21 September 2011

Pulang ke 'Rumah'



Hampir sebulan ini, saya merasa ada sesuatu yang hilang.
Saya merasa seperti robot. Bangun tidur, kuliah (kadang benar-benar belajar, kadang menjadi tubuh tanpa raga dan pikiran di dalam kelas), pulang, tidur. Begitu terus selama berhari-hari. Segala hal yang saya lakukan seperti tidak memiliki arti. Waktu terus berjalan, saya merasa semakin tak karuan.
Saya sempat bertanya kepada diri saya sendiri ‘Apa saya sudah melupakan tujuan hidup saya?’ dan ‘Ke mana rencana-rencana yang selama ini sudah terpetakan dengan begitu jelas dalam pikiran saya?’.
Kalau dulu saya menulis hampir setiap hari, dengan perasaan gembira dan bersemangat. Sekarang saya hanya menulis kurang dari satu jam, itupun karena tuntutan pekerjaan dan status. Menulis, hal yang selama ini menjadi bagian hidup saya, perlahan mulai hilang begitu saja. Saya menulis karena kewajiban, bukan lagi karena saya suka dan saya mau. Begitu melihat layar putih microsoft word saja tangan saya sudah kaku. Pikiran pertama yang mencuat adalah rasa tidak niat yang mendominasi.
Saya takut, akan ada hari di mana saya tidak lagi merasa menulis adalah comfort zonesaya. Saya tidak mau itu terjadi. Saya tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
Waktu, tugas kuliah, inspirasi, dan berbagai hal lain menjadi kambing hitam. Semuanya menjadi semacam pembenaran atas tindakan ‘gila’ saya yang melarikan diri dari rumah. Ya, saya mengumpamakannya dengan kabur dari rumah.
‘Rumah’ adalah tempat di mana kita merasa nyaman. Rumah yang saya maksudkan di sini bukan rumah dalam bentuk fisik. Keluarga dan sahabat, mereka lah 'rumah' kita. Tidak peduli di manapun, asalkan bersama mereka, kita merasa seperti kembali ke 'rumah', karena kita merasa nyaman. Begitu pula dengan menulis. Bagi saya, menulis adalah 'rumah', karena saya merasa nyaman ketika menulis.
Tapi kemudian, sebulan ini, saya malah melakukan aksi melarikan diri dari 'rumah'. Saya lari sejauh-jauhnya, sekencang-kencangnya dari 'rumah' saya. Meninggalkan semua kenyamanan, untuk pergi entah ke mana. Ke tempat yang sama sekali tidak jelas. Seperti melayang. Saya hampa, saya tersesat.
Sampai kemudian sesuatu menyadarkan saya. Seperti marka jalan, sesuatu ini memberi peringatan bahwa saya sudah berjalan terlalu jauh. Bahwa saya berjalan semakin dekat kepada jurang kehancuran.
Hanya orang nekad (atau bodoh?) yang memilih sesuatu yang belum jelas, padahal segala sesuatu yang baik sudah ada dalam genggamannya.
Tiba saatnya bagi saya untuk berhenti berlari. Sudah cukup waktu yang saya sia-siakan untuk sesuatu yang tidak jelas. Saatnya saya kembali ke jalur yang benar, jalur yang akan mengantarkan saya kembali ke 'rumah' saya.
Kenapa dulu saya bisa memiliki banyak ide cerita, tapi sekarang tidak? Kenapa dulu, sesibuk apapun saya, seletih apapun saya, saya masih bisa menghasilkan paling tidak suatu karya dalam bentuk tulisan? Apa bedanya dengan sekarang? Inspirasi bisa dicari dari segala sesuatu yang ada di sekeliling. Masih ada dua puluh empat jam dalam sehari.
NIAT dan KEMAUAN. Itu kuncinya. Sejenius apapun seseorang, dia tidak akan mungkin bisa berhasil tanpa ada kedua hal tersebut. Segala penemuan manusia di dunia ini terjadi karena ada NIAT dan KEMAUAN. Dua hal krusial tersebutlah yang bisa mengubah hidup seseorang, bahkan hidup jutaan orang di luar sana.
Saatnya saya menghentikan pelarian ini sekarang juga. Saatnya saya mencari penunjuk jalan bernama NIAT dan KEMAUAN. Saatnya saya kembali menjadi 'manusia', bukan lagi robot bernapas. Saatnya saya pulang ke 'rumah'...
Picture : odnoklassniki.ru

14 September 2011

Officially 18th





Rasanya baru kemarin saya merayakan ulangtahun yang ke-17. Dan sekarang usia saya sudah 18. Entah mengapa rasanya 365 hari berlalu dengan sangat cepat. Banyak yang telah terjadi selama setahun ini. Usia 17 adalah fase di mana saya merasakan banyak sekali pengalaman baru, perubahan, juga harus beradaptasi dengan cepat. Dimulai dengan masa-masa pra hingga pasca kelulusan, sampai akhirnya status saya kini resmi menjadi mahasiswi.

Pada hari ini pula, saya disadarkan akan satu hal. Hal yang mungkin saya nilai sepele selama ini, tapi nyatanya cukup krusial. Perhatian.

Mulai pukul sebelas malam tanggal 12, sudah ada beberapa orang yang mengucapkan selamat via Facebook. Sampai beberapa menit sebelum pergantian tanggal 13 pun, ucapan selamat terus berdatangan mulai dari secara langsung, via telepon, BlackBerry Messenger, Twitter, Facebook, dan SMS. Bahkan beberapa di antara orang yang mengucapkan selamat melalui Facebook tidak pernah saya kenal.

Kenyataan ini benar-benar menohok saya. Selama ini, ketika membaca e-mail notifikasi kiriman Facebook yang berisi tentang siapa saja teman saya yang berulang tahun dalam seminggu ke depan, saya tidak begitu menaruh perhatian. Apalagi kepada orang yang tidak saya kenal, yang entah mengapa bisa ada dalam daftar teman saya. Saya selalu berpikir ‘Saya tidak mengenalnya, jadi untuk apa mengucapkan selamat ulang tahun?’. Sungguh, egois sekali diri saya ini.

Tanpa dapat dielakan, setiap kali saya membaca ucapan selamat, entah dari siapapun orangnya, kenal ataupun tidak, saya sudah sangat senang. Berlebihan? Mungkin. Tapi saya senang karena menyadari banyak orang yang menaruh perhatian kepada saya. Se-simple apapun ucapan itu, seperti hanya tulisan ‘Happy birthday’, atau yang disertai serangkaian doa, semuanya menunjukkan perhatian mereka terhadap eksistensi saya. Bahwa mereka ikut mendoakan saya di hari spesial saya.

Perasaan bersalah mengganjal di hati saya. Betapa kurang pedulinya saya selama ini. Hanya mengetik ucapan selamat, tidak akan membuat jari saya patah. Hanya perlu beberapa detik dari waktu selama 24 jam yang saya miliki dalam sehari. Apa susahnya itu semua? Mengapa saya perhitungan sekali? Kalau saya kenal, maka saya baru akan memberi selamat?
Lebih perhatian kepada orang-orang di sekitar saya. Itulah PR saya di usia 18 ini.

Untuk itu, saya mencoba untuk sedikit ‘menebus dosa’ dengan membalas ucapan mereka satu per satu. Ada beberapa orang yang memilih untuk membalas ucapan selamat lewat statusnya (contoh : Thank’s for the wishes, guys), atau meng-copy-paste ucapan terima kasih kepada setiap orang yang memberi selamat. Itu hak mereka, sepenuhnya terserah mereka. Tapi saya memilih untuk membalas satu per satu, dengan bahasa yang berbeda-beda, karena saya ingin mereka tahu, saya sangat menghargai perhatian mereka. Tidak hanya dilatarbelakangi formalitas semata. Saya menulis ‘terima kasih’ karena memang saya benar-benar berterima kasih. Even though i’m so careless to people around me, they still pay attention to me.

Mulai sekarang, saya akan lebih perhatian lagi kepada orang-orang di sekitar saya. Karena saya telah merasakan sendiri, sebuah perhatian, sekecil apapun itu, mampu membuat sebuah senyuman merekah di wajah si penerima perhatian, bahkan mungkin mampu menghangatkan perasaan mereka.

Thank you for all the birthday wishes! I’m so blessed to be surrounded by great person like all of you -xoxo-

Picture : private collection

07 September 2011

Mendapatkan Apa yang Kita Butuhkan



Saat kita meminta sesuatu kepada Tuhan, kemudian apa yang kita nantikan itu tidak kunjung datang, tidak juga terwujud, kita langsung marah. Kita langsung menuding Tuhan itu tidak adil, tidak lagi sayang kepada kita. Berbagai tudingan lain kita keluarkan, semata-mata demi mencurahkan protes kita, menunjukkan amarah kita. Kita seolah diracuni dengan paradigma "Segala sesuatu yang kita minta dalam doa kita akan dikabulkan oleh Tuhan". Sebuah paradigma yang menyedihkan.
Karena kenyataannya, tidak semua yang kita minta pasti akan dikabulkan. Tuhan lah yang menciptakan kita. Tuhan itu Maha Besar, Maha Agung, Maha Adil, maha segala-galanya. Dialah yang paling tau apa yang terbaik untuk segala ciptaan-Nya. Oleh sebab itu, Tuhan pasti punya alasan kuat mengapa Ia tidak mengabulkan doa kita.
Ada banyak kemungkinan. Bisa jadi, memang cara kita meminta yang salah. Atau bisa juga, Tuhan punya pertimbangan lain. Tidak memberikan apa yang kita minta bukan berarti Ia tidak lagi menyayangi kita. Justru, itulah bukti cinta-Nya yang begitu besar. Cara berpikir kita dengan Tuhan jauh berbeda. Apa yang menurut kita baik, belum tentu baik pula di mata-Nya. Mungkin karena itulah Tuhan tidak memberikan apa yang kita minta. Pastinya Tuhan tengah merencanakan sesuatu yang jauh lebih indah, sesuatu yang sesuai dengan apa yang kita butuhkan. Atau mungkin, waktunya yang belum tepat. Kita manusia begitu kecil di hadapan Tuhan. Karenanya, kita tidak mampu menebak apa yang sedang Ia siapkan untuk kehidupan kita.
Bahkan ada saatnya di mana kita sudah lupa akan permohonan kita tersebut. Tapi tidak begitu dengan Tuhan. Ia akan selalu ingat dengan apa yang dibutuhkan oleh ciptaan-Nya. Bahkan tanpa kita meminta pun, sudah berapa banyak kelimpahan yang Ia berikan kepada kita? Tidak terhitung! Tanpa meminta nafas kehidupan, hari baru, udara-matahari-air untuk bertahan hidup pun, Tuhan sudah memberikannya secara cuma-cuma.
Saya suka sekali dengan ilustrasi di bawah ini. Sebuah ilustrasi yang menampar saya. Menyadarkan saya dari paradigma berpikir saya yang menyedihkan. Menanamkan pengharapan baru, sukacita baru. Mendekatkan diri saya pada Tuhan :
Aku meminta setangkai bunga segar pada Tuhan, 
Ia memberiku kaktus berduri. 
Aku meminta binatang mungil nan cantik pada Tuhan, 
kemudian Ia memberiku ulat bulu. 
Aku sempat sedih! Protes! 
Dan aku kecewa... 
Betapa tidak adilnya Tuhan. 
Namun kemudian, lama-kelamaan kaktus itu mulai berbunga. 
Sangat indah! 
Dan ulat bulu itupun tumbuh, 
menjadi kupu-kupu yang sangat cantik.
Itulah jalan Tuhan, indah pada waktunya. 
Tuhan tidak memberi apa yang kita inginkan, 
namun memberikan apa yang kita perlukan. 
Kadang kita sedih, kecewa, terluka. 
Tapi jauh di atas segalanya, 
Ia sedang merajut yang terbaik untuk kehidupan kita.
Aku meminta kekuatan, 
dan Tuhan memberiku kesulitan untuk kuhadapi agar aku menjadi lebih tegar. 
Aku meminta kebijaksanaan, 
dan Tuhan memberiku permasalahan untuk kuselesaikan agar aku berpikir. 
Aku meminta kesejahteraan, 
dan Tuhan memberiku otak dan tenaga supaya aku bisa bekerja. 
Aku meminta keberanian, 
dan Tuhan memberiku rintangan untuk kuhadapi. 
Aku meminta cinta, 
dan Tuhan memberiku orang-orang bermasalah untuk kutolong dan kusayangi. 
Aku meminta kemurahan hati, 
dan Tuhan memberiku kesempatan. 
Aku tidak mendapatkan apa yang kuminta. 
Aku tidak mendapatkan apa yang kuinginkan. 
Tapi aku mendapatkan apa yang kubutuhkan.
Karenanya, ketika kita merasa tidak bisa mendapatkan apa yang kita inginkan, inginkanlah apa yang kita dapatkan. Dengan begitu, kita akan mensyukuri apapun yang kita peroleh.
Picture : flickr.com

31 August 2011

Tersesat Itu Nikmat



Saya melihat judul serupa di sebuah situs, dan langsung merasa bahwa kalimat ini benar-benar menggambarkan pemikiran saya.
Saya punya banyak pengalaman berhubungan dengan tersesat. Berkali-kali saya membawa teman-teman saya ikut tersesat bersama saya.

Pernah suatu saat rencana awal akan hunting fashion items murah meriah di Pasar Melawai, kemudian malah tersesat kesana-kemari bersama seorang sahabat saya.
Pun pula suatu ketika saat sedang mencari alamat sebuah stasiun radio dalam rangka menggalang sponsor acara pensi sekolah, masih di wilayah Jakarta Selatan (maklum, saya 'anak Barat' *pembelaan*).
Itu hanya dua penggalan kisah dari sekian banyak kejadian. Dan selalu, ketika teman-teman saya sudah mengeluh karena lagi-lagi saya 'menjerumuskan' mereka, saya akan berkelakar, kalau saya tidak menyebabkan mereka tersesat, mereka tidak akan menemukan sesuatu yang baru. Omongan saya memang sekadar ditujukan untuk bercanda, tapi tidak asal bicara. Saya bisa menjelaskan kenapa.
Menurut saya, tersesat malah sesuatu yang patut dinikmati. Dengan tersesat, bukan tidak mungkin kalau kita bisa menemukan banyak hal baru yang tidak akan kita temukan jika kita tidak tersesat. Setidaknya, kita mendapat bonus bisa mengetahui lebih banyak tempat, lebih banyak alternatif cara mencapai tempat tujuan awal kita.
Entah orang lain berpendapat apa soal tersesat. Mungkin karena pada dasarnya saya adalah tipe orang yang suka tantangan dan suka mencoba hal baru, saya jadi menikmati ketersesatan itu sendiri. Prinsip hidup saya : coba hal baru sebanyak-banyaknya, selama masih dalam konotasi positif tentunya.


Namun jangan lantas menyamakan tersesat dalam perjalanan dengan tersesat dalam perjalanan hidup. Tersesat dalam perjalanan hidup lebih banyak berujung pada hal negatif,trust me. Sesekali tersesat mungkin masih wajar, dan bisa menjadi bahan pembelajaran agar lebih baik lagi ke depannya. Tapi kalau tersesat berkali-kali, tentu akan menghambat perjalanan kita mencapai tujuan hidup itu sendiri, bukan? Saran saya, slogan 'tersesat itu nikmat' dipertahankan hanya ketika kita sedang travelling saja ;)

Senangnya begitu mengetahui kalau TV channel sekaliber National Geographic Adventure pun memiliki opini yang sama dengan saya tentang 'tersesat'. Mereka bahkan menggunakan slogan "Let's Get Lost".



Pictures : sunshineandstarlight.wordpress.com | tumblr.com

Video courtesy of Youtube

17 August 2011

Indonesia = KITA



HUT RI bukan hanya menjadi waktu di mana kita mengadakan upacara atau mungkin menonton liputan upacara di seluruh stasiun TV. HUT RI juga bukan hanya menjadi ajang untuk bersenang-senang dengan berbagai perlombaan, mulai dari bakiak, balap karung, makan kerupuk, panjat pinang, dan sebagainya.

Peringatan HUT RI justru harusnya membuat kita merenungkan kembali, apa benar kemerdekaan yang berhasil direbut oleh bangsa ini 66 tahun yang lalu sudah benar-benar terwujud? Atau selama ini kita hanya mampu berteriak 'Merdeka!', padahal sesungguhnya kita belum merasakan kemerdekaan itu sendiri. Penjajah kita saat ini bukan lagi Belanda atau Jepang, tetapi bangsa ini sendiri. Justru itulah yang jauh lebih berbahaya. 

Bagaimana budaya KKN terus mendarah daging, bagaimana kemiskinan masih merajalela, bagaimana konflik antar etnis dan golongan terus menghiasi berbagai media pemberitaan.
Apa itu, arti merdeka yang sesungguhnya? Saya rasa tidak.

Itulah tugas KITA SEMUA. Bukan tugas pemerintah, bukan tugas warga negara. Tugas KITA. Tidak akan ada gunanya memaki-maki koruptor. Mulailah perubahan itu dari diri kita sendiri. Kalau semua orang berubah menjadi lebih baik, saya percaya dan yakin Indonesia bisa benar-benar merasakan kemerdekaan.

Ayo kita membangun bangsa ini menjadi lebih baik lagi dimulai dari diri kita masing-masing!
DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA KE-66

“Indonesia merdeka bukan tujuan akhir kita. Indonesia merdeka hanya syarat untuk bisa mencapai kebahagiaan dan kemakmuran rakyat. Indonesia merdeka tidak ada gunanya bagi kita, apabila kita tidak sanggup untuk mempergunakannya memenuhi cita-cita rakyat kita: hidup bahagia dan makmur dalam pengertian jasmani maupun rohani. Maka dengan tercapainya penyerahan kedaulatan, perjuangan belum selesai. Malahan kita berada pada permulaan perjuangan yang jauh lebih berat dan lebih mulia, yaitu perjuangan untuk mencapai kemerdekaan daripada segala macam penindasan…” -Mohammad Hatta, sidang pleno KNIP (19 Desember 1949)

Picture : private collection

16 August 2011

Tersebar Mengejar Gelar



Hidup tidak berhenti di SMA. Justru sekarang lah awal dari sesuatu yang baru.

Kita tersebar demi mengejar gelar. Namun bukan gelar yang menjadi target utama dan satu-satunya. Perjuangan untuk meraihnya adalah yang terutama.

Tidak dapat digantikan dengan serentetan gelar mulai dari SE, SH, MM, bahkan profesor sekali pun. Karena harta berharga yang tidak akan habis sampai kapan pun adalah kenangan dan pengalaman. Bagaimana jatuh bangunnya berkutat dengan berbagai mata kuliah, bagaimana ups and down-nya semangat belajar.

Ayo kita bersama memulai hari-hari sebagai mahasiswa. Berusaha bersama menjalani masa-masa ini sebaik mungkin, mengisinya dengan hal-hal positif dan bermanfaat. Mengumpulkan pengalaman dan ilmu sebanyak-banyaknya. Membangun relasi sebaik-baiknya.

Picture : forbes.com

31 July 2011

50 : 50



Sejak Oktober tahun lalu, sewaktu teman-teman saya masih bingung hendak mengambil jurusan apa untuk kuliah, saya sudah bisa santai karena sudah diterima di jurusan akutansi fakultas ekonomi sebuah universitas swasta di Jakarta Barat. Sebetulnya saya mengincar Universitas Indonesia jurusan yang sama atau jurusan jurnalistik di Universitas Padjajaran. Tapi karena terbentur beberapa hal, keinginan itu kandas dengan sendirinya. 
Di saat tinggal menghitung hari menuju hari pertama saya sebagai mahasiswi, saya malah dibuat pusing. Saya dihadapkan dengan dua jurusan. Akuntasi atau jurnalistik. Keduanya di universitas yang sama. Orangtua saya mendukung apapun pilihan saya. Tapi yang membuat saya bingung adalah, saya sama-sama menyukai dua bidang tersebut. 
Saya merasa antusias dihadapkan dengan jurnal, juga menghitung jumlah debet dan kredit. Tapi di lain sisi, saya sudah jatuh hati dengan dunia menulis, dan jurnalistik memungkinkan saya semakin akrab dengan dunia tersebut. 
Hidup menawarkan banyak pilihan. Dan sekarang, saya kebingungan karena salah satu pilihan dalam hidup saya yang datang secara tidak terduga. Pilihan yang tidak semudah memilih akan memakai baju apa saat hangout. Pilihan yang sulit dan membutuhkan pemikiran matang, karena berhubungan dengan masa depan saya.
Kemudian saya teringat salah satu kalimat dalam Dream High. Maaf kalau akhir-akhir ini saya sering mengungkit drama seri ini. Tapi memang banyak sekali hal yang saya pelajari selama menonton Dream High. Ada satu bagian di mana salah satu tokoh utamanya sedang dihadapkan pada dua pilihan sulit, kemudian sahabatnya pun memberikan nasihat.
"Tidak ada pilihan yang mudah. Peluangnya 50 : 50. Karena sulit dipilih, maka baru bisa disebut pilihan. Yang harus dilakukan adalah berusaha mengubah apa yang dipilih dari 50 menjadi 100. Berusaha membuktikan pada diri sendiri bahwa pilihan yang sudah diambil adalah pilihan yang tepat." -Jin Guk
Jadi, saya akan kembali memikirkan baik-baik kedua opsi ini dengan pikiran jernih dan terbuka. Saya tidak ingin lima atau sepuluh tahun mendatang harus menyesal karena pilihan yang saya buat. Apapun itu yang pada akhirnya menjadi pilihan saya, baik tetap pada jurusan akutansi atau pindah ke jurusan jurnalistik, saya akan memberikan yang terbaik dari diri saya. 
Saya akan belajar dengan sungguh-sungguh, mencari ilmu dan pengalaman sebanyak-banyaknya. Akan saya buktikan, bahwa apa yang telah saya pilih, adalah pilihan yang paling tepat bagi diri saya.
Picture : facebook.com

23 June 2011

I Know It's Kinda Late, but Happy Birthday



Ulang tahun Jakarta memang telah berlalu, karena keterbatasan waktu saya tidak bisa memposting opini saya ini tepat pada harinya. Tapi terlambat satu hari lebih baik daripada tidak sama sekali, bukan?

Tahun ini Jakarta genap berusia 484 tahun. Wow! Sebuah usia yang fantastis. Membutuhkan perjuangan luar biasa untuk mempertahankan kota ini selama sekian ratus tahun. Belum lagi dengan predikat sebagai ibu kota yang disandang.

Sebagai orang yang lahir dan besar di Jakarta, tentunya saya memiliki segudang pengalaman dengan kota ini. Mulai dari kenangan masa kecil yang begitu manis, sampai kejadian-kejadian yang membuat emosi membuncah.

Selama ini orang-orang terus mengeluh. Kemacetan, banjir, polusi, kriminalitas, kepadatan penduduk adalah beberapa masalah utama Jakarta. Tapi apa gunanya terus-menerus mengeluh tanpa melakukan apapun? Kita lah yang menjadi penyebab utama masalah-masalah tersebut. Bukan Jakarta yang salah, karena pada kenyataannya Jakarta tidak memiliki daya apapun untuk menyusahkan warganya. Kita lah yang menyusahkan diri kita sendiri, dan orang lain yang juga menjadi pengisi kota ini.

Lantas apa yang kemudian kita lakukan? Mengeluh sambil bertopang dagu? Mengadukan jeritan hati tanpa sadar kita semakin memperburuk keadaan?

Mungkin kebanyakan dari kita akan melemparkan tanggung jawab kepada para pembesar negara dan kota. Jakarta adalah ibu kota negara, sudah selayaknya mendapatkan treatment khusus. Karena banyak pusat pemerintahan yang berhubungan dengan luar negeri berada di kota ini. Karena banyak investor asing yang menanamkan modalnya pada perkantoran yang menjulang di kota ini. Karena Jakarta akan terus disorot, baik oleh seluruh penduduk Indonesia, maupun penduduk dunia.

Kalau saja pemda (pemerintah daerah) mau menggunakan dana yang tersedia sebagai mestinya, maka sarana dan prasarana Jakarta akan bisa disandingkan dengan ibu kota negara lain yang telah terlebih dulu sukses. Tapi semuanya itu percuma saja tanpa dukungan dan kerja sama dari kita sebagai penghuninya.

Mari kita ambil salah satu contoh. Pemda sudah menyediakan transportasi senyaman TransJakarta. Namun siapa yang membuatnya menjadi tidak nyaman? Semuanya kembali kepada para penggunanya, kepada para pengurusnya. Kalau saja kita mau tertib mengantri, mau tertib membuang sampah di tempatnya, mau terus waspada terhadap tangan-tangan jahil, maka kita akan merasakan kenyamanan transportasi massal tersebut. Kalau saja pengurusnya mau memeriksa kesiapan kendaraan secara berkala, mau menerapkan sistem yang lebih baik, mau menomorsatukan kepuasan konsumen, maka tidak akan ada kecelakaan atau malapetaka lainnya.

Coba kita berkaca, kenapa kendaraan semacam TransJakarta di negara lain bisa dimanfaatkan dengan baik? Bisa terasa nyaman dan aman? Jawabannya hanya satu :sumber daya manusia yang berkualitas, tertib, dan sudah siap menjadi dewasa seutuhnya.

Pertanyaannya, apa kita sudah siap menjadi penduduk yang dewasa seutuhnya? Seharusnya kita sebagai warga Jakarta ikut bertumbuh bersama kota ini. Teknologi semakin berkembang pesat. Kalau kita tidak bisa mengiringinya dengan perkembangan mental kita, maka sia-sialah sudah.

Kita bisa memperbaiki keadaan kota kita tercinta mulai dari diri kita sendiri. Tertibkan diri kita masing-masing. Selalu buang sampah di tempatnya. Sekarang ini tempat sampah sudah mudah ditemui di berbagai lokasi. Peka terhadap keadaan di sekeliling kita. Budayakan antri. Walau mungkin kata-kata ini terdengar kolot sekali, tapi memang inilah yang menjadi sifat jelek yang telah mendarah daging bagi sebagian besar warga Jakarta (atau Indonesia?).
Saya yakin, jika kita sudah bisa menjadi dewasa seutuhnya, maka Jakarta pun tidak akan kalah majunya dengan kota-kota lain di dunia. Saya percaya, dengan ketertiban yang dimulai dari tiap-tiap individu, Jakarta dapat tumbuh menjadi contoh yang baik sekaligus menjadi motivasi bagi kota-kota lain di Indonesia.


Selamat ulang tahun kotaku tercinta, Jakarta!
Selamat bertumbuh menjadi dewasa, warga Indonesia!

Dok : baliin-donesia.info | private collection

18 June 2011

Biru Tak Selamanya Air Mata



Selama ini, orang sering mengaitkan biru dengan kesedihan.

Blue = mellow.

Padahal tidak selamanya harus begitu. Biru dapat melambangkan banyak hal bail yang justru dapat membuat kita tersenyum.

Biru itu... langit


Coba sekali-sekali sempatkan menatap langit setelah bangun tidur. Pikirkan betapa beruntungnya kita masih diberikan kesempatan untuk bisa menjalani satu lagi hari baru. Bahwa masih ada langit yang begitu indah membentang di atas sana. Begitulah cara simple untuk bersyukur. Untuk menghargai waktu yang masih diberikan oleh Sang Pencipta. Untuk membuat hari baru menjadi bermakna.

Biru itu... laut


Tidak perlu menunggu libur panjang. Beberapa jam pun sebenarnya cukup untuk mengentaskan rasa jenuh yang melanda. Beristirahatlah sejenak di pantai. Rasakan halus butiran pasirnya. Nikmati kilauan biru lautnya. Atau kalau memungkinkan, kita bisa menjernihkan pikiran dengan berenang.

Biru itu... Doraemon


Ada saja bantuan yang tak pernah jemu diberikan oleh robot kucing satu ini. Sifat dasarnya yang periang dan suka menolong membuat siapa saja akan nyaman menjadi sahabatnya. Meskipun kita tidak bisa bertemu langsung dengan Doraemon, tapi kita bisa melihat pengalamannya bersama sahabat-sahabatnya lewat layar kaca setiap hari Minggu.

Biru itu... Facebook


Masih perlukah penjelasan kenapa jejaring sosial yang identik dengan desainnya yang serba biru ini bisa membuat kita bahagia? Coba kirim wall sekedar untuk menyapa atau bertukar cerita dengan teman yang jarang kita sapa di dunia nyata. Bisa pula dengan melihat-lihat koleksi foto dan video kita atau teman. Hal-hal sesimple itu biasanya sangat ampuh untuk membuat bibir kita tertarik membentuk seuntai senyum.

Biru itu... sapphire


Diamonds are a girl's bestriend. Tidak perlu muluk-muluk membeli bahkan sampai mengoleksinya. Minta saja bantuan Mr. Google untuk menemukan gambar-gambar blue stone ini. Mungkin sekarang kita memang belum bisa melihatnya secara langsung, tapi setidaknya dengan melihat gambarnya pun kita sudah bisa terhibur.

Warna biru terkenal sebagai lambang ketenangan. Jika kita sedang diliputi tekanan, pandangilah berbagai benda berwarna biru. Mengganti wallpaper komputer dengan gambar berdominasi warna biru juga bisa menjadi pilihan yang tepat.

Pictures : polyvore.com | favim.com 2 | picsandquotes.com | charissetish.tumblr.com | bellanaija.com | cameo-appearances.tumblr.com