20 January 2013

Just Simply Adore Her



Today is the 20th Anniversary of Audrey Hepburn's death.

Audrey Hepburn was born Audrey Kathleen Ruston on 4 May 1929 at number 48 Rue Keyenveld in Ixelles, a municipality in Brussels, Belgium. On the evening of 20 January 1993, at her home in Tolochenaz, Vaud, Switzerland, Hepburn died in her sleep of appendiceal cancer. Her legacy as an actress and a personality has endured long after her death. 

Best movies of hers:
Roman Holiday (1953)
Sabrina (1954)
The Nun's Story (1959)
Breakfast at Tiffany's (1961)
My Fair Lady (1964)

QUOTES:

“Happy girls are the prettiest.” 

“Nothing is impossible, the word itself says 'I'm possible'!” 

“Laugh. It cures a multitude of ills. It's probably the most important thing in a person.” 

“The most important thing is to enjoy your life—to be happy—it's all that matters.”

“The beauty of a woman is not in the clothes she wears, the figure that she carries, or the way she combs her hair. The beauty of a woman is seen in her eyes, because that is the doorway to her heart, the place where love resides. True beauty in a woman is reflected in her soul. It's the caring that she lovingly gives, the passion that she shows & the beauty of a woman only grows with passing years.” 

“Your heart just breaks, that's all. But you can't judge or point fingers. You just have to be lucky enough to find someone who appreciates you.” 

“You can tell more about a person by what he says about others than you can by what others say about him.” 

“The beauty of a woman is not in a facial mole, but true beauty in a woman is reflected in her soul. It is the caring that she lovingly gives, the passion that she knows.” 

“Why change? Everyone has his own style. When you have found it, you should stick to it.” 

“Opportunities don't often come along. So, when they do, you have to grab them.” 

“Make-up can only make you look pretty on the outside but it doesn't help if your ugly on the inside. Unless you eat the make-up.” 

“True friends are families which you can select.” 

“If my world were to cave in tomorrow, I would look back on all the pleasures, excitements and worthwhilenesses I have been lucky enough to have had. Not the sadness, not my miscarriages, but the joy of everything else. It will have been enough.” 

“I tried always to do better: saw always a little further. I tried to stretch myself.” 

“Good things aren't supposed to just fall into your lap. God is very generous, but He expects you to do your part first.” 

“As you grow older, you will discover that you have two hands, one for helping yourself, the other for helping others.” 

“For beautiful eyes, look for the good in others; for beautiful lips, speak only words of kindness; and for poise, walk with the knowledge that you are never alone.”

Picture : fanpop.com | possumsal.com | frontrowreviews.co.uk | imgfave.com | pinterest.com 

16 January 2013

No More 'Stupid in Love'



Baru-baru ini peneliti menemukan bahwa ketika seseorang jatuh cinta, aktivitas otak di bagian frontal cortex yang berfungsi saat melakukan penilaian, tidak berfungsi. Yang artinya, kita susah melihat sisi buruk dari orang yang sedang kita cintai. Semua tindakannya terasa baik-baik saja. Gara-gara frontal cortex yang lagi mogok kerja inilah, yang menyebabkan kita bersedia melakukan sesuatu (bahkan apa pun) atas nama cinta.
Sumber: Rubrik Hi Girls majalah kaWanku #140 oleh Trinzi Mulamawitri

Sahabat saya termasuk salah satu contoh konkritnya. (Luckily) dia akhirnya sadar dan sekarang sudah putus dari cowoknya yang kurang ajarnya ampun-ampunan itu. Selama pacaran, dia sering dikatai bego, idiot, didorong sampai jatuh, ditinggal pulang saat cowok itu sedang ngambek, bahkan sampai mengatai agama sahabat saya.

Sejak pertama kali sahabat saya curhat mengenai perlakukan mantannya itu, saya selalu menyuruhnya berpikir baik-baik, apakah cowok seperti itu pantas dan layak dipertahankan. Berkali-kali pengin menyuruh dia untuk putus (termasuk geregetan mau memberi ‘pelajaran’ buat si cowok yang satu kampus dengan saya), tapi saya bukan orangtuanya. Saya masih sadar kapasitas saya sebagai sahabat hanya sebatas menasihati dan 'menyadarkannya'.

Sampai akhirnya hampir setahun kemudian, (thank God) dia bisa berpikir jernih dan membuat keputusan untuk berpisah.

Jatuh cinta itu sama sekali bukan kesalahan. Semua manusia di dunia ini berhak mencintai dan dicintai. Cinta adalah salah satu anugerah terindah dari milyaran kebaikan Tuhan di dunia. Tapi bukan berarti kita diperbudak oleh cinta.
Setiap orang punya caranya masing-masing ketika sudah berhadapan dengan cinta. Ada yang memilih memberikan cintanya 100 persen. Namun ada pula yang memberikan hanya 80 persen, dan sisanya berada dalam zona netral, di mana rasio tetap dipertahankan.
Ada yang rela-rela saja melakukan apa pun‒bahkan saat apa pun itu termasuk mengorbankan diri mereka sendiri‒demi orang yang dicintainya. Rasanya kok rasa cinta saya terhadap diri sendiri masih cukup besar sampai tidak ingin menyakiti atau mengorbankan diri demi seorang cewek. Mungkin terdengar egois, tapi kalau bukan kita yang menjaga diri kita sendiri, lantas siapa? Orangtua, kakak/adik, teman, dan manusia lainnya kan tidak mungkin menjaga kita 24/7.
Percayalah, di saat seorang cowok mengatakan, “Katanya kamu sayang sama aku. Kalau gitu, berarti kamu pasti mau...” (isilah titik-titik tersebut dengan berbagai jenis permintaan), itu adalah ciri-ciri cowok itu tidak layak untuk dipertahankan, apalagi diperjuangkan. Cowok yang baik, di saat mereka tahu kalau kita mencintainya, mereka tidak akan menyuruh kita melakukan apa pun demi cinta kita padanya. Mereka justru akan menjaga bagaimana supaya rasa cinta kita tetap bertahan bahkan semakin besar padanya, dengan cara-cara yang baik dan positif.
Cinta memang buta, tapi jangan sampai kita dibutakan oleh cinta.

Cinta memang bisa membuat seseorang jadi bodoh, tapi jangan sampai kita dibodohi oleh cinta.

Apalagi kalau yang sudah sampai melakukan kekerasan, baik secara fisik, mental, seksual, verbal, ekonomi (you know, kayak minta dibeliin dan dibayarin ini-itu), dll. Itu sih, nggak perlu pikir-pikir segala. Langsung saja minta putus. Karena menurut psikolog, kalau seseorang pernah melakukan kekerasan terhadap pasangannya, sangat tidak mungkin perbuatan yang sama akan terulang di kemudian hari. Jadi lebih baik berpisah saat terjadi kekerasan pertama kali, karena jelas, orang-orang seperti itu sama sekali tidak pantas diberikan kesempatan kedua.
Kekerasan dalam sebuah hubungan punya siklus klise. Setelah terjadi kekerasan, si pelaku langsung minta maaf, mengaku bersalah dan menyesal, blablabla. Karena nggak tega, akhirnya korban menerima permintaan maaf, dan hubungan kembali rukun. Baru deh, setelah beberapa lama berlanjut dengan konflik lain yang ujung-ujungnya berakhir dengan kekerasan berikutnya. Yang namanya siklus, tentu saja bisa terjadi berulang-ulang.
Sekarang bukan lagi zamannya cewek diam saja dan cenderung nurut diperlakukan dengan tidak baik oleh pasangan. Jangan biarkan cinta menyeret kita ke dalam zona cinta buta. Kalau memang mau pacaran, pacaran lah dengan sehat. Libatkan logika dan rasio, jangan lagi terbuai dengan dua kata basi “Demi cinta”.


Come on! It’s soooo last year. Harusnya kita mengganti mindset kita dengan kalimat ini:


p.s : Please lupakan soal hubungan Rihanna dan Chris Brown yang drama banget bahkan menyaingi sinetron di berbagai stasiun TV Indonesia, karena bukan sesuatu yang perlu ditiru sama sekali, dan tidak ada hubungannya dengan posting ini (kecuali judulnya yang terinspirasi dari judul lagu penyanyi asal Barbados itu).

Pictures: facebook.com | wordsoverpixels.com | naylaa.com

01 January 2013

New Beginning, New Hopes, New Dreams



"And as you all can see, the ball has stopped half way to its perch. It's suspended there to remind us before we pop the champagne and celebrate the new year, to stop, and reflect on the year that has gone by. To remember both our triumphs and our missteps, our promises made and broken, the times we opened ourselves up to great adventures... or closed ourselves down for fear of getting hurt. Because that's what new year's all about. Getting another chance, a chance to forgive. To do better, to do more, to give more, to love more, and to stop worrying about what if... and start embracing what will be. So when that ball drops at midnight, and it will drop, let's remember to be nice to each other, kind to each other. And not just tonight but all year long." (from the movie New Years Eve, 2012)

WELCOME 2013! PLEASE SURPRISE ME :)

Picture : acewallpaper.wordpress.com

11 December 2012

Time Limit



Mungkin hidup adalah ibarat mobil berisikan satu tangki penuh bahan bakar. Ketika sang pengendara sadar bahan bakarnya sudah hampir habis, ia baru mengambil keputusan perlu tidaknya pendingin digunakan, untuk memperpanjang perjalanan, untuk sampai ke tujuan yang diinginkan.

Cerpen Waktu Nayla oleh Djenar Maesa Ayu (Pernah dimuat di Harian Kompas edisi Minggu, 31 Maret 2002 dan kumpulan cerpen Mereka Bilang, Saya Monyet!)

Semua manusia pasti akan menghilang dari peradaban ini. Setiap manusia akan kembali ke wujud asal sebelum dirinya ada sebagai janin dalam rahim. Abu, debu, tanah, partikel, apa pun itu. Setiap angka natalitas juga berarti mortalitas. Berapa banyak yang lahir, sejumlah itulah yang akan meninggal. Soal kapan, bagaimana, kenapa, itu hak prerogatif Tuhan yang tentukan. Kita manusia hanya ditugasi untuk menjalani hidup, dengan segala suka dukanya, segala manis pahitnya.
Selama manusia tidak tahu kapan limit waktunya bernapas, ia bagai kuda yang berlarian bebas di padang rumput. Melakukan hal yang disukainya tanpa perlu mempertimbangkan banyak hal. Sampai kemudian berilah ia limit. Ketika 'vonis mati' sudah dijatuhkan kapan terlaksana, akan muncul berbagai ketakutan dan pertimbangan. Bagai penulis dikejar deadline, setiap waktu akan terasa begitu bermakna. Berupaya mencari cara supaya detik waktu yang tersisa bisa diperlambat.
Kenapa tidak lebih awal sadari fakta itu. Lebih awal manfaatkan waktu sebaik-baiknya. Supaya kapan pun 'vonis mati' itu menghampiri, kita bisa menyambutnya dalam senyum. Dengan tenang katakan "Saya siap", karena memang diri sudah ditempa. Supaya tidak ada penyesalan. Agar tidak perlu memforsir diri di akhir perjalanan dan bisa menikmatinya.
Picture : miguelrockstar.tumblr.com

01 December 2012

Christmas in The Air


1. Decorate the Christmas tree
Walaupun enggak bisa menghias pohon natal sungguhan kayak orang-orang di belahan bumi Eropa dan Amerika, kita tetap bisa menghias pohon Natal imitasi-nya kok. Apalagi sekarang makin banyak varian pohon natal, mulai dari ukuran mini sampai raksasa, warna hijau sampai putih, dsb. Lebih seru lagi kalau kita bisa bikin pohon Natal kreasi kita sendiri. Pohon Natal kan, enggak selalu harus terbuat dari pohon cemara.

2. Buat kartu Natal (BUKAN virtual) dan kirim ke orang-orang yang kita sayang
Di zaman teknologi canggih, cuma perlu duduk di depan komputer dan Christmas card virtual pun sudah bisa langsung dikirim ke semua contact e-mail atau social media kita. Tapi rasanya pasti enggak akan se-intimate dibandingkan membuat kartu Natal sendiri sesuai kreativitas kita, dan mengirimkannya dengan jasa pos ke alamat orang-orang yang kita sayang. Lebih repot, sudah jelas. Tapi sebanding kok, dengan rasa puas di saat keluarga atau teman-teman kita menerima kartu Natal kita itu.

3. Nonton film-film bertema Natal
Film bertema Natal biasanya identik dengan cerita keluarga dan komedi yang ringan dan pas banget menemani saat-saat istirahat kita bareng keluarga atau teman-teman. Tambahannya lagi, pasti ada ‘pelajaran’ atau makna penting yang bisa sekalian jadi renungan.

4. Nongkrong di coffee shop sekedar buat menikmati segelas cappucino / hot chocolate sambil dengerin Christmas carol
Entah hal ini saya rasakan sendiri atau tidak, tapi mendengarkan Christmas carol selalu berhasil membuat hati saya menjadi damai. Mungkin karena lagu-lagu Natal mempunyai spirit tersendiri yang berbeda dengan lagu biasa. Apalagi kalau mendengarkan Christmas carol ditemani secangkir cappucino atau hot chocolate yang masih mengepul. Tenangnya maksimal.

5. Hunting kado Natal
Walaupun tradisi memberikan kado Natal di Indonesia bukan merupakan hal wajib, tapi enggak ada salahnya kan, berbagi keceriaan di moment bahagia. Kalau selama ini kita terkesan kurang perhatian sama orangtua, saudara, atau teman, sekarang lah saatnya ‘menebus dosa’. Enggak perlu mahal, kado sederhana yang diiringi perasaan tulus pasti membuat mereka senang dan terharu. Lebih seru lagi kalau bikin acara tuker kado, dengan persyaratan (misal: harga kado enggak boleh lebih dari Rp 50.000,-).

6. Coba membuat beberapa hidangan khas Natal
Mungkin selama ini kita dan keluarga punya tradisi dinner di restoran sehabis kebaktian atau misa Natal. Kenapa enggak coba mengganti tradisi tersebut tahun ini, dengan makan di rumah? Lebih asik lagi kalau bisa masak bareng anggota keluarga. Googling resep hidangan khas Natal, terus praktekin dengan cara bagi-bagi tugas. Soal enak atau enggaknya, doesn’t really matter. Yang penting kan, keakraban selama proses memasak.

7. Berbagi keceriaan Natal dengan saudara-saudara yang kurang beruntung
Natal adalah moment awal pengorbanan Yesus yang diutus menjadi manusia untuk menebus dosa-dosa umatn-Nya. Jelas, moment gembira ini harus bisa dirasakan semua orang. Caranya sederhana kok, dengan berbagi kebahagiaan dan rejeki kita kepada saudara-saudara yang kurang beruntung. Bisa dengan memberikan kado Natal untuk anak-anak panti asuhan, merayakan Natal di panti jompo, atau menyumbang mainan dan buku ke lembaga yang memperhatikan anak-anak kurang beruntung.

8. Ajang perenungan dan membuat resolusi tahun baru
Tidak ada yang melarang kita merayakan Natal dengan pesta. Tapi bukan berarti kita lupa dengan makna Natal yang sebenarnya. Apalagi Natal juga jatuh di akhir tahun, sehingga pas rasanya kalau kita sekalian memanfaatkan moment ini untuk merenungkan apa saja yang sudah kita lakukan selama setahun ke belakang, sekaligus mulai membuat resolusi untuk tahun yang akan datang. Pasti Natal kita jadi lebih bermakna dan berkesan.

Pictures : weheartchristmas.tumblr.com | sleigh-ride.tumblr.com | favim.com | redletterchristians.org | home-biba.blogspot.com

29 November 2012

Pribadi (tak) Bertopeng



Salahkah pribadi-pribadi yang menunjukkan karakter mereka sesungguhnya?
Hanya karena mereka ingin dilihat sebagaimana mereka
Karena mereka tidak bisa memainkan watak pribadi lain
Karena mereka terlalu lelah menampakkan ekspresi kepalsuan
Tertawa di depan orang yang mempermainkan emosi
Tersenyum bagi si pembawa perih dan kekecewaan

Lantas mereka dilabeli yang aneh-aneh
Sarkastik, sinis, judes, entah apa lagi
Hanya karena mereka tidak terbiasa berakting manis demi memuaskan khalayak
Karena mereka muak dengan sosok seperti itu dan tidak ingin menjadi bagian dari kumpulan itu
Karena mereka bosan tertipu kebaikan yang sifatnya fana

Sayangnya manusia lebih senang dipuaskan dengan kebohongan
Meski kebohongan itu akhirnya menjelma jadi racun yang perlahan mencekik
Sayangnya manusia lebih senang menjauhi pribadi-pribadi tak bertopeng
Meski tersimpan ketulusan di dalamnya

Picture : imgfave.com

22 November 2012

Live Well, Love Much, Laugh Often



Moment yang selalu membuat saya bahagia adalah di saat bisa menghabiskan waktu bersama dengan sahabat-sahabat saya.
Di saat kami bisa mengobrol non stop tanpa kenal kata lelah. Di saat kami bisa tertawa dan bercanda seakan tidak pernah merasakan kesedihan dunia.
Setelah berpisah dengan mereka pun, saya akan jadi lima kali lipat lebih bawel dari biasanya. Lebih bersemangat dan lupa dengan rasa capek (misal setelah seharian berjalan memakai high heels).
Sering membaca berbagai artikel, akhirnya saya mengetahui penyebab perasaan bahagia itu.
Hormon endorfin.
Entah bagaimana manusia tanpa hormon ini. Muram sepanjang hari? Mungkin saja.
Kata endorfin/endhorphine berasal dari ‘endogenous’ dan ‘morphine’, yang berarti morfin alami yang dihasilkan oleh manusia sendiri, tepatnya dari kelenjar hipofisis dan hipotalamus yang terletak di dasar tengkorak.

Singkatnya, hormon endorfin merupakan senyawa kimia yang membuat seseorang bisa merasa bahagia. Hormon ini bertindak seperti morfin, bahkan dikatakan efeknya dua ratus kali lebih besar dari morfin.

Selain membuat happy, hormon ini juga memiliki banyak manfaat. Di antaranya adalah mengatur produksi hormon pertumbuhan dan seks, mengendalikan rasa nyeri dan sakit yang menetap, mengendalikan perasaan stres, serta meningkatkan sistem kekebalan tubuh.

Endorfin tidak tercipta begitu saja. Kita perlu melakukan beberapa usaha, karena endorfin baru akan muncul apabila cadangan glukosa dalam tubuh mulai habis. Otot tubuh membutuhkan oksigen yang cukup untuk membakar glukosa menjadi adenosine triphospate (ATP) yang akan diubah menjadi energi yang dibutuhkan oleh sel-sel tubuh kita. Ketika glukosa habis, barulah lemak dibakar. Pada saat glukosa habis dibakar inilah endorfin mulai muncul. That’s why, melakukan olahraga (seperti jogging) bisa membuat kita merasa senang dan nyaman.

"Always laugh when you can. It is cheap medicine." - Lord Byron
Source : wikipedia.com | herrypenulis.blogspot.com
Picture : google.com.br

13 November 2012

Hanya Pemain



Lucu.

Akhirnya kita sampai pada fase hubungan semacam ini.

Saat aku dan kamu bisa melafalkan nama satu sama lain tanpa rasa canggung. Saat aku dan kamu bisa bertukar kata dalam harmoni. Saat aku dan kamu bisa saling menatap dalam damai, tanpa duka pun pula rasa sesal yang dulu sempat hadir.

Jalan pikiran Tuhan sama misteriusnya dengan permainan kehidupan. Sama misteriusnya seperti kita. Ralat. Tak ada lagi ‘kita’. Yang ada hanya aku dan kamu. Dua pribadi yang tak lagi terlibat dalam hubungan romansa, tapi tetap bergumul entah dalam hubungan jenis apa.

Lucu.

Bagaimana selama belasan tahun namamu selalu disandingkan dengan namaku. Tapi nyatanya itu bukan takdir. Aku dan kamu dipertemukan sejak masih belum mengerti permainan dunia. Aku dan kamu hanya memainkan bagian masing-masing.

Rasa itu usai sudah. Yang tersisa hanya kenangan untuk diingat dalam tawa.

Aku dan kamu, hanya bidak dalam permainan dunia.

Picture : xoxjustsmilexox.tumblr.com

02 November 2012

Comfort Zone



Kebanyakan manusia memilih untuk stay dalam comfort zone mereka masing-masing. Untuk apa keluar dari zona aman, hanya untuk pindah ke zona lain yang belum teruji apakah aman atau tidak. Untuk apa mengorbankan kebiasaan lama yang sudah menjadi bagian kehidupan kita, hanya untuk menjalani aktivitas lain yang belum tentu membawa perbaikan, atau malah mendatangkan masalah?

Pemikiran semacam itu sangat wajar timbul setiap kali kita hendak move on dari comfort zone. Masing-masing manusia punya definisi berbeda mengenai comfort zone. Sama seperti selera dan opini. Bentuk comfort zone pun bervariasi, mulai dari yang paling sederhana seperti sarapan dengan roti, sampai pada hal yang sangat krusial seperti memutuskan untuk berhenti kerja kantoran demi memulai usaha sendiri.

Saya senang melihat segala sesuatu dari sisi yang paling sederhana.  Termasuk soalcomfort zone.
Yang termasuk comfort zone saya adalah berambut panjang. Setelah melewati masa balita, saya selalu bertahan dengan rambut lurus-hitam-panjang (sepunggung). Tidak seperti teman-teman cewek saya yang suka ke salon entah itu untuk potong rambut atau melakukan berbagai treatment lain, saya baru akan pergi ke salon di saat benar-benar ingin menggunting rambut.
Sampai akhirnya suatu hari, tepatnya sehari setelah ulang tahun saya yang ke-19, saya memutuskan untuk memotong rambut yang saat itu bisa dikatakan rambut terpanjang saya selama ini.
Sama seperti biasanya, saya hanya akan menggunting rambut saya tidak lebih dari lima senti, sampai-sampai lebih sering terlihat tidak ada bedanya antara sebelum dan sesudah gunting rambut. Saat itu pun saya mengatakan kepada kapster bahwa saya ingin memotong rambut saya sekitar satu jengkal.
Yang terjadi selanjutnya benar-benar di luar dugaan saya. Saya terlambat menyadari bahwa rambut saya sudah digunting hampir separuhnya. Sempat syok, tapi akhirnya saya menguatkan hati dan terus mengatakan ‘tidak apa-apa’ kepada diri saya sendiri.
Hari-hari awal, saya sempat merasa aneh dan tidak pede dengan rambut sebahu saya. Terakhir kali rambut saya sependek ini saat berusia tiga sampai empat tahun, dan itu berarti sudah hampir lima belas tahun yang lalu. Tapi mau diapakan lagi, rambut saya sudah terlanjur digunting. Saya bisa saja melakukan hair extension. Tapi rambut saya yang pertamanya terlihat aneh karena istilahnya masih ‘belum nurut’, perlahan tidak lagi terlihat aneh. Beberapa orang sempat kaget melihat rambut pendek saya, tapi tidak ada yang mengatakan jelek. Hanya belum terbiasa, begitu kata mereka.

Walaupun bisa dikatakan sebagai ‘kecelakaan’, saya tidak menyesal sama sekali. Kalaukapster itu tidak terlalu ‘bernafsu’ menggunting rambut saya, mungkin sampai bertahun-tahun ke depan saya akan tetap bertahan dengan rambut panjang. Padahal surprisingly, short hair is not that bad.
Hal sesederhana ini juga bisa diaplikasikan pada hal yang lebih krusial.
Karena kita sudah terlalu nyaman dan aman dalam comfort zone kita, kita jadi terlalu ‘betah’ dan tidak ingin beranjak. Padahal keluar dari comfort zone sekali-sekali dapat memberikan perubahan. Maybe the life changing one.

Tempat di luar comfort zone yang dalam bayangan kita akan menjadi tempat yang menyeramkan, bisa jadi memberikan banyak pengalaman berharga yang tidak akan kita dapatkan kalau terus-terusan stay dalam comfort zone.
Kalaupun ternyata kita ‘celaka’ di luar sana, setidaknya kita mendapat kesempatan untuk belajar dari ‘kecelakaan’ tersebut.
"Sometimes, being out of your comfort zone is a good thing." - Frost Nixon (2008)
Picture: piccsy.com