelahnya, udara sejuknya, plus main hujan-hujanan juga.

13. Kalau orang-orang menganggap angka 13 sebagai angka sial, maka saya sangat menyukai angka ini. Mungkin salah satunya karena saya lahir pada tanggal 13.

Picture : private collection

24 February 2011

Bulan-bulan Terakhir Masa SMA



Rasanya baru kemarin saya merasa deg-deg an di hari pertama masuk SMA.
Rasanya baru kemarin saya mengenakan seragam putih abu-abu.
Rasanya baru kemarin pertama kali dikenalkan dengan sosiologi dan fisika (walaupun tidak lagi saya pelajari).
Rasanya juga baru kemarin mengikuti masa orientasi, bertemu teman-teman baru, lingkungan sekolah baru.
Semuanya akan terasa begitu cepat saat kita merasa nyaman dalam suatu rentangan waktu. Rasanya sang waktu berlari terlalu cepat meninggalkan kita yang masih terlena dalam manisnya momen tersebut. Dan di saat kita tersadar waktu kita tak lama lagi, rasa tak rela itu perlahan muncul, kemudian dengan seenaknya mendominasi.
Orang bilang SMA itu masa yang paling seru. Kali ini tanpa perlu mendebatnya pun saya sudah bisa memastikan kalau kalimat ini 100 persen terbukti benar.
Sayangnya masa SMA saya itu tinggal beberapa bulan lagi akan berakhir. Semakin dekat hari kelulusan, saya semakin larut dalam nostalgia selama hampir tiga tahun menyandang status sebagai siswi SMA. Mulai dari hari pertama masuk, saat-saat awal yang masih malu-malu dan belum saling kenal, sampai metamorfosa drastis dalam kepribadian dan sahabat-sahabat. Orang-orang yang pada masa awal saya menjadi murid kelas sepuluh merupakan sahabat karib, kini bisa jadi layaknya orang asing. Begitupun sebaliknya, orang yang sempat saya benci, justru berbalik menjadi sahabat. Ironis memang. Dan saya selalu yakin, itulah misteri kehidupan. Tidak ada yang bisa menebak, tidak ada yang stagnan. Semua akan mengalir seperti air.
Berbagai kegiatan non-akademis yang saya ikuti, juga beberapa lomba membawa nama sekolah, bahkan puncaknya Olimpiade Sains Nasional. Saat-saat takkan terlupa menimba pengalaman dari keikutsertaan mengurus acara sekolah.
Belum lagi lingkungan pergaulan yang begitu berwarna. Guru-guru yang benar-benar menjalankan fungsi mereka sebagai pengganti orangtua selama di sekolah.
Segala canda, tawa, perjuangan, sakit, semuanya melebur menjadi satu dalam bingkai bernama kenangan. Terlampau indah untuk dipatri dalam memori, terlalu sulit untuk dilupakan.
Saya pastinya akan merindukan setiap fragmen masa SMA ini. Dari hal terkecil sampai yang terbesar. Dari mulai duduk di kantin saat istirahat, ditegur guru karena sering ngobrol di kelas dan meninggalkan jam pelajaran karena urusan OSIS, dihukum pulang karena terlambat, keceriaan di kelas, guru-guru yang narsis dan asik diajak berdebat soal pelajaran maupun hal lain. Hari-hari character building, piknik, retreat, business camp, karyawisata, kunjungan universitas, cup, malam festival. Saat-saat nongkrong di TU ketika pulang sekolah atau sebelum dan sesudah ekskur. SEMUANYA!!
Memang masih beberapa bulan lagi, tapi beberapa bulan bukanlah waktu yang lama. Waktu itu akan terasa cepat sekali berlalu, seiring dengan kesibukan saya dan teman-teman satu angkatan saya mengikuti berbagai TO, ujian praktek, ujian sekolah, hingga akhirnya Ujian Akhir Negara.
Bahkan rasanya sekarang air mata saya akan tumpah kalau memikirkan semuanya itu.
Saya rindu, saya masih belum puas mencicipi keindahannya. Ah, seandainya masih ada banyak waktu yang tersisa...
Untuk itu, saya hanya ingin berpesan pada kalian semua yang baru menapaki jejak baru di bangku sekolah menengah. Kepada adik kelas sepuluh dan sebelas. Berbahagialah karena waktu kalian masih panjang.
Jangan menyia-nyiakan waktu yang ada dengan mengeluh, mengeluh, dan mengeluh. Nikmati semuanya sebagai bagian perjalanan kalian mengukir kenangan indah. Anggap semua PR, tugas, ulangan, omelan guru, apapun itu sebagai bagian dari keseruan SMA. Karena masa SMA hanya satu kali. Kalian tidak akan menemukan hal yang sama ketika meninggalkan jenjang ini menuju jenjang selanjutnya. Menikmati, itulah kuncinya.

Picture : private collection

17 February 2011

Masa Bakti yang Telah Usai



Rasanya aneh harus meninggalkan status sebagai anggota OSIS.
Seperti ketika kamu terbiasa minum kopi setiap pagi, lalu kemudian tiba-tiba dipaksa untuk tidak minum kopi lagi.
Dua tahun selama duduk di bangku SMA saya menjadi bagian dari OSIS. Dua angkatan telah berhasil dilalui.
Puluhan rapat.
Jam-jam yang tersita untuk mengurus berbagai acara, baik jam pelajaran, istirahat, bahkan terpaksa pulang malam.
Tetesan keringat dan perjuangan.
Berbagai masalah datang silih berganti, mengajarkan saya bagaimana harus bertindak dan berperilaku.
Menyadarkan bahwa segala sesuatu bisa terselesaikan dengan baik selama dikerjakan bersama-sama tanpa banyak mengeluh.
Membuktikan kalau menyatukan beberapa kepala itu bukanlah pekerjaan mudah, tapi masih bisa dilakukan. Dibutuhkan komunikasi yang lancar, rasa toleransi-simpati-empati, jiwa besar, dan berbagai hal lain yang mungkin akan terdengar seperti saat kamu membaca buku Kewarganegaraan. Tapi semua sifat itu memang sangat dibutuhkan dalam kehidupan nyata ini, bukan?
Dua angkatan yang berbeda. Cara kerja, sistem kekerabatan, dan program berbeda. Tapi kedua angkatan ini sama-sama memiliki tujuan serupa. Memajukan sekolah pastinya.
Dari OSIS lah saya mendapatkan sahabat-sahabat yang sangat luar biasa. Dari OSIS lah saya mendapat banyak sekali pelajaran berharga dalam kehidupan ini. Dari OSIS lah mental dan kepribadian saya menjadi semakin terbentuk. Dari OSIS lah kreatifitas saya semakin diasah. Dari OSIS juga lah saya belajar berbagi, menerima & memberi, memahami, bertanggung jawab.
Saat berbagai cercaan dan hinaan datang silih berganti untuk acara yang dibuat, untuk keteladan mematuhi berbagai peraturan sekolah, untuk menjadi 'sedikit lebih menonjol'. Awalnya mungkin menyakitkan, tapi saya yakin, pelajaran dan pengalaman yang saya dapatkan jauh lebih berharga daripada semuanya itu.
Pada akhirnya saat itu akan tiba juga. Bangku sekolah menengah sebentar lagi ditinggalkan. Regenerasi selalu terjadi dan tidak dapat dihindari sama halnya dengan menjadi tua. Semua harus berjalan sesuai dengan ritme dan tuntutan waktu.
Dan sampailah saya pada saat di mana hanya bisa merindukan dan mengenang. Semua hal yang dulu terasa menyusahkan, membosankan, bahkan memuakkan, kini malah dikenang dalam senyuman. Kini malah dirindukan.
Maka saya akan sangat setuju dengan pendapat bahwa manusia baru bisa merasakan betapa berharganya sesuatu saat sesuatu itu diambil dari padanya.
Tapi saya tidak pernah menyesal. Dua tahun ini sangat berkesan. Dengan segala tawa, lelah, keringat, air mata. Dengan berbagai pujian, nasehat, dan cemoohan. Semuanya menjadi satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dari perjalanan hidup saya. Dan saya yakin, tidak ada yang perlu disesali. Bahkan semuanya menjadi sebuah bekal bagi langkah saya selanjutnya.

Picture : private collection