Showing posts with label poetry. Show all posts
Showing posts with label poetry. Show all posts

06 June 2012

Bejana Hati



Bejana hati kini telah kosong
hampa sampai ke dasar
aliran kasih tak lagi penuhi
bejana hati yang telah kita bentuk
dari liatnya kedalaman cinta
dengan ukiran keindahan janji
janji manis benih kita berdua
yang telah terucap dari sarang segala rasa.

Bejana kini tak hanya kosong
tapi retak berkeping-keping
hancur, lupakan segala yang ada
segala rasa yang dulu pernah bermuara
jadi gumpalan tanah tak bernyawa
hanya untuk disapu, dibuang
tak lagi dipandang.

Adakah lem tuk rekatkan kembali?
masih adakah liat tuk bentuk lagi?
kembali jadi bejana indah
seperti waktu pembenaran dulu
agar dapat diisi kembali
bukan dengan aliran cinta
tapi buliran bernama air mata.

Averina Lita Ongkowijaya
5 Desember 2009

Picture : a-girl-and-her-box.tumblr.com

02 January 2012

Seniman Abadi



Detik bergulir
berlari meninggalkan insan penikmatnya
merangkak menyambut matahari baru
menjanjikan nuansa dekorasi semarak
dihiasi pita keyakinan, dibalut cahaya kepercayaan
memikat siapa saja yang terperosok ke dalamnya
tuk kagumi, nikmati, miliki.

Dunia ini fana
tiap menit, jam, hari
tiap minggu, bulan, tahun
semuanya hanya pengukur
pengontrol tiap penghuninya
'tuk kejar peti harta karun berlabel bahagia.

Hingar bingar pesta pora
pendaran cahaya menari di pekatnya langit
memamerkan keindahan sepintas
lalu hempaskan senyum itu tak tersisa
sadar kini kita sendiri
dengan sejumput asa, setumpuk dosa

Lanjutkan melukisi kanvas hidup ini
dengan cat aneka warna
hitam, putih, merah, biru, kuning
pilih yang mana kau suka
torehkan kuas tanpa kenal lelah
karena itulah kerja kita
pelukis hari, seniman abadi.

Averina Lita
1 Januari 2011

Picture : absolutivity.tumblr.com

20 February 2011

Surat Cinta untuk Ibu



Ibu...
kala senja menjemputmu
perlahan tapi pasti waktumu hampir habis
ingatlah selalu, masih ada aku.

Walau matamu tak lagi dapat melihat dengan jelas,
tapi masih kutemukan kelembutan di mata itu
masih terpancar kasih dari mata itu
terpapar sebuah pengharapan lewat mata itu.

Meski mulutmu kesulitan melafalkan kata,
tapi masih kulihat senyuman di mulut itu
masih terungkap "Ibu mencintaimu, Nak" dari mulut itu
tertangkap jelas kata "Kamu selalu membuat ibu bangga." lewat mulut itu.

Walau telingamu tak lagi setajam dulu dalam menangkap suara,
tapi masih terdengar olehmu ungkapan sayangku di telinga itu
masih bisa mengetahui semua yang kulakukan hanya untukmu dari telinga itu
terus ada untuk menyimak semua ceritaku lewat telinga itu.

Meski tanganmu tak sanggup lagi menggendongku,
tapi masih terpapar hasil kerja keras di tangan itu
masih terasa belaian lembut dari tangan itu
menghapus air mataku lewat tangan itu.

Saat organ di tubuhmu tak lagi mampu bekerja
satu yang kuyakin takkan pernah mati
hatimu kan selalu rasakan
kehadiranku temanimu
membalas semua cintamu yang tiada banding
sampai habis nafasmu
atau mungkin nafasku lebih dulu
karena tanpamu,
aku hanya seonggok daging tak bernilai. 

Minggu, 20 Februari 2011
Averina Lita
Picture : icanloveyou73.blogspot.com