31 July 2011

50 : 50



Sejak Oktober tahun lalu, sewaktu teman-teman saya masih bingung hendak mengambil jurusan apa untuk kuliah, saya sudah bisa santai karena sudah diterima di jurusan akutansi fakultas ekonomi sebuah universitas swasta di Jakarta Barat. Sebetulnya saya mengincar Universitas Indonesia jurusan yang sama atau jurusan jurnalistik di Universitas Padjajaran. Tapi karena terbentur beberapa hal, keinginan itu kandas dengan sendirinya. 
Di saat tinggal menghitung hari menuju hari pertama saya sebagai mahasiswi, saya malah dibuat pusing. Saya dihadapkan dengan dua jurusan. Akuntasi atau jurnalistik. Keduanya di universitas yang sama. Orangtua saya mendukung apapun pilihan saya. Tapi yang membuat saya bingung adalah, saya sama-sama menyukai dua bidang tersebut. 
Saya merasa antusias dihadapkan dengan jurnal, juga menghitung jumlah debet dan kredit. Tapi di lain sisi, saya sudah jatuh hati dengan dunia menulis, dan jurnalistik memungkinkan saya semakin akrab dengan dunia tersebut. 
Hidup menawarkan banyak pilihan. Dan sekarang, saya kebingungan karena salah satu pilihan dalam hidup saya yang datang secara tidak terduga. Pilihan yang tidak semudah memilih akan memakai baju apa saat hangout. Pilihan yang sulit dan membutuhkan pemikiran matang, karena berhubungan dengan masa depan saya.
Kemudian saya teringat salah satu kalimat dalam Dream High. Maaf kalau akhir-akhir ini saya sering mengungkit drama seri ini. Tapi memang banyak sekali hal yang saya pelajari selama menonton Dream High. Ada satu bagian di mana salah satu tokoh utamanya sedang dihadapkan pada dua pilihan sulit, kemudian sahabatnya pun memberikan nasihat.
"Tidak ada pilihan yang mudah. Peluangnya 50 : 50. Karena sulit dipilih, maka baru bisa disebut pilihan. Yang harus dilakukan adalah berusaha mengubah apa yang dipilih dari 50 menjadi 100. Berusaha membuktikan pada diri sendiri bahwa pilihan yang sudah diambil adalah pilihan yang tepat." -Jin Guk
Jadi, saya akan kembali memikirkan baik-baik kedua opsi ini dengan pikiran jernih dan terbuka. Saya tidak ingin lima atau sepuluh tahun mendatang harus menyesal karena pilihan yang saya buat. Apapun itu yang pada akhirnya menjadi pilihan saya, baik tetap pada jurusan akutansi atau pindah ke jurusan jurnalistik, saya akan memberikan yang terbaik dari diri saya. 
Saya akan belajar dengan sungguh-sungguh, mencari ilmu dan pengalaman sebanyak-banyaknya. Akan saya buktikan, bahwa apa yang telah saya pilih, adalah pilihan yang paling tepat bagi diri saya.
Picture : facebook.com

23 June 2011

I Know It's Kinda Late, but Happy Birthday



Ulang tahun Jakarta memang telah berlalu, karena keterbatasan waktu saya tidak bisa memposting opini saya ini tepat pada harinya. Tapi terlambat satu hari lebih baik daripada tidak sama sekali, bukan?

Tahun ini Jakarta genap berusia 484 tahun. Wow! Sebuah usia yang fantastis. Membutuhkan perjuangan luar biasa untuk mempertahankan kota ini selama sekian ratus tahun. Belum lagi dengan predikat sebagai ibu kota yang disandang.

Sebagai orang yang lahir dan besar di Jakarta, tentunya saya memiliki segudang pengalaman dengan kota ini. Mulai dari kenangan masa kecil yang begitu manis, sampai kejadian-kejadian yang membuat emosi membuncah.

Selama ini orang-orang terus mengeluh. Kemacetan, banjir, polusi, kriminalitas, kepadatan penduduk adalah beberapa masalah utama Jakarta. Tapi apa gunanya terus-menerus mengeluh tanpa melakukan apapun? Kita lah yang menjadi penyebab utama masalah-masalah tersebut. Bukan Jakarta yang salah, karena pada kenyataannya Jakarta tidak memiliki daya apapun untuk menyusahkan warganya. Kita lah yang menyusahkan diri kita sendiri, dan orang lain yang juga menjadi pengisi kota ini.

Lantas apa yang kemudian kita lakukan? Mengeluh sambil bertopang dagu? Mengadukan jeritan hati tanpa sadar kita semakin memperburuk keadaan?

Mungkin kebanyakan dari kita akan melemparkan tanggung jawab kepada para pembesar negara dan kota. Jakarta adalah ibu kota negara, sudah selayaknya mendapatkan treatment khusus. Karena banyak pusat pemerintahan yang berhubungan dengan luar negeri berada di kota ini. Karena banyak investor asing yang menanamkan modalnya pada perkantoran yang menjulang di kota ini. Karena Jakarta akan terus disorot, baik oleh seluruh penduduk Indonesia, maupun penduduk dunia.

Kalau saja pemda (pemerintah daerah) mau menggunakan dana yang tersedia sebagai mestinya, maka sarana dan prasarana Jakarta akan bisa disandingkan dengan ibu kota negara lain yang telah terlebih dulu sukses. Tapi semuanya itu percuma saja tanpa dukungan dan kerja sama dari kita sebagai penghuninya.

Mari kita ambil salah satu contoh. Pemda sudah menyediakan transportasi senyaman TransJakarta. Namun siapa yang membuatnya menjadi tidak nyaman? Semuanya kembali kepada para penggunanya, kepada para pengurusnya. Kalau saja kita mau tertib mengantri, mau tertib membuang sampah di tempatnya, mau terus waspada terhadap tangan-tangan jahil, maka kita akan merasakan kenyamanan transportasi massal tersebut. Kalau saja pengurusnya mau memeriksa kesiapan kendaraan secara berkala, mau menerapkan sistem yang lebih baik, mau menomorsatukan kepuasan konsumen, maka tidak akan ada kecelakaan atau malapetaka lainnya.

Coba kita berkaca, kenapa kendaraan semacam TransJakarta di negara lain bisa dimanfaatkan dengan baik? Bisa terasa nyaman dan aman? Jawabannya hanya satu :sumber daya manusia yang berkualitas, tertib, dan sudah siap menjadi dewasa seutuhnya.

Pertanyaannya, apa kita sudah siap menjadi penduduk yang dewasa seutuhnya? Seharusnya kita sebagai warga Jakarta ikut bertumbuh bersama kota ini. Teknologi semakin berkembang pesat. Kalau kita tidak bisa mengiringinya dengan perkembangan mental kita, maka sia-sialah sudah.

Kita bisa memperbaiki keadaan kota kita tercinta mulai dari diri kita sendiri. Tertibkan diri kita masing-masing. Selalu buang sampah di tempatnya. Sekarang ini tempat sampah sudah mudah ditemui di berbagai lokasi. Peka terhadap keadaan di sekeliling kita. Budayakan antri. Walau mungkin kata-kata ini terdengar kolot sekali, tapi memang inilah yang menjadi sifat jelek yang telah mendarah daging bagi sebagian besar warga Jakarta (atau Indonesia?).
Saya yakin, jika kita sudah bisa menjadi dewasa seutuhnya, maka Jakarta pun tidak akan kalah majunya dengan kota-kota lain di dunia. Saya percaya, dengan ketertiban yang dimulai dari tiap-tiap individu, Jakarta dapat tumbuh menjadi contoh yang baik sekaligus menjadi motivasi bagi kota-kota lain di Indonesia.


Selamat ulang tahun kotaku tercinta, Jakarta!
Selamat bertumbuh menjadi dewasa, warga Indonesia!

Dok : baliin-donesia.info | private collection

18 June 2011

Biru Tak Selamanya Air Mata



Selama ini, orang sering mengaitkan biru dengan kesedihan.

Blue = mellow.

Padahal tidak selamanya harus begitu. Biru dapat melambangkan banyak hal bail yang justru dapat membuat kita tersenyum.

Biru itu... langit


Coba sekali-sekali sempatkan menatap langit setelah bangun tidur. Pikirkan betapa beruntungnya kita masih diberikan kesempatan untuk bisa menjalani satu lagi hari baru. Bahwa masih ada langit yang begitu indah membentang di atas sana. Begitulah cara simple untuk bersyukur. Untuk menghargai waktu yang masih diberikan oleh Sang Pencipta. Untuk membuat hari baru menjadi bermakna.

Biru itu... laut


Tidak perlu menunggu libur panjang. Beberapa jam pun sebenarnya cukup untuk mengentaskan rasa jenuh yang melanda. Beristirahatlah sejenak di pantai. Rasakan halus butiran pasirnya. Nikmati kilauan biru lautnya. Atau kalau memungkinkan, kita bisa menjernihkan pikiran dengan berenang.

Biru itu... Doraemon


Ada saja bantuan yang tak pernah jemu diberikan oleh robot kucing satu ini. Sifat dasarnya yang periang dan suka menolong membuat siapa saja akan nyaman menjadi sahabatnya. Meskipun kita tidak bisa bertemu langsung dengan Doraemon, tapi kita bisa melihat pengalamannya bersama sahabat-sahabatnya lewat layar kaca setiap hari Minggu.

Biru itu... Facebook


Masih perlukah penjelasan kenapa jejaring sosial yang identik dengan desainnya yang serba biru ini bisa membuat kita bahagia? Coba kirim wall sekedar untuk menyapa atau bertukar cerita dengan teman yang jarang kita sapa di dunia nyata. Bisa pula dengan melihat-lihat koleksi foto dan video kita atau teman. Hal-hal sesimple itu biasanya sangat ampuh untuk membuat bibir kita tertarik membentuk seuntai senyum.

Biru itu... sapphire


Diamonds are a girl's bestriend. Tidak perlu muluk-muluk membeli bahkan sampai mengoleksinya. Minta saja bantuan Mr. Google untuk menemukan gambar-gambar blue stone ini. Mungkin sekarang kita memang belum bisa melihatnya secara langsung, tapi setidaknya dengan melihat gambarnya pun kita sudah bisa terhibur.

Warna biru terkenal sebagai lambang ketenangan. Jika kita sedang diliputi tekanan, pandangilah berbagai benda berwarna biru. Mengganti wallpaper komputer dengan gambar berdominasi warna biru juga bisa menjadi pilihan yang tepat.

Pictures : polyvore.com | favim.com 2 | picsandquotes.com | charissetish.tumblr.com | bellanaija.com | cameo-appearances.tumblr.com

16 June 2011

Finish Line



"When we were five, they asked us what we wanted to be when we grew up. Our answers were things like astronaut, president, or in my case, a princess. When we were ten, they asked again. We answered rock star, cowboy, or in my case, a gold medalist. But now that we've grown up, they want a serious answer. Well, how about this 'Who the hell knows?'. This isn't the time to make hard and fast desicions. This is the time to make mistakes. Take the wrong train and get stuck somewhere. Fall in love, a lot. Major in philosophy, because there's no way to make career out of that. Change your mind, and change it again, because nothing's permanent. So make as many mistakes as you can. That way, someday, when they ask what we want to be, we won't have to guess. We'll know."

Saya sudah jatuh hati pada pidato Jessica Stanley ini bahkan sejak pertama kali menonton Twilight Saga : Eclipse.

Pidato yang tanpa basa-basi, tanpa ukiran kata-kata indah seperti yang lazim digunakan orang-oran, tapi begitu mengena. Begitu nyata.

Saya ingat betul ketika masih kanak-kanak, orangtua, guru, atau orang lain sering menanyakan pertanyaan yang kurang-lebih sama "Kalau sudah besar nanti ingin jadi apa?". Dan saya juga masih ingat dengan jawaban-jawaban yang saya berikan. Dokter, guru, artis, pahlawan pembela kebenaran (saat itu masih jamannya Sailormoon), peramal (yang ini jujur membuat saya selalu tidak habis pikir), interior designer, psikolog, business woman, sampai pada akhirnya akuntan publik sekaligus penulis.

Saat masih di bawah usia 10 tahun, profesi dokter, guru, pilot, presiden, astronot, dan yang lainnya akan menjadi profesi yang begitu menarik, begitu dikagumi dan didambakan. Namun semakin kita tumbuh menjadi dewasa, kita mulai memikirkan kemungkinan-kemungkinan lain, sampai kemudian kita mencapai satu titik di mana kita dapat berkata "Saya tau apa yang menjadi cita-cita saya." Ada yang tetap dengan pilihan awal, namun tak sedikit yang berubah. Semua akan menjadi lebih realistis, karena kita sudah menyadari kemampuan dan ketertarikan kita.

Apapun cita-cita kita, berbahagialah kalau kita sudah menemukannya. Bagi yang belum kunjung menemukan apa sebenarnya cita-cita kalian, bergegaslah. Pikirkan saja profesi apa yang membuat kita tidak akan merasa bosan dan lelah jika harus menjalaninya setiap hari selama sisa hidup kita. Gali potensi diri, and find what we're capable of.

Karena hidup tanpa cita-cita itu bagaikan berjalan dalam kegelapan tanpa ada cahaya setitik pun. Tanpa cita-cita, manusia akan hidup terombang-ambing, tanpa tujuan jelas. Cita-cita itu krusial. Patut dimiliki sebagai pedoman. Sebagai sebuah finish line bagi atlet lari, sebuah gawang bagi pemain sepak bola.

Tapi tahu saja belum cukup. Tugas terberat justru adalah mendapatkan keberanian dan motivasi untuk memperjuangkan cita-cita tersebut. Untuk memacu diri agar semakin dekat dengan semuanya itu.


Dan dalam perjalanan mendekat ke arah cita-cita itu, ada banyak sekali rintangan. Akan ada banyak kesalahan yang kita buat. Bahkan jauh sebelum itupun, kita berkali-kali melakukan kesalahan dengan keliru menetapkan cita-cita, juga tidak kunjung menemukan dorongan untuk mewujudkannya.

Kesalahan demi kesalahan. Wajar, bisa dipahami. Karena dengan melakukan kesalahan, kita belajar untuk menemukan mana yang benar. Untuk tidak mengulangi apa yang seharusnya tidak kita lakukan di kemudian hari.

Namun bukan berarti hal tersebut dapat dijadikan excuse untuk terus-menerus berbuat salah. Akan ada waktunya, suatu hari nanti, kita bisa dengan mantap mengatakan "Saya telah mendapatkan apa yang saya inginkan dan apa yang saya buruhkan. Yang terbaik untuk diri saya. Yang terbaik dari diri saya".

Akan ada saatnya, entah kapan, kita bisa menceritakan kepada orang lain, atau mungkin anak-cucu kita, bahwa kita telah berhasil meraih cita-cita kita. Dan bahwa cita-cita yang kita tentukan selagi muda dulu memanglah yang terbaik. Bahwa kita banyak membuat kesalahan, tapi masa itu telah berakhir. Kita sudah belajar. Kita sudah memahami.

“Berhenti bercita-cita adalah tragedi terbesar dalam hidup manusia.” – Andrea Hirata (Sang Pemimpi)

Pictures : fuckyeahtwilight.tumblr.com | nowcatholic.com

17 May 2011

It's Not The End, It's Just a New Beginning



Rasanya baru beberapa hari yang lalu saya memasuki kelas baru di bangku SMA. Rasanya baru beberapa hari yang lalu saya mengenakan seragam putih abu-abu. Rasanya baru beberapa hari yang lalu saya mencicipi masa SMA.

Dan tau-tau, semuanya itu telah betul-betul berakhir. Masa-masa berkutat dengan tugas dan ujian telah berbuah manis. Selembar kertas dengan lima huruf yang membentuk kata L-U-L-U-S mengakhiri perjuangan selama tiga tahun. Tiga tahun yang berlalu begitu saja, seolah waktu berlari meninggalkan saya. Meninggalkan saya yang belum rela meninggalkan masa-masa itu, masih terbuai dalam comfort zone saya.

Tapi kemudian saya disadarkan, life must go on. Seorang bayi tidak akan belajar berjalan terus-menerus, bukan? Begitu pula dengan saya. Inilah saat bagi saya untuk merajut hari-hari baru di jenjang yang lebih tinggi lagi.


College.

Tempat di mana cita-cita terasa semakin dekat di depan mata.

Sebenarnya tidak banyak perbedaan antara high school dan college. Sama-sama masih harus bergelut dengan tugas dan ujian, masih harus bertemu dengan guru (walau dengan nama berbeda, dosen), masih terikat dengan berbagai aturan (walau mungkin tidak seketat dulu), masih merupakan sarana untuk bersosialisasi dan mengejar impian.

Perbedaannya hanya pada sistem belajar, ilmu yang didapat. And of course, no more boring uniform (I love this part!).

Intinya, siap tidak siap, saya harus tetap menapaki jenjang baru ini. Selangkah lebih maju. Fase baru dalam kehidupan saya. Karena lulus dari bangku SMA bukan berarti akhir dari perjuangan saya. Justru inilah satu awal baru dari hidup saya.

Dan akhirnya, lahirlah sebuah optimisme baru, bahwa college tidak akan semengerikan seperti yang selama ini saya pikirkan. Bahwa college akan menjadi sama menyenangkannya dengan high school. Let's pray for it!

Pictures : Private collection | scarlettkey.wordpress.com

15 May 2011

Music Taught Me How to Live




 taught me it's okay to be different.


taught me to be myself and not care what anyone else thinks.


taught me that life is hard, but you can make it through.


taught me that not every guy is going to treat me right.


taught me to always love the people around me.

Source : icanread.tumblr.com

Pictures : alexandraatapa-atumah.tumblr.com | flickr.com | im-n0tafraid.tumblr.com | lightthefuze.tumblr.com | subwaysong.tumblr.com

05 May 2011

Masih dan Akan Selalu Jadi Sahabat



Lantas, apa yang bisa membuat seorang cewek melupakan sahabat-sahabatnya? Cowok mungkin?

Saya menulis posting ini tanpa maksud menghakimi siapapun. Terlebih menyalahkan pihak manapun. Tulisan ini hanya ungkapan perasaan semata. Malah ditulis sebagai bahan refleksi saya pribadi.

Pertanyaan inilah yang akhir-akhir ini memenuhi pikiran saya :

Apa dengan berubahnya status seseorang menjadi "in relationship" (baca : pacaran), kemudian relationship orang tersebut dengan sahabat-sahabatnya malah hancur?

Ada yang salah, dengan menjaga keseimbangan antara waktu dengan pacar dan dengan sahabat? Apakah susah, menjaga hubungan baik dengan pacar sekaligus dengan sahabat?

Apa salah satunya harus menjadi korban?

Saya rasa tidak.

Dengan menghabiskan waktu bersama pasangan, tidak berarti melupakan eksistensi para sahabat, bukan?


Sahabat yang baik akan senang dengan perubahan status sahabat mereka dari single menjadi in relationship. Itu semua dikarenakan kebahagiaan seorang sahabat adalah ketika melihat sahabat mereka bahagia. As simple as that.

Tapi apa jadinya kalau justru kebahagiaan tersebut berubah tatkala si tokoh utama ini tidak lagi sama seperti ketika statusnya masih single?

Saya senang sahabat saya tidak lagi sendirian. Saya senang melihatnya menemukan pasangan yang dirasa cocok untuk melalui hari bersama. Tapi pantaskah saya merasa heran, ketika saya dan sahabat lain yang dekat dengannya selama ini tidak diberitahu tentang kabar bahagia tersebut? Bahkan seorang teman yang tidak terlalu dekat saja memandangi saya dengan tatapan bingung seraya bertanya "Masa sih lo nggak tau? Lo kan sahabat baiknya. Dia nggak ngomong?"

Saya seperti sahabat yang tidak tau apa-apa tentang sahabat saya sendiri. Padahal kami masih tinggal di kota yang sama, masih pergi ke sekolah yang sama.

Ironis? Mungkin.

Kabar bahagia akan menjadi lebih membahagiakan apabila dibagikan. Setidaknya itu yang saya yakini hingga detik ini. Namun saya berusaha memahami jalan pikiran setiap orang yang tidak sama. Saya dapat menerima bahwa mungkin ada alasan kuat di balik keputusan sahabat saya ini. Dan kenyataan tersebut nyatanya tidak meluruhkan sedikitpun rasa bahagia saya atas kebahagiaannya.

Tapi, seiring berjalannya waktu, saya merasa seperti ada tembok pembatas yang berdiri kokoh di antara saya dengan dia. Tembok itu tidak berdiri dengan sendirinya, tetapi seolah memang sengaja didirikan olehnya.

Dan ternyata, bukan hanya saya yang merasakan keberadaan tembok ini. Sahabat dekat kami yang lain juga merasakan hal serupa.

Kami tidak mempermasalahkan keputusannya untuk tidak ikut pergi bersama kami karena ingin ngedate dengan pasangannya. Kami hanya bertanya-tanya, apa dia tidak nyaman dengan persahabatan kami selama ini? Apa dia tidak senang menghabiskan waktu di tengah-tengah kami, bersama kami? Apa gerangan yang membuatnya segan memberitakan kabar baik tersebut kepada kami?

Tembok angkuh itu perlahan tapi pasti menutup segala akses untuk berkomunikasi. Meninggalkan kami dalam kolam penuh tanda tanya. Meninggalkan kami dalam keadaan kebingungan.

Lagi dan lagi, pertanyaan demi pertanyaan menyesaki otak kami, menguras tenaga dan pikiran kami.

Apa kami melakukan kesalahan yang membuatnya berpaling? Apa ada perbuatan kami yang membuatnya merasa tidak lagi fit in dalam inner circle yang selama ini terjalin?

Pada akhirnya semua pertanyaan tersebut hanya dapat dijawab oleh dia. Oleh dia, yang membuat pertanyaan-pertanyaan itu ada.

Segala sesuatu yang terjadi di dunia ini kembali pada pilihan. Setiap individu punya hak penuh untuk menentukan pilihan mereka sendiri. Mereka berhak menentukan jalan mana yang hendak ditempuh. Entah di balik setiap pilihan itu ada alasan atau tidak, yang terpenting adalah pilihan telah dibuat. Yang bisa dilakukan hanyalah menantikan hasilnya. Menantikan konsekuensi pilihan yang mungkin saja berbuah manis, tapi tidak menutup kemungkinan berakhir tragis. Tentu saja saya mengharapkan hasil yang pertama, baik untuk pihaknya, pihak pasangannya, maupun pihak kami.

Saya hanya ingin menegaskan bahwa, "Kami selalu ada. Tidak peduli statusnya sudah berubah, status kami tetap sama. Kami adalah sahabatnya. Kami masih sahabatnya, dan akan terus seperti itu. Kebahagiaannya adalah kebahagiaan kami, meski kami tidak termasuk dalam kebahagiaan tersebut."

Semoga hubunganmu dengannya akan terus berjalan lancar. Semoga kebahagiaan selalu menghiasi hari-harimu. Semoga pilihanmu berbuah manis, Sahabat...

Pictures : twitter.com | flickr.com

28 April 2011

Senyuman Putri Hujan






Tallara duduk termangu di tepi danau. Raut wajahnya menyiratkan rasa gundah yang tengah melandanya. Beberapa menit sebelum ia mengasingkan diri ke Telaga Jerara, Tallara baru saja selesai menunaikan tugasnya sebagai salah satu putri kerajaan langit.
Tallara adalah putri keempat dari lima putri Raja Langit. Kelima putri langit itu masing-masing memiliki wewenang penuh atas lima aspek penting alam, dimulai dari Meghana yang menguasai cakrawala, Drisana si penguasa matahari, Makani yang menguasai angin, Tallara penguasa hujan, dan Eira, si bungsu penguasa salju.
Semua kejadian-kejadian alam yang terjadi di Bumi diatur oleh mereka, atas perintah dari Raja Langit. Tallara sendiri biasanya menurunkan hujan dengan sebuah keranjang berisi butiran-butiran kristal, yang nantinya akan ditaburkan oleh jari-jari lentiknya ke Bumi. Biasanya Tallara suka melakukan pekerjaannya ini sambil duduk di atas awan dan mendendangkan lagu-lagu favoritnya.
Namun saat itu pemandangan yang didapatinya menimbulkan sebuah pertanyaan besar dalam sanubari Tallara. Dari atas awan, ia bisa melihat dengan jelas banyak tempat yang dilanda banjir, serta banyaknya penghuni Bumi yang menjadi korban. Tallara gundah. Ia merasa menjadi pihak yang paling bertanggung jawab atas musibah yang melanda Bumi.
Tugasnya seharusnya menurunkan hujan yang dapat membuat orang bersukacita, hujan yang menyuburkan. Bukannya malah menimbulkan kesengsaraan di mana-mana.
Tallara kemudian tersadar bahwa selama ini ia bekerja di bawah perintah Raja Langit. Lantas, mengapa Raja memerintahkannya untuk menaburkan kristal lebih banyak dan lebih sering ke Bumi? Apa sebenarnya rencana Raja Langit?
Maka dengan tekad bulat, Tallara bangkit dari posisi duduknya, kemudian bergegas pergi ke istana untuk menemui Raja Langit.
"Ayahanda Paduka Raja, apakah aku boleh menanyakan satu hal?" tanya Tallara setelah memberikan hormat kepada Raja Langit.
"Apa itu, Putriku?" tanya Raja Langit dengan senyuman yang menghiasi wajah arifnya.
"Saat menjalankan tugasku tadi, aku melihat penghuni Bumi sedang kesusahan karena hujan yang berlebihan. Aku sedih, Ayah. Aku telah membuat mereka semua menderita."
"Lalu, apa yang hendak kautanyakan padaku?"
"Selama ini aku hanya menjalankan tugas sesuai dengan perintah Ayahanda. Mengapa Ayah memerintahku untuk menaburkan kristal lebih banyak belakangan ini?"
"Kau masih muda, Sayangku. Masih banyak hal yang belum kaupahami. Mari kutunjukkan padamu." kemudian Raja bangkit dari singgasananya dan mengajak Tallara untuk ikut beranjak.
Ternyata Raja membawa Tallara untuk berkunjung ke Bumi. Kegiatan ini langsung membuat Tallara bersemangat. Nalurinya mengatakan bahwa sang ayah yang bijaksana pasti memiliki alasan kuat di balik segala penyebab kegundahannya.
Keduanya pun menjelma menjadi serupa dengan penghuni Bumi lainnya. Sebenarnya perbedaan di antara penghuni langit dan Bumi hanya terletak pada pakaian dan kesaktian mereka.
Selanjutnya, pemandangan yang menyambut Tallara langsung membuatnya terperangah. Air mata kepedihan tak mampu lagi ditahannya. Tepat di depan mata kepalanya sendiri, terlihat belasan orang dengan pakaian seragam, sedang menebang batang pohon yang ada di sekitar mereka. Tidak hanya itu saja, hidung Tallara dapat menangkap bau asap dari kejauhan. Dan begitu mendengar jawaban atas pertanyaan ayahnya dari seseorang yang melintas di dekat mereka, isakan Tallara semakin menjadi-jadi.
"Itu asap yang berasal dari kebakaran hutan, beberapa hektar jaraknya dari sini, Pak."
Sebelum Tallara sempat tersadar, dirinya sudah dibawa ke tempat lain oleh sang ayah. Kali ini mereka berdua tengah berada di atap sebuah bangunan yang terbuka, sehingga Tallara dapat melihat keadaan di sekelilingnya.
Semua pemandangan itu kembali menghantam Tallara telak-telak. Puluhan orang yang membuang sampah sembarangan, asap dari kendaraan bermotor yang membuat matanya perih, lautan bangunan beton dengan halaman semen, semuanya betul-betul menjejali dadanya sampai-sampai Tallara merasa dirinya bisa hancur berkeping-keping.
"Ayah, aku sudah tidak tahan lagi. Bisakah kita kembali ke istana?" Tallara berujar pilu. Tak sampai semenit setelahnya, keduanya sudah kembali ke Kerajaan Langit.
"Kau lihat, putriku? Penghuni Bumi sendiri yang menyebabkan kesengsaraan bagi diri mereka. Mereka begitu semena-mena terhadap alam, sehingga alam pun menjerit kepadaku meminta keadilan. Itulah sebabnya aku memerintahkan kau untuk menurunkan lebih banyak butiran kristal ke Bumi. Pada dasarnya aku juga tidak tega. Hanya saja, aku tidak dapat mengabaikan jeritan alam."
Mendengar penjelasan ayahandanya, muncul sebuah tekad kuat di dalam hati Tallara. Bagaimanapun caranya, ia harus menyelamatkan Bumi dan seluruh penghuninya dari malapetaka.
"Ayah, bolehkah aku menolong Bumi dan penghuninya? Aku berjanji tidak akan melanggar aturan apapun."
"Lakukan dengan caramu, Tallara. Aku akan selalu mendukung selama apa yang kau kerjakan itu membawa kebahagiaan bagi semua orang."
* * *
Maka Tallara pun mulai mencari cara untuk menyelamatkan Bumi dari kehancuran. Keempat saudarinya memilih untuk tidak ikut ambil bagian dalam rencana Tallara yang mereka anggap hanya buang-buang waktu saja. Mereka adalah putri Kerajaan Langit. Jadi, untuk apa ikut pusing memikirkan apa yang terjadi di Bumi?
Sore itu kebetulan Tallara sedang bebas tugas. Ia pun mengamati keadaan Bumi dari atas awan. Sampai akhirnya pandangannya jatuh pada seorang gadis yang sedang merenung sendiri di taman. Tallara pun diam-diam mendengarkan kata demi kata yang diucapkan gadis itu kepada dirinya sendiri.
"Kenapa sih, mereka semua malah menganggapku sebagai orang yang sok peduli lingkungan? Kenapa mereka nggak pernah sekalipun mendengarkan aku?
"Setiap kali aku menegur mereka karena membuang sampah sembarangan, mereka malah balik memarahiku. Setiap kali aku mengikuti kegiatan pelestarian lingkungan, mereka mengatai aku buang-buang waktu saja. Padahal aku kan hanya ingin menjaga Bumi agar tidak semakin rusak."
Tallara seolah mendapat angin segar. Ia bisa menyelamatkan Bumi lewat gadis ini. Tallara pun segera bangkit dan bergegas menuju ruang arsip istana, ingin mencari tau siapakah gerangan gadis itu. Ternyata namanya Saskhia Dewani Aldivar. Baiklah, Tallara akan segera menyusun siasat lebih lanjut.
Dengan bantuan Penasehat Baldar, salah satu orang kepercayaan ayahnya, Tallara meminta bantuan agar dirinya bisa masuk ke dalam mimpi Saskhia malam itu.
"Saskhia, kenalkan, aku Tallara, Putri Hujan dari Kerajaan Langit. Aku ingin membantu Bumi agar terlepas dari segala bencana. Dan untuk mewujudkannya, aku membutuhkan bantuanmu. Apa kau bersedia membantuku?"
"Tentu saja aku bersedia. Aku juga prihatin dengan keadaan Bumi saat ini. Tapi, bagaimana caranya? Setiap kali aku mencoba untuk menyelamatkan Bumi, semua orang mengolok-olok aku."
"Kau menyukai dunia sinematografi, bukan? Setidaknya itu yang kubaca dalam biografimu di ruang arsip istana. Kau bisa menyelamatkan lingkungan lewat hobimu itu."
"Tapi, bagaimana caranya? Aku tidak mengerti maksudmu." Saskhi masih sangsi dengan ide Tallara. Memang betul sinematografi adalah dunia yang paling dicintainya sejak masih di bangku SMP. Tapi apa hubungannya Bumi dan hobinya itu?
"Tentu kau tahu pasti maksudku, Saskhia Aldivar. Tolong lakukan saja apa yang menurut kata hatimu tepat. Kita berdua sama-sama tidak ingin melihat kehancuran Bumi, bukan?"
"Tapi, kamu kan putri langit. Kenapa kamu harus repot-repot mengurusi Bumi segala?"
"Karena aku mencintai Bumi dan segala isinya seperti halnya aku mencintai langit."
Keesokan paginya, Saskhi merenungi mimpi ajaibnya itu. Bagaimana caranya menyelamatkan Bumi dengan hobi sinematografinya?
Tiba-tiba, entah dari mana, ide itu langsung mendarat di otaknya. Ia bisa membuat film dokumenter tentang Bumi! Sounds brilliant, isn't it?
*  *  *
Saskhi memekik kegirangan begitu membaca poster di papan pengumuman sekolahnya. Poster itu berisi lomba film dokumenter yang diadakan oleh sebuah perusahaan kosmetik terkenal. Merasa mendapat angin segar, Saskhi mulai memikirkan tema dan konsep film dokumenternya.
Setiap hari, Tallara selalu mengamati gerak-gerik Saskhi. Ia pun sukses dibuat kagum oleh kerja keras dan kesungguhan gadis itu. Saskhi rela tidur sampai larut malam hampir setiap hari demi menyelesaikan proses syuting film dokumenternya. Tallara optimis bahwa dirinya tidak salah langkah dengan menggantungkan asanya di bahu gadis itu.
Hari pengumuman pemenang lomba film dokumenter pun tiba. Baik Saskhi maupun Tallara yang sedang mengamati dari atas awan mulai cemas. Seandainya saja film Saskhi berhasil meraih juara pertama, maka film tersebut pastinya akan ditonton oleh banyak orang. Dan keduanya berharap dengan semakin banyaknya orang yang menonton film tersebut, maka semakin banyak pula orang yang menjadi peduli pada kondisi Bumi yang makin hari kian memprihatinkan.
"Dan, pemenang pertama adalah film dokumenter dengan judul 'Tangisan Putri Hujan' karya Saskhia Aldivar!"
Saskhi langsung menjerit kesenangan, begitu pula dengan Tallara, yang sukses membuat bingung keempat saudarinya. Ia dan Saskhi berhasil!
Segala hal yang dilandasi rasa cinta dan juga perjuangan pasti menghasilkan sesuatu yang indah. Hal itulah yang selalu diyakini Tallara, dan akhirnya menjadi kenyataan.
* * *
Setahun setelahnya, Tallara kembali berada di Telaga Jerara. Namun kali ini tanpa raut sedih menghiasi wajahnya. Justru sebaliknya, Tallara sedang tersenyum bahagia. Sebelum mengasingkan diri di tempat ini, Tallara baru saja 'mematai-matai' Saskhi. Gadis itu kini semakin sibuk dengan berbagai seminar film dokumenter di SMA dan kampus-kampus, juga menjadi mengetuai sebuah badan sosial pecinta lingkungan.
Kondisi Bumi semakin hari juga mulai membaik karena banyak penghuninya yang sadar setelah menonton film dokumenter Saskhi. Bukan hanya itu saja, sudah banyak orang yang terinspirasi dan ikut membuat film dokumenter serupa, membahas soal alam dan lingkungan hidup.
Hutan kembali mendapatkan perhatian dengan digalakannya gerakan reboisasi. Selain itu, penghuni Bumi semakin disiplin dalam hal membuang sampah dan merawat Bumi.
Kini, tangisan Putri Hujan sudah tergantikan dengan sebuah senyuman. Senyuman yang mencerminkan kebahagiaan karena usahanya–juga usaha seorang gadis remaja penghuni Bumi bernama Saskhia Aldivar–membuahkan hasil yang manis bagi Bumi dan seluruh penghuninya.***


Juara Hiburan Lomba Cerpen Kawanku 2010




Dimuat di Majalah kaWanku edisi #104

Pictures : bottle-star.tumblr.com | dok : kaWanku

21 April 2011

Makna Emansipasi Sesungguhnya



Miris rasanya begitu saya tidak sengaja mendengar celetukan teman pria saya yang kira-kira bunyinya seperti ini "Cewek tuh maunya apa sih? Udah bagus ada Kartini yang memperjuangkan emansipasi perempuan, eh masih aja banyak maunya!".
Saya sama sekali tidak menyalahkan pendapat teman saya itu. Justru saya merasa tertampar dengan pengakuan jujur tersebut. Karena pasti ada alasan kenapa teman saya bisa sampai mengeluarkan protes seperti itu. 
Apa benar emansipasi yang telah diperjuangkan Ibu Kartini sedemikian rupa telah disalahgunakan oleh perempuan Indonesia di zaman modern sekarang ini?
Sering sekali kita mendengar pemberitaan buruk di berbagai media massa seputar berita asusila atau pelecehan seksual. Selalu, yang menjadi korban adalah kaum perempuan. Tapi, apa benar begitu? Sayangnya tidak. Saat ini, perempuan tidak selalu menjadi korban. Perempuan bisa menjadi tersangka. 
Lihat saja bagaimana cara berpakaian cewek-cewek ABG di tempat-tempat umum. Bukan berarti perempuan tidak boleh bereksplorasi dengan fashion mereka. Hanya saja, perempuan harus tau batas, etika, tempat, dan kondisi. Ibaratnya, memakai bikini di pantai atau kolam renang sah-sah saja. Tetapi kalau bikini tersebut dipakai ke mall atau bandara, pasti akan lain lagi ceritanya.
Terkadang, perempuan mengenakan pakaian hanya semata-mata demi memuaskan diri mereka. Mengikuti trend, tampil fashionable, serta berderet alasan lainnya. Hal ini membuat kita kurang aware dengan bagaimana orang lain mengartikan gaya berpakaian kita. Mungkin bagi kita shorts, tank top, atau mini dress biasa-biasa saja. Tapi bagi orang lain (khususnya kaum pria), bisa saja hal tersebut malah mengundang niat jahat yang sebelumnya tidak terlintas.
Kenyataan pahit lainnya dapat dilihat dari banyaknya korban razia di tempat hiburan malam, yang sering dilakukan oleh pihak berwajib. Perempuan-perempuan itu tidak lagi menghargai tubuh yang telah diberikan Tuhan kepada mereka dengan sebagaimana mestinya. Alasannya apalagi kalau bukan karena masalah ekonomi. Kalau itu alasannya, kenapa buktinya masih banyak remaja putri yang rela bekerja membanting tulang sebagai pramuniaga, kasir, maupun pekerjaan lain yang sesuai dengan norma yang berlaku? Pekerjaan yang halal.
Mereka berpikir, dengan menjual tubuh mereka, mengumbar aurat mereka di depan puluhan pasang mata, mereka dapat memperoleh uang dengan lebih cepat dan mudah. Bahkan terkadang bukan hanya lembaran uang yang menyembul memenuhi kantung mereka, tetapi juga berbagai fasilitas kemewahan. Namun, apakah mereka sadar, bahwa tubuh mereka jauh lebih berharga dibanding apapun? Bahwa kalau mereka saja sudah tidak menghargai tubuh mereka sendiri, bagaimana mungkin mereka berharap orang lain akan menghargai mereka?
Mungkin Ibu Kartini akan menangis melihat semua usaha dan kerja kerasnya malah disalahartikan seperti ini. Bahwa banyak di antara kaum perempuan, kaum yang dibelanya, tidak lagi memandang perjuangannya mengangkat martabat kaumnya.
"Sebagai pengarang dapatlah aku secara besar-besaran mewujudkan cita-citaku dan berkarya bagi pengangkatan derajat dan peradaban rakyatku." R.A.Kartini (1879-1904)
Jika dulu, sebelum Ibu Kartini dilahirkan, perempuan dianggap hanya untuk mengurusi bagian sumur-dapur-kasur, dikekang dengan berbagai macam aturan, maka kini yang terjadi adalah banyak perempuan yang seperti lupa daratan. Terlalu terbuai dengan berbagai kebebasan yang ada di dalam genggaman mereka, sehingga melupakan peranan mereka yang sesungguhnya.
Bukan itu yang dimaksud emansipasi. Bukan itu yang diperjuangkan Ibu Kartini mati-matian. Emansipasi adalah kebebasan perempuan untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya, untuk tampil di depan umum dengan prestasi yang mereka miliki, untuk berdiri sejajar dengan pria dalam hal skills and capabilities, untuk dapat mengejar karier mereka tanpa melupakan kodrat asal sebagai seorang istri bagi suami dan ibu bagi anak-anak mereka.
Yang seharusnya terjadi adalah, perempuan diekspos karena isi otaknya, karena kepandaian dan prestasinya. Akan keteladanan, kelembutan, dan sifat keibuannya. Bukannya justru malah diekspos karena fisik semata.
Mari, semua perempuan Indonesia, buatlah perjuangan Ibu Kartini menjadi tidak sia-sia, dengan cara menghargai diri kita sendiri, serta menggunakan kebebasan yang kini sudah kita miliki dengan sebaik-baiknya dan penuh tanggung jawab!
"Alangkah besar bedanya bagi masyarakat Indonesia bila kaum perempuan dididik baik-baik. Dan untuk keperluan perempuan itu sendiri, berharaplah kami dengan harapan yang sangat supaya disediakan pelajaran dan pendidikan, karena inilah yang akan membawa bahagia baginya." (Surat R.A.Kartini kepada Nyonya Van Kool, Agustus 1901)
Picture : ieatmybrain.tumblr.com