Showing posts with label self respect. Show all posts
Showing posts with label self respect. Show all posts

06 December 2013

Depends Upon Ourselves


Selama sembilan minggu terakhir, saya mengikuti sebuah drama Korea berjudul The Heirs yang sedang tayang. Ini adalah drama kedua yang saya ikuti sebelum ceritanya berakhir. Membuat saya rela menanti-nanti setiap minggu hanya demi mengetahui kelanjutan ceritanya.

Drama ini memang sudah sejak awal tahun disebut-sebut akan menjadi drama fenomenal 2013, meski banyak pula yang menanggapinya dengan skeptis. Terlepas dari pro/kontra mengenai plot, aktor, dan berbagai aspek dari drama ini, saya justru ingin membahas mengenai karakter utama pria dalam drama ini, Kim Tan.

Singkatnya, Kim Tan terlahir sebagai anak haram dalam keluarga disfungsional. Meski berlimpahan materi, kenyataannya dia sama sekali tidak bahagia dengan kehidupannya. Dia disingkirkan ke Amerika untuk tinggal sendiri di sana, karena statusnya sebagai anak haram. Sampai suatu hari dia bertemu dengan seorang perempuan bernama Cha Eun Sang, dan kebetulan menyaksikan langsung permasalahan antara perempuan tersebut dengan sang kakak, yang mirip dengan masalahnya sendiri.

Setelah pertemuan secara kebetulan tersebut, Kim Tan mulai menyukai Cha Eun Sang. Seiring berjalannya waktu, rasa suka tersebut mulai berubah menjadi obsesi. Baginya, yang menjalani hidup hanya sebagai sebuah keharusan‒tanpa tujuan atau mimpi‒Cha Eun Sang pun menjelma menjadi mimpinya. Sumber kebahagiaan yang sejak lahir tidak dimilikinya, juga alasan baru untuk menjalani hari-harinya.

Sampai akhirnya, masalah khas yang hampir selalu terjadi di antara hubungan si kaya dengan si miskin– ketidaksetujuan orangtua si kaya—membuat Cha Eun Sang yang juga sudah mulai menyukai Kim Tan, terpaksa meninggalkannya.

Lalu apa yang terjadi? Kim Tan berubah menjadi sosok yang sangat menyedihkan. Hidupnya berubah jauh lebih kacau dibandingkan sebelum Cha Eun Sang masuk ke dalamnya. Terus-terusan menangis seperti anak kecil yang kehilangan mainan kesayangannya, bahkan sampai menghancurkan kamar dan berkelahi. Singkatnya, rebelling. Layaknya zombie, Kim Tan merasa tidak lagi memiliki alasan untuk bertahan hidup. Bahwa semua kebahagiaan sudah ditarik secara paksa dari hidupnya.

Melihat dua episode yang diisi dengan kehancuran Kim Tan, akhirnya membuat saya gerah sendiri. Membuat saya teringat akan sebuah quotes yang mengatakan “Happiness depends upon ourselves”, yang bahkan sempat saya jadikan wallpaper handphone.


Kita semua berhak, bahkan sebenarnya wajib bermimpi. Tapi menjadikan orang lain‒tidak peduli seberapa besar kita mencintai orang tersebut‒sebagai mimpi, benar-benar sesuatu yang menyedihkan. Kebahagiaan seseorang seharusnya berakar dari orang itu sendiri. Dia yang mempunyai kehendak penuh untuk memutuskan akan menjalani hidupnya seperti apa. Akan merasa bahagia atau terus-terusan merasa menjadi orang paling menderita di dunia. Bukan orang lain, termasuk keluarga, pasangan, atau siapa pun itu.

Mimpi seharusnya membuat kita termotivasi untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Karena dengan bermimpi, kita memiliki arah tujuan hidup, sehingga kita akan terus meng-upgrade diri untuk menjadi lebih baik dan lebih baik lagi dalam rangka mewujudkan mimpi itu.

Apa jadinya kalau mimpi kita justru adalah orang lain? Setiap manusia pasti suatu saat akan meninggal. Setiap manusia pasti minimal pernah sekali mengalami peristiwa ditinggalkan oleh orang yang dicintainya. Kalau orang yang kita sebut-sebut sebagai mimpi kita pergi meninggalkan kita‒untuk selama-lamanya karena maut atau alasan lain‒lantas berarti itu adalah hari kiamat untuk kita? Tidak lagi ada yang perlu diperjuangkan? Tidak ada lagi alasan untuk bertahan hidup? Sayang sekali kalau hidup yang cuma sekali ini harus disia-siakan seperti tu.

“Don’t rely on someone else for your happiness and self worth. Only you can be responsible for that. If you can’t love and respect yourself, no one else will be able to make that happen. Accept who you are completely‒the good and the bad. And make changes as you see fit. Not because you think someone else wants you to be different.” –Stacey Charter

Ciptakan kebahagian kita sendiri. Itu kuncinya. Orang lain yang kita cintai, jadikan mereka sebagai pelengkap kebahagiaan kita, bukan sebagai sumber kebahagiaan. Dengan eksistensi mereka dalam hidup kita, kebahagiaan yang berhasil kita ciptakan untuk diri kita sendiri, akan terasa lebih bermakna. Jangan sampai tanpa eksistensi mereka, lantas hidup kita berubah menjadi neraka.

Bangun mimpi yang berorientasi terhadap kebaikan diri kita. Mungkin kedengarannya egois. Tapi kalau kita sudah memiliki mimpi yang berorientasi demi kebaikan kita, maka efeknya pada saat proses memperjuangan mimpi itu sampai saat mimpi itu terwujud, juga akan menular dengan kebaikan orang di sekitar kita, atau mungkin ruang lingkup yang lebih besar.


Contoh sederhananya adalah orang yang bermimpi menjadi dokter. Mimpi itu membuatnya terus meng-upgrade diri menjadi pribadi lebih baik, tentunya dengan rajin belajar, disiplin diri, dan sebagainya. Efek baik itu juga tidak hanya terjadi pada dirinya. Di saat dia berhasil mewujudkan mimpinya, akan ada banyak orang yang merasakan manfaat positif tersebut, misalnya pasien.

Pictures: noukka.devianart.com | tumblr.com

20 January 2013

Just Simply Adore Her



Today is the 20th Anniversary of Audrey Hepburn's death.

Audrey Hepburn was born Audrey Kathleen Ruston on 4 May 1929 at number 48 Rue Keyenveld in Ixelles, a municipality in Brussels, Belgium. On the evening of 20 January 1993, at her home in Tolochenaz, Vaud, Switzerland, Hepburn died in her sleep of appendiceal cancer. Her legacy as an actress and a personality has endured long after her death. 

Best movies of hers:
Roman Holiday (1953)
Sabrina (1954)
The Nun's Story (1959)
Breakfast at Tiffany's (1961)
My Fair Lady (1964)

QUOTES:

“Happy girls are the prettiest.” 

“Nothing is impossible, the word itself says 'I'm possible'!” 

“Laugh. It cures a multitude of ills. It's probably the most important thing in a person.” 

“The most important thing is to enjoy your life—to be happy—it's all that matters.”

“The beauty of a woman is not in the clothes she wears, the figure that she carries, or the way she combs her hair. The beauty of a woman is seen in her eyes, because that is the doorway to her heart, the place where love resides. True beauty in a woman is reflected in her soul. It's the caring that she lovingly gives, the passion that she shows & the beauty of a woman only grows with passing years.” 

“Your heart just breaks, that's all. But you can't judge or point fingers. You just have to be lucky enough to find someone who appreciates you.” 

“You can tell more about a person by what he says about others than you can by what others say about him.” 

“The beauty of a woman is not in a facial mole, but true beauty in a woman is reflected in her soul. It is the caring that she lovingly gives, the passion that she knows.” 

“Why change? Everyone has his own style. When you have found it, you should stick to it.” 

“Opportunities don't often come along. So, when they do, you have to grab them.” 

“Make-up can only make you look pretty on the outside but it doesn't help if your ugly on the inside. Unless you eat the make-up.” 

“True friends are families which you can select.” 

“If my world were to cave in tomorrow, I would look back on all the pleasures, excitements and worthwhilenesses I have been lucky enough to have had. Not the sadness, not my miscarriages, but the joy of everything else. It will have been enough.” 

“I tried always to do better: saw always a little further. I tried to stretch myself.” 

“Good things aren't supposed to just fall into your lap. God is very generous, but He expects you to do your part first.” 

“As you grow older, you will discover that you have two hands, one for helping yourself, the other for helping others.” 

“For beautiful eyes, look for the good in others; for beautiful lips, speak only words of kindness; and for poise, walk with the knowledge that you are never alone.”

Picture : fanpop.com | possumsal.com | frontrowreviews.co.uk | imgfave.com | pinterest.com 

16 January 2013

No More 'Stupid in Love'



Baru-baru ini peneliti menemukan bahwa ketika seseorang jatuh cinta, aktivitas otak di bagian frontal cortex yang berfungsi saat melakukan penilaian, tidak berfungsi. Yang artinya, kita susah melihat sisi buruk dari orang yang sedang kita cintai. Semua tindakannya terasa baik-baik saja. Gara-gara frontal cortex yang lagi mogok kerja inilah, yang menyebabkan kita bersedia melakukan sesuatu (bahkan apa pun) atas nama cinta.
Sumber: Rubrik Hi Girls majalah kaWanku #140 oleh Trinzi Mulamawitri

Sahabat saya termasuk salah satu contoh konkritnya. (Luckily) dia akhirnya sadar dan sekarang sudah putus dari cowoknya yang kurang ajarnya ampun-ampunan itu. Selama pacaran, dia sering dikatai bego, idiot, didorong sampai jatuh, ditinggal pulang saat cowok itu sedang ngambek, bahkan sampai mengatai agama sahabat saya.

Sejak pertama kali sahabat saya curhat mengenai perlakukan mantannya itu, saya selalu menyuruhnya berpikir baik-baik, apakah cowok seperti itu pantas dan layak dipertahankan. Berkali-kali pengin menyuruh dia untuk putus (termasuk geregetan mau memberi ‘pelajaran’ buat si cowok yang satu kampus dengan saya), tapi saya bukan orangtuanya. Saya masih sadar kapasitas saya sebagai sahabat hanya sebatas menasihati dan 'menyadarkannya'.

Sampai akhirnya hampir setahun kemudian, (thank God) dia bisa berpikir jernih dan membuat keputusan untuk berpisah.

Jatuh cinta itu sama sekali bukan kesalahan. Semua manusia di dunia ini berhak mencintai dan dicintai. Cinta adalah salah satu anugerah terindah dari milyaran kebaikan Tuhan di dunia. Tapi bukan berarti kita diperbudak oleh cinta.
Setiap orang punya caranya masing-masing ketika sudah berhadapan dengan cinta. Ada yang memilih memberikan cintanya 100 persen. Namun ada pula yang memberikan hanya 80 persen, dan sisanya berada dalam zona netral, di mana rasio tetap dipertahankan.
Ada yang rela-rela saja melakukan apa pun‒bahkan saat apa pun itu termasuk mengorbankan diri mereka sendiri‒demi orang yang dicintainya. Rasanya kok rasa cinta saya terhadap diri sendiri masih cukup besar sampai tidak ingin menyakiti atau mengorbankan diri demi seorang cewek. Mungkin terdengar egois, tapi kalau bukan kita yang menjaga diri kita sendiri, lantas siapa? Orangtua, kakak/adik, teman, dan manusia lainnya kan tidak mungkin menjaga kita 24/7.
Percayalah, di saat seorang cowok mengatakan, “Katanya kamu sayang sama aku. Kalau gitu, berarti kamu pasti mau...” (isilah titik-titik tersebut dengan berbagai jenis permintaan), itu adalah ciri-ciri cowok itu tidak layak untuk dipertahankan, apalagi diperjuangkan. Cowok yang baik, di saat mereka tahu kalau kita mencintainya, mereka tidak akan menyuruh kita melakukan apa pun demi cinta kita padanya. Mereka justru akan menjaga bagaimana supaya rasa cinta kita tetap bertahan bahkan semakin besar padanya, dengan cara-cara yang baik dan positif.
Cinta memang buta, tapi jangan sampai kita dibutakan oleh cinta.

Cinta memang bisa membuat seseorang jadi bodoh, tapi jangan sampai kita dibodohi oleh cinta.

Apalagi kalau yang sudah sampai melakukan kekerasan, baik secara fisik, mental, seksual, verbal, ekonomi (you know, kayak minta dibeliin dan dibayarin ini-itu), dll. Itu sih, nggak perlu pikir-pikir segala. Langsung saja minta putus. Karena menurut psikolog, kalau seseorang pernah melakukan kekerasan terhadap pasangannya, sangat tidak mungkin perbuatan yang sama akan terulang di kemudian hari. Jadi lebih baik berpisah saat terjadi kekerasan pertama kali, karena jelas, orang-orang seperti itu sama sekali tidak pantas diberikan kesempatan kedua.
Kekerasan dalam sebuah hubungan punya siklus klise. Setelah terjadi kekerasan, si pelaku langsung minta maaf, mengaku bersalah dan menyesal, blablabla. Karena nggak tega, akhirnya korban menerima permintaan maaf, dan hubungan kembali rukun. Baru deh, setelah beberapa lama berlanjut dengan konflik lain yang ujung-ujungnya berakhir dengan kekerasan berikutnya. Yang namanya siklus, tentu saja bisa terjadi berulang-ulang.
Sekarang bukan lagi zamannya cewek diam saja dan cenderung nurut diperlakukan dengan tidak baik oleh pasangan. Jangan biarkan cinta menyeret kita ke dalam zona cinta buta. Kalau memang mau pacaran, pacaran lah dengan sehat. Libatkan logika dan rasio, jangan lagi terbuai dengan dua kata basi “Demi cinta”.


Come on! It’s soooo last year. Harusnya kita mengganti mindset kita dengan kalimat ini:


p.s : Please lupakan soal hubungan Rihanna dan Chris Brown yang drama banget bahkan menyaingi sinetron di berbagai stasiun TV Indonesia, karena bukan sesuatu yang perlu ditiru sama sekali, dan tidak ada hubungannya dengan posting ini (kecuali judulnya yang terinspirasi dari judul lagu penyanyi asal Barbados itu).

Pictures: facebook.com | wordsoverpixels.com | naylaa.com

13 May 2012

Bisa Karena Biasa



Tepat satu hari setelah Blackberry Curve 8520 genap dua tahun menemani saya, smartphone tersebut malah hilang karena kelalaian saya. Sudah dua kali saya kehilangan ponsel karena terjatuh.

Anggap saja saya sedang iseng beranalogi.

Kehilangan Blackberry sama halnya dengan putus cinta. Kok bisa?

Selama ini, saya selalu berpikir bahwa BB saya adalah segalanya. Hampir semua hal bisa saya lakukan dengannya, mulai dari berhubungan dengan orang-orang di sekitar saya, meng-update social media, memperoleh banyak informasi dan berita lewat layanan internet, menyimpan kenangan dalam bentuk foto, mendengarkan lagu, menonton video, mengirim e-mail yang berhubungan dengan pekerjaan dan tugas sekolah/kuliah, mencatat ide-ide yang tiba-tiba muncul dalam pikiran, curhat, dan berbagai manfaat lainnya.

Asal ada BB, menunggu berjam-jam pun tidak masalah karena setidaknya saya masih bisa menghabiskan waktu dengan mengutak-atiknya. BB lowbatt dan tidak bisa mengisi ulang baterai saja bisa membuat saya kelabakan. Saya merasa ada yang kurang kalau sehari saja tidak menyentuh BB. Ya, secara tidak sadar saya sudah terkena sindrom Crackberry. Jadi begitu BB saya hilang, jelas saja saya sedih. Tapi perasaan sedih itu semakin lama semakin berkurang. Saya jadi mulai terbiasa menjalani hari-hari saya tanpa BB. Tidak menyentuh BB tidak lagi menjadi perkara besar.

Sama seperti saat putus cinta. Sebelumnya kita merasa kita tidak bisa hidup tanpa orang yang kita cintai. Selama ini kita selalu mengandalkannya, terbiasa berada di dekatnya. Tapi nyatanya, kita bisa tetap bertahan hidup tanpa orang itu. Sebagai manusia yang  sangat dipengaruhi perasaan, tentu pada awalnya kita akan merasa sedih dan kehilangan. Namun hal tersebut tidak akan permanen. Perlahan tapi pasti, rasa sakit itu semakin berkurang. Sampai akhirnya kita tiba pada fase di mana kita bisa baik-baik saja tanpanya. Terbiasa tidak lagi berada di sisinya.

Dari analogi tersebut, terdapat satu benang penghubung.

Terbiasa.

Peribahasa “Allah bisa karena biasa” memang bukan sekedar kata-kata. Manusia cenderung takut melakukan atau mengalami sesuatu yang tidak biasa mereka lakukan atau alami. Seolah sudah ada stigma yang menjamin, kita hanya bisa melakukan apa yang biasa kita lakukan. Padahal justru stigma itu yang menjadi tembok pembatas. Kita bisa melakukan apa saja, asalkan kita mau membuat diri kita terbiasa.

Beri kesempatan diri kita untuk mencoba melakukan sesuatu di luar kebiasaan kita (yang positif tentunya). Then you will see what you’re capable of.

Picture : meme.yahoo.com

15 May 2011

Music Taught Me How to Live




 taught me it's okay to be different.


taught me to be myself and not care what anyone else thinks.


taught me that life is hard, but you can make it through.


taught me that not every guy is going to treat me right.


taught me to always love the people around me.

Source : icanread.tumblr.com

Pictures : alexandraatapa-atumah.tumblr.com | flickr.com | im-n0tafraid.tumblr.com | lightthefuze.tumblr.com | subwaysong.tumblr.com

21 April 2011

Makna Emansipasi Sesungguhnya



Miris rasanya begitu saya tidak sengaja mendengar celetukan teman pria saya yang kira-kira bunyinya seperti ini "Cewek tuh maunya apa sih? Udah bagus ada Kartini yang memperjuangkan emansipasi perempuan, eh masih aja banyak maunya!".
Saya sama sekali tidak menyalahkan pendapat teman saya itu. Justru saya merasa tertampar dengan pengakuan jujur tersebut. Karena pasti ada alasan kenapa teman saya bisa sampai mengeluarkan protes seperti itu. 
Apa benar emansipasi yang telah diperjuangkan Ibu Kartini sedemikian rupa telah disalahgunakan oleh perempuan Indonesia di zaman modern sekarang ini?
Sering sekali kita mendengar pemberitaan buruk di berbagai media massa seputar berita asusila atau pelecehan seksual. Selalu, yang menjadi korban adalah kaum perempuan. Tapi, apa benar begitu? Sayangnya tidak. Saat ini, perempuan tidak selalu menjadi korban. Perempuan bisa menjadi tersangka. 
Lihat saja bagaimana cara berpakaian cewek-cewek ABG di tempat-tempat umum. Bukan berarti perempuan tidak boleh bereksplorasi dengan fashion mereka. Hanya saja, perempuan harus tau batas, etika, tempat, dan kondisi. Ibaratnya, memakai bikini di pantai atau kolam renang sah-sah saja. Tetapi kalau bikini tersebut dipakai ke mall atau bandara, pasti akan lain lagi ceritanya.
Terkadang, perempuan mengenakan pakaian hanya semata-mata demi memuaskan diri mereka. Mengikuti trend, tampil fashionable, serta berderet alasan lainnya. Hal ini membuat kita kurang aware dengan bagaimana orang lain mengartikan gaya berpakaian kita. Mungkin bagi kita shorts, tank top, atau mini dress biasa-biasa saja. Tapi bagi orang lain (khususnya kaum pria), bisa saja hal tersebut malah mengundang niat jahat yang sebelumnya tidak terlintas.
Kenyataan pahit lainnya dapat dilihat dari banyaknya korban razia di tempat hiburan malam, yang sering dilakukan oleh pihak berwajib. Perempuan-perempuan itu tidak lagi menghargai tubuh yang telah diberikan Tuhan kepada mereka dengan sebagaimana mestinya. Alasannya apalagi kalau bukan karena masalah ekonomi. Kalau itu alasannya, kenapa buktinya masih banyak remaja putri yang rela bekerja membanting tulang sebagai pramuniaga, kasir, maupun pekerjaan lain yang sesuai dengan norma yang berlaku? Pekerjaan yang halal.
Mereka berpikir, dengan menjual tubuh mereka, mengumbar aurat mereka di depan puluhan pasang mata, mereka dapat memperoleh uang dengan lebih cepat dan mudah. Bahkan terkadang bukan hanya lembaran uang yang menyembul memenuhi kantung mereka, tetapi juga berbagai fasilitas kemewahan. Namun, apakah mereka sadar, bahwa tubuh mereka jauh lebih berharga dibanding apapun? Bahwa kalau mereka saja sudah tidak menghargai tubuh mereka sendiri, bagaimana mungkin mereka berharap orang lain akan menghargai mereka?
Mungkin Ibu Kartini akan menangis melihat semua usaha dan kerja kerasnya malah disalahartikan seperti ini. Bahwa banyak di antara kaum perempuan, kaum yang dibelanya, tidak lagi memandang perjuangannya mengangkat martabat kaumnya.
"Sebagai pengarang dapatlah aku secara besar-besaran mewujudkan cita-citaku dan berkarya bagi pengangkatan derajat dan peradaban rakyatku." R.A.Kartini (1879-1904)
Jika dulu, sebelum Ibu Kartini dilahirkan, perempuan dianggap hanya untuk mengurusi bagian sumur-dapur-kasur, dikekang dengan berbagai macam aturan, maka kini yang terjadi adalah banyak perempuan yang seperti lupa daratan. Terlalu terbuai dengan berbagai kebebasan yang ada di dalam genggaman mereka, sehingga melupakan peranan mereka yang sesungguhnya.
Bukan itu yang dimaksud emansipasi. Bukan itu yang diperjuangkan Ibu Kartini mati-matian. Emansipasi adalah kebebasan perempuan untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya, untuk tampil di depan umum dengan prestasi yang mereka miliki, untuk berdiri sejajar dengan pria dalam hal skills and capabilities, untuk dapat mengejar karier mereka tanpa melupakan kodrat asal sebagai seorang istri bagi suami dan ibu bagi anak-anak mereka.
Yang seharusnya terjadi adalah, perempuan diekspos karena isi otaknya, karena kepandaian dan prestasinya. Akan keteladanan, kelembutan, dan sifat keibuannya. Bukannya justru malah diekspos karena fisik semata.
Mari, semua perempuan Indonesia, buatlah perjuangan Ibu Kartini menjadi tidak sia-sia, dengan cara menghargai diri kita sendiri, serta menggunakan kebebasan yang kini sudah kita miliki dengan sebaik-baiknya dan penuh tanggung jawab!
"Alangkah besar bedanya bagi masyarakat Indonesia bila kaum perempuan dididik baik-baik. Dan untuk keperluan perempuan itu sendiri, berharaplah kami dengan harapan yang sangat supaya disediakan pelajaran dan pendidikan, karena inilah yang akan membawa bahagia baginya." (Surat R.A.Kartini kepada Nyonya Van Kool, Agustus 1901)
Picture : ieatmybrain.tumblr.com

23 March 2011

The best thing you can do is...



... find a person who loves you for exactly what you are. Good mood, bad mood, ugly, pretty, handsome, what have you, the right person will still think the sun shines out your ass. That's the kind of person that's worth sticking with.
                                                           -Juno

Picture: inthedairyofjane.tumblr.com

19 February 2011

Cewek Pintar = Sexy



Kecantikan merupakan faktor utama yang membuat seorang perempuan disebut menarik.
Inilah pendapat umum banyak orang di berbagai belahan dunia.
Sayangnya, saya sama sekali tidak setuju dengan pendapat ini.
Sebagai seorang perempuan, saya justru merasa bahwa pendapat tersebut menurunkan derajat kaum saya. Perempuan seolah dianggap sebagai barang yang hanya menjadi objek untuk dilihat dan dinikmati. Siapa yang cantik, dialah yang akan lebih laku. Sementara sisanya, menjadi barang buangan yang pantasnya ditaruh dalam box sale.
Padahal, nilai seorang perempuan jauh lebih tinggi dari pada itu.
Kecantikan bukan hal absolut, bukan sesuatu yang mutlak. Bukan alat ukur yang objektif. Terlalu picik, dan teramat sangat relatif. Apa yang diyakini oleh si A cantik, belum tentu bagi si B juga cantik. Yang jauh lebih penting adalah isi otak perempuan itu sendiri.
Lebih bagus sebenarnya kalau kepintaran perempuan dibarengi dengan kecantikan. 3B :beauty, brain, behaviour. Bukankah itu yang menjadi penilaian resmi berbagai kontes kecantikan dunia?
Bagi saya, kategori brain dan behaviour adalah satu-kesatuan. Tidak bisa dipisah-pisah.Because educated people will know how to act. How to behave.
Mungkin pendapat pribadi saya ini langsung dibantah oleh kalian. Memangnya orang pintar selalu punya kepribadian baik?
Bukan itu maksud saya. Yang mau saya tekankan di sini adalah, seorang perempuan terpelajar, sekalipun attitudenya mungkin tidak bagus, tapi ia pasti bisa menutupi kekurangannya itu dengan baik. Ia akan menonjolkan kelebihannya untuk menutupi kekurangannya. Simpel saja, itu karena mereka punya otak, dan mereka mau menggunakan otak itu dengan baik (wah, radikal sekali pendapat saya ini!).

Sehubungan dengan posting ini, saya melakukan survei kecil-kecilan yang melibatkan beberapa teman pria saya. Pertanyaan survei itu adalah sebagai berikut :
"Mana yang lebih baik, perempuan cantik tapi otaknya kosong, atau perempuan biasa saja, tapi pintar dan mampu membawa diri dengan baik?"
Hasilnya, dari sekitar 25 narasumber, hanya DUA pria yang memilih jawaban pertama, yaitu perempuan cantik tapi otaknya kosong.
Dari hasil tersebut, saya cukup terhibur, karena terbukti bahwa kebanyakan pria di luar sana sudah terlepas dari paradigma "Cewek ideal itu haruslah yang penampilannya cantik".
Kecantikan bisa dipoles. Asal punya uang, berbagai perawatan super canggih bisa diupayakan demi membuat seorang perempuan menjadi cantik. Tapi butuh usaha luar biasa sulit untuk membangun kepintaran dan kemampuan untuk membawa diri.
Lagipula, bukankah kecantikan itu sifatnya sementara? Semua perempuan, sekaya atau sehebat apapun mereka, tetap tidak bisa melawan kodrat alam. Mereka akan menjadi tua, keriput, jelek. Meskipun dengan kecanggihan teknologi sekarang ini, banyak perempuan yang tetap tampil cantik meski sudah tua, tapi tetap saja, mereka tidak bisa menyembunyikan tanda-tanda penuaan mereka.
Lalu ketika semua kecantikan itu perlahan terenggut secara paksa, apa lagi yang bisa membuat perempuan tetap menarik? 
Kepintaran. Itulah jawabannya.
Karena kepintaran mampu melahirkan kecantikan secara alamiah. Karena pada dasarnya semua perempuan itu cantik, tergantung dari mana orang lain melihatnya.
Jadi, jangan pernah merutuki diri kalau kalian merasa diri kalian tidak cantik. Justru kalian perlu merasa waspada apabila kalian cantik, tapi pengetahuan kalian sempit.
Bagi seluruh perempuan, yakinlah kalau kalian semua cantik. Seperti kata Christina Aguilera dalam lagunya yang berjudul "Beautiful" : You are beautiful, in every single way. Hargai diri kalian dengan memperdalam terus wawasan kalian. Belajar dan terus belajar tanpa mengenal kata akhir. Karena percayalah, smart is the new sexy*.
*) Leonard Hofstadter, The Big Bang Theory (TV Series)

Picture : flickr.com

16 February 2011

Miss Independent



Tahun baru menjadi pertanda bahwa usia kita pun bertambah. Seiring dengan pertambahan usia, tentunya kita juga harus menjadi pribadi yang lebih bertanggung jawab dan mandiri. 
Namun sayangnya, orang sering salah mengartikan makna di balik kata mandiri. Tinggal terpisah dari orangtua atau menafkahi diri sendiri seringkali menjadi tolak ukur kemandirian seseorang. Padahal... mandiri jauh lebih dari pada itu. 
Menilik ke kehidupan pribadi saya sendiri, setiap tahun 'menjadi semakin mandiri' selalu masuk dalam daftar resolusi awal tahun saya. 
Kenapa?
Karena mandiri merupakan aspek penting yang sangat menentukan masa depan seseorang. Seseorang bisa sukses ataupun gagal dalam hidupnya berdasarkan tingkat kemandirian yang dimilikinya. 
Tenang saja, untuk menyandang predikat miss independent, kita nggak perlu terlalu memforce diri kita. Semuanya bisa dilakukan step by step. Learning by doing. 
Hal termudah untuk memupuk rasa mandiri dalam hidup kita sehari-hari adalah denganmengurus diri sendiri. Enggak ada lagi tuh, insiden kalang kabut pagi-pagi karena enggak ada yang bangunin dan berakhir dengan telat masuk sekolah. Siapkan keperluan sekolah dari malamnya, jadi saat pagi hari kita enggak usah ribet. Kumpulkan motivasi supaya begitu alarm berbunyi pada waktu seharusnya, kita langsung bangun, bukannya malah mengaktifkan menu snooze, atau menutup kuping dengan bantal. 
Berat memang, tapi bukan mustahil. Saya juga sedang berusaha untuk mengaplikasikannya dalam kehidupan saya. 
Selanjutnya adalah dengan berani mencoba hal-hal baru yang positif dan dapat memberi dampak baik bagi kita, plus mempertanggung jawabkannya. 

Sifat mandiri juga bisa dibina lewat keberanian mengambil keputusan dan menentukan hal-hal penting dalam hidup kita. Minta saran atau evaluasi dari orang lain memang sah-sah saja, tapi jangan kelewatan juga, sampai kamu malah 'disetir' oleh mereka. 

Stop jadi spoiled brat. Kalau kebetulan nggak bisa dijemput, apa salahnya naik kendaraan umum? Kalau jarak dari rumah ke tukang fotocopy bisa ditempuh dengan jalan kaki, kenapa juga harus naik mobil? 
Tanamkan selalu prinsip bahwa apapun yang masih bisa kita kerjakan sendiri, akan kita lakukan dengan baik. Jangan menjadi 'parasit' bagi orang lain, atau dengan kata lain, orang menjadi terganggu karena ulah kita. 
Nah, yang satu ini adalah nilai plus. Mencari uang sendiri. 
Memang benar sih, selama masih sekolah, kita masih berada dalam tanggung jawab penuh orangtua. Sudah menjadi kewajiban mereka untuk menafkahi kita. Tapi coba deh bayangin, gimana asiknya kalau bisa mendapatkan uang dengan hasil jerih payah sendiri.
Saya tau bagaimana rasanya karena thank God saya sudah berhasil melewati fase ini dalam kehidupan saya. Perasaan bangga karena bisa melihat langsung hasil kerja kita membuahkan hasil dalam wujud materi tidak dapat dibayar dengan apapun juga. 

Selain itu, kita juga disadarkan tentang dua fakta sekaligus. Pertama, cari uang itu tidak mudah. Kedua, betapa besarnya pengorbanan dan kerja keras orangtua kita dalam mencari nafkah. Semuanya itu secara otomatis akan membuat rasa mandiri semakin tertanam dalam kepribadian kita. 
Tidak hanya itu saja. Orang lain juga pasti akan lebih menghargai kerja keras kita yang bisa mandiri tanpa 'suntikan' dana dari orangtua. 
Ada banyak hal yang bisa kita lakukan demi memperoleh penghasilan pribadi. Semuanya kembali kepada passion kita masing-masing. Untuk yang hobi nulis, bisa mengirim tulisan-tulisan ke majalah atau media lain (seperti apa yang saya lakukan). Bagi yang kreatif dan inovatif, bisa membuka online shop yang khusus menjual barang-baranghandmade yang unik dan one of a kind. 

Namun yang harus diingat adalah, bagaimana cara kita memanage uang penghasilan kita itu juga menjadi tolak ukur kemandirian kita. 

Cewek mandiri akan menggunakan uangnya dengan bijak. Entah itu dibelikan sesuatu yang betul-betul berdaya guna, atau untuk ditabung. Yang jelas tidak untuk dihambur-hamburkan demi kesenangan sesaat. 

Kesimpulannya, untuk menjadi cewek mandiri, pertama-tama harus dimulai dari tekad kita sendiri. Karena segala sesuatu yang diiringi dengan tekad bulat akan membuahkan hasil yang baik.  Baru kemudian kita mulai menerapkan step-step di atas dalam kehidupan sehari-hari.

Jika di tengah jalan kita merasa tidak mampu atau terlalu lelah, 'kobarkan' kembali semangat yang pernah menggebu-gebu di awal. Ingatlah betapa banyak hal baik yang akan kita dapatkan di kemudian hari dengan melatih diri menjadi cewek mandiri sejak dini.

Picture : pinterest.com

13 February 2011

Percaya pada Diri Sendiri



Menyontek. 
Kata ini pasti selalu dikaitkan dengan pelajar, entah itu mulai dari pelajar sekolah dasar sampai perguruan tinggi sekalipun. 
Mungkin bagi sebagian orang hal ini wajar saja, terutama dalam keadaan mendesak. Tapi saya sangat tidak setuju dengan pendapat tersebut. 
Bukan berarti saya tidak pernah menyontek. Saya pernah melakukannya. Sering bahkan. Terutama saat saya yang biasanya mengandalkan belajar dengan SKK (Sistem Kebut Kilat, bukan lagi Sistem Kebut Semalam), di mana saat ulangan berlangsung tiba-tiba otak saya blank. Akhirnya menyontek pun menjadi solusi yang paling mudah dan menjanjikan.
Lalu pasti akan timbul pemikiran seperti ini "Munafik! Bilangnya nggak setuju, tapi ngelakuin juga."
Negara ini negara demokratis. Feel free to think about me like that. 
Tapi saya punya alasan kuat. Alasan yang baru saja saya dapatkan saat duduk di bangku terakhir dalam jenjang sekolah menengah atas. 
Coba bayangkan, kalau saat mengerjakan tugas saja, kita menyontek pekerjaan orang lain. Lalu, apa yang kita dapatkan? Nilai yang bagus? Nope. Sekolah tidak melulu soal nilai, kok. Sekolah memiliki tujuan utama untuk menimba ilmu, bukan mengejar nilai. Ilmu apa yang kita dapatkan? Ilmu menyontek?
Tugas dikerjakan agar kita makin memahami topik yang sedang dipelajari. Untuk mempersiapkan diri kita dalam menghadapi ulangan, dan pada akhirnya ujian akhir negara serta sekolah. 
Kalau dari sesuatu yang kecil saja kita sudah menanamkan budaya menyontek, akan jadi apa kita nantinya? 
Hidup bukan sebatas bangku sekolah saja. Beberapa tahun lagi kita akan terjun langung ke masyarakat. Ke dalam suatu lingkungan di mana hukum rimba berlaku. Siapa yang lebih kuat, maka dialah yang akan menang. 
Lantas, apa kita akan terus membawa budaya menyontek itu dalam kehidupan kita? 
Saat bekerja di perusahaan nanti, apa kita masih memiliki kesempatan untuk menyontek hasil karya rekan sekerja kita? Kalau beruntung, mungkin masih bisa. Tapi ada konsekuensi berat di belakangnya yang harus kita pikul apabila tindakan tersebut terendus orang yang kita contek atau mungkin orang lain (dan bisa jadi orang itu adalah atasan kita!). Dunia kerja yang begitu kejam tidak akan berbaik hati seperti guru kita saat sekolah. Sekalipun kita tidak dipecat, tapi nama kita sudah terlanjur dicap buruk. Seandainya tidak ketahuan pun, maka kita akan terus-terusan mencontek sepanjang hidup kita. Mematikan kemampuan kita sendiri. Mengubur rasa percaya terhadap diri sendiri. 
Alasan inilah yang melatarbelakangi sifat antipati saya tersebut. Perlahan saya mulai berkomitmen dengan diri saya sendiri untuk tidak lagi terjerumus dalam perangkap menyontek. Biarlah hasil ulangan atau ujian saya tidak sebagus yang lain. Setidaknya itulah hasil ukur sejauh mana kemampuan saya. Itulah hasil kerja saya sendiri. Bukti kepercayaan terhadap diri saya sendiri. 
Saya menulis posting ini bukan untuk menghakimi siapapun. No offense, really. Bukan bermaksud menggurui apalagi sok suci. Saya mengakui selama ini keinginan untuk memperoleh nilai tinggi sempat membutakan akal sehat saya. 

Lalu kenyataan bahwa kurang dari setengah tahun lagi saya dan teman-teman seangkatan akan menghadapi ujian akhir seolah menjadi wake up call. Membuat saya akhirnya berani mengatakan pada diri saya sendiri "Saya tidak mau menyontek lagi". Dengan mantap, dengan tekad bulat. Semua semata demi diri saya sendiri. Bukan untuk orangtua saya, guru saya, atau siapapun yang pernah menasehati saya untuk tidak menyontek. 

Mulai sekarang, ayo jadi generasi muda yang percaya dengan kemampuan diri sendiri. Buang jauh-jauh pemikiran "Nggak ketauan ini" dan pikiran-pikiran lainnya yang akan menggoda kita untuk menyontek. Karena percaya deh, menyontek cuma akan membodohi diri sendiri. Untuk apa memperoleh nilai bagus tapi tidak ada ilmu yang kita dapatkan?

Picture : flickr.com

05 January 2011

Tujuan Hidup



Setiap manusia pasti pernah berpikir "Apa tujuan saya hidup di dunia?" 
Saya juga sering menanyakan pertanyaan yang sama. 
Tapi nyatanya sampai sekarang pun, yang dapat saya berikan sebagai jawaban hanyalah sebuah kalimat klise "Untuk menjadi seseorang yang berguna". 
Kalimat yang sama sekali tidak memuaskan, bahkan bagi saya sendiri. 
Karena sampai saat ini pun belum ada yang bisa menjadi tolak ukur dari apa yang dimaksud dengan berguna. 
Berguna memiliki arti yang sangat subjektif. Multitafsir. Apa yang menurut saya berguna belum tentu juga berguna di mata orang lain. 
Lalu, bagaimana kita bisa tau apa tujuan kita hidup? 
Saya adalah orang yang percaya bahwa everything happens for a reason.

Jelas, seseorang tidak mungkin ada di dalam dunia ini tanpa tujuan. Tuhan menciptakan manusia bukan hanya untuk memenuhi bumi. Ada satu misi yang sayangnya hanya Ia yang tau. Kita sebagai manusia diberi tugas untuk mencari tau. Itulah bagian terberatnya. 

The problem is, bagaimana saya bisa tau tujuan saya hidup, kalau saya bahkan tidak tau apa yang bisa saya lakukan? 
Contoh nyata, mungkin seorang guru bisa dengan cepat menjawab apa tujuan hidupnya. Untuk mencerdaskan anak didiknya. Memajukan negara. Karena yang mereka lakukan adalah menyalurkan dan menularkan ilmu pengetahuan. 
Dari contoh simpel di atas, pikiran saya menjadi sedikit lebih terbuka. Tujuan hidup seseorang bisa dimulai dari sesuatu yang kita sukai. Sesuatu yang kita geluti.Passion kita. Karena tujuan hidup manusia itu berbeda-beda. Sama seperti minat dan bakat. 
Kalau kita mengerjakan apa yang kita sukai, maka kita benar-benar melakukannya dengan hati, tanpa bersungut-sungut, tanpa perasaan terpaksa dan terbebani. Maka otomatis hasil yang didapatkan pun akan baik. Dan hasil itu yang bisa jadi merupakan tujuan hidup kita. 
Seorang dokter memiliki tujuan hidup untuk menyelamatkan nyawa orang lain, mengobati.
Seorang pelukis memiliki tujuan hidup untuk menghibur orang lewat karyanya, berbicara lewat guratan kuasnya.
Seorang arsitek memiliki tujuan hidup untuk membuat bangunan, membangun negeri.
Seorang penulis memiliki tujuan hidup untuk menginspirasi orang lain dengan rangkaian kalimat yang dituangkan, menyapa pembaca dengan kejujuran karyanya.
Begitu pula dengan pekerjaan lainnya.
Bahkan orang cacat, pengangguran, maupun orang lain yang disingkirkan dari masyarakat, diberi cap sebagai sampah masyarakat, dan sebagainya. Mereka diciptakan Tuhan dengan satu tujuan. Bukan sebagai objek kutukan atau produk gagal. Mereka memiliki tujuan hidup yang sama mulianya dengan orang lain.
Kalau kita belum menemukan tujuan hidup kita, percayalah bahwa di waktu yang tepat nantinya, kita akan segera memperoleh jawaban.
Kalau kita merasa bahwa kita tidak berguna, tidak memiliki tujuan hidup, coba lihatlah kaktus di padang gurun, yang tampilannya tidak seindah anggrek, yang seluruh bagiannya tertutup duri sehingga seringkali dihindari karena takut melukai, tetap memiliki fungsi. Kaktus diciptakan Tuhan dengan tujuan untuk memberi peunjuk kepada musafir mengenai keberadaan oasis di gurun.
Kita mungkin belum tau apa tujuan hidup kita sekarang. Tapi kita pasti akan mengetahuinya. Di waktu yang tepat. Di saat Tuhan sudah yakin bahwa kita sudah mampu menggenapi tujuan tersebut.
Picture : onesnowflakeinsummer.tumblr.com