Showing posts with label Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Indonesia. Show all posts

02 October 2012

Batik Culture Legacy



Hari Batik memang baru resmi ada sejak 2 Oktober 2009, tapi sebenarnya batik sudah menjadi bagian penting tak terpisahkan dari budaya Indonesia sejak abad ke-17.

Memperingati Hari Batik Nasional bukan sekedar bentuk sukacita karena akhirnya batik diakui sebagai Masterpieces of The Oral and Intangible Heritage of Humanity oleh UNESCO saja. Kita juga bisa menggunakan moment ini untuk mengetahui lebih banyak tentang batik.

Tak kenal maka tak sayang. Mungkin kita sudah bosan mendengar pepatah ini. Tapi memang begitu kenyataannya. Bagaimana kita bisa merasa memiliki dan mencintai batik kalau kita saja tidak tahu sejarah dan filosofi batik?

Kata ‘batik’ berasal dari bahasa Jawa ‘amba’ yang berarti luas, lebar, kain, dan ‘titik’ yang artinya matik (membuat titik). Kalau digabungkan, kata ‘batik’memiliki arti menghubungkan titik-titik menjadi gambar tertentu pada kain yang lebar.

Motif yang tercetak pada kain batik dihasilkan dari cairan lilin yang disebut malang. Cairan ini ditorehkan di atas sehelai kain bernama kain mori dengan alat bernama canting (untuk motif halus) atau kuas (untuk motif berukuran besar). Dengan demikian cairan lilin dapat meresap ke dalam serat sebuah kain. Setelah itu kain yang sudah dilukis, dicelup ke dalam warna yang diinginkan, biasanya dimulai dari warna-warna muda, baru dengan warna yang lebih tua atau gelap. Terakhir kain dicelupkan ke dalam bahan kimia dengan tujuan melarutkan lilin. Teknik tradisional ini menghasilkan kain yang kita kenal sebagai batik tulis.

Tapi batik yang sekarang banyak beredar didominasi oleh batik yang dibuat dengan teknik cap (pabrik). Batik yang masih menggunakan teknik tradisional yang ada saat ini harganya memang bisa berkali-kali lipat lebih mahal karena proses pembuatannya yang rumit, menguras banyak tenaga dan waktu.

Kalau dulu batik menjadi pakaian khusus kaum bangsawan atau ningrat, maka di zaman modern ini, batik menjelma menjadi pakaian wajib berbagai instansi (sekolah atau perusahaan), pakaian untuk acara formal, bahkan menjadi bagian dari fashion global.

Selain proses pembuatannya yang rumit (bahkan ada pula yang disertai dengan ritual adat saat pengerjaannya), batik juga terkenal memiliki makna filosofis mendalam di balik motifnya.

Berikut adalah macam-macam batik berdasarkan motif atau corak beserta makna di baliknya:

Batik Keraton
Batik keraton bisa dikatakan sebagai awal dari semua jenis batik yang ada di Indonesia. Terdapat filosofi kehidupan di balik setiap motifnya. Batik ini dibuat oleh putri keraton dan pembatik-pembatik ahli yang hidup di lingkungan keraton. Dahulu batik motif ini hanya boleh digunakan oleh raja dan keluarganya. Karena itu batik keraton juga terkenal dengan motif terlarang, yang terdiri dari motif parang barong, parang rusak, udan liris, dan beberapa motif lain.

Batik Pringgondani
Namanya diambil dari nama kesatriyan tempat tinggal Gatotkaca (tokoh dalam perwayangan). Motif ini biasanya ditampilkan dalam warna-warna gelap seperti biru indigo (biru nila) dan soga coklat, serta penuh sulur-suluran kecil yang diselingi dengan naga.

Batik Sekar Jagad
Motif ini mengandung makna kecantikan dan keindahan sehingga orang lain yang melihat akan terpesona. Ada pula yang beranggapan bahwa motif sekar jagad sebenarnya berasal dari kata ‘kar jagad’ yang diambil dari bahasa Jawa (‘kar’ berarti peta dan ‘jagad’ berarti dunia), sehingga motif ini juga melambangkan keragaman dari seluruh dunia.

Batik Sida Luhur
Motif-motif berawalan sida (baca: sido) merupakan golongan motif yang banyak dibuat oleh para pembatik. Kata ‘sida’ berarti jadi atau terlaksana. Dengan demikian, motif-motif berawalan ‘sida’ mengandung harapan agar apa yang diinginkan bisa tercapai. Motif sida luhur bermakna harapan untuk mencapai kedudukan yang tinggi, serta dapat menjadi panutan masyarakat.

Batik Sida Mukti
Meruapakan motif batik yang biasanya terbuat dari zat pewarna soga alam. Biasanya digunakan sebagai kain dalam upacara perkawinan. Unsur motif yang tekandung di dalamnya adalah gurda.

Batik Sida Asih
Makna dari motif sida asih (baca: sido asih) adalah harapan agar manusia mengembangkan rasa saling menyayangi dan mengasihi antar sesama.

Batik Kawung
Motif kawung berpola bulatan mirip buah kawung (sejenis kelapa atau sering dianggap buah kolang-kaling) yang ditata rapi secara geometris. Kadang, motif ini juga diinterpretasikan sebagai gambar bunga teratai dengan empat lembar daun bunga yang merekah. Teratai sendiri adalah tanaman yang melambangkan umur panjang dan kesucian. Biasanya motif kawung diberi nama berdasarkan besar-kecilnya bentuk bulat lonjong yang terdapat dalam suatu motif tertentu.

Misalnya : Kawung picis adalah motif kawung yang tersusun oleh bentuk bulatan yang kecil. Sedangkan kawung bribil adalah motif kawung yang tersusun oleh bentuk yang lebih besar daripada kawung Picis. Sedangkan kawung yang bentuknya bulat-lonjong lebih besar daripada kawung bribil disebut kawung sen.

Batik Semen Rama
Dimaknai sebagai penggambaran dari kehidupan yang berkembang atau makmur. Terdapat beberapa jenis ornamen pokok pada motif-motif semen, yaitu ornamen yang berhubungan dengan daratan (tumbuh-tumbuhan atau binatang berkaki empat), ornamen yang berhubungan dengan udara (garuda, burung dan megamendung, ornamen yang berhubungan dengan laut atau air (ular, ikan dan katak). Ketiga ornamen tersebut ddipercaya memiliki hubungan dengan paham Triloka atau Tribawana yang mempercayai adanya tiga dunia (dunia tengah tempat manusia hidup, dunia atas tempat para dewa dan para suci, serta dunia bawah tempat orang yang jalan hidupnya tidak benar atau dipenuhi angkara murka).

Selain makna tersebut motif ini juga sering dihubungkan dengan cerita Ramayana yang sarat dengan ajaran Hastha Brata (keutamaan melalui delapan jalan). Jadi motif semen rama (baca: semen romo) mengandung ajaran sifat-sifat utama yang seharusnya dimiliki oleh seorang raja atau pemimpin rakyat.

Batik Tambal
Sesuai dengan namanya, batik ini memang terbuat dari motif-motif batik yang saling menambal. Makna di balik motif ini adalah dalam perjalanan hidup, manusia harus memperbaiki diri menuju kehidupan yang lebih baik, lahir maupun batin. Dulu, batik bermotif tambal dipercaya bisa membantu kesembuhan orang yang sakit. Caranya adalah dengan menyelimuti orang sakit tersebut dengan batik motif tambal. Kepercayaan ini muncul karena orang yang sakit dianggap pada dirinya ada sesuatu yang kurang, sehingga untuk mengobatinya perlu “ditambal”.

Batik Sudagaran
Motif larangan dari kalangan keraton membuat seniman dari kaum saudagar berkreasi menciptakan motif baru sesuai dengan selera mereka. Mereka juga mengubah motif larangan sehingga motif tersebut dapat dipakai masyarakat umum. Desain batik Sudagaran umumnya terkesan berani dalam pemilihan bentuk, stilisasi atas benda-benda alam atau satwa, maupun kombinasi warna yang didominasi warna coklat soga dan biru tua. Batik sudagaran menyajikan kualitas dalam proses pengerjaan serta kerumitan dalam menyajikan ragam hias yang baru. Pencipta batik sudagaran mengubah batik keraton dengan isen-isen yang rumit dan mengisinya dengan cecek (bintik) sehingga tercipta batik yang amat indah.

Batik Petani
Merupakan batik yang dibuat sebagai selingan kegiatan ibu rumah tangga di rumah saat waktu senggang. Biasanya batik ini tekturnya tidak halus. Motifnya turun temurun sesuai daerah masing-masing dan batik ini dikerjakan secara tidak profesional karena hanya sebagai sambilan.

17 August 2012

Hari 17 Boelan 8 Tahoen 2012



Mungkin kita sering dibuat gusar oleh ulah para petinggi negara ini yang malah menyalahgunakan kekuasaan mereka demi usaha memperkaya diri.
Mungkin kita sering dibuat kecewa oleh berbagai peraturan dan kebijakan yang dibuat oleh para birokrat.
Mungkin kita sering dibuat prihatin dengan taraf hidup masyarakat yang bukannya membaik malah semakin mundur.
Mungkin kita sering bertanya pada diri kita sendiri, “Kenapa saya harus lahir di Indonesia? Kenapa saya harus hidup di negara ini?”
Sama seperti keluarga. Kita tidak bisa memilih di keluarga mana kita akan lahir. Di keluarga seperti apa kita dibesarkan. Mungkin ada saatnya kita kecewa dengan perlakuan orangtua kita. Mungkin ada kalanya kita memilih untuk lahir di keluarga lain. Tapi pada akhirnya kita tahu, keluarga kita mungkin bukan keluarga terbaik di dunia, tapi mereka lah yang terbaik untuk kita. Begitu pula Indonesia. Negara ini bukan negara terbaik di dunia, tapi percayalah bahwa Indonesia adalah negara terbaik di hati kita.
Saya sempat membaca di timeline saya pagi ini, sebuah tweet yang berbunyi: Kita mencintai Indonesia bukan karena lahir di negara ini, tapi karena Indonesia telah lahir dalam hati kita.
Jangan terus memfokuskan penglihatan pada kebobrokan negara ini. Buka mata lebih lebar, buka telinga dan dengarkan baik-baik. Bagaimana putra bangsa dan usaha mereka mengharumkan nama Indonesia di mata dunia. Bagaimana budaya negara ini menarik jutaan manusia dari berbagai penjuru dunia.
Lihatlah betapa indahnya setiap inci Tanah Air. Maka kita akan jatuh cinta pada Indonesia lebih dan lebih lagi setiap harinya.
Mencintai harus bisa menerima apa adanya, baik dan buruknya, bukan? Ya, saya mencintai Indonesia di balik setiap kekurangannya.
DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA-KU TERCINTA!
Picture : private collection

26 December 2011

Untuk Dilindungi, Bukan Disakiti



Belakangan, berbagai media ramai memberitakan soal pembantaian orangutan di Kalimantan. Miris rasanya, kalau primata pintar yang enggak berdosa ini malah jadi korban akibat keserakahan manusia.

Orangutan hanya terdapat di Indonesia dan Malaysia, khususnya di hutan hujan Pulau Sumatera dan Kalimantan. Hewan ini termasuk golongan kera besar yang terbagi dalam dua spesies, yakni orangutan Sumatera (dengan nama latin Pongo abelii), dan orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Orangutan memiliki kekerabatan yang dekat sama manusia, karena kesamaan DNA sebesar 96,4%.

Orangutan hidup di atas pohon-pohon besar, dan jarang turun ke tanah. Mereka rajin berpindah dari satu pohon ke pohon lain (brachiating). Saat berpindah inilah, biji dari buah yang mereka makan berjatuhan dan menyebar di tanah, kemudian menjadi cikal bakal pohon-pohon baru. Itulah sebabnya orangutan disebut sebagai penjaga ekosistem hutan.

Orangutan ditetapkan sebagai hewan yang wajib dilindungi oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN), karena jumlah populasinya yang semakin mendekati kepunahan. Mereka membutuhkan waktu reproduksi yang terbilang lama untuk ukuran hewan. Orangutan betina biasanya melahirkan setiap 7-10 tahun sekali, dengan lama kandungan mirip manusia, 8.5 sampai 9 bulan. Setiap kali mereka melahirkan, hanya akan ada satu bayi orangutan. Umur orangutan di alam liar bisa mencapai 45 tahun, dan sepanjang hidup, mereka cuma bisa punya tiga anak.

Setelah proses kelahiran, bayi orangutan akan tinggal bersama induk mereka sampai umur enam atau tujuh tahun. Hubungan antara bayi orangutan dan induk mereka sangat dekat, karena sifat protektif dari sang induk. Selama masih tinggal bersama induk mereka, mereka akan diajarkan banyak hal, tentang bagaimana harus bertahan hidup di alam bebas.

Ancaman orangutan datang dari keserakahan manusia. Habitat mereka semakin sempit karena kawasan hutan hujan yang selama ini mereka tinggali dijadikan lahan kelapa sawit dan pertambangan. Pohon-pohon di hutan juga banyak ditebang buat diambil kayunya.

Orangutan kehilangan 80% wilayah habitatnya dalam waktu kurang dari 20 tahun. Mereka juga sering disakiti bahkan dibunuh para petani karena dianggap sebagai hama. Padahal, mereka cuma mau cari makan, karena makanan mereka di hutan udah enggak ada lagi.

Saking protektifnya induk orangutan terhadap anak mereka, para pemburu yang enggak punya hati itu tega membunuh induk orangutan, supaya bisa mengambil anak mereka dan menjualnya secara ilegal.

Kasus pembantaian orangutan di Kalimantan

Pembantaian orangutan secara massal di Desa Puan Cepak, Kutai Kertanegara, Tenggarong, Kalimantan Timur sudah dilakukan sejak tahun 2008, tapi beritanya baru ramai dibicarakan sekarang. Banyak ditemukan bangkai orangutan dalam kondisi mengenaskan, akibat disakiti oleh masyarakat sekitar atas perintah dari PT Khaldea Agroprima Mandiri. Baru-baru ini juga ditemukan fakta lain yang lebih menyedihkan, bahwa pembantaian tersebut bukan hanya dilakukan oleh manusia, tapi juga anjing pemburu yang terlatih.

Pemburu akan diantar oleh anjing pemburu ke lokasi yang terdapat banyak orangutan. Orangutan yang ada di kebun sawit akan dikejar oleh anjing pemburu. Kalau kabur, mereka akan ditembak dengan senapan angin atau ditombak sampai mati. Mayat orangutan difoto sebagai bukti ke perusahaan. Lewat foto itulah, mereka mendapat gaji 1,2 juta per bulan, plus 1 juta rupiah kalau berhasil membunuh orangutan. Benar-benar kejam dan enggak punya perasaan!

The real hero
Di balik kekejaman dan ketidakadilan tersebut, untungnya masih ada Biruté Galdikas (65), perempuan asal Jerman yang concern banget sama nasib orangutan. Beliau udah menulis beberapa buku tentang kelangkaan orangutan. Galdikas sampai di Kalimantan saat berumur 25 tahun. Sejak itu, beliau terus melakukan berbagai upaya untuk memencegah kepunahan orangutan dengan membangun pusat rehabilitasi. Bukan cuma itu, beliau juga membuat film dokumenter berjudul Born to Be Wild 3D (April 2011).

Trivia

- Tinggi orangutan sekitar 1.25-1.5 meter, sementara beratnya sekitar 50-90 kg (jantan) dan 30-50 kg (betina).
- Orangutan suka makan durian, madu, dan jamur.
- Orangutan bisa berjalan dengan dua kaki, tapi enggak bisa berenang.
-Orangutan adalah hewan semi-soliter, yang artinya, mereka enggak hidup dalam kawanan besar. Orangutan jantan biasanya ditemukan sendirian, sementara yang betina bersama dengan beberapa anaknya.
-Orangutan jantan bisa membuat panggilan jarak jauh yang terdengar sampai radius 1 km karena punya kantung tenggorokan yang besar. Gunanya untuk mengawasi arealnya, memanggil orangutan betina, ataupun mencegah gangguan dari orangutan jantan lain.
- Predator terbesar orangutan antara lain macan tutul, babi, buaya, ular phyton, elang hitam, dan... manusia!
- Menurut data WWF, terjadi penjualan orangutan ke Taiwan mencapai 1000 ekor antara tahun 1985-1990.

Dimuat di Majalah kaWanku No. 114/2011


Picture : orangutanphotos.blogspot.com | dok : kaWanku

28 October 2011

Bangga Menjadi Pemuda Indonesia


Delapan puluh tiga tahun yang lalu, pemuda Indonesia melakukan sebuah pergerakan yang menjadi bukti nyata kecintaan mereka terhadap Indonesia melalui Sumpah Pemuda. Namun lihat apa yang terjadi pada pemuda Indonesia di masa sekarang ini. Bahkan rasa nasionalis sudah luntur dari jiwa kita sebagai pemuda.

Jangan mengaku sebagai pemuda Indonesia yang nasionalis, kalau kerjaan kita hanya mencela negeri sendiri. Kalau mau disebut nasionalis, buktikan rasa cinta kita terhadap Tanah Air dengan bukti nyata. Tidak perlu sampai mengikuti demo. Dari hal-hal sederhana saja, kita sudah bisa ikut serta dalam membangun negeri ke arah yang lebih baik, contohnya seperti ini: 


1. Bangga menggunakan batik dan kebaya (saat hangout atau special ocassion)
Batik dan kebaya tidak lagi identik dengan pakaian nenek-nenek. Kalau tahu cara mix n' match dengan benar... voila! Kita bisa terlihat stylish sekaligus nasionalis di saat yang bersamaan. Pilih kebaya encim yang tidak terlalu mencolok, kemudian padukan dengan celan atau rok jins. Dengan begitu, maka tidak akan menimbulkan kesan too much. 


2. Menonton saluran TV lokal
Tentunya dengan catatan hanya menonton acara-acara yang memberikan dampak positif (seperti acara kuliner, traveling, budaya, dll). Kompas TV dan Metro TV menjadi channel favorit saya, karena menyajikan berbagai acara edukatif yang membuat kita semakin jatuh cinta dengan Indonesia.


3. Merawat diri dengan cara tradisional
Bangsa ndonesia sudah sejak dulu terkenal dengan kepiawaiannya meracik berbagai bahan tradisional sebagai alat mempercantik diri. No wonder kalau Mustika Ratu menjadi perusahaan make-up kebanggaan Indonesia yang tidak perlu diragukan eksistensinya di kancah internasional. So, enggak butuh kosmetik dengan harga selangit, karena bahan-bahan yang biasa tersedia di dapur pun bisa dimanfaatkan! 


4. Bersikap tertib saat mengikuti Upacara Bendera
Enggak perlu sampai ikut paskibra. Cukup dengan mengikuti upacara dari awal sampai akhir dengan khidmat dan tertib, kita sudah bisa membuktikan rasa cinta kita kepada Tanah Air. Berdiri tegap dan memberi hormat saat pengibaran Bendera dan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya selama beberapa menit tidak akan membuat tangan kita patah, kok. 


5. Mendengarkan cerita dari kakek atau nenek tetang sejarah Indonesia
Kakek dan nenek kita yang sudah lahir dan bahkan menjadi bagian dari sejarah Indonesia tentunya dapat menceritakan semuanya itu dalam versi yang lebih seru. Sayangnya saya sudah tidak bisa mendengarkan itu semua, karena Kakek saya yang dulu suka bercerita telah tiada. Jadi, beruntunglah kalian yang masih memiliki kakek atau nenek yang dapat berbagi cerita. Membaca buku atau browsingsitus sejarah Indonesia juga bisa jadi alternatif pilihan. 


6. Traveling ke negara sendiri dulu, baru ke negara lain
Kalau wisatawan asing saja hobi banget traveling ke negara kita ini, masa kita yang tinggal di Indonesia kalah? Indonesia memiliki banyak sekali tempat-tempat wisata yang sangat indah dan harus menjadi tujuan utama destinasi liburan kita. Belum lagi pantai-pantainya yang super fabulous. 


7. Mengikuti kursus atau ekstrakurikuler tari daerah
Tarian tradisional yang dimiliki negara kita enggak kalah cool jika dibandingkan dengan tarian dari negara-negara lain. Malahan, tarian tradisional jauh lebih susah dibanding tarian luar. Jadi, kalau kita bisa menguasai tarian tradisional, tentunya kita bisa sedikit pamer sama teman-teman kita yang ada di luar negeri. 


8. Mencoba berbagai kuliner asli Indonesia
Indonesia terkenal dengan makanan tradisionalnya yang super yummy! Kalau mau dibikin list-nya, bisa sampai berlembar-lembar. Jadi, ayo ajak teman-teman kita untuk mencoba makanan tradisional Indonesia (lebih seru lagi kalau di warung pinggir jalan, karena rasanya yang masih original)!

Intinya, jalani semuanya dari hati, karena cuma hati kita yang bisa dengan jujur merefleksikan seberapa besar rasa cinta kita kepada tanah tempat kita berpijak saat ini.

Selamat Hari Sumpah Pemuda!

Pictures : private collection | gettyimages.com | wikipedia.com | lemper-abon.tumblr.com

26 October 2011

Hanya Punya Satu Nyawa



Lahir dan tinggal di Indonesia selama delapan belas tahun, membuat saya menyadari sebuah realita yang cukup memprihatinkan di negara ini. Lupakan mengenai masalah ekonomi, karena saya tidak akan membahasnya kali ini.
Realita yang saya temukan adalah: Rendahnya apreasiasi bangsa ini terhadap nyawa manusia.
Selesai UTS (Ujian Tengah Semester), teman-teman sekelas mengajak untuk merayakan kebebasan dengan bermain ke salah satu amusement park (AP) yang ada di Jakarta. Awalnya saya sangat  excited dengan rencana ini. Tapi kemudian kedua orangtua saya menasihati supaya tidak ikut pergi, mengingat keamanan berbagai wahananya yang semakin lama semakin bobrok saja.
Setelah berpikir lebih mendalam mengenai nasihat tersebut, saya langsung berubah pikiran. Menyatakan bahwa saya tidak akan pergi AP tersebut sampai keamanannya benar-benar bisa disetarakan dengan AP di negara lain.
Bukannya saya tidak menghargai dan tidak bangga akan kemajuan negara ini. Saya sudah puluhan kali bermain ke AP tersebut. Semua wahana yang ada di sana sudah pernah saya coba. Dari wahana khusus anak-anak (tentunya ketika saya masih kecil), sampai yang paling menguji adrenalin. Simply because i do love adrenaline rush thingy.
Kalau dulu, pikiran saya masih dangkal, khas anak-anak. Yang saya tahu hanyalah bermain ke sana kemari sesukanya tanpa beban. Sama sekali tidak ada ketakutan bahwa ada kemungkinan nyawa saya yang menjadi taruhan.
Tapi sekarang, mendengar berbagai berita yang entah benar atau tidak mengenai korban jiwa yang disebabkan oleh kerusakan dan masalah teknis wahana, saya jadi was-was. Memang berita itu tidak bisa dipastikan kebenarannya. Tapi melihat bukti nyata berbagai permainan lain yang ada di Indonesia, mulai dari flying fox, dan yang baru-baru ini terjadi di sebuah taman bermain air, saya jadi semakin tidak berhasrat untuk mencoba hal-hal berbau ekstrim yang tersedia di negara ini.
Tidak hanya dalam hal permainan ekstrim. Dalam transportasi pun begitu. Sudah bosan rasanya menyaksikan pemberitaan mengenai kecelakaan transportasi, mulai dari kendaraan roda dua, empat, kereta api, kapal laut, sampai pesawat. Kenapa, sih, malas sekali melakukan perawatan? Nyawa ratusan manusia bergantung penuh pada keamanan mesin dan hal teknis lainnya. Apakah sebanding, rasa malas tersebut dengan hilangnya nyawa-nyawa orang tidak berdosa?
Nyawa manusia dihargai dengan begitu rendahnya. Peralatan dan mesin yang digunakan tidak diperiksa serta dirawat dengan serius. Padahal, seiring berjalannya waktu, nilai guna peralatan dan mesin tersebut akan semakin berkurang. Yang berarti, keamanannya juga semakin jauh dari standar.
Saya tahu, nyawa manusia memang sepenuhnya milik Yang Maha Kuasa. Kapan dan dengan cara apa kita akan meninggal, hanya Tuhan lah yang tahu. Tapi sebagai manusia, kita harus menjaga nyawa kita dengan baik, bukan? Hidup cuma satu kali. Masa mau dikorbankan begitu saja dengan cara mati konyol?
Sebenarnya sudah sejak lama saya sangat tertantang untuk mencoba paralayang. Tidak perlu jauh-jauh dari Jakarta, karena di Puncak juga ada. Semoga saja niatan saya itu bisa segera terwujud, tentunya disertai dengan perbaikan keamanan dan kenyamanan yang digunakan, sehingga sesuai bahkan melebihi standar yang ada.
Semoga ke depannya, nyawa manusia bisa menjadi prioritas utama dan mendapat penghargaan tinggi dibandingkan dengan usaha mencari keuntungan semata. Uang bisa dicari, tapi nyawa manusia hanya satu. Tidak bisa dibeli dengan berapa banyak pun uang yang dimiliki.
Picture : moanalittlelouder.tumblr.com

02 October 2011

Local Tradition, National Pride



Hari ini adalah Hari Batik Nasional. Saatnya kita sebagai bangsa Indonesia, untuk semakin bangga terhadap batik. Enggak perlu berlebihan sampai belajar membatik segala. Dengan memakai batik, baik sebagai outfit sehari-hari, atau ke event-event khusus saja, sudah berarti kita bangga dan berkontribusi dalam melestarikan batik.

Almamater SMA saya mewajibkan para siswanya mengenakan batik (motif dan model terserah) setiap hari Jumat. Saya sangat senang dengan ketentuan yang baru berjalan sejak kurang-lebih dua tahun tersebut. Tapi saya ingat betul, ada salah seorang kakak kelas yang begitu mendengar peraturan baru ini dari kepala sekolah, langsung memposting kalimat kurang-lebih seperti ini dalam akun twitter-nya: Males banget sih, harus pakai batik segala. Kampungan!

Bayangkan, kata-kata seperti itu ditulis oleh seorang warga negara Indonesia, yang bahkan masih tinggal dan hidup di Indonesia! Di saat orang-orang dari berbagai negara mengagumi batik, manusia yang berasal dari tempat asal batik malah menyebutkan bahwa memakai batik itu kampungan. Sungguh keterlaluan.


Supaya tidak ada lagi orang-orang seperti itu di Indonesia, tugas kitalah untuk menjadi 'duta' bagi batik. Batik adalah warisan budaya yang sangat membanggakan. Dengan proses pengerjaannya yang rumit dan membutuhkan nilai seni yang tinggi, sayang sekali kalau sampai tidak dilestarikan.



Pictures : google | private collection

Video courtesy of Youtube

17 August 2011

Indonesia = KITA



HUT RI bukan hanya menjadi waktu di mana kita mengadakan upacara atau mungkin menonton liputan upacara di seluruh stasiun TV. HUT RI juga bukan hanya menjadi ajang untuk bersenang-senang dengan berbagai perlombaan, mulai dari bakiak, balap karung, makan kerupuk, panjat pinang, dan sebagainya.

Peringatan HUT RI justru harusnya membuat kita merenungkan kembali, apa benar kemerdekaan yang berhasil direbut oleh bangsa ini 66 tahun yang lalu sudah benar-benar terwujud? Atau selama ini kita hanya mampu berteriak 'Merdeka!', padahal sesungguhnya kita belum merasakan kemerdekaan itu sendiri. Penjajah kita saat ini bukan lagi Belanda atau Jepang, tetapi bangsa ini sendiri. Justru itulah yang jauh lebih berbahaya. 

Bagaimana budaya KKN terus mendarah daging, bagaimana kemiskinan masih merajalela, bagaimana konflik antar etnis dan golongan terus menghiasi berbagai media pemberitaan.
Apa itu, arti merdeka yang sesungguhnya? Saya rasa tidak.

Itulah tugas KITA SEMUA. Bukan tugas pemerintah, bukan tugas warga negara. Tugas KITA. Tidak akan ada gunanya memaki-maki koruptor. Mulailah perubahan itu dari diri kita sendiri. Kalau semua orang berubah menjadi lebih baik, saya percaya dan yakin Indonesia bisa benar-benar merasakan kemerdekaan.

Ayo kita membangun bangsa ini menjadi lebih baik lagi dimulai dari diri kita masing-masing!
DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA KE-66

“Indonesia merdeka bukan tujuan akhir kita. Indonesia merdeka hanya syarat untuk bisa mencapai kebahagiaan dan kemakmuran rakyat. Indonesia merdeka tidak ada gunanya bagi kita, apabila kita tidak sanggup untuk mempergunakannya memenuhi cita-cita rakyat kita: hidup bahagia dan makmur dalam pengertian jasmani maupun rohani. Maka dengan tercapainya penyerahan kedaulatan, perjuangan belum selesai. Malahan kita berada pada permulaan perjuangan yang jauh lebih berat dan lebih mulia, yaitu perjuangan untuk mencapai kemerdekaan daripada segala macam penindasan…” -Mohammad Hatta, sidang pleno KNIP (19 Desember 1949)

Picture : private collection

23 June 2011

I Know It's Kinda Late, but Happy Birthday



Ulang tahun Jakarta memang telah berlalu, karena keterbatasan waktu saya tidak bisa memposting opini saya ini tepat pada harinya. Tapi terlambat satu hari lebih baik daripada tidak sama sekali, bukan?

Tahun ini Jakarta genap berusia 484 tahun. Wow! Sebuah usia yang fantastis. Membutuhkan perjuangan luar biasa untuk mempertahankan kota ini selama sekian ratus tahun. Belum lagi dengan predikat sebagai ibu kota yang disandang.

Sebagai orang yang lahir dan besar di Jakarta, tentunya saya memiliki segudang pengalaman dengan kota ini. Mulai dari kenangan masa kecil yang begitu manis, sampai kejadian-kejadian yang membuat emosi membuncah.

Selama ini orang-orang terus mengeluh. Kemacetan, banjir, polusi, kriminalitas, kepadatan penduduk adalah beberapa masalah utama Jakarta. Tapi apa gunanya terus-menerus mengeluh tanpa melakukan apapun? Kita lah yang menjadi penyebab utama masalah-masalah tersebut. Bukan Jakarta yang salah, karena pada kenyataannya Jakarta tidak memiliki daya apapun untuk menyusahkan warganya. Kita lah yang menyusahkan diri kita sendiri, dan orang lain yang juga menjadi pengisi kota ini.

Lantas apa yang kemudian kita lakukan? Mengeluh sambil bertopang dagu? Mengadukan jeritan hati tanpa sadar kita semakin memperburuk keadaan?

Mungkin kebanyakan dari kita akan melemparkan tanggung jawab kepada para pembesar negara dan kota. Jakarta adalah ibu kota negara, sudah selayaknya mendapatkan treatment khusus. Karena banyak pusat pemerintahan yang berhubungan dengan luar negeri berada di kota ini. Karena banyak investor asing yang menanamkan modalnya pada perkantoran yang menjulang di kota ini. Karena Jakarta akan terus disorot, baik oleh seluruh penduduk Indonesia, maupun penduduk dunia.

Kalau saja pemda (pemerintah daerah) mau menggunakan dana yang tersedia sebagai mestinya, maka sarana dan prasarana Jakarta akan bisa disandingkan dengan ibu kota negara lain yang telah terlebih dulu sukses. Tapi semuanya itu percuma saja tanpa dukungan dan kerja sama dari kita sebagai penghuninya.

Mari kita ambil salah satu contoh. Pemda sudah menyediakan transportasi senyaman TransJakarta. Namun siapa yang membuatnya menjadi tidak nyaman? Semuanya kembali kepada para penggunanya, kepada para pengurusnya. Kalau saja kita mau tertib mengantri, mau tertib membuang sampah di tempatnya, mau terus waspada terhadap tangan-tangan jahil, maka kita akan merasakan kenyamanan transportasi massal tersebut. Kalau saja pengurusnya mau memeriksa kesiapan kendaraan secara berkala, mau menerapkan sistem yang lebih baik, mau menomorsatukan kepuasan konsumen, maka tidak akan ada kecelakaan atau malapetaka lainnya.

Coba kita berkaca, kenapa kendaraan semacam TransJakarta di negara lain bisa dimanfaatkan dengan baik? Bisa terasa nyaman dan aman? Jawabannya hanya satu :sumber daya manusia yang berkualitas, tertib, dan sudah siap menjadi dewasa seutuhnya.

Pertanyaannya, apa kita sudah siap menjadi penduduk yang dewasa seutuhnya? Seharusnya kita sebagai warga Jakarta ikut bertumbuh bersama kota ini. Teknologi semakin berkembang pesat. Kalau kita tidak bisa mengiringinya dengan perkembangan mental kita, maka sia-sialah sudah.

Kita bisa memperbaiki keadaan kota kita tercinta mulai dari diri kita sendiri. Tertibkan diri kita masing-masing. Selalu buang sampah di tempatnya. Sekarang ini tempat sampah sudah mudah ditemui di berbagai lokasi. Peka terhadap keadaan di sekeliling kita. Budayakan antri. Walau mungkin kata-kata ini terdengar kolot sekali, tapi memang inilah yang menjadi sifat jelek yang telah mendarah daging bagi sebagian besar warga Jakarta (atau Indonesia?).
Saya yakin, jika kita sudah bisa menjadi dewasa seutuhnya, maka Jakarta pun tidak akan kalah majunya dengan kota-kota lain di dunia. Saya percaya, dengan ketertiban yang dimulai dari tiap-tiap individu, Jakarta dapat tumbuh menjadi contoh yang baik sekaligus menjadi motivasi bagi kota-kota lain di Indonesia.


Selamat ulang tahun kotaku tercinta, Jakarta!
Selamat bertumbuh menjadi dewasa, warga Indonesia!

Dok : baliin-donesia.info | private collection

21 April 2011

Makna Emansipasi Sesungguhnya



Miris rasanya begitu saya tidak sengaja mendengar celetukan teman pria saya yang kira-kira bunyinya seperti ini "Cewek tuh maunya apa sih? Udah bagus ada Kartini yang memperjuangkan emansipasi perempuan, eh masih aja banyak maunya!".
Saya sama sekali tidak menyalahkan pendapat teman saya itu. Justru saya merasa tertampar dengan pengakuan jujur tersebut. Karena pasti ada alasan kenapa teman saya bisa sampai mengeluarkan protes seperti itu. 
Apa benar emansipasi yang telah diperjuangkan Ibu Kartini sedemikian rupa telah disalahgunakan oleh perempuan Indonesia di zaman modern sekarang ini?
Sering sekali kita mendengar pemberitaan buruk di berbagai media massa seputar berita asusila atau pelecehan seksual. Selalu, yang menjadi korban adalah kaum perempuan. Tapi, apa benar begitu? Sayangnya tidak. Saat ini, perempuan tidak selalu menjadi korban. Perempuan bisa menjadi tersangka. 
Lihat saja bagaimana cara berpakaian cewek-cewek ABG di tempat-tempat umum. Bukan berarti perempuan tidak boleh bereksplorasi dengan fashion mereka. Hanya saja, perempuan harus tau batas, etika, tempat, dan kondisi. Ibaratnya, memakai bikini di pantai atau kolam renang sah-sah saja. Tetapi kalau bikini tersebut dipakai ke mall atau bandara, pasti akan lain lagi ceritanya.
Terkadang, perempuan mengenakan pakaian hanya semata-mata demi memuaskan diri mereka. Mengikuti trend, tampil fashionable, serta berderet alasan lainnya. Hal ini membuat kita kurang aware dengan bagaimana orang lain mengartikan gaya berpakaian kita. Mungkin bagi kita shorts, tank top, atau mini dress biasa-biasa saja. Tapi bagi orang lain (khususnya kaum pria), bisa saja hal tersebut malah mengundang niat jahat yang sebelumnya tidak terlintas.
Kenyataan pahit lainnya dapat dilihat dari banyaknya korban razia di tempat hiburan malam, yang sering dilakukan oleh pihak berwajib. Perempuan-perempuan itu tidak lagi menghargai tubuh yang telah diberikan Tuhan kepada mereka dengan sebagaimana mestinya. Alasannya apalagi kalau bukan karena masalah ekonomi. Kalau itu alasannya, kenapa buktinya masih banyak remaja putri yang rela bekerja membanting tulang sebagai pramuniaga, kasir, maupun pekerjaan lain yang sesuai dengan norma yang berlaku? Pekerjaan yang halal.
Mereka berpikir, dengan menjual tubuh mereka, mengumbar aurat mereka di depan puluhan pasang mata, mereka dapat memperoleh uang dengan lebih cepat dan mudah. Bahkan terkadang bukan hanya lembaran uang yang menyembul memenuhi kantung mereka, tetapi juga berbagai fasilitas kemewahan. Namun, apakah mereka sadar, bahwa tubuh mereka jauh lebih berharga dibanding apapun? Bahwa kalau mereka saja sudah tidak menghargai tubuh mereka sendiri, bagaimana mungkin mereka berharap orang lain akan menghargai mereka?
Mungkin Ibu Kartini akan menangis melihat semua usaha dan kerja kerasnya malah disalahartikan seperti ini. Bahwa banyak di antara kaum perempuan, kaum yang dibelanya, tidak lagi memandang perjuangannya mengangkat martabat kaumnya.
"Sebagai pengarang dapatlah aku secara besar-besaran mewujudkan cita-citaku dan berkarya bagi pengangkatan derajat dan peradaban rakyatku." R.A.Kartini (1879-1904)
Jika dulu, sebelum Ibu Kartini dilahirkan, perempuan dianggap hanya untuk mengurusi bagian sumur-dapur-kasur, dikekang dengan berbagai macam aturan, maka kini yang terjadi adalah banyak perempuan yang seperti lupa daratan. Terlalu terbuai dengan berbagai kebebasan yang ada di dalam genggaman mereka, sehingga melupakan peranan mereka yang sesungguhnya.
Bukan itu yang dimaksud emansipasi. Bukan itu yang diperjuangkan Ibu Kartini mati-matian. Emansipasi adalah kebebasan perempuan untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya, untuk tampil di depan umum dengan prestasi yang mereka miliki, untuk berdiri sejajar dengan pria dalam hal skills and capabilities, untuk dapat mengejar karier mereka tanpa melupakan kodrat asal sebagai seorang istri bagi suami dan ibu bagi anak-anak mereka.
Yang seharusnya terjadi adalah, perempuan diekspos karena isi otaknya, karena kepandaian dan prestasinya. Akan keteladanan, kelembutan, dan sifat keibuannya. Bukannya justru malah diekspos karena fisik semata.
Mari, semua perempuan Indonesia, buatlah perjuangan Ibu Kartini menjadi tidak sia-sia, dengan cara menghargai diri kita sendiri, serta menggunakan kebebasan yang kini sudah kita miliki dengan sebaik-baiknya dan penuh tanggung jawab!
"Alangkah besar bedanya bagi masyarakat Indonesia bila kaum perempuan dididik baik-baik. Dan untuk keperluan perempuan itu sendiri, berharaplah kami dengan harapan yang sangat supaya disediakan pelajaran dan pendidikan, karena inilah yang akan membawa bahagia baginya." (Surat R.A.Kartini kepada Nyonya Van Kool, Agustus 1901)
Picture : ieatmybrain.tumblr.com

15 April 2011

Di Balik Sebuah Berita



Sekarang ini, hampir setiap hari kita dibuat miris begitu membaca koran atau menonton acara berita.
Lokal maupun mancanegara.
Selalu ada berita yang menyayat hati. Mulai dari bencana alam yang susul-menyusul tiada lelah, peperangan yang terjadi di berbagai belahan dunia, pelanggaran HAM dalam berbagai aspek, sampai berita pejabat pemerintahan yang tiada jera bertindak sesuka hati, tanpa peduli akan nasib rakyat yang harusnya mereka bela.
Lantas, apa yang bisa kita lakukan sebagai bagian dari bumi ini, dari negara ini? 
Apa kita hanya bisa menutup telinga rapat-rapat, kemudian menyilangkan kaki, menunggu semuanya kembali baik seperti sedia kala dengan sendirinya?
Mungkin kita terlalu mengecilkan value diri kita. Selalu saja pikiran "Gue masih muda, mana mungkin bisa mengubah dunia yang sudah porak-poranda ini?" menghambat langkah kita untuk beraksi.
Apa memang usia sebenarnya menjadi kendala? Saya rasa itu hanya alibi. 
Ketidakpedulian. Itulah kuncinya.
Kita sebagai generasi muda kurang menaruh kepedulian pada keadaan di sekeliling kita. Terlalu disibukkan dengan upaya untuk menyenangkan diri sendiri. Mencapai kepuasan duniawi. Tanpa sadar bahwa sedikit-banyak kita ikut menyumbang kekacauan bagi dunia yang kita tumpangi ini.
Membaca koran merupakan kegiatan paling buang-buang waktu. Menonton berita adalah hal yang membosankan.
Tapi kita tidak menolak jika disodorkan novel atau komik. Tidak pernah melewatkan acara sinetron atau infotaiment yang tidak ada manfaatnya sama sekali.
Inilah yang harus kita ubah. Mindset kita. 
Koran bukan bacaan wajib bapak-bapak. Berita bukan konsumsi orang tua saja. 
Lewat berita, kita diajak untuk lebih peka terhadap keadaan di sekitar kita. Terhadap nasib saudara-saudara kita korban bencana alam ataupun peperangan. Terhadap bahaya yang mungkin mengancam kita, baik bencana alam maupun tindak kejahatan. Terhadap kinerja pemerintah yang menentukan nasib negara tempat kita tinggal.
Lewat berita, kita digiring untuk mengetahui apa yang perlu dan harus kita lakukan. Bahwa kita bisa melakukan hal kecil yang mampu membawa dampak besar bagi dunia ini.
Kita bisa menyisihkan uang jajan kita untuk membantu korban bencana alam. Kita bisa mengusulkan diadakannya simulasi gempa di sekolah atau kampus. Kita bisa belajar untuk tidak melakukan kesalahan seperti yang dilakukan pemerintah. Kita bisa mulai melakukan banyak hal!
Tapi tentunya kita juga harus pintar-pintar memilih koran atau acara berita mana yang layak untuk dikonsumsi. Selektif dalam menilai, mana yang baik dan mana yang hanya menyajikan berita omong kosong tanpa bukti dengan tujuan memprovokasi, ataupun berita yang tidak berdaya guna.
Ini saatnya kita mulai bertransformasi menjadi generasi muda yang pintar, bijak, dan peka terhadap lingkungan! 
Picture : mintshots.tumblr.com