02 March 2012

Kontributor Kehidupan



“In life, you’ll meet two kinds of people. The ones who build you up and the ones who tear you down. In the end, you’ll thank them both.”

Segala sesuatu yang terjadi di dunia ini selalu memiliki dua sisi yang berlawanan. Saya percaya itu. Seperti vice versa, yin & yang, dua sisi mata uang,  kutub utara dan kutub selatan, etc. Termasuk juga orang-orang yang datang dan pergi, masuk dan keluar dari kehidupan kita.
Ada yang menyukai kita, ada pula yang membenci kita. Ada yang menyanjung kita, ada pula yang menghujat kita. Ada yang memberikan dampak positif bagi kita, ada pula yang memberikan dampak negatif. Ada yang membuat kita tertawa bahagia, ada pula yang membuat kita sedih dan menangis.
Akan terus seperti itu, karena memang begitulah kehidupan. Kita tidak bisa membuat semua orang menyukai kita. Apa yang menurut si A merupakan kelebihan kita, bisa jadi menurut si B malah merupakan kelemahan kita.
Namun di balik itu semua, pada akhirnya setiap orang yang menyukai maupun membenci kita, akan menyumbangkan kontribusi penting bagi kita. Setiap orang yang menyanjung maupun menghujat kita, memiliki peranan masing-masing dalam perjalanan hidup kita. Setiap orang yang memberi dampak positif maupun negatif kepada kita, sama-sama layak mendapatkan ucapan terima kasih dari kita.
Orang-orang yang menyanyangi kita dengan tulus, membuat kita tidak berhenti bersyukur. Membuat kita mampu bertahan menghadapi hujatan atau kebencian dari orang di kubu yang berlawanan. Orang-orang yang membawa dampak negatif sekalipun, membuat kita bisa belajar untuk membedakan mana yang baik dan mana yang tidak. Bisa membuat kita menyadari adanya pilihan dan konsekuensi di balik pilihan tersebut. Orang yang membuat kita menangis atau sakit hati, bisa membuat kita semakin kuat dan ‘tahan banting’.
Jadi, jangan pernah merasa terganggu apalagi sampai depresi memikirkan berapa banyak orang yang membenci kita. Bahkan orang terbaik di dunia sekalipun, akan ada saja yang membenci. Begitu pula dengan orang terjahat di dunia, tetap saja ada minimal satu orang yang menyayanginya dengan tulus.
Selama orang yang menyukai kita jumlahnya jauh lebih banyak dibandingkan orang yang membenci kita, menandakan bahwa kita masih berada di jalur yang benar. Lebih baik memfokuskan pikiran kita kepada orang-orang yang menyayangi kita itu, daripada memenuhinya dengan ketakutan terhadap orang-orang yang membenci kita. Mereka punya hak untuk membenci kita. Itu semua urusan mereka, sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dengan kita.
Sebaliknya, selalu ingat untuk bersyukur dan mengubah segala hal negatif dalam hidup kita, menjadi sesuatu yang positif dan bermanfaat. Omongan para haters itu justru seharusnya bisa kita jadikan motivasi.
Kalau mereka mengatai kita bodoh, kita jangan malah ikut berpikir bahwa kita bodoh dan menjadi rendah diri apalagi terintimidasi karenanya. Justru waktunya kita untuk berusaha sebaik mungkin, agar suatu saat kita bisa menunjukkan kepada mereka bahwa kita tidak bodoh. Bahwa mereka tidak punya alasan untuk men-judge kita seenaknya. Bahwa tuduhan mereka itu salah besar. Tentunya hal tersebut baru bisa terwujud apabila kita mau terus belajar dan tidak membiarkan kata-kata orang lain menghentikan kita untuk bertransformasi menjadi pribadi yang lebih baik.
Picture : cruel-kid.blogspot.com

17 February 2012

Menulis dengan Bahagia



Editor majalah remaja di tempat saya bekerja sebagai tenaga freelance pernah berpesan, “Emosi saat kita menulis sesuatu dapat dirasakan oleh pembaca. Jadi, menulislah dengan gembira, jangan karena terpaksa, apalagi sambil mengomel.”
Saya menjadikan pesan itu sebagai pedoman sampai saat ini, karena saya sudah merasakan sendiri efeknya berulang kali.
Mungkin kita berpikir, komunikasi via SMS, BBM, Twitter, Facebook, Chat Messanger, atau media komunikasi non verbal lainnya bisa menyembunyikan emosi dan perasaan kita yang sebenarnya. Sayangnya yang terjadi tidak seperti itu.
Dengan berbalas pesan secara tulisan, sebenarnya kita sama saja sedang ‘berbicara’ dengan si pembaca. Memang tidak ada nada atau intonasi yang bisa didengar oleh orang tersebut. Tapi itulah kekuatan tulisan.
Saat kita menulis dalam keadaan bad mood atau kesal, maka si pembaca (dengan catatan pembaca tersebut normal secara pemikiran dan emosional), akan bisa menangkap emosi kita lewat tulisan tersebut. Kita bisa saja menambahkan emoticontersenyum, tertawa, atau ‘hehe’, ‘wkwk’, dan sebagainya untuk menyamarkan perasaan kesal kita, tapi pasti akan ada perbedaan dengan tulisan yang kita kirim di saat mood kita sedang baik. Terlebih kalau kita berbalas pesan dengan orang yang sudah sangat mengenal kita, atau dekat dengan kita.
Saya pernah menjadi si pengirim pesan, juga menjadi ‘korban’ alias pembaca. Berkomunikasi tanpa bertatap muka, kita tidak tahu apa yang sedang dilakukan oleh lawan bicara kita. Kita tidak bisa mengetahui apakah perasaannya sedang baik atau tidak. Bisa saja lawan bicara kita baru saja menghadapi masalah dengan orang lain, kemudian kita yang menjadi ‘sasaran pelampiasan’ karena kebetulan mengirim pesan di saat yang tidak tepat.
Biasanya, kalau saya sedang bad mood kemudian membalas pesan dari teman atau orang-orang yang sudah mengenal saya cukup baik, mereka seperti bisa merasakan bahwa mood saya sedang tidak bagus, meskipun saya mencoba menulis senormal mungkin. Seolah mereka berada di depan saya, dan bisa mendengarkan pesan tersebut keluar langsung dari mulut saya dengan intonasi yang tidak baik, lengkap dengan ekspresi keruh. Begitu pula saat giliran orang yang saya kirimi pesan kemudian membalas dalam suasana hati kurang bagus.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita lebih sering berbalas pesan dengan orang-orang yang sudah kita kenal sebelumnya, sehingga kemungkinan besar mereka bisa memaklumi keadaan kita. Tapi akan beda ceritanya kalau kita sedang berbalas pesan dengan orang penting. Contohnya, atasan di tempat kerja, perwakilan dari perusahaan tempat kita baru saja melamar, orangtua pacar, dosen pembimbing skripsi, dan orang penting lainnya. Bukannya malah akan menjadi boomerang bagi diri kita sendiri?
Terlebih lagi kalau kita bekerja di dunia penulisan, seperti jurnalis/reporter atau penulis. Pembaca yang membaca hasil tulisan kita, juga bisa merasakan emosi kita saat menulis. Misalkan kita menulis sebuah artikel yang tidak kita sukai, tidak kita kuasai materinya dengan baik, plus deadline yang singkat. Kemudian kita menulis artikel itu dengan terpaksa demi memenuhi kewajiban, sambil terus-menerus mengeluh, dengan perasaan kesal. Bukankah pembaca akan merasakan perasaan negatif itu?

Karenanya, usahakan sebisa mungkin untuk menulis dalam keadaan emosi yang terkendali, dan tentunya dengan senang hati. Kalau kebetulan saat itu mood kita sedang tidak baik, tenangkan diri terlebih dahulu. Saat merasa sudah lebih baik, baru balas pesan atau mulai menulis. Dengan begitu, orang yang membaca pesan atau tulisan kita tidak akan terkena imbas negatif.
Picture: lifestyle.allwomenstalk.com

15 February 2012

No More Anti Fans



Siapa bilang jadi artis itu enak karena punya banyak fans? Kenyataannya, enggak semua orang bisa suka sama sesuatu atau seseorang. Di balik fans loyal yang mengelilingi mereka, artis juga harus siap dengan aksi para anti fans (antis).

Who Are They?

Anti fans adalah kumpulan orang-orang yang enggak suka sama artis tertentu. Mereka biasanya mencari hal-hal yang bisa menjatuhkan artis yang mereka benci, bahkan juga melakukan aksi yang bisa mengganggu artis tersebut.

Antis membentuk forum tersendiri di dunia maya, tempat di mana mereka bisa menuliskan hal-hal jelek tentang artis yang enggak mereka suka, membuat parodi, dan melakukan hal lain demi mengekspresikan rasa benci mereka.

Alasan yang melatarbelakangi rasa benci mereka itu sering kali sama sekali enggak masuk akal. Contohnya, artis enggak suka sama HanGeng (eks Super Junior) karena dia orang Cina yang sukses di Korea. Ada lagi antis yang enggak suka sama MinHo SHINee karena matanya belo, enggak kayak orang Korea kebanyakan. Ya ampun, enggak make sense banget, kan?

Aksi Mengerikan Antis

Berbagai makian dan ancaman sih, udah biasa diterima oleh para artis. Contohnya, kasus yang menimpa Park JaeBum (Jay Park) mantan leader 2PM. Ada antis yang menemukan posting lama di akun MySpace Jay yang berisi kalimat kalau dia benci Korea. Hal ini langsung memicu emosi antis lain. Lebih dari tiga ribu orang menandatangani petisi ‘JaeBum should commit suicide’. Karena enggak tahan sama semua tekanan itu, Jay memutuskan keluar dari 2PM dan balik ke Amerika.

Enggak cuma itu, mereka bahkan nekad melakukan hal-hal yang bisa membahayakan nyawa artis yang mereka benci. Yoon EunHye yang terkenal lewat Princess Hours, pernah sampai mengalami kerusakan kornea mata karena ada antis yang menyemprotkan cairan kecap dan cuka tepat ke matanya dengan pistol mainan. Karena kejadian itu EunHye jadi takut banget sama antis dan trauma enggak mau foto sama fans.

YunHo TVXQ juga sampai harus masuk rumah sakit karena minumannya dicampur lem super oleh antis. Hiii, serem banget ya!

Enggak Cuma di Korea

Antis memang enggak cuma ada di Korea. Di negara lain juga ada, enggak terkecuali di Indonesia.
Seperti yang kita tahu, belakangan ini dunia musik Indonesia kebanjiran boyband dan girlband. Banyak orang yang anti banget sama boy/girl band  tertentu, karena menurut mereka boy/girl band itu plagiat boy/girl band Korea. Coba saja search di Google, kita bisa menemukan ratusan forum tempat antis boy/girl band Indonesia, di antaranya SM*SH, 7 Icons, CherryBelle, dan masih banyak lagi.

Memang sih, di Indonesia, aksi para antis belum sampai separah di Korea. Antis biasanya cuma memaki atau menuliskan hal-hal jelek tentang artis yang mereka benci. Tapi tetap saja, hal ini perlu jadi perhatian kita bersama, karena kalau dibiarkan, enggak menutup kemungkinan kejadian kayak di Korea bisa terjadi. Duh, jangan sampai deh…

What to do?

Enggak suka sama artis itu hal yang wajar. Enggak ada aturan supaya kita menyukai (atau disukai) oleh semua orang. Tapi akan jadi enggak wajar kalau kita membenci seorang artis (atau siapa pun juga) dengan terlalu berlebihan. Kalau enggak suka, ya udah, enggak usah nonton acara yang ada artis itu. Enggak perlu juga baca artikel soal mereka. As simple as that.

Sering kali, yang para antis ini lakukan malah sebaliknya. Mereka enggak suka, tapi buang-buang begitu banyak waktu untuk browsing buat cari kejelekan sang artis. Atau buang-buang waktu dan tenaga dengan mengedit foto buat menjelek-jelekkan, atau mengurus forum antis. Iiih… aneh banget, kan? Katanya enggak suka, jadi ngapain kita menghabiskan begitu banyak waktu untuk fokus sama orang yang enggak kita sukai?

In the end, kita semua punya hak buat enggak suka sama seseorang, tapi ingat, mereka juga punya hak buat terus berkarya, selama apa yang mereka lakukan enggak merugikan orang lain.

Buat apa sih, mengotori hati dengan mengurusi orang lain yang bahkan enggak mengenal kita secara langsung? Mending cari kegiatan lain yang lebih positif dan berkarya saja, yuk. Siapa tahu kita bisa sekeren atau bahkan mengalahkan orang yang kita benci. Pasti jadi ‘pembalasan’ yang jauh lebih oke.
(averina)


Dimuat di Majalah kaWanku No. 118/2012
Picture : glamromance.tumblr.com | dok : kaWanku

02 January 2012

Seniman Abadi



Detik bergulir
berlari meninggalkan insan penikmatnya
merangkak menyambut matahari baru
menjanjikan nuansa dekorasi semarak
dihiasi pita keyakinan, dibalut cahaya kepercayaan
memikat siapa saja yang terperosok ke dalamnya
tuk kagumi, nikmati, miliki.

Dunia ini fana
tiap menit, jam, hari
tiap minggu, bulan, tahun
semuanya hanya pengukur
pengontrol tiap penghuninya
'tuk kejar peti harta karun berlabel bahagia.

Hingar bingar pesta pora
pendaran cahaya menari di pekatnya langit
memamerkan keindahan sepintas
lalu hempaskan senyum itu tak tersisa
sadar kini kita sendiri
dengan sejumput asa, setumpuk dosa

Lanjutkan melukisi kanvas hidup ini
dengan cat aneka warna
hitam, putih, merah, biru, kuning
pilih yang mana kau suka
torehkan kuas tanpa kenal lelah
karena itulah kerja kita
pelukis hari, seniman abadi.

Averina Lita
1 Januari 2011

Picture : absolutivity.tumblr.com

26 December 2011

Untuk Dilindungi, Bukan Disakiti



Belakangan, berbagai media ramai memberitakan soal pembantaian orangutan di Kalimantan. Miris rasanya, kalau primata pintar yang enggak berdosa ini malah jadi korban akibat keserakahan manusia.

Orangutan hanya terdapat di Indonesia dan Malaysia, khususnya di hutan hujan Pulau Sumatera dan Kalimantan. Hewan ini termasuk golongan kera besar yang terbagi dalam dua spesies, yakni orangutan Sumatera (dengan nama latin Pongo abelii), dan orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Orangutan memiliki kekerabatan yang dekat sama manusia, karena kesamaan DNA sebesar 96,4%.

Orangutan hidup di atas pohon-pohon besar, dan jarang turun ke tanah. Mereka rajin berpindah dari satu pohon ke pohon lain (brachiating). Saat berpindah inilah, biji dari buah yang mereka makan berjatuhan dan menyebar di tanah, kemudian menjadi cikal bakal pohon-pohon baru. Itulah sebabnya orangutan disebut sebagai penjaga ekosistem hutan.

Orangutan ditetapkan sebagai hewan yang wajib dilindungi oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN), karena jumlah populasinya yang semakin mendekati kepunahan. Mereka membutuhkan waktu reproduksi yang terbilang lama untuk ukuran hewan. Orangutan betina biasanya melahirkan setiap 7-10 tahun sekali, dengan lama kandungan mirip manusia, 8.5 sampai 9 bulan. Setiap kali mereka melahirkan, hanya akan ada satu bayi orangutan. Umur orangutan di alam liar bisa mencapai 45 tahun, dan sepanjang hidup, mereka cuma bisa punya tiga anak.

Setelah proses kelahiran, bayi orangutan akan tinggal bersama induk mereka sampai umur enam atau tujuh tahun. Hubungan antara bayi orangutan dan induk mereka sangat dekat, karena sifat protektif dari sang induk. Selama masih tinggal bersama induk mereka, mereka akan diajarkan banyak hal, tentang bagaimana harus bertahan hidup di alam bebas.

Ancaman orangutan datang dari keserakahan manusia. Habitat mereka semakin sempit karena kawasan hutan hujan yang selama ini mereka tinggali dijadikan lahan kelapa sawit dan pertambangan. Pohon-pohon di hutan juga banyak ditebang buat diambil kayunya.

Orangutan kehilangan 80% wilayah habitatnya dalam waktu kurang dari 20 tahun. Mereka juga sering disakiti bahkan dibunuh para petani karena dianggap sebagai hama. Padahal, mereka cuma mau cari makan, karena makanan mereka di hutan udah enggak ada lagi.

Saking protektifnya induk orangutan terhadap anak mereka, para pemburu yang enggak punya hati itu tega membunuh induk orangutan, supaya bisa mengambil anak mereka dan menjualnya secara ilegal.

Kasus pembantaian orangutan di Kalimantan

Pembantaian orangutan secara massal di Desa Puan Cepak, Kutai Kertanegara, Tenggarong, Kalimantan Timur sudah dilakukan sejak tahun 2008, tapi beritanya baru ramai dibicarakan sekarang. Banyak ditemukan bangkai orangutan dalam kondisi mengenaskan, akibat disakiti oleh masyarakat sekitar atas perintah dari PT Khaldea Agroprima Mandiri. Baru-baru ini juga ditemukan fakta lain yang lebih menyedihkan, bahwa pembantaian tersebut bukan hanya dilakukan oleh manusia, tapi juga anjing pemburu yang terlatih.

Pemburu akan diantar oleh anjing pemburu ke lokasi yang terdapat banyak orangutan. Orangutan yang ada di kebun sawit akan dikejar oleh anjing pemburu. Kalau kabur, mereka akan ditembak dengan senapan angin atau ditombak sampai mati. Mayat orangutan difoto sebagai bukti ke perusahaan. Lewat foto itulah, mereka mendapat gaji 1,2 juta per bulan, plus 1 juta rupiah kalau berhasil membunuh orangutan. Benar-benar kejam dan enggak punya perasaan!

The real hero
Di balik kekejaman dan ketidakadilan tersebut, untungnya masih ada Biruté Galdikas (65), perempuan asal Jerman yang concern banget sama nasib orangutan. Beliau udah menulis beberapa buku tentang kelangkaan orangutan. Galdikas sampai di Kalimantan saat berumur 25 tahun. Sejak itu, beliau terus melakukan berbagai upaya untuk memencegah kepunahan orangutan dengan membangun pusat rehabilitasi. Bukan cuma itu, beliau juga membuat film dokumenter berjudul Born to Be Wild 3D (April 2011).

Trivia

- Tinggi orangutan sekitar 1.25-1.5 meter, sementara beratnya sekitar 50-90 kg (jantan) dan 30-50 kg (betina).
- Orangutan suka makan durian, madu, dan jamur.
- Orangutan bisa berjalan dengan dua kaki, tapi enggak bisa berenang.
-Orangutan adalah hewan semi-soliter, yang artinya, mereka enggak hidup dalam kawanan besar. Orangutan jantan biasanya ditemukan sendirian, sementara yang betina bersama dengan beberapa anaknya.
-Orangutan jantan bisa membuat panggilan jarak jauh yang terdengar sampai radius 1 km karena punya kantung tenggorokan yang besar. Gunanya untuk mengawasi arealnya, memanggil orangutan betina, ataupun mencegah gangguan dari orangutan jantan lain.
- Predator terbesar orangutan antara lain macan tutul, babi, buaya, ular phyton, elang hitam, dan... manusia!
- Menurut data WWF, terjadi penjualan orangutan ke Taiwan mencapai 1000 ekor antara tahun 1985-1990.

Dimuat di Majalah kaWanku No. 114/2011


Picture : orangutanphotos.blogspot.com | dok : kaWanku

07 December 2011

Kegagalan = Awal dari Segalanya



Hari ini, lagi-lagi saya mendapatkan naskah novel yang dikirimkan kembali dari penerbit, lengkap dengan surat pernyataan bahwa naskah saya belum layak untuk diterbitkan. Entah sudah keberapa kalinya hal seperti ini terjadi. Tapi setidaknya, hari-hari penuh ketidakpastian itu telah usai. Saya tidak perlu lagi menandai hari demi hari yang terlewati di kalender meja belajar tentang nasib naskah saya.
Sejak awal mengirimkan naskah tersebut, saya tau pasti hanya akan ada dua jawaban. Diterbitkan atau dikembalikan secara utuh (baca: ditolak). Bohong kalau saya mengatakan saya baik-baik saja. Tidak, saya tidak sepenuhnya baik-baik saja. Tentu, ada rasa kecewa yang mendera. Saya masih manusia normal yang tidak luput dari emosi. Tapi rasa kecewa itu tidak akan menghentikan perjuangan saya.
Kalau Thomas A. Edison saja harus mengalami kegagalan sampai 9.998 kali, baru akhirnya berhasil dan bahkan namanya dikenang sampai saat ini, kenapa saya harus berhenti saat baru mengalami kegagalan 3 kali?
Kalau Stephen King saja harus mengalami penolakan berkali-kali atas naskah yang ia kirimkan, sampai membuatnya memakukan surat-surat penolakan tersebut ke dinding rumah sebagai motivasi pribadi, kenapa saya harus behenti berkarya dan belajar? (cerita mengenai Stephen King bisa dibaca di sini).
Ibu saya sering sekali menasihati saya untuk tidak mudah menyerah saat mengalami kegagalan. “Hanya manusia sakti yang tidak pernah sekalipun mengalami kegagalan dalam kehidupan mereka. Bahkan orang terhebat yang dikenal pun, suatu saat pernah mengalami kegagalan. Bedanya, mereka memilih untuk terus berjuang dan memperbaiki diri, bukannya meratapi kegagalan tersebut terus-menerus.” Itulah kalimat yang selalu dipesankan oleh ibu saya.
Karena kegagalan lah, manusia baru bisa menyadari arti penting perjuangan dan kerja keras. Karena kegagalancpula lah, manusia tau bagaimana rasanya menikmati dan menghargai keberhasilan ketika saatnya tiba.
Saya sedang mengalami kegagalan kali ini. Tapi saya tidak akan pernah mau menjadi orang yang gagal. Orang gagal yang hanya mampu berkubang dalam rasa penyesalan dan rendah diri. Saya bukan tipe orang seperti itu. Saya akan terus berusaha, mengeluarkan kemampuan terbaik saya. Memperbaiki kesalahan yang menyebabkan kegagalan sebelumnya, dan bekerja dengan lebih baik lagi.
Perjuangan saya masih panjang. Masih akan ada banyak tikungan berbahaya, jalanan bergelombang, maupun hambatan dan rintangan lainnya. Tapi dengan terus mengingat bahwa akan ada akhir dari semua perjalanan, saya akan terus memacu diri untuk mencapai batas akhir tersebut. Batas akhir yang akan mengarah pada keberhasilan meraih impian saya.
‘Kegagalan bukan akhir segalanya’ bukan hanya ungkapan penyemangat semata. Karena kenyataannya, kegagalan justru adalah awal dari segalanya. Awal dari perjuangan yang lebih keras, dan awal yang akan membawa seseorang semakin dekat dengan keberhasilan.
Picture : orangeandkalamansi.tumblr.com

27 November 2011

Dare to Dream



Sewaktu masih kecil, ketika ditanya tentang cita-cita, kita akan berebut memilih antara dokter, astronot, presiden, tentara, dan sederet profesi 'besar' lainnya. Tapi beberapa tahun setelahnya, ketika kembali ditanyakan pertanyaan yang sama, umumnya kita akan diam sejenak, nampak berpikir keras, menimbang-nimbang, dan pada akhirnya menjawab "Belum tau. Lihat saja nanti." atau mungkin jawaban dengan nada kurang tertarik lainnya.

Sebagian orang mungkin memang sudah tau apa cita-cita mereka dengan pasti. Tapi kebanyakan mengalami masalah saat diminta membuat keputusan ingin menjadi apa mereka saat dewasa nanti.

Ke mana semua optimisme masa kecil kita? Mimpi-mimpi yang terdengar begitu naif, tapi justru membuat hidup menjadi begitu mengasikkan, begitu menantang untuk dihadapi. Ke mana perginya semua itu? Mengapa yang tersisa hanyalah diri kita dengan pikiran yang lebih rasional, namun terkurung dalam rasa pesimis dan ketakutan membuat rancangan masa depan dengan dagu terangkat?

Mungkin karena saat masih kanak-kanak, segala sesuatu terlihat begitu mudah dicapai, semudah menyelesaikan games? Mungkin karena seiring bertambahnya usia, semakin lamanya kita mencicipi berbagai pengalaman hidup, kita dilemparkan dari puncak menara impian kita ke tanah dengan sebuah pemikiran baru? Pemikiran bahwa dunia tidak seindah seperti yang selalu kita bayangkan dan harapkan ketika kecil?

Saya sering mendengar cerita pengalaman hidup orang muda yang sukses dalam karier mereka. Rata-rata memberikan jawaban yang sama untuk pertanyaan 'cara menjadi sukses'.
Berani bermimpi!

Itulah kunci utamanya. Karena impian-impian yang kita targetkan untuk dicapai dapat menjadi cambuk yang paling kuat. Menjadi reminder terbaik agar kita jangan sampai kehilangan optimisme masa kecil kita. Bahkan mimpi yang paling absurd (dengan catatan masih dapat diterima akal sehat) yang kita miliki sekalipun, dapat terwujud, seandainya kita memiliki kemauan keras untuk meraihnya.

Contohnya saja, misalnya di saat keluarga kita baru saja mengalami kebangkrutan. Bahkan uang jajan kita terpaksa dipotong. Kita juga diwajibkan untuk hidup sederhana dalam keprihatinan. Kemudian di saat itu kita bermimpi untuk memiliki rumah mewah di kawasan elit. Atau pelesir di atas kapal pesiar mewah mengelilingi Kepulauan Karibia.

Sah-sah saja! Kita bisa bermimpi apa saja! Jangan pedulikan ejekan orang lain. Jangan dengarkan kata-kata mereka yang menganggap kita gila. Karena secara ajaib, believe it or not, alam semesta akan berkonspirasi entah dengan cara apa, untuk membuat impian kita menjadi kenyataan. Tapi tentu saja selama kita meyakini mimpi tersebut dapat menjadi kenyataan, serta tidak lupa berdoa dan bekerja keras.

Begitu pula dengan cita-cita. Kalau kita memang memimpikan untuk menjadi dokter, maka kejarlah mimpi tersebut dengan rajin belajar, terutama mata pelajaran biologi-fisika-kimia. Saat memilih penjurusan di kelas XI, masuklah ke kelas IPA dengan nilai yang baik. Kalau kita bercita-cita ingin menjadi presiden, rajin-rajinlah membaca buku pengetahuan politik atau leadership. Bisa juga dengan rajin menonton berita atau bahkan bergabung dalam partai politik.

Tempuhlah berbagai macam cara-yang postif tentunya-demi menjadikan diri kita semakin dekat dengan cita-cita kita. Tapi yang terpenting adalah, cita-cita atau pekerjaan impian kita, haruslah sesuai dengan passion kita. Sehingga nantinya kita akan bekerja dengan hati, dengan penuh sukacita, tanpa paksaan apalagi hanya sekedar menjalankan kewajiban karena tuntutan profesi atau demi mencari nafkah.

Pertambahan usia bukan berarti mimpi-mimpi yang kita rajut seindah mungkin di kala kita masih kanak-kanak berangsur-angsur menghilang. Justru dengan menjadi semakin dewasa, kita memiliki lebih banyak lagi kesempatan untuk mewujudkan mimpi kita semaksimal mungkin. Tempuhlah jalan-jalan yang dapat membawa kita selangkah lebih maju, selangkah lebih dekat dengan mimpi kita.

Because, there's nothing impossible in this unpredictable world. Ora et labora, that's the key!

Picture : imonline.nl

25 November 2011

Menghargai Hal-hal Sederhana



Entah karena sudah dibiasakan sejak kecil, atau karena prinsip saya sendiri. Saya lupa dari mana dan sejak kapan, saya berprinsip untuk selalu menjaga dengan baik barang apapun yang saya pinjam dari orang lain. Tidak peduli apakah barang itu ditelantarkan atau disia-siakan oleh pemilik aslinya, saya akan menggunakannya dengan baik, dan mengembalikan dalam keadaan seperti semula.
Sederhana saja, karena saya sangat tidak suka kalau barang saya yang dipinjamkan kepada orang lain, dikembalikan dalam keadaan tidak seperti semula (baca: rusak atau hilang). Jangan mencubit kalau tidak mau mencubit. Begitu seharusnya, kan?
Karenanya, wajar saja kalau saya kesal bahkan marah saat barang saya dirusak terlebih dihilangkan oleh orang yang sudah saya pinjami. Dengan meminjamkan barang kepada orang lain, itu artinya saya percaya orang tersebut akan bertanggung jawab atas barang yang dipinjamkan.
Mungkin bagi orang lain akan terkesan berlebihan. Apalagi kalau barang tersebut tidak terlalu berarti bagi mereka, atau juga tidak terlalu mahal dari segi materi. Tapi yang tidak penting bagi mereka, belum tentu tidak penting bagi saya juga, kan?
Saya tidak mempersoalkan apakah barang tersebut mahal atau tidak. Yang saya persoalkan adalah tanggung jawab dari si peminjam. Saya bisa saja membeli barang tersebut kembali, tapi saya hanya ingin mereka menghargai saya, lewat barang saya yang mereka pinjam.
Tanggung jawab itu bisa dinilai dari barang-barang sederhana yang harganya tidak seberapa. Kalau mereka bisa menghargai dan menggunakannya dengan baik, maka itu tandanya kepercayaan saya kepada mereka akan bertambah. Saya tidak akan keberatan kalau selanjutnya mereka meminjam barang lain dari saya, dengan catatan mereka masih mempertahankan tanggung jawab tersebut dengan baik.
Tapi kalau sekali saja mereka merusak atau menghilangkan barang saja, wajar rasanya kalau saya menjadi ragu-ragu dan berpikir dua-tiga kali saat mereka ingin meminjam barang saya di kemudian hari. Tidak jarang hal ini sering membuat orang lain berpikir kalau saya suka membesar-besarkan masalah. Sejujurnya, saya hanya ingin dihargai, sama seperti hampir semua manusia di dunia ini.
Picture : ecetimucin.tumblr.com

22 November 2011

Tentang Pintu dan Januari



Ada satu bagian yang saya suka dari film The Tourist. Saat karakter Elise Ward yang diperankan oleh Angelina Jolie memperlihatkan gelangnya yang bergambar Roman God Janus, kemudian berkata,

“People have two sides. A good side, a bad side. A past, a future. And that we must embrace both in someone we love.”

Karena menyukai mitologi Yunani dan Romawi, saya mengetahui bahwa Janus adalahGod of doors, karena tugasnya menjaga pintu Surga.

Kuilnya yang terletak di Roma memiliki pintu yang akan terbuka di saat perang, dan tertutup di saat damai. Tapi ternyata, pintu tersebut lebih sering terbuka. Sampai akhirnya The Emperor Augustus menutup pintu kuil, karena berhasil membawa kedamaian bagi Kerajaan Romawi.

Sama seperti yang sudah dijelaskan di awal posting, Janus memiliki dua wajah, yang satu menghadap ke depan, dan satunya lagi ke belakang. Filosofinya tidak jauh-jauh dari tugasnya, yakni menjaga pintu. Pintu bisa membawa kita masuk ke sebuah ruangan, juga bisa membawa kita keluar.

Nama Januari diambil dari nama dewa ini, karena saat bulan Januari, kita bisa melihat mundur ke tahun sebelumnya, dan bersiap menyongsong tahun yang akan datang.
Jadi intinya, hidup manusia terdiri dari dua sisi: masa lalu dan masa depan. Keduanya saling terkait satu sama lain, dan sama-sama memegang peranan penting dalam perjalanan hidup seseorang.

Masa lalu harus selalu dijadikan pelajaran, supaya masa depan kita menjadi lebih baik lagi. Tapi bukan berarti kita terus-terusan berkubang dalam masa lalu. Bagaimana kita bisa menjalani hidup, kalau terus-terusan terpenjara dalam bayang-bayang masa lalu?

Picture : tumblr.com