23 May 2012

Menunggu Bus



Entah kenapa saya suka sekali menganalogikan hal-hal sederhana yang saya temui setiap hari dengan hal lain yang jauh lebih kompleks.

Termasuk kali ini. Sebuah perenungan tiba-tiba saja muncul dalam kepala saya saat sedang menunggu bus TransJakarta.

Belakangan ini saya terpaksa pulang kuliah sendiri (tidak lagi dijemput), dan alat transportasi publik yang paling murah, praktis, aman dan nyaman (?) bagi saya adalah bus TransJakarta.

Menurut saya, menunggu bus TransJakarta itu bisa dianalogikan seperti saat kita sedang menanti sebuah kesempatan.

Tidak seperti di negara lain yang teknologinya jauh berkembang pesat, di negara ini, kita tidak bisa menebak kapan bus yang seharusnya kita naiki tiba di halte. Sama seperti kesempatan. Kita tidak tahu kapan datangnya. Tiba-tiba saja kesempatan itu sudah muncul di depan mata, menanti untuk diraih atau dilepaskan.

Kalau kita tidak bergegas, kita bisa saja ketinggalan bus yang seharusnya kita naiki, dan terpaksa menunggu bus berikutnya, yang tidak diketahui apakah akan tiba sebentar lagi atau memakan waktu cukup lama . Sama seperti kesempatan. Terlalu banyak pertimbangan saat memutuskan akan mengambil atau melepas sebuah kesempatan, bisa jadi kesempatan itu malah berlalu begitu saja.

Di saat sedang tidak diburu waktu, kita bisa melewatkan beberapa bus yang penuh sesak, dan memilih untuk menunggu sampai bus yang tidak terlalu penuh (atau bahkan kosong sama sekali) tiba. Sama seperti kesempatan. Mungkin saja kita mendapat beberapa kesempatan dalam waktu berdekatan. Tapi tidak semua kesempatan itu merupakan kesempatan yang tepat bagi kita. Semua indah pada waktunya. Pintar-pintar mengambil keputusan apakah harus menunggu atau langsung mengambil kesempatan yang ada akan membuat kita terbebas dari perasaan menyesal di kemudian hari.

Kalau kita tidak tahu dengan pasti ke mana arah tujuan kita, besar kemungkinan kita salah menaiki bus yang rutenya tidak sesuai. Sama seperti kesempatan. Kalau kita tidak tahu apa tujuan hidup kita, atau apa yang ingin kita capai, kita akan ‘membabi buta’ dalam mengambil kesempatan. Kesempatan yang tidak sesuai pun akhirnya ikut terambil, dan bisa-bisa membawa kita semakin jauh dari tujuan awal kita.

Menunggu bus TransJakarta memerlukan ekstra kesabaran dan harapan yang besar. Harapan bahwa bus yang kita tunggu akan segera datang. Harapan bahwa kita pada akhirnya akan sampai di tempat tujuan kita‒tidak peduli memakan waktu singkat atau panjang. Sama seperti kesempatan. Kita harus bisa sabar menantinya, dan terus memiliki pemikiran optimis bahwa bila waktunya tepat, maka kesempatan itu akan datang menghampiri kita. Kesempatan yang tepat, di waktu yang tepat, dan dengan hasil yang sesuai tujuan kita.

Picture: somethingspecial3.tumblr.com

19 May 2012

Merayakan Perubahan



Akhir minggu lalu, saya akhirnya memiliki kesempatan untuk hang out bersama sahabat-sahabat saya dari SMP, setelah berkali-kali gagal karena kesibukan masing-masing. Meskipun hanya berempat dari total delapan sahabat dekat (yang semuanya adalah perempuan), kami menghabiskan waktu dengan obrolan santai seputar keadaan masing-masing, dan tentunya bernostalgia mengenang saat-saat tak terlupakan semasa SMP.
Sampai akhirnya kami sampai pada topik sederhana yang berhasil membuat saya tersadar akan satu hal.
Saat masih sama-sama menjadi siswi SMP, delapan dari kami memiliki warna favorit yang berbeda-beda. Warna favorit saya pink, sementara tiga sahabat yang lain hijau, merah, dan oranye. Namun sekarang, saya beralih jadi menyukai warna merah. Ketiga sahabat saya juga sseolah tidak mau ketinggalan. Mereka beralih menjadi pink, kuning, dan pink. Padahal saya ingat betul, dua dari sahabat saya itu seringkali meledek saya karena menyukai warna pink, bahkan sampai memberi nickname Pinky Girl.
Lucu, bagaimana waktu terus bergulir, terkadang tanpa kita sadari ritmenya. Ada banyak hal yang terus berubah dalam kehidupan kita, pun pula dalam kehidupan orang-orang di sekitar kita. Karena perubahan adalah hal yang pasti selalu terjadi di dunia ini. Seberapa kuatnya kita menyangkal, tetap ada perubahan dalam diri kita, dalam hidup kita. Entar perubahan yang paling sederhana seperti yang terjadi pada saya dan sahabat-sahabat saya dari sisi warna favorit, sampai yang paling kompleks.
Tapi saya bersyukur, karena meskipun dari segi selera saya dan sahabat-sahabat saya sudah berubah, tapi sifat mendasar kami masih sama dengan yang terakhir melekat dalam ingatan satu sama lain. Saya dengan karakter meledak-ledak dan sarkastis, ada pula yang lebih banyak mendengarkan dan sesekali ikut menimpali, ada yang polos dan meghadirkan tawa karena kepolosannya itu, juga yang ceplas-ceplos dalam menyatakan apa yang dipikirkannya. Meskipun berubah dalam banyak hal, kami masih bisa menyesuaikan diri seperti beberapa tahun yang lalu. Kami masih bisa mengenali satu sama lain, masih bisa menghabiskan waktu bersenang-senang bersama dengan cara kami sendiri.
Karena itulah inti dari perubahan. Manusia berubah, tapi mereka juga memiliki kemampuan untuk terus menyesuaikan diri.
Jangan sampai kepentingan untuk berubah menjadi sosok yang lebih baik mengikis identitas asli kita. Membuat orang lain yang dekat dengan kita sampai bisa berkata "Gue udah nggak kenal lagi sama dia. Terlalu banyak yang berubah, sampai-sampai gue merasa dia bukan lagi seperti orang yang gue kenal dulu."
Picture : noraskindofphotography.tumblr.com

13 May 2012

Bisa Karena Biasa



Tepat satu hari setelah Blackberry Curve 8520 genap dua tahun menemani saya, smartphone tersebut malah hilang karena kelalaian saya. Sudah dua kali saya kehilangan ponsel karena terjatuh.

Anggap saja saya sedang iseng beranalogi.

Kehilangan Blackberry sama halnya dengan putus cinta. Kok bisa?

Selama ini, saya selalu berpikir bahwa BB saya adalah segalanya. Hampir semua hal bisa saya lakukan dengannya, mulai dari berhubungan dengan orang-orang di sekitar saya, meng-update social media, memperoleh banyak informasi dan berita lewat layanan internet, menyimpan kenangan dalam bentuk foto, mendengarkan lagu, menonton video, mengirim e-mail yang berhubungan dengan pekerjaan dan tugas sekolah/kuliah, mencatat ide-ide yang tiba-tiba muncul dalam pikiran, curhat, dan berbagai manfaat lainnya.

Asal ada BB, menunggu berjam-jam pun tidak masalah karena setidaknya saya masih bisa menghabiskan waktu dengan mengutak-atiknya. BB lowbatt dan tidak bisa mengisi ulang baterai saja bisa membuat saya kelabakan. Saya merasa ada yang kurang kalau sehari saja tidak menyentuh BB. Ya, secara tidak sadar saya sudah terkena sindrom Crackberry. Jadi begitu BB saya hilang, jelas saja saya sedih. Tapi perasaan sedih itu semakin lama semakin berkurang. Saya jadi mulai terbiasa menjalani hari-hari saya tanpa BB. Tidak menyentuh BB tidak lagi menjadi perkara besar.

Sama seperti saat putus cinta. Sebelumnya kita merasa kita tidak bisa hidup tanpa orang yang kita cintai. Selama ini kita selalu mengandalkannya, terbiasa berada di dekatnya. Tapi nyatanya, kita bisa tetap bertahan hidup tanpa orang itu. Sebagai manusia yang  sangat dipengaruhi perasaan, tentu pada awalnya kita akan merasa sedih dan kehilangan. Namun hal tersebut tidak akan permanen. Perlahan tapi pasti, rasa sakit itu semakin berkurang. Sampai akhirnya kita tiba pada fase di mana kita bisa baik-baik saja tanpanya. Terbiasa tidak lagi berada di sisinya.

Dari analogi tersebut, terdapat satu benang penghubung.

Terbiasa.

Peribahasa “Allah bisa karena biasa” memang bukan sekedar kata-kata. Manusia cenderung takut melakukan atau mengalami sesuatu yang tidak biasa mereka lakukan atau alami. Seolah sudah ada stigma yang menjamin, kita hanya bisa melakukan apa yang biasa kita lakukan. Padahal justru stigma itu yang menjadi tembok pembatas. Kita bisa melakukan apa saja, asalkan kita mau membuat diri kita terbiasa.

Beri kesempatan diri kita untuk mencoba melakukan sesuatu di luar kebiasaan kita (yang positif tentunya). Then you will see what you’re capable of.

Picture : meme.yahoo.com

11 May 2012

You Reap What You Sow



Saya dan ibu saya beberapa kali membahas tentang hal ini: Kenapa orang-orang sering mengatakan, kalau orangtuanya melakukan hal buruk, maka akan dibalaskan kepada anak mereka?

I don’t get it. Kenapa seorang anak yang notabene tidak mengetahui apa yang diperbuat oleh orangtua mereka, harus menanggung apa yang semestinya tidak mereka tanggung?
Contohnya, pernah terjadi kasus pembunuhan siswa SMA di sebuah tempat hiburan di bilangan Jakarta Selatan. Banyak orang berspekulasi bahwa ini adalah karma, karena belasan tahun lalu, orangtua korban pernah melakukan pembunuhan keji, lantas anaknya kini tewas dibunuh oleh orang lain.
Yang membunuh itu orangtuanya, kan? Bukan si anak. Si anak mungkin malah tidak mengetahui apa yang pernah diperbuat orangtuanya dulu.
Pandangan miring lain yang sayangnya terlanjur berkembang di masyarakat adalah  ketika seorang anak dilahirkan dalam keadaan cacat atau tidak sempurna. Disebut-sebut kalau itu karena ulah orangtua mereka yang semasa hidupnya tidak berperilaku baik. Saya sama sekali tidak melihat ada hubungan di antara keduanya.
Saya akan jauh lebih setuju, kalau karma itu berlaku terhadap yang bersangkutan, bukan terhadap orang-orang yang dia sayangi. Siapa yang menabur, maka dia yang akan menuai. Saya meyakini hal itu. Kalau orangtuanya yang menabur kejahatan, maka mereka jugalah yang harus menuai akibatnya. Kasihan sekali si anak kalau harus dijadikan semacam ‘tumbal’.

Opini singkat saya ini sebenarnya bertujuan untuk mengingatkan, bahwa karma itu akan diterima oleh semua orang. Tapi yang perlu diperhatikan, karma tidak ada hubungannya dengan orang-orang yang kita sayangi.

Kalau kita berbuat baik, maka kita sendirilah yang akan menuai hasil yang baik. Sebaliknya, kalau kita melakukan hal buruk, jangan menyesal jika di kemudian hari, kita akan terkena ‘batunya’. 

Picture : flickr.com

09 May 2012

Azas Kebutuhan



Disadari atau tidak, ada saat di mana kita sudah lama tidak berkomunikasi dengan seseorang, tapi kemudian kita kembali menghubungi orang tersebut. Bukan karena bermaksud untuk menanyakan kabar mereka, melainkan karena kita sedang membutuhkan bantuan mereka. Atau mungkin orang lain yang melakukan hal serupa kepada kita.

Di saat orang tersebut sedang membutuhkan pertolongan kita, terlebih kalau kita adalah satu-satunya orang yang bisa dimintai tolong, mereka rela mengekor kita ke mana pun. Mereka tidak bosan-bosannya menghubungi kita. Tapi begitu mereka sudah tidak lagi membutuhkan pertolongan kita, woosh, mereka menghilang begitu saja bagai ditelan bumi. Meninggalkan kita sendirian dengan perasaan seperti barang bekas yang dibuang setelah tidak lagi diinginkan atau diperlukan oleh pemiliknya.

Their first priority is their own goods. No sincerity at all. Segala bentuk kebaikan dan kemanisan dengan embel-embel motif di baliknya. Semata-mata karena azas kebutuhan.
Karena azas kebutuhan pula lah, musuh bebuyutan sekalipun bisa melupakan rasa benci mereka di saat benar-benar terjepit dalam situasi penuh urgensi. Tidak perlu munafik atau sok idealis. Di saat normal kita bisa saja mengatakan “Gue nggak akan pernah minta tolong sama dia”. Tapi lain halnya apabila kita sedang terjepit suatu permasalahan, dan kebetulan hanya orang itu yang bisa dimintai tolong.

Setiap manusia memang memiliki kecenderungan untuk menomorsatukan dirinya. Untuk membuat dirinya terlihat paling cemerlang, untuk membuat dirinya merasa nyaman dan aman. Tapi bukan berarti kita bisa mengorbankan orang lain demi kecenderungan tersebut. Sama sekali bukan excuse yang pantas.

Berbuat baik pada orang lain harusnya dilandasi dengan ketulusan, bukan karena orang itu bisa memberikan keuntungan bagi kita.

Berteman dengan seseorang bukan karena pemikiran “Ah, dia kan pintar, lumayan gue bisa nyontek jawaban tugas”, tapi karena kita memang merasakan chemistry dengan orang tersebut.

Tanpa bermaksud menggurui, hanya pemikiran pribadi. Kalau kita berbuat baik dengan tulus tanpa mengutamakan kepentingan pribadi, percayalah kalau kita akan mendapatkan sesuatu yang lebih baik.

Jadi, jangan lagi menghubungi teman lama yang sudah jarang berkomunikasi hanya karena kita butuh bantuan darinya, tapi karena kita memang benar-benar tulus kangen padanya dan ingin tahu bagaimana keadaannya.

Picture : facebook.com

28 April 2012

All about Balance



Satu hal yang selalu saya pertanyakan sampai sekarang: Setiap kali musim ujian, teman-teman saya beramai-ramai bertransformasi menjadi ‘anak rumahan’ (baca: menolak ajakan ke manapun, tidak peduli sebentar atau lama). Semuanya sibuk menggunakan alasan seragam 'Gue mau belajar'.

Saya tahu sebagai pelajar  ̶  mahasiswa sekalipun (yang sering dianggap santai)  ̶  tetap harus belajar.

Belajar dengan baik ---> dapat nilai bagus ---> IPK tinggi ---> diterima kerja di perusahaan unggulan ---> peningkatan taraf hidup ---> masa depan terjamin.

Tapi mereka juga tidak akan belajar selama 24 jam non-stop kan? Perhaps too much of everything is bad, including study. Tetap harus ada waktu sejenak untuk rileks.

Kalau saya pribadi saat ujian akan tetap menyediakan waktu untuk melakukan hal yang saya suka: nonton film dan baca buku di luar buku pelajaran. Bukan bermaksud untuk meremehkan esensi ujian itu sendiri. Saya melakukannya untuk menjaga agar otak saya tetap waras. Agar pikiran saya menjadi lebih fresh, sehingga daya tampung untuk materi ujian lebih besar. Supaya saya bisa belajar dengan lebih efektif dan efisien.

Everything in life is about balance, I believe in that. Mungkin karena saya mahasiswa fakultas ekonomi, saya sudah terbiasa dengan segala sesuatu yang balance. Kan memang sudah tugas saya untuk membuat agar jurnal dan financial statement yang saya kerjakan balance, both in debit and credit side.

Hal tersebut tidak hanya berlaku dalam urusan jurnal, tapi juga dalam kehidupan.

Belajar dan bersantai sejenak, keduanya dalam porsi yang seimbang. Jangan terlalu memaksakan diri belajar tanpa istirahat sedikitpun, tapi jangan juga terlalu lama beristirahat (baca: berleha-leha) sampai lupa belajar.

Picture: flickr.com

18 April 2012

Takut pada Peraturan



“Penyebab negara ini tidak kunjung berkembang adalah karena sumber daya manusianya hanya takut pada manusia, bukan kepada peraturan.”

Saya sangat setuju dengan apa yang disampaikan oleh dosen Ekonomi Makro saya tersebut. Alasannya? Karena terkadang saya juga masuk dalam kategori sumber daya manusia seperti itu.

Bukti konkritnya, banyak kecelakaan lalu lintas yang terjadi karena pengguna jalan hanya takut pada manusia, dalam hal ini polisi lalu lintas, bukan kepada peraturan lalu lintas yang berlaku. Saat lampu lalu lintas berwarna merah, menandakan bahwa mereka seharusnya berhenti. Saat ada polisi, mereka akan mematuhi aturan ini supaya tidak kena tilang. Tapi saat tidak menemukan tanda-tandar keberadaan polisi, tanpa pikir panjang mereka langsung menerobos lampu merah, yang tidak jarang mengantar mereka pada kecelakaan berujung maut.

Realita di atas hanyalah satu dari sekian banyak hal yang mendukung teori yang tertulis di awal posting.

Melalui posting ini, saya sama sekali tidak bermaksud untuk menghakimi siapapun. Tidak juga bermaksud membandingkan sumber daya Indonesia dengan negara lain. Sebaliknya, saya hanya ingin mengajak kita semua merefleksi diri kita masing-masing. Seperti yang sudah saya sebutkan, saya juga terkadang masuk ke dalam kategori sumber daya manusia seperti itu.

Karenanya, marilah kita berjuang merubah paradigma keliru yang sudah terlanjur mendarah daging bagi sebagian besar komunitas masyarakat, dimulai dari diri kita sendiri.

Biasakan diri untuk selalu menaati peraturan yang berlaku, dimulai dari hal-hal yang kelihatan sederhana dan tidak penting. Buang jauh-jauh pikiran ‘Peraturan dibuat untuk dilanggar’. It’s sooo last year. Pikiran semacam itu cukup menjadi pikiran saya saat masih duduk di bangku SMP.

Peraturan dibuat dengan alasan yang jelas dan pemikiran yang matang. Peraturan dibuat karena memiliki tujuan positif.

Sama halnya seperti ajaran agama kita masing-masing. Apa kita selama ini menghindari hal-hal yang dikatakan agama buruk hanya semata-mata karena ada orang lain yang mengawasi? Atau karena kita yakin Tuhan yang tidak bisa kita lihat wujud-Nya secara fisik tidak pernah sekalipun mengalihkan perhatian-Nya dari kita? Bahwa perbuatan buruk, dengan atau tanpa dilihat dan diketahui orang lain tetap saja merupakan sebuah dosa?

Ayo sama-sama bertransformasi menjadi sumber daya manusia yang jauh lebih berkualitas, dimulai dari sekarang dan dari diri kita masing-masing!

Picture : tumblr.com 

16 April 2012

Menolong dengan Bijaksana



Di tepi sungai, ada seorang pertapa yang sedang melakukan meditasi. Di sela-sela meditasi tersebut, ia mendengar suara berisik gemericik air yang tidak biasa. Ternyata ada seekor kepiting yang sedang berusaha menyelamatkan diri agar tidak terseret arus sungai yang deras. Terdorong oleh belas kasihan, pertapa tersebut menjulurkan tangannya untuk menolong si kepiting. Tentu saja kepiting itu mencapitnya, menimbulkan luka pada tangan si pertapa. Tapi karena niatnya memang menolong, pertapa tersebut tetap merasa senang. Kejadian seperti itu berlangsung berkali-kali, sampai akhirnya tangan si pertapa bengkak akibat capitan kepiting-kepiting yang ditolongnya. Kemudian datanglah pertapa lain yang lebih senior. Melihat tangan pertapa muda, ia menanyakan penyebabnya. Pertapa muda pun menjelaskan kejadian yang dialaminya. Kemudian pertapa tua mengambil ranting pohon dan menunjukkan kepada si pertapa muda, bagaimana cara menolong kepiting tanpa perlu melukai tangannya.
Dari ilustrasi singkat ini, tentu saja ada nilai yang bisa kita ambil.

Menolong sesama yang sedang kesusahan memang sebuah kewajiban. Tapi kita juga harus bisa bertindak dengan bijaksana. Menolong dengan tulus bukan berarti mengorbankan diri sendiri, kan?

Contohnya dalam kehidupan modern sehari-hari bisa diilustrasikan sebagai berikut:

Teman kita kebetulan tidak bisa mengikuti mata kuliah A karena ada urusan lain, kemudian minta tolong kita untuk menandatangani absennya, dengan alasan dosen mata kuliah tersebut jarang mengabsen mahasiswa dengan memanggil nama satu per satu. Karena kasihan dan berniat membantu, kita pun menandatangani absennya. Tapi sialnya, hari itu dosen yang bersangkutan mengabsen satu per satu dengan memanggil nama. Apa yang terjadi selanjutnya? Bukankah kita dan teman yang niatnya kita bantu itu malah sama-sama mendapatkan sanksi?

Intinya, bantulah sesama yang membutuhkan dengan setulus hati, juga dengan bijaksana :)

Picture : thefaintestspark.tumblr.com

02 March 2012

Kontributor Kehidupan



“In life, you’ll meet two kinds of people. The ones who build you up and the ones who tear you down. In the end, you’ll thank them both.”

Segala sesuatu yang terjadi di dunia ini selalu memiliki dua sisi yang berlawanan. Saya percaya itu. Seperti vice versa, yin & yang, dua sisi mata uang,  kutub utara dan kutub selatan, etc. Termasuk juga orang-orang yang datang dan pergi, masuk dan keluar dari kehidupan kita.
Ada yang menyukai kita, ada pula yang membenci kita. Ada yang menyanjung kita, ada pula yang menghujat kita. Ada yang memberikan dampak positif bagi kita, ada pula yang memberikan dampak negatif. Ada yang membuat kita tertawa bahagia, ada pula yang membuat kita sedih dan menangis.
Akan terus seperti itu, karena memang begitulah kehidupan. Kita tidak bisa membuat semua orang menyukai kita. Apa yang menurut si A merupakan kelebihan kita, bisa jadi menurut si B malah merupakan kelemahan kita.
Namun di balik itu semua, pada akhirnya setiap orang yang menyukai maupun membenci kita, akan menyumbangkan kontribusi penting bagi kita. Setiap orang yang menyanjung maupun menghujat kita, memiliki peranan masing-masing dalam perjalanan hidup kita. Setiap orang yang memberi dampak positif maupun negatif kepada kita, sama-sama layak mendapatkan ucapan terima kasih dari kita.
Orang-orang yang menyanyangi kita dengan tulus, membuat kita tidak berhenti bersyukur. Membuat kita mampu bertahan menghadapi hujatan atau kebencian dari orang di kubu yang berlawanan. Orang-orang yang membawa dampak negatif sekalipun, membuat kita bisa belajar untuk membedakan mana yang baik dan mana yang tidak. Bisa membuat kita menyadari adanya pilihan dan konsekuensi di balik pilihan tersebut. Orang yang membuat kita menangis atau sakit hati, bisa membuat kita semakin kuat dan ‘tahan banting’.
Jadi, jangan pernah merasa terganggu apalagi sampai depresi memikirkan berapa banyak orang yang membenci kita. Bahkan orang terbaik di dunia sekalipun, akan ada saja yang membenci. Begitu pula dengan orang terjahat di dunia, tetap saja ada minimal satu orang yang menyayanginya dengan tulus.
Selama orang yang menyukai kita jumlahnya jauh lebih banyak dibandingkan orang yang membenci kita, menandakan bahwa kita masih berada di jalur yang benar. Lebih baik memfokuskan pikiran kita kepada orang-orang yang menyayangi kita itu, daripada memenuhinya dengan ketakutan terhadap orang-orang yang membenci kita. Mereka punya hak untuk membenci kita. Itu semua urusan mereka, sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dengan kita.
Sebaliknya, selalu ingat untuk bersyukur dan mengubah segala hal negatif dalam hidup kita, menjadi sesuatu yang positif dan bermanfaat. Omongan para haters itu justru seharusnya bisa kita jadikan motivasi.
Kalau mereka mengatai kita bodoh, kita jangan malah ikut berpikir bahwa kita bodoh dan menjadi rendah diri apalagi terintimidasi karenanya. Justru waktunya kita untuk berusaha sebaik mungkin, agar suatu saat kita bisa menunjukkan kepada mereka bahwa kita tidak bodoh. Bahwa mereka tidak punya alasan untuk men-judge kita seenaknya. Bahwa tuduhan mereka itu salah besar. Tentunya hal tersebut baru bisa terwujud apabila kita mau terus belajar dan tidak membiarkan kata-kata orang lain menghentikan kita untuk bertransformasi menjadi pribadi yang lebih baik.
Picture : cruel-kid.blogspot.com