Showing posts with label quotes. Show all posts
Showing posts with label quotes. Show all posts

06 December 2013

Depends Upon Ourselves


Selama sembilan minggu terakhir, saya mengikuti sebuah drama Korea berjudul The Heirs yang sedang tayang. Ini adalah drama kedua yang saya ikuti sebelum ceritanya berakhir. Membuat saya rela menanti-nanti setiap minggu hanya demi mengetahui kelanjutan ceritanya.

Drama ini memang sudah sejak awal tahun disebut-sebut akan menjadi drama fenomenal 2013, meski banyak pula yang menanggapinya dengan skeptis. Terlepas dari pro/kontra mengenai plot, aktor, dan berbagai aspek dari drama ini, saya justru ingin membahas mengenai karakter utama pria dalam drama ini, Kim Tan.

Singkatnya, Kim Tan terlahir sebagai anak haram dalam keluarga disfungsional. Meski berlimpahan materi, kenyataannya dia sama sekali tidak bahagia dengan kehidupannya. Dia disingkirkan ke Amerika untuk tinggal sendiri di sana, karena statusnya sebagai anak haram. Sampai suatu hari dia bertemu dengan seorang perempuan bernama Cha Eun Sang, dan kebetulan menyaksikan langsung permasalahan antara perempuan tersebut dengan sang kakak, yang mirip dengan masalahnya sendiri.

Setelah pertemuan secara kebetulan tersebut, Kim Tan mulai menyukai Cha Eun Sang. Seiring berjalannya waktu, rasa suka tersebut mulai berubah menjadi obsesi. Baginya, yang menjalani hidup hanya sebagai sebuah keharusan‒tanpa tujuan atau mimpi‒Cha Eun Sang pun menjelma menjadi mimpinya. Sumber kebahagiaan yang sejak lahir tidak dimilikinya, juga alasan baru untuk menjalani hari-harinya.

Sampai akhirnya, masalah khas yang hampir selalu terjadi di antara hubungan si kaya dengan si miskin– ketidaksetujuan orangtua si kaya—membuat Cha Eun Sang yang juga sudah mulai menyukai Kim Tan, terpaksa meninggalkannya.

Lalu apa yang terjadi? Kim Tan berubah menjadi sosok yang sangat menyedihkan. Hidupnya berubah jauh lebih kacau dibandingkan sebelum Cha Eun Sang masuk ke dalamnya. Terus-terusan menangis seperti anak kecil yang kehilangan mainan kesayangannya, bahkan sampai menghancurkan kamar dan berkelahi. Singkatnya, rebelling. Layaknya zombie, Kim Tan merasa tidak lagi memiliki alasan untuk bertahan hidup. Bahwa semua kebahagiaan sudah ditarik secara paksa dari hidupnya.

Melihat dua episode yang diisi dengan kehancuran Kim Tan, akhirnya membuat saya gerah sendiri. Membuat saya teringat akan sebuah quotes yang mengatakan “Happiness depends upon ourselves”, yang bahkan sempat saya jadikan wallpaper handphone.


Kita semua berhak, bahkan sebenarnya wajib bermimpi. Tapi menjadikan orang lain‒tidak peduli seberapa besar kita mencintai orang tersebut‒sebagai mimpi, benar-benar sesuatu yang menyedihkan. Kebahagiaan seseorang seharusnya berakar dari orang itu sendiri. Dia yang mempunyai kehendak penuh untuk memutuskan akan menjalani hidupnya seperti apa. Akan merasa bahagia atau terus-terusan merasa menjadi orang paling menderita di dunia. Bukan orang lain, termasuk keluarga, pasangan, atau siapa pun itu.

Mimpi seharusnya membuat kita termotivasi untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Karena dengan bermimpi, kita memiliki arah tujuan hidup, sehingga kita akan terus meng-upgrade diri untuk menjadi lebih baik dan lebih baik lagi dalam rangka mewujudkan mimpi itu.

Apa jadinya kalau mimpi kita justru adalah orang lain? Setiap manusia pasti suatu saat akan meninggal. Setiap manusia pasti minimal pernah sekali mengalami peristiwa ditinggalkan oleh orang yang dicintainya. Kalau orang yang kita sebut-sebut sebagai mimpi kita pergi meninggalkan kita‒untuk selama-lamanya karena maut atau alasan lain‒lantas berarti itu adalah hari kiamat untuk kita? Tidak lagi ada yang perlu diperjuangkan? Tidak ada lagi alasan untuk bertahan hidup? Sayang sekali kalau hidup yang cuma sekali ini harus disia-siakan seperti tu.

“Don’t rely on someone else for your happiness and self worth. Only you can be responsible for that. If you can’t love and respect yourself, no one else will be able to make that happen. Accept who you are completely‒the good and the bad. And make changes as you see fit. Not because you think someone else wants you to be different.” –Stacey Charter

Ciptakan kebahagian kita sendiri. Itu kuncinya. Orang lain yang kita cintai, jadikan mereka sebagai pelengkap kebahagiaan kita, bukan sebagai sumber kebahagiaan. Dengan eksistensi mereka dalam hidup kita, kebahagiaan yang berhasil kita ciptakan untuk diri kita sendiri, akan terasa lebih bermakna. Jangan sampai tanpa eksistensi mereka, lantas hidup kita berubah menjadi neraka.

Bangun mimpi yang berorientasi terhadap kebaikan diri kita. Mungkin kedengarannya egois. Tapi kalau kita sudah memiliki mimpi yang berorientasi demi kebaikan kita, maka efeknya pada saat proses memperjuangan mimpi itu sampai saat mimpi itu terwujud, juga akan menular dengan kebaikan orang di sekitar kita, atau mungkin ruang lingkup yang lebih besar.


Contoh sederhananya adalah orang yang bermimpi menjadi dokter. Mimpi itu membuatnya terus meng-upgrade diri menjadi pribadi lebih baik, tentunya dengan rajin belajar, disiplin diri, dan sebagainya. Efek baik itu juga tidak hanya terjadi pada dirinya. Di saat dia berhasil mewujudkan mimpinya, akan ada banyak orang yang merasakan manfaat positif tersebut, misalnya pasien.

Pictures: noukka.devianart.com | tumblr.com

17 March 2013

Don't Trust Too Much



I do believe everyone deserves a second chance, but not a third.

Saya pernah membiarkan diri saya dikecewakan oleh seseorang satu kali. Berpegang pada kepercayaan tersebut, saya dengan tulus memberinya kesempatan kedua. Saya belajar untuk bisa mempercayainya kembali dari nol. Tapi hasil akhir sepenuhnya berada di tangannya. Saat ia memutuskan untuk tidak memanfaatkan kesempatan kedua yang saya berikan, maaf, tidak akan ada kesempatan ketiga dan seterusnya.

Trust is like a mirror. Once it’s broken, you can never look at it the same again.

Jangan pernah membuat janji yang tidak bisa ditepati. Apalagi dengan gaya yang sangat meyakinkan.

Mungkin baginya janji yang ia buat dengan saya tidak begitu penting. Dengan gampangnya ia bisa membatalkan janji yang sudah kami susun dari jauh-jauh hari. Janji yang pertama dibatalkan lewat perantara ibunya, disampaikan bahkan kepada ibu saya, tidak langsung kepada saya. Sedangkan janji kedua dibatalkan hanya dengan tiga kata yang dikirim lewat layanan Blackberry Messenger ‘Paling nggak jadi’, kurang dari dua jam sebelum waktu janjian yang telah ditentukan.

Saya cuma manusia biasa yang punya batas kesabaran. Saat membalas BBM-nya dengan sebuah kalimat ‘Jangan bikin janji kalau emang lo nggak niat dan ujung-ujungnya ngebatalin beberapa jam sebelum waktu janjian’, saya tahu, kepercayaan saya padanya sudah tak lagi tersisa.

Kalau berani membuat janji dengan begitu meyakinkan di awal, kenapa lantas tidak berani membatalkannya dengan tingkat keberanian yang sama? Langsung kepada saya, tanpa perantara. Atau setidaknya memberikan alasan yang bisa diterima akal, bukannya membiarkan BBM saya berubah tanda menjadi ‘R’ tanpa dibalas.

Berdasarkan hasil uji kepribadian yang pernah saya ikuti sewaktu SMA dulu, dikatakan bahwa saya akan kecewa bila tidak dapat menepati janji atau bila suatu hal tidak sesuai dengan keinginan saya. Mungkin karena inilah, saya juga tidak suka kalau orang yang sudah membuat janji dengan saya tidak menepatinya. Sesederhana apapun jenis janji itu.

Don’t trust too much, don’t love too much. Because that too much will hurt you so much.

Sepertinya quotes tersebut perlu saya tanamkan dalam pikiran saya. Saya harus bisa mengatasi kelemahan saya. Dalam kasus ini, terlalu percaya pada orang lain (tampaknya karakter yang satu ini diwariskan dari ibu saya). Terlalu yakin bahwa orang lain akan memperlakukan saya, sama dengan bagaimana saya memperlakukan mereka.

Ungkapan “Jangan mencubit kalau tidak mau dicubit” terbukti tidak selalu berlaku. Terhadap orang-orang tertentu, meski saya berusaha untuk tidak mengecewakan mereka dengan sebisa mungkin menepati janji yang keluar dari mulut saya, nyatanya mereka tidak melakukan hal yang sama.

Picture : ennatumbul.tumblr.com

22 January 2013

When Life Hits You



Siapa yang pernah membayangkan bahwa adegan indah menonton TV dan berkumpul bersama keluarga di malam harinya, lenyap begitu saja keesokan harinya disapu banjir yang memporak-porandakan ibukota Jakarta? Atau adegan manis liburan bersama teman yang keesokan harinya berganti dengan guncangan dahsyat gempat bumi?

Segala sesuatu di dunia ini sifatnya fana. Begitu pula dengan kebahagiaan dan kesedihan. Kebaikan dan keburukan. Kenyamanan dan kesusahan.

Selama kita masih diberkahi dengan hal-hal baik, nikmatilah dan jangan lupa untuk terus bersyukur. Saat kesusahan pun, tetaplah bersyukur karena sesusah apapun situasi yang kita hadapi, percayalah hal tersebut tidak akan berlangsung lama. Bahwa akan ada akhir dalam setiap badai‒yang terparah sekalipun. Bahwa Tuhan sedang menyiapkan skenario yang lebih indah bagi perjalanan hidup kita.

Jangan melulu membandingkan situasi yang harus kita hadapi dengan situasi orang lain yang lebih baik. Sebaliknya, ingatlah bahwa masih banyak yang mengalami situasi lebih berat dari kita. Dengan cara itu lah kita bisa berkali-kali lipat merasa terberkati.

“Everything in life is temporary. So if things are going good, enjoy it because it won’t last forever. And if things are going bad, don’t worry. It can’t last forever either.”

Picture : pieceofyouinsideofme.tumblr.com

20 January 2013

Just Simply Adore Her



Today is the 20th Anniversary of Audrey Hepburn's death.

Audrey Hepburn was born Audrey Kathleen Ruston on 4 May 1929 at number 48 Rue Keyenveld in Ixelles, a municipality in Brussels, Belgium. On the evening of 20 January 1993, at her home in Tolochenaz, Vaud, Switzerland, Hepburn died in her sleep of appendiceal cancer. Her legacy as an actress and a personality has endured long after her death. 

Best movies of hers:
Roman Holiday (1953)
Sabrina (1954)
The Nun's Story (1959)
Breakfast at Tiffany's (1961)
My Fair Lady (1964)

QUOTES:

“Happy girls are the prettiest.” 

“Nothing is impossible, the word itself says 'I'm possible'!” 

“Laugh. It cures a multitude of ills. It's probably the most important thing in a person.” 

“The most important thing is to enjoy your life—to be happy—it's all that matters.”

“The beauty of a woman is not in the clothes she wears, the figure that she carries, or the way she combs her hair. The beauty of a woman is seen in her eyes, because that is the doorway to her heart, the place where love resides. True beauty in a woman is reflected in her soul. It's the caring that she lovingly gives, the passion that she shows & the beauty of a woman only grows with passing years.” 

“Your heart just breaks, that's all. But you can't judge or point fingers. You just have to be lucky enough to find someone who appreciates you.” 

“You can tell more about a person by what he says about others than you can by what others say about him.” 

“The beauty of a woman is not in a facial mole, but true beauty in a woman is reflected in her soul. It is the caring that she lovingly gives, the passion that she knows.” 

“Why change? Everyone has his own style. When you have found it, you should stick to it.” 

“Opportunities don't often come along. So, when they do, you have to grab them.” 

“Make-up can only make you look pretty on the outside but it doesn't help if your ugly on the inside. Unless you eat the make-up.” 

“True friends are families which you can select.” 

“If my world were to cave in tomorrow, I would look back on all the pleasures, excitements and worthwhilenesses I have been lucky enough to have had. Not the sadness, not my miscarriages, but the joy of everything else. It will have been enough.” 

“I tried always to do better: saw always a little further. I tried to stretch myself.” 

“Good things aren't supposed to just fall into your lap. God is very generous, but He expects you to do your part first.” 

“As you grow older, you will discover that you have two hands, one for helping yourself, the other for helping others.” 

“For beautiful eyes, look for the good in others; for beautiful lips, speak only words of kindness; and for poise, walk with the knowledge that you are never alone.”

Picture : fanpop.com | possumsal.com | frontrowreviews.co.uk | imgfave.com | pinterest.com 

16 January 2013

No More 'Stupid in Love'



Baru-baru ini peneliti menemukan bahwa ketika seseorang jatuh cinta, aktivitas otak di bagian frontal cortex yang berfungsi saat melakukan penilaian, tidak berfungsi. Yang artinya, kita susah melihat sisi buruk dari orang yang sedang kita cintai. Semua tindakannya terasa baik-baik saja. Gara-gara frontal cortex yang lagi mogok kerja inilah, yang menyebabkan kita bersedia melakukan sesuatu (bahkan apa pun) atas nama cinta.
Sumber: Rubrik Hi Girls majalah kaWanku #140 oleh Trinzi Mulamawitri

Sahabat saya termasuk salah satu contoh konkritnya. (Luckily) dia akhirnya sadar dan sekarang sudah putus dari cowoknya yang kurang ajarnya ampun-ampunan itu. Selama pacaran, dia sering dikatai bego, idiot, didorong sampai jatuh, ditinggal pulang saat cowok itu sedang ngambek, bahkan sampai mengatai agama sahabat saya.

Sejak pertama kali sahabat saya curhat mengenai perlakukan mantannya itu, saya selalu menyuruhnya berpikir baik-baik, apakah cowok seperti itu pantas dan layak dipertahankan. Berkali-kali pengin menyuruh dia untuk putus (termasuk geregetan mau memberi ‘pelajaran’ buat si cowok yang satu kampus dengan saya), tapi saya bukan orangtuanya. Saya masih sadar kapasitas saya sebagai sahabat hanya sebatas menasihati dan 'menyadarkannya'.

Sampai akhirnya hampir setahun kemudian, (thank God) dia bisa berpikir jernih dan membuat keputusan untuk berpisah.

Jatuh cinta itu sama sekali bukan kesalahan. Semua manusia di dunia ini berhak mencintai dan dicintai. Cinta adalah salah satu anugerah terindah dari milyaran kebaikan Tuhan di dunia. Tapi bukan berarti kita diperbudak oleh cinta.
Setiap orang punya caranya masing-masing ketika sudah berhadapan dengan cinta. Ada yang memilih memberikan cintanya 100 persen. Namun ada pula yang memberikan hanya 80 persen, dan sisanya berada dalam zona netral, di mana rasio tetap dipertahankan.
Ada yang rela-rela saja melakukan apa pun‒bahkan saat apa pun itu termasuk mengorbankan diri mereka sendiri‒demi orang yang dicintainya. Rasanya kok rasa cinta saya terhadap diri sendiri masih cukup besar sampai tidak ingin menyakiti atau mengorbankan diri demi seorang cewek. Mungkin terdengar egois, tapi kalau bukan kita yang menjaga diri kita sendiri, lantas siapa? Orangtua, kakak/adik, teman, dan manusia lainnya kan tidak mungkin menjaga kita 24/7.
Percayalah, di saat seorang cowok mengatakan, “Katanya kamu sayang sama aku. Kalau gitu, berarti kamu pasti mau...” (isilah titik-titik tersebut dengan berbagai jenis permintaan), itu adalah ciri-ciri cowok itu tidak layak untuk dipertahankan, apalagi diperjuangkan. Cowok yang baik, di saat mereka tahu kalau kita mencintainya, mereka tidak akan menyuruh kita melakukan apa pun demi cinta kita padanya. Mereka justru akan menjaga bagaimana supaya rasa cinta kita tetap bertahan bahkan semakin besar padanya, dengan cara-cara yang baik dan positif.
Cinta memang buta, tapi jangan sampai kita dibutakan oleh cinta.

Cinta memang bisa membuat seseorang jadi bodoh, tapi jangan sampai kita dibodohi oleh cinta.

Apalagi kalau yang sudah sampai melakukan kekerasan, baik secara fisik, mental, seksual, verbal, ekonomi (you know, kayak minta dibeliin dan dibayarin ini-itu), dll. Itu sih, nggak perlu pikir-pikir segala. Langsung saja minta putus. Karena menurut psikolog, kalau seseorang pernah melakukan kekerasan terhadap pasangannya, sangat tidak mungkin perbuatan yang sama akan terulang di kemudian hari. Jadi lebih baik berpisah saat terjadi kekerasan pertama kali, karena jelas, orang-orang seperti itu sama sekali tidak pantas diberikan kesempatan kedua.
Kekerasan dalam sebuah hubungan punya siklus klise. Setelah terjadi kekerasan, si pelaku langsung minta maaf, mengaku bersalah dan menyesal, blablabla. Karena nggak tega, akhirnya korban menerima permintaan maaf, dan hubungan kembali rukun. Baru deh, setelah beberapa lama berlanjut dengan konflik lain yang ujung-ujungnya berakhir dengan kekerasan berikutnya. Yang namanya siklus, tentu saja bisa terjadi berulang-ulang.
Sekarang bukan lagi zamannya cewek diam saja dan cenderung nurut diperlakukan dengan tidak baik oleh pasangan. Jangan biarkan cinta menyeret kita ke dalam zona cinta buta. Kalau memang mau pacaran, pacaran lah dengan sehat. Libatkan logika dan rasio, jangan lagi terbuai dengan dua kata basi “Demi cinta”.


Come on! It’s soooo last year. Harusnya kita mengganti mindset kita dengan kalimat ini:


p.s : Please lupakan soal hubungan Rihanna dan Chris Brown yang drama banget bahkan menyaingi sinetron di berbagai stasiun TV Indonesia, karena bukan sesuatu yang perlu ditiru sama sekali, dan tidak ada hubungannya dengan posting ini (kecuali judulnya yang terinspirasi dari judul lagu penyanyi asal Barbados itu).

Pictures: facebook.com | wordsoverpixels.com | naylaa.com

01 January 2013

New Beginning, New Hopes, New Dreams



"And as you all can see, the ball has stopped half way to its perch. It's suspended there to remind us before we pop the champagne and celebrate the new year, to stop, and reflect on the year that has gone by. To remember both our triumphs and our missteps, our promises made and broken, the times we opened ourselves up to great adventures... or closed ourselves down for fear of getting hurt. Because that's what new year's all about. Getting another chance, a chance to forgive. To do better, to do more, to give more, to love more, and to stop worrying about what if... and start embracing what will be. So when that ball drops at midnight, and it will drop, let's remember to be nice to each other, kind to each other. And not just tonight but all year long." (from the movie New Years Eve, 2012)

WELCOME 2013! PLEASE SURPRISE ME :)

Picture : acewallpaper.wordpress.com

22 November 2012

Live Well, Love Much, Laugh Often



Moment yang selalu membuat saya bahagia adalah di saat bisa menghabiskan waktu bersama dengan sahabat-sahabat saya.
Di saat kami bisa mengobrol non stop tanpa kenal kata lelah. Di saat kami bisa tertawa dan bercanda seakan tidak pernah merasakan kesedihan dunia.
Setelah berpisah dengan mereka pun, saya akan jadi lima kali lipat lebih bawel dari biasanya. Lebih bersemangat dan lupa dengan rasa capek (misal setelah seharian berjalan memakai high heels).
Sering membaca berbagai artikel, akhirnya saya mengetahui penyebab perasaan bahagia itu.
Hormon endorfin.
Entah bagaimana manusia tanpa hormon ini. Muram sepanjang hari? Mungkin saja.
Kata endorfin/endhorphine berasal dari ‘endogenous’ dan ‘morphine’, yang berarti morfin alami yang dihasilkan oleh manusia sendiri, tepatnya dari kelenjar hipofisis dan hipotalamus yang terletak di dasar tengkorak.

Singkatnya, hormon endorfin merupakan senyawa kimia yang membuat seseorang bisa merasa bahagia. Hormon ini bertindak seperti morfin, bahkan dikatakan efeknya dua ratus kali lebih besar dari morfin.

Selain membuat happy, hormon ini juga memiliki banyak manfaat. Di antaranya adalah mengatur produksi hormon pertumbuhan dan seks, mengendalikan rasa nyeri dan sakit yang menetap, mengendalikan perasaan stres, serta meningkatkan sistem kekebalan tubuh.

Endorfin tidak tercipta begitu saja. Kita perlu melakukan beberapa usaha, karena endorfin baru akan muncul apabila cadangan glukosa dalam tubuh mulai habis. Otot tubuh membutuhkan oksigen yang cukup untuk membakar glukosa menjadi adenosine triphospate (ATP) yang akan diubah menjadi energi yang dibutuhkan oleh sel-sel tubuh kita. Ketika glukosa habis, barulah lemak dibakar. Pada saat glukosa habis dibakar inilah endorfin mulai muncul. That’s why, melakukan olahraga (seperti jogging) bisa membuat kita merasa senang dan nyaman.

"Always laugh when you can. It is cheap medicine." - Lord Byron
Source : wikipedia.com | herrypenulis.blogspot.com
Picture : google.com.br

02 November 2012

Comfort Zone



Kebanyakan manusia memilih untuk stay dalam comfort zone mereka masing-masing. Untuk apa keluar dari zona aman, hanya untuk pindah ke zona lain yang belum teruji apakah aman atau tidak. Untuk apa mengorbankan kebiasaan lama yang sudah menjadi bagian kehidupan kita, hanya untuk menjalani aktivitas lain yang belum tentu membawa perbaikan, atau malah mendatangkan masalah?

Pemikiran semacam itu sangat wajar timbul setiap kali kita hendak move on dari comfort zone. Masing-masing manusia punya definisi berbeda mengenai comfort zone. Sama seperti selera dan opini. Bentuk comfort zone pun bervariasi, mulai dari yang paling sederhana seperti sarapan dengan roti, sampai pada hal yang sangat krusial seperti memutuskan untuk berhenti kerja kantoran demi memulai usaha sendiri.

Saya senang melihat segala sesuatu dari sisi yang paling sederhana.  Termasuk soalcomfort zone.
Yang termasuk comfort zone saya adalah berambut panjang. Setelah melewati masa balita, saya selalu bertahan dengan rambut lurus-hitam-panjang (sepunggung). Tidak seperti teman-teman cewek saya yang suka ke salon entah itu untuk potong rambut atau melakukan berbagai treatment lain, saya baru akan pergi ke salon di saat benar-benar ingin menggunting rambut.
Sampai akhirnya suatu hari, tepatnya sehari setelah ulang tahun saya yang ke-19, saya memutuskan untuk memotong rambut yang saat itu bisa dikatakan rambut terpanjang saya selama ini.
Sama seperti biasanya, saya hanya akan menggunting rambut saya tidak lebih dari lima senti, sampai-sampai lebih sering terlihat tidak ada bedanya antara sebelum dan sesudah gunting rambut. Saat itu pun saya mengatakan kepada kapster bahwa saya ingin memotong rambut saya sekitar satu jengkal.
Yang terjadi selanjutnya benar-benar di luar dugaan saya. Saya terlambat menyadari bahwa rambut saya sudah digunting hampir separuhnya. Sempat syok, tapi akhirnya saya menguatkan hati dan terus mengatakan ‘tidak apa-apa’ kepada diri saya sendiri.
Hari-hari awal, saya sempat merasa aneh dan tidak pede dengan rambut sebahu saya. Terakhir kali rambut saya sependek ini saat berusia tiga sampai empat tahun, dan itu berarti sudah hampir lima belas tahun yang lalu. Tapi mau diapakan lagi, rambut saya sudah terlanjur digunting. Saya bisa saja melakukan hair extension. Tapi rambut saya yang pertamanya terlihat aneh karena istilahnya masih ‘belum nurut’, perlahan tidak lagi terlihat aneh. Beberapa orang sempat kaget melihat rambut pendek saya, tapi tidak ada yang mengatakan jelek. Hanya belum terbiasa, begitu kata mereka.

Walaupun bisa dikatakan sebagai ‘kecelakaan’, saya tidak menyesal sama sekali. Kalaukapster itu tidak terlalu ‘bernafsu’ menggunting rambut saya, mungkin sampai bertahun-tahun ke depan saya akan tetap bertahan dengan rambut panjang. Padahal surprisingly, short hair is not that bad.
Hal sesederhana ini juga bisa diaplikasikan pada hal yang lebih krusial.
Karena kita sudah terlalu nyaman dan aman dalam comfort zone kita, kita jadi terlalu ‘betah’ dan tidak ingin beranjak. Padahal keluar dari comfort zone sekali-sekali dapat memberikan perubahan. Maybe the life changing one.

Tempat di luar comfort zone yang dalam bayangan kita akan menjadi tempat yang menyeramkan, bisa jadi memberikan banyak pengalaman berharga yang tidak akan kita dapatkan kalau terus-terusan stay dalam comfort zone.
Kalaupun ternyata kita ‘celaka’ di luar sana, setidaknya kita mendapat kesempatan untuk belajar dari ‘kecelakaan’ tersebut.
"Sometimes, being out of your comfort zone is a good thing." - Frost Nixon (2008)
Picture: piccsy.com

20 October 2012

Tangga Darurat



Dalam meraih kesuksesan, cara terbaik adalah dengan menggunakan tangga darurat. Bukan eskalator, apalagi lift. Karena kalau kita menggunakan tangga darurat, saat sudah berada di atas kita akan malas untuk turun. Tidak seperti menaiki eskalator atau lift, yang bisa naik dan turun tanpa membuang banyak tenaga.
-Deddy Cobuzier-
Picture : favim.com

13 September 2012

Birthday is a time to...



... stop at the railway station, to think where you've been and choose tracks for the new year of your life.

Picture : kristinamayer.blogg.no

04 August 2012

Pompa Karatan




Seorang pria yang tersesat di gurun pasir hampir mati kehausan. Beruntung ia tiba di sebuah rumah kosong. Di depan rumah tua tanpa jendela yang hampir roboh itu terdapat sebuah pompa. Segera ia mulai memompa sekuat tenaga, tapi tidak ada air yang keluar.

Kemudian ia melihat ada kendi di sebelah pompa yang tertutup gabus. Terdapat pula kertas tertempel di kendi yang berisi tulisan “Sahabat, pompa ini harus dipancing dahulu dengan air yang ada di kendi ini. Setelah air berhasil keluar dari pompa, mohon jangan lupa mengisi kendi ini lagi sebelum pergi.”

Pria itu membuka gabus penutup dan mendapati kendi tersebut penuh berisi air.

“Apakah air ini harus dipergunakan untuk memancing pompa? Bagaimana kalau tidak berhasil? Berarti tidak ada air lagi dan saya akan sangat kehausan. Bukankah lebih aman kalau saya minum airnya dulu, daripada nanti mati kehausan kalau ternyata pompanya tidak berfungsi? Untuk apa harus mengambil risiko menuangkannya ke pompa karatan hanya karena sebuah instruksi di atas secarik kertas kumal yang belum tentu kebenarannya?” pikirnya.

Untung suara hati pria itu mengatakan bahwa ia harus mengikuti nasihat yang tertera di kertas sekalipun berisiko. Ia menuangkan seluruh air di kendi ke dalam pompa dan dengan sekuat tenaga memompanya.

Ternyata benar! Air keluar dengan melimpah. Pria itu pun bisa minum sepuasnya. Setelah istirahat memulihkan tenaga dan sebelum meninggalkan tempat itu, ia mengisi kendi sampai penuh, menutupnya kembali dengan gabus dan menambahkan beberapa kata di bawah instruksi pesan itu: “Terima kasih, sahabat. Saya telah melakukannya dan berhasil.”

Moral of the story:
Untuk mendapatkan apa yang kita inginkan, terkadang kita perlu mengambil pilihan yang berisiko. Entah berhasil atau gagal, setidaknya kita sudah berani mengambil pilihan. Kita berani memutuskan apa yang akan kita lakukan dalam hidup, meskipun harus melalui berbagai pertimbangan terlebih dahulu.

“The person who risks nothing, does nothing, has nothing, is nothing, and becomes nothing. He may avoid suffering and sorrow, but he simply cannot leartn and feel and change and grow and love and live.” –Leo F. Busclaqia

Picture : whoiamronya.soclog.se

02 March 2012

Kontributor Kehidupan



“In life, you’ll meet two kinds of people. The ones who build you up and the ones who tear you down. In the end, you’ll thank them both.”

Segala sesuatu yang terjadi di dunia ini selalu memiliki dua sisi yang berlawanan. Saya percaya itu. Seperti vice versa, yin & yang, dua sisi mata uang,  kutub utara dan kutub selatan, etc. Termasuk juga orang-orang yang datang dan pergi, masuk dan keluar dari kehidupan kita.
Ada yang menyukai kita, ada pula yang membenci kita. Ada yang menyanjung kita, ada pula yang menghujat kita. Ada yang memberikan dampak positif bagi kita, ada pula yang memberikan dampak negatif. Ada yang membuat kita tertawa bahagia, ada pula yang membuat kita sedih dan menangis.
Akan terus seperti itu, karena memang begitulah kehidupan. Kita tidak bisa membuat semua orang menyukai kita. Apa yang menurut si A merupakan kelebihan kita, bisa jadi menurut si B malah merupakan kelemahan kita.
Namun di balik itu semua, pada akhirnya setiap orang yang menyukai maupun membenci kita, akan menyumbangkan kontribusi penting bagi kita. Setiap orang yang menyanjung maupun menghujat kita, memiliki peranan masing-masing dalam perjalanan hidup kita. Setiap orang yang memberi dampak positif maupun negatif kepada kita, sama-sama layak mendapatkan ucapan terima kasih dari kita.
Orang-orang yang menyanyangi kita dengan tulus, membuat kita tidak berhenti bersyukur. Membuat kita mampu bertahan menghadapi hujatan atau kebencian dari orang di kubu yang berlawanan. Orang-orang yang membawa dampak negatif sekalipun, membuat kita bisa belajar untuk membedakan mana yang baik dan mana yang tidak. Bisa membuat kita menyadari adanya pilihan dan konsekuensi di balik pilihan tersebut. Orang yang membuat kita menangis atau sakit hati, bisa membuat kita semakin kuat dan ‘tahan banting’.
Jadi, jangan pernah merasa terganggu apalagi sampai depresi memikirkan berapa banyak orang yang membenci kita. Bahkan orang terbaik di dunia sekalipun, akan ada saja yang membenci. Begitu pula dengan orang terjahat di dunia, tetap saja ada minimal satu orang yang menyayanginya dengan tulus.
Selama orang yang menyukai kita jumlahnya jauh lebih banyak dibandingkan orang yang membenci kita, menandakan bahwa kita masih berada di jalur yang benar. Lebih baik memfokuskan pikiran kita kepada orang-orang yang menyayangi kita itu, daripada memenuhinya dengan ketakutan terhadap orang-orang yang membenci kita. Mereka punya hak untuk membenci kita. Itu semua urusan mereka, sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dengan kita.
Sebaliknya, selalu ingat untuk bersyukur dan mengubah segala hal negatif dalam hidup kita, menjadi sesuatu yang positif dan bermanfaat. Omongan para haters itu justru seharusnya bisa kita jadikan motivasi.
Kalau mereka mengatai kita bodoh, kita jangan malah ikut berpikir bahwa kita bodoh dan menjadi rendah diri apalagi terintimidasi karenanya. Justru waktunya kita untuk berusaha sebaik mungkin, agar suatu saat kita bisa menunjukkan kepada mereka bahwa kita tidak bodoh. Bahwa mereka tidak punya alasan untuk men-judge kita seenaknya. Bahwa tuduhan mereka itu salah besar. Tentunya hal tersebut baru bisa terwujud apabila kita mau terus belajar dan tidak membiarkan kata-kata orang lain menghentikan kita untuk bertransformasi menjadi pribadi yang lebih baik.
Picture : cruel-kid.blogspot.com

07 November 2011

Cry Your Heart Out



Saya sangat tidak setuju dengan kalimat ‘Anak cowok nggak boleh nangis’ yang sering diucapkan oleh orangtua kepada anak laki-laki mereka.
Memangnya apa yang salah dengan pria yang menangis? Mereka juga manusia. Mereka punya perasaan, dikuasai emosi, bisa menangis. Memangnya air mata dan isak tangis hanya milik kaum Hawa?
Mungkin maksud dari orangtua yang berkata demikian adalah supaya anak laki-laki mereka menjadi sosok yang kuat, pria tahan banting yang tidak cengeng. Tapi bukan berarti pria diharamkan untuk menangis.
Menangis adalah salah satu cara untuk menyalurkan perasaan. Di saat bulir demi bulir air mata keluar, secara tidak langsung beban yang kita rasakan akan sedikit berkurang.Menangis tidak bisa menyelesaikan masalah, harap diingat baik-baik. Tapi at least, perasaan tidak enak bisa berkurang sedikit demi sedikit.

Crying is one of nature’s most effective anti-sadness theraphy. Tears help reduce stress, stabilize emotions and removes toxins. So, if you’re depressed and problematic maybe all you need is a good cry. (inspiredhearts.tumble.com)
Awalnya saya juga agak aneh melihat banyaknya cowok-cowok Korea yang menangis dengan begitu mudahnya dalam hampir semua melodrama yang pernah saya tonton. Seolah meneteskan air mata adalah sesuatu yang sangat mudah bagi mereka, sama halnya dengan tersenyum. Tapi pada akhirnya, saya justru merasa seperti itu lebih baik.
Bukan berarti laki-laki kemudian setiap kali menemui masalah langsung menangis. Itu, sih, lama-lama akan berkonotasi negatif (baca: cengeng). Tapi, kalau suatu saat dia harus dihadapkan pada sebuah permasalahan pelik yang membuat hatinya tertekan atau perasaannya tersakiti, menangis bisa menjadi sarana penyaluran rasa tidak enak yang bersarang dalam hati.
Air mata bukanlah sesuatu yang dapat menyakiti harga diri seorang pria. Air mata tidak hanya tercipta untuk kaum perempuan. Karena kalau demikian, mengapa pria juga diciptakan dengan kelenjar air mata?
Sekali lagi, menangis tidak lantas membuat kita terlihat cengeng. Menangis adalah sebuah bukti, kalau rasa sakit yang kita rasakan sudah terlampau perih. Bahwa hati yang ringkih ini sudah tidak lagi mampu menampung semua beban yang dipaksa diletakkan di atas pundak.
Kita sudah sering mendengar bahwa tertawa (atau minimal tersenyum) itu sehat. Menangis pun demikian, bisa membuat sehat. Daripada kita terus memendam dan menahan emosi. Pada akhirnya, itu semua akan menjadi seperti bola salju. Semakin membesar, dan akhirnya malah bisa menghancurkan diri kita sendiri.
Dibandingkan seperti itu, tidak ada salahnya menangis. Tapi juga jangan lantas menangis terus-menerus. Kalau sudah merasa baikan, saatnya untuk kembali ke realita. Untuk menghadapi dan menyelesaikan permasalahan yang ada.
Crying doesn’t indicate that you’re weak. Since birth, it has always been a sign that you’re alive. (justalittlebitlouder.tumblr.com)
Picture : wellowr.tumblr.com

18 October 2011

Go Slowly and See a Lot



“Your drama has a long way to go before it’s over. So don’t force yourself to go quickly. If you go slowly, you can see a lot more, in more detail, than the people who go quickly. If you ask me who would grow more between those two, I’d say it’s the one who goes slowly and sees a lot.” -Kang Oh Hyuk
Penggalan kalimat yang saya dapatkan ketika menonton serial Korea 'Dream High' ini melahirkan sebuah perenungan baru bagi saya. Pemikiran yang sangat unik. Kembali mengingatkan saya bahwa untuk meraih mimpi, kita tidak bisa memaksa diri untuk berlari tergesa-gesa. Banyak hal yang bisa didapatkan selama perjalanan mencapai mimpi. Hal berharga yang dapat dijadikan pelajaran. Proses yang menempa kita untuk kelak menghargai apa yang berhasil kita raih.
Picture : littlemissinvisible.tumblr.com

31 July 2011

50 : 50



Sejak Oktober tahun lalu, sewaktu teman-teman saya masih bingung hendak mengambil jurusan apa untuk kuliah, saya sudah bisa santai karena sudah diterima di jurusan akutansi fakultas ekonomi sebuah universitas swasta di Jakarta Barat. Sebetulnya saya mengincar Universitas Indonesia jurusan yang sama atau jurusan jurnalistik di Universitas Padjajaran. Tapi karena terbentur beberapa hal, keinginan itu kandas dengan sendirinya. 
Di saat tinggal menghitung hari menuju hari pertama saya sebagai mahasiswi, saya malah dibuat pusing. Saya dihadapkan dengan dua jurusan. Akuntasi atau jurnalistik. Keduanya di universitas yang sama. Orangtua saya mendukung apapun pilihan saya. Tapi yang membuat saya bingung adalah, saya sama-sama menyukai dua bidang tersebut. 
Saya merasa antusias dihadapkan dengan jurnal, juga menghitung jumlah debet dan kredit. Tapi di lain sisi, saya sudah jatuh hati dengan dunia menulis, dan jurnalistik memungkinkan saya semakin akrab dengan dunia tersebut. 
Hidup menawarkan banyak pilihan. Dan sekarang, saya kebingungan karena salah satu pilihan dalam hidup saya yang datang secara tidak terduga. Pilihan yang tidak semudah memilih akan memakai baju apa saat hangout. Pilihan yang sulit dan membutuhkan pemikiran matang, karena berhubungan dengan masa depan saya.
Kemudian saya teringat salah satu kalimat dalam Dream High. Maaf kalau akhir-akhir ini saya sering mengungkit drama seri ini. Tapi memang banyak sekali hal yang saya pelajari selama menonton Dream High. Ada satu bagian di mana salah satu tokoh utamanya sedang dihadapkan pada dua pilihan sulit, kemudian sahabatnya pun memberikan nasihat.
"Tidak ada pilihan yang mudah. Peluangnya 50 : 50. Karena sulit dipilih, maka baru bisa disebut pilihan. Yang harus dilakukan adalah berusaha mengubah apa yang dipilih dari 50 menjadi 100. Berusaha membuktikan pada diri sendiri bahwa pilihan yang sudah diambil adalah pilihan yang tepat." -Jin Guk
Jadi, saya akan kembali memikirkan baik-baik kedua opsi ini dengan pikiran jernih dan terbuka. Saya tidak ingin lima atau sepuluh tahun mendatang harus menyesal karena pilihan yang saya buat. Apapun itu yang pada akhirnya menjadi pilihan saya, baik tetap pada jurusan akutansi atau pindah ke jurusan jurnalistik, saya akan memberikan yang terbaik dari diri saya. 
Saya akan belajar dengan sungguh-sungguh, mencari ilmu dan pengalaman sebanyak-banyaknya. Akan saya buktikan, bahwa apa yang telah saya pilih, adalah pilihan yang paling tepat bagi diri saya.
Picture : facebook.com

16 June 2011

Finish Line



"When we were five, they asked us what we wanted to be when we grew up. Our answers were things like astronaut, president, or in my case, a princess. When we were ten, they asked again. We answered rock star, cowboy, or in my case, a gold medalist. But now that we've grown up, they want a serious answer. Well, how about this 'Who the hell knows?'. This isn't the time to make hard and fast desicions. This is the time to make mistakes. Take the wrong train and get stuck somewhere. Fall in love, a lot. Major in philosophy, because there's no way to make career out of that. Change your mind, and change it again, because nothing's permanent. So make as many mistakes as you can. That way, someday, when they ask what we want to be, we won't have to guess. We'll know."

Saya sudah jatuh hati pada pidato Jessica Stanley ini bahkan sejak pertama kali menonton Twilight Saga : Eclipse.

Pidato yang tanpa basa-basi, tanpa ukiran kata-kata indah seperti yang lazim digunakan orang-oran, tapi begitu mengena. Begitu nyata.

Saya ingat betul ketika masih kanak-kanak, orangtua, guru, atau orang lain sering menanyakan pertanyaan yang kurang-lebih sama "Kalau sudah besar nanti ingin jadi apa?". Dan saya juga masih ingat dengan jawaban-jawaban yang saya berikan. Dokter, guru, artis, pahlawan pembela kebenaran (saat itu masih jamannya Sailormoon), peramal (yang ini jujur membuat saya selalu tidak habis pikir), interior designer, psikolog, business woman, sampai pada akhirnya akuntan publik sekaligus penulis.

Saat masih di bawah usia 10 tahun, profesi dokter, guru, pilot, presiden, astronot, dan yang lainnya akan menjadi profesi yang begitu menarik, begitu dikagumi dan didambakan. Namun semakin kita tumbuh menjadi dewasa, kita mulai memikirkan kemungkinan-kemungkinan lain, sampai kemudian kita mencapai satu titik di mana kita dapat berkata "Saya tau apa yang menjadi cita-cita saya." Ada yang tetap dengan pilihan awal, namun tak sedikit yang berubah. Semua akan menjadi lebih realistis, karena kita sudah menyadari kemampuan dan ketertarikan kita.

Apapun cita-cita kita, berbahagialah kalau kita sudah menemukannya. Bagi yang belum kunjung menemukan apa sebenarnya cita-cita kalian, bergegaslah. Pikirkan saja profesi apa yang membuat kita tidak akan merasa bosan dan lelah jika harus menjalaninya setiap hari selama sisa hidup kita. Gali potensi diri, and find what we're capable of.

Karena hidup tanpa cita-cita itu bagaikan berjalan dalam kegelapan tanpa ada cahaya setitik pun. Tanpa cita-cita, manusia akan hidup terombang-ambing, tanpa tujuan jelas. Cita-cita itu krusial. Patut dimiliki sebagai pedoman. Sebagai sebuah finish line bagi atlet lari, sebuah gawang bagi pemain sepak bola.

Tapi tahu saja belum cukup. Tugas terberat justru adalah mendapatkan keberanian dan motivasi untuk memperjuangkan cita-cita tersebut. Untuk memacu diri agar semakin dekat dengan semuanya itu.


Dan dalam perjalanan mendekat ke arah cita-cita itu, ada banyak sekali rintangan. Akan ada banyak kesalahan yang kita buat. Bahkan jauh sebelum itupun, kita berkali-kali melakukan kesalahan dengan keliru menetapkan cita-cita, juga tidak kunjung menemukan dorongan untuk mewujudkannya.

Kesalahan demi kesalahan. Wajar, bisa dipahami. Karena dengan melakukan kesalahan, kita belajar untuk menemukan mana yang benar. Untuk tidak mengulangi apa yang seharusnya tidak kita lakukan di kemudian hari.

Namun bukan berarti hal tersebut dapat dijadikan excuse untuk terus-menerus berbuat salah. Akan ada waktunya, suatu hari nanti, kita bisa dengan mantap mengatakan "Saya telah mendapatkan apa yang saya inginkan dan apa yang saya buruhkan. Yang terbaik untuk diri saya. Yang terbaik dari diri saya".

Akan ada saatnya, entah kapan, kita bisa menceritakan kepada orang lain, atau mungkin anak-cucu kita, bahwa kita telah berhasil meraih cita-cita kita. Dan bahwa cita-cita yang kita tentukan selagi muda dulu memanglah yang terbaik. Bahwa kita banyak membuat kesalahan, tapi masa itu telah berakhir. Kita sudah belajar. Kita sudah memahami.

“Berhenti bercita-cita adalah tragedi terbesar dalam hidup manusia.” – Andrea Hirata (Sang Pemimpi)

Pictures : fuckyeahtwilight.tumblr.com | nowcatholic.com