15 November 2011

I'm Not a Morning Person, at All



Sebagian orang produktif di pagi atau siang hari, sementara sisanya produktif di malam hari. Saya termasuk yang sisanya itu.
Sejak kecil, saya sangat sulit dibangunkan untuk berangkat sekolah di pagi hari. Saya bangun pagi selama ini hanya karena kewajiban. Coba saja lihat jam berapa saya bangun saat sedang liburan. Selalu di atas jam delapan.
Karenanya, saya salut dengan contoh terdekat yang setiap hari saya jumpai, ibu saya. Tidak peduli malamnya tidur jam berapa, beliau selalu bangun maksimal jam setengah enam setiap hari-selama saya mengenalnya-entah untuk memasak makanan bagi kami sekeluarga, atau mengerjakan hal lain. Setiap kali liburan, saya selalu menyuruhnya untuk bangun lebih siang, tapi dia mengatakan bahwa bangun pagi sudah menjadi semacam kebiasaan.
Saya selalu percaya kalau memang ada sebagian orang yang terlahir untuk bisa produktif ketika malam hari. Karena itu, banyak orang-orang yang bekerja pada malam hari. Terlepas dari kenyataan bahwa mereka melakukan hal tersebut karena tuntutan kewajiban semata, saya tetap yakin mereka memang lebih cocok menjadi ‘pekerja malam’, dalam arti positif. Tidak banyak orang yang bisa bertahan dengan pola hidup yang terbalik seperti kelelawar itu (tidur di siang hari dan terjaga sepanjang malam). Bahkan beberapa teman saya saja sudah akan langsung mengantuk begitu jarum jam menunjuk pukul sembilan malam. Itulah yang membuat saya meyakini teori ciptaan saya sendiri itu.
Entah karena sudah menjadi semacam kebiasaan atau karena faktor lain, saya merasa lebih nyaman beraktivitas di malam hari, mulai dari belajar, menonton, sampai menulis. Khususnya menulis, saya jarang sekali mendapatkan inspirasi ide cerita ketika siang hari. Hampir 90 persen ide itu muncul di malam hari. Kebanyakan bahkan dalam keadaan lampu kamar sudah dimatikan, dan saya sudah bersiap untuk tidur.
Malam dan ketenangannya seolah melahirkan sensasi magis yang bisa mendorong saya untuk lebih produktif dan bersemangat.
Aneh? Mungkin.
Terlepas dari semuanya itu, setiap manusia memiliki caranya sendiri untuk menjalani kehidupan dan berkarya. Tidak peduli pagi, siang, atau malam hari, yang terpenting adalah orang tersebut nyaman dengan apa yang dijalaninya. Itulah yang terpenting, bukan?
Picture : lostshadowland.tumblr.com

13 November 2011

Mau Maka Bisa



Selama ini saya selalu berpikir kalau saya tidak bisa memainkan alat musik dan menggambar, karena memang saya tidak berbakat. Tapi seiring berjalannya waktu, saya menyadari, kalau itu hanyalah excuse yang saya ciptakan sendiri. Karena akhirnya saya tahu, tidak ada kata 'tidak bisa' di dunia ini. Selama kita mau mencoba, mau berusaha, dan mau belajar, maka semua yang terasa tidak mungkin sekalipun, bisa kita lakukan.
Saat masih duduk di sekolah dasar, saya akan langsung berkeringat dingin, pusing, dan mual saat menghadapi ulangan matematika. Saya ingat betul, setiap ulangan umum matematika, saya akan meminta izin untuk pulang lebih awal karena sakit. Hari Jumat saya nobatkan sebagai hari sial, karena dari kelas satu sampai kelas enam SD (kecuali kelas empat), ulangan matematika setiap minggunya selalu jatuh pada hari itu. Sampai kemudian saya mengikuti kursus KUMON. Semenjak mengikuti kursus, saya malah merasa matematika adalah pelajaran yang sangat mengasikkan dan membuat penasaran untuk mencari cara penyelesaian dan hasilnya.
Tidak berhenti sampai di situ, setelah matematika, saat SMP, fisika lah yang menjadi 'musuh' saya. Sadar tidak bisa terus-terusan terpuruk dengan nilai di bawah rata-rata, saya berinisiatif untuk meminta supaya diikutkan dalam bimbingan belajar. Setiap pertemuan, saya bersama dengan dua orang teman yang juga sama-sama menjadi murid kursus, ditempa dengan berbagai soal latihan. Dari yang mulanya tidak memahami cara mengaplikasikan rumus, saya menjadi lebih mengerti dan nilai fisika saya pun mulai meningkat.
Sejak kecil, saya tidak mahir dalam pelajaran seni dan olahraga. Karenanya, saat ujian praktek kelulusan SMA, saya dibuat kalang kabut oleh dua pelajaran ini. Untuk tugas seni, karena saya mengambil seni musik (seandainya saja tidak ada kewajiban untuk memilih salah satu dari seni musik, seni rupa, atau seni tari, di mana saya tidak bisa ketiganya), kami diwajibkan untuk membuat lagu, dan menyanyikan lagu ciptaan kami masing-masing.
Mendengarnya, saya langsung lemas seketika. Bagaimana mungkin bisa menciptakan lagu, kalau tanda toge (baca: not balok) saja, saya tidak tahu untuk apa dan bagaimana membuatnya?!  Saya mencari bantuan ke sana kemari, sampai akhirnya, entah dari mana datangnya, saya tiba-tiba mendapatkan inspirasi nada dan lirik lagu. Selanjutnya, saya meminta bantuan teman saya untuk memainkan alat musik dan menuliskan not baloknya.

Selesai dengan seni, masih ada olahraga. Materi yang diujikan adalah servis bawah voli,lay up basket, dan roll depan. Geez! Dua minggu sebelum hari ujian, saya mulai meminta bantuan teman-teman saya yang jago dalam bidang yang diujikan. Tangan saya sampai merah dan bahkan bengkak karena divorsir untuk melakukan servis voli terus-menerus.

Dari lima kali kesempatan, kami dinyatakan lulus kalau bisa melakukan servis sebanyak tiga kali. Dan puji Tuhan, dengan support dari teman-teman saya, tiga servis penuh perjuangan itu pun berhasil. Begitu pula dengan lay up, saya bisa melakukannya dengan benar sebanyak tiga kali, dan dengan waktu di bawah batas maksimum.

Terakhir, tinggal roll depan. Selama menunggu giliran, saya mulai berkeringat dingin. Begitu tiba nama saya dipanggil, jeng jeng jeng, dua kali, dan nyaris lurus. Yeah, akhirnya saya berhasil melalui dua 'neraka' itu!
Dari pengalaman ini, saya hanya ingin menekankan, kalau tidak ada yang mustahil di dunia ini. Kita bisa melakukan hal yang selama ini tidak pernah terlintas dalam bayangan kita, selama ada niat. Segala hal di dunia ini bisa dipelajari. Jangan gunakan alasan tidak berbakat sebagai penghalang kita dalam melakukan sesuatu.
Jangan biarkan rasa pesimis menguasai diri kita. Beranikan diri kita untuk mencoba segala sesuatu, meskipun ribuan orang di luar sana meremehkan kita. Jangan pernah ragu untuk selalu mengatakan 'Saya pasti bisa' sebelum melakukan segala sesuatu. Sugesti adalah sesuatu yang memiliki daya magis bagi manusia.
Tidak ada manusia bodoh. Saya meyakini pendapat yang dicetuskan oleh siapapun itu. Selama kita mau, tidak peduli sesulit apapun tantangan yang harus ditempuh, tidak peduli sebesar apapun rintangan yang harus dihadapi, yakinlah kalau kita pasti bisa!
Picture : renatameyer.tumblr.com

09 November 2011

Not So Happy Ending



Saya suka fairy tales. Dulu...

Seiring berjalannya waktu, saya tumbuh semakin dewasa. Dengan pertambahan usia dan waktu yang lebih lama untuk melihat realita yang disajikan dunia itulah, saya menyadari kalau our real lives are far from fairy tales.

Dunia nyata sama sekali tidak seindah apa yang diceritakan dalam dongeng. Semua fairy tales rata-rata mengisahkan tentang putri yang lantas bertemu pangeran, kemudian mereka jatuh cinta, menghadapi beberapa rintangan, and live happily ever after. Bagi saya, cerita seperti itu terlalu menjual mimpi dan membuat terlena.

Lihat saja cerita mulai dari Snow White, Cinderella, Sleeping Beauty, Beauty and The Beast, dan lain-lain. Semua berakhir dengan begitu membahagiakan. Konflik hanya terjadi ketika tiba-tiba muncul penyihir jahat yang menjadi rintangan bagi perjalanan cinta keduanya. Tapi pada akhirnya, semua tokoh antagonis itu terkalahkan dengan kekuatan cinta. Classy!

Dari sekian banyaknya dongeng, yang paling saya sukai adalah The Little Mermaid. Saya baru benar-benar menyadari full story-nya setelah menonton melodrama Korea berjudulSecret Garden.

Dongeng ini diambil sebagai salah satu pendukung cerita. Terutama di bagian ending-nya ‘Then she shot a parting glance at the world she was leaving behind, and dived into the waves, ready to turn into the foam of the sea from whence she had come, and vanish’.

Akhirnya, ada juga fairy tale with sad ending.

Bagi yang belum mengetahui Original Tale: The Little Mermaid (dengan tokoh utama bernama Sirenetta, bukan versi Disney dengan tokoh utama bernama Ariel) yang dikisahkan dengan suasana lebih ‘dark’, bisa dibaca di sini.
Kita semua perlu mengetahui kisah seperti ini. Jangan terus-menerus terbuai dengan kisah indah yang berakhir bahagia saja.
Melalui kisah The Little Mermaid, kita disadarkan, bahwa tidak segala sesuatu yang kita inginkan di dunia ini bisa tercapai. Bahwa meskipun kita telah mengorbankan segala yang kita miliki, termasuk yang paling berharga sekalipun, kalau memang yang kita ingini itu bukan hak kita, sampai kapanpun kita tidak akan mendapatkannya. Berusaha itu wajib hukumnya, tapi ada batasan di mana sekuat apapun kita berusaha, kuasa lain-yang diyakini bernama takdir atau kehendak Pencipta-itu tetap tidak bisa dilawan.
Karena rasa cintanya pada pangeran, Sirenetta rela menukar suara merdunya dengan sepasang kaki manusia. Dia juga rela menahan rasa sakit setiap kali melangkah. Bahkan yang paling gila, dia nekad membuat perjanjian dengan penyihir, bahwa apabila pria yang dicintainya menikah dengan wanita lain, dia tidak bisa kembali menjadi putri duyung lagi, melainkan menghilang ke dalam lautan seperti busa ombak.
Pada akhirnya, takdir ternyata tidak berpihak pada Sirenetta. Meskipun dia sudah merelakan segalanya, pangeran malah menikah dengan wanita lain. Tragis memang.
Selain apa yang sudah saya sebutkan sebelumnya, kita juga diingatkan, bahwa atas setiap pilihan yang kita buat dalam hidup, pasti ada konsekuensi yang harus kita tanggung. Kalau semuanya berjalan sesuai rencana, maka konsekuensi yang timbul adalah kita tidak boleh lupa diri dan tetap mengingat bagaimana proses sehingga kita bisa mencapainya. Tapi ketika tidak berjalan sesuai kehendak kita, maka kita harus siap dengan konsekuensi terburuk sekalipun. Seperti gambling, kita hanya mampu berharap dan berusaha semaksimal mungkin.

Pada akhirnya, semua itu tetaplah sebuah dongeng. Karangan belaka, yang dibuat demi memberikan berbagai pelajaran dan makna tentang kehidupan. Tidak masalah apakah kita lebih menyukai cerita dengan happy ending ataupun sad ending. Semua itu pilihan.

Berharap kisah hidup kita akan berakhir bahagia seperti kisah-kisah tersebut, sah-sah saja. Tapi bukan berarti kita jadi terobsesi dan melakukan berbagai macam cara, bahkan sampai menyangkal realita yang ada dan membohongi diri sendiri. Ingat, yang kita punya dan jalani adalah kehidupan nyata, bukan fairy tales.

Picture : private collection (Secret Garden SBS)

07 November 2011

Cry Your Heart Out



Saya sangat tidak setuju dengan kalimat ‘Anak cowok nggak boleh nangis’ yang sering diucapkan oleh orangtua kepada anak laki-laki mereka.
Memangnya apa yang salah dengan pria yang menangis? Mereka juga manusia. Mereka punya perasaan, dikuasai emosi, bisa menangis. Memangnya air mata dan isak tangis hanya milik kaum Hawa?
Mungkin maksud dari orangtua yang berkata demikian adalah supaya anak laki-laki mereka menjadi sosok yang kuat, pria tahan banting yang tidak cengeng. Tapi bukan berarti pria diharamkan untuk menangis.
Menangis adalah salah satu cara untuk menyalurkan perasaan. Di saat bulir demi bulir air mata keluar, secara tidak langsung beban yang kita rasakan akan sedikit berkurang.Menangis tidak bisa menyelesaikan masalah, harap diingat baik-baik. Tapi at least, perasaan tidak enak bisa berkurang sedikit demi sedikit.

Crying is one of nature’s most effective anti-sadness theraphy. Tears help reduce stress, stabilize emotions and removes toxins. So, if you’re depressed and problematic maybe all you need is a good cry. (inspiredhearts.tumble.com)
Awalnya saya juga agak aneh melihat banyaknya cowok-cowok Korea yang menangis dengan begitu mudahnya dalam hampir semua melodrama yang pernah saya tonton. Seolah meneteskan air mata adalah sesuatu yang sangat mudah bagi mereka, sama halnya dengan tersenyum. Tapi pada akhirnya, saya justru merasa seperti itu lebih baik.
Bukan berarti laki-laki kemudian setiap kali menemui masalah langsung menangis. Itu, sih, lama-lama akan berkonotasi negatif (baca: cengeng). Tapi, kalau suatu saat dia harus dihadapkan pada sebuah permasalahan pelik yang membuat hatinya tertekan atau perasaannya tersakiti, menangis bisa menjadi sarana penyaluran rasa tidak enak yang bersarang dalam hati.
Air mata bukanlah sesuatu yang dapat menyakiti harga diri seorang pria. Air mata tidak hanya tercipta untuk kaum perempuan. Karena kalau demikian, mengapa pria juga diciptakan dengan kelenjar air mata?
Sekali lagi, menangis tidak lantas membuat kita terlihat cengeng. Menangis adalah sebuah bukti, kalau rasa sakit yang kita rasakan sudah terlampau perih. Bahwa hati yang ringkih ini sudah tidak lagi mampu menampung semua beban yang dipaksa diletakkan di atas pundak.
Kita sudah sering mendengar bahwa tertawa (atau minimal tersenyum) itu sehat. Menangis pun demikian, bisa membuat sehat. Daripada kita terus memendam dan menahan emosi. Pada akhirnya, itu semua akan menjadi seperti bola salju. Semakin membesar, dan akhirnya malah bisa menghancurkan diri kita sendiri.
Dibandingkan seperti itu, tidak ada salahnya menangis. Tapi juga jangan lantas menangis terus-menerus. Kalau sudah merasa baikan, saatnya untuk kembali ke realita. Untuk menghadapi dan menyelesaikan permasalahan yang ada.
Crying doesn’t indicate that you’re weak. Since birth, it has always been a sign that you’re alive. (justalittlebitlouder.tumblr.com)
Picture : wellowr.tumblr.com

28 October 2011

Bangga Menjadi Pemuda Indonesia


Delapan puluh tiga tahun yang lalu, pemuda Indonesia melakukan sebuah pergerakan yang menjadi bukti nyata kecintaan mereka terhadap Indonesia melalui Sumpah Pemuda. Namun lihat apa yang terjadi pada pemuda Indonesia di masa sekarang ini. Bahkan rasa nasionalis sudah luntur dari jiwa kita sebagai pemuda.

Jangan mengaku sebagai pemuda Indonesia yang nasionalis, kalau kerjaan kita hanya mencela negeri sendiri. Kalau mau disebut nasionalis, buktikan rasa cinta kita terhadap Tanah Air dengan bukti nyata. Tidak perlu sampai mengikuti demo. Dari hal-hal sederhana saja, kita sudah bisa ikut serta dalam membangun negeri ke arah yang lebih baik, contohnya seperti ini: 


1. Bangga menggunakan batik dan kebaya (saat hangout atau special ocassion)
Batik dan kebaya tidak lagi identik dengan pakaian nenek-nenek. Kalau tahu cara mix n' match dengan benar... voila! Kita bisa terlihat stylish sekaligus nasionalis di saat yang bersamaan. Pilih kebaya encim yang tidak terlalu mencolok, kemudian padukan dengan celan atau rok jins. Dengan begitu, maka tidak akan menimbulkan kesan too much. 


2. Menonton saluran TV lokal
Tentunya dengan catatan hanya menonton acara-acara yang memberikan dampak positif (seperti acara kuliner, traveling, budaya, dll). Kompas TV dan Metro TV menjadi channel favorit saya, karena menyajikan berbagai acara edukatif yang membuat kita semakin jatuh cinta dengan Indonesia.


3. Merawat diri dengan cara tradisional
Bangsa ndonesia sudah sejak dulu terkenal dengan kepiawaiannya meracik berbagai bahan tradisional sebagai alat mempercantik diri. No wonder kalau Mustika Ratu menjadi perusahaan make-up kebanggaan Indonesia yang tidak perlu diragukan eksistensinya di kancah internasional. So, enggak butuh kosmetik dengan harga selangit, karena bahan-bahan yang biasa tersedia di dapur pun bisa dimanfaatkan! 


4. Bersikap tertib saat mengikuti Upacara Bendera
Enggak perlu sampai ikut paskibra. Cukup dengan mengikuti upacara dari awal sampai akhir dengan khidmat dan tertib, kita sudah bisa membuktikan rasa cinta kita kepada Tanah Air. Berdiri tegap dan memberi hormat saat pengibaran Bendera dan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya selama beberapa menit tidak akan membuat tangan kita patah, kok. 


5. Mendengarkan cerita dari kakek atau nenek tetang sejarah Indonesia
Kakek dan nenek kita yang sudah lahir dan bahkan menjadi bagian dari sejarah Indonesia tentunya dapat menceritakan semuanya itu dalam versi yang lebih seru. Sayangnya saya sudah tidak bisa mendengarkan itu semua, karena Kakek saya yang dulu suka bercerita telah tiada. Jadi, beruntunglah kalian yang masih memiliki kakek atau nenek yang dapat berbagi cerita. Membaca buku atau browsingsitus sejarah Indonesia juga bisa jadi alternatif pilihan. 


6. Traveling ke negara sendiri dulu, baru ke negara lain
Kalau wisatawan asing saja hobi banget traveling ke negara kita ini, masa kita yang tinggal di Indonesia kalah? Indonesia memiliki banyak sekali tempat-tempat wisata yang sangat indah dan harus menjadi tujuan utama destinasi liburan kita. Belum lagi pantai-pantainya yang super fabulous. 


7. Mengikuti kursus atau ekstrakurikuler tari daerah
Tarian tradisional yang dimiliki negara kita enggak kalah cool jika dibandingkan dengan tarian dari negara-negara lain. Malahan, tarian tradisional jauh lebih susah dibanding tarian luar. Jadi, kalau kita bisa menguasai tarian tradisional, tentunya kita bisa sedikit pamer sama teman-teman kita yang ada di luar negeri. 


8. Mencoba berbagai kuliner asli Indonesia
Indonesia terkenal dengan makanan tradisionalnya yang super yummy! Kalau mau dibikin list-nya, bisa sampai berlembar-lembar. Jadi, ayo ajak teman-teman kita untuk mencoba makanan tradisional Indonesia (lebih seru lagi kalau di warung pinggir jalan, karena rasanya yang masih original)!

Intinya, jalani semuanya dari hati, karena cuma hati kita yang bisa dengan jujur merefleksikan seberapa besar rasa cinta kita kepada tanah tempat kita berpijak saat ini.

Selamat Hari Sumpah Pemuda!

Pictures : private collection | gettyimages.com | wikipedia.com | lemper-abon.tumblr.com

26 October 2011

Hanya Punya Satu Nyawa



Lahir dan tinggal di Indonesia selama delapan belas tahun, membuat saya menyadari sebuah realita yang cukup memprihatinkan di negara ini. Lupakan mengenai masalah ekonomi, karena saya tidak akan membahasnya kali ini.
Realita yang saya temukan adalah: Rendahnya apreasiasi bangsa ini terhadap nyawa manusia.
Selesai UTS (Ujian Tengah Semester), teman-teman sekelas mengajak untuk merayakan kebebasan dengan bermain ke salah satu amusement park (AP) yang ada di Jakarta. Awalnya saya sangat  excited dengan rencana ini. Tapi kemudian kedua orangtua saya menasihati supaya tidak ikut pergi, mengingat keamanan berbagai wahananya yang semakin lama semakin bobrok saja.
Setelah berpikir lebih mendalam mengenai nasihat tersebut, saya langsung berubah pikiran. Menyatakan bahwa saya tidak akan pergi AP tersebut sampai keamanannya benar-benar bisa disetarakan dengan AP di negara lain.
Bukannya saya tidak menghargai dan tidak bangga akan kemajuan negara ini. Saya sudah puluhan kali bermain ke AP tersebut. Semua wahana yang ada di sana sudah pernah saya coba. Dari wahana khusus anak-anak (tentunya ketika saya masih kecil), sampai yang paling menguji adrenalin. Simply because i do love adrenaline rush thingy.
Kalau dulu, pikiran saya masih dangkal, khas anak-anak. Yang saya tahu hanyalah bermain ke sana kemari sesukanya tanpa beban. Sama sekali tidak ada ketakutan bahwa ada kemungkinan nyawa saya yang menjadi taruhan.
Tapi sekarang, mendengar berbagai berita yang entah benar atau tidak mengenai korban jiwa yang disebabkan oleh kerusakan dan masalah teknis wahana, saya jadi was-was. Memang berita itu tidak bisa dipastikan kebenarannya. Tapi melihat bukti nyata berbagai permainan lain yang ada di Indonesia, mulai dari flying fox, dan yang baru-baru ini terjadi di sebuah taman bermain air, saya jadi semakin tidak berhasrat untuk mencoba hal-hal berbau ekstrim yang tersedia di negara ini.
Tidak hanya dalam hal permainan ekstrim. Dalam transportasi pun begitu. Sudah bosan rasanya menyaksikan pemberitaan mengenai kecelakaan transportasi, mulai dari kendaraan roda dua, empat, kereta api, kapal laut, sampai pesawat. Kenapa, sih, malas sekali melakukan perawatan? Nyawa ratusan manusia bergantung penuh pada keamanan mesin dan hal teknis lainnya. Apakah sebanding, rasa malas tersebut dengan hilangnya nyawa-nyawa orang tidak berdosa?
Nyawa manusia dihargai dengan begitu rendahnya. Peralatan dan mesin yang digunakan tidak diperiksa serta dirawat dengan serius. Padahal, seiring berjalannya waktu, nilai guna peralatan dan mesin tersebut akan semakin berkurang. Yang berarti, keamanannya juga semakin jauh dari standar.
Saya tahu, nyawa manusia memang sepenuhnya milik Yang Maha Kuasa. Kapan dan dengan cara apa kita akan meninggal, hanya Tuhan lah yang tahu. Tapi sebagai manusia, kita harus menjaga nyawa kita dengan baik, bukan? Hidup cuma satu kali. Masa mau dikorbankan begitu saja dengan cara mati konyol?
Sebenarnya sudah sejak lama saya sangat tertantang untuk mencoba paralayang. Tidak perlu jauh-jauh dari Jakarta, karena di Puncak juga ada. Semoga saja niatan saya itu bisa segera terwujud, tentunya disertai dengan perbaikan keamanan dan kenyamanan yang digunakan, sehingga sesuai bahkan melebihi standar yang ada.
Semoga ke depannya, nyawa manusia bisa menjadi prioritas utama dan mendapat penghargaan tinggi dibandingkan dengan usaha mencari keuntungan semata. Uang bisa dicari, tapi nyawa manusia hanya satu. Tidak bisa dibeli dengan berapa banyak pun uang yang dimiliki.
Picture : moanalittlelouder.tumblr.com

20 October 2011

Sekolah Berjalan



Bus TransJakarta (atau yang sering salah dipersepsikan oleh sebagian besar warga Jakarta sebagai busway) bagi saya merupakan tempat pembelajaran yang sangat riil tentang kehidupan. Kendaraan umum ini seolah menjadi kaca display yang menampilkan berbagai jenis individu dengan keunikannya masing-masing. Singkatnya, segala macam sifat manusia bisa kita temukan selama menggunakan jasa transportasi satu ini.
Mulai dari ramainya gerombolan anak remaja dengan berbagai keceriaannya (jadi ingat dulu saya dan teman-teman saya pernah ditegur oleh penumpang lain dan supir bus saking berisiknya).
Egoisnya anak muda atau pria yang menikmati kenyamanan memperoleh tempat duduk dan tidak mau memberikan tempatnya bagi wanita, ibu hamil, atau manula.
Kemesraan pasangan sejoli di mana tangan sang pria tidak pernah lepas dari pasangannya untuk menjaga agar jangan sampai terpisah atau terjatuh.
Sampai dengan hal menggelikan yang mungkin tidak sengaja kita curi dengar dari obrolan orang lain.
Selain itu, saya juga bisa menikmati aktivitas yang dikerjakan penumpang lain. Mungkin aneh jika disebut menikmati. Tapi memang itulah yang biasanya saya lakukan. Mencermati, mengamati, menikmati.
Mulai dari remaja yang sibuk SMS-an, BBM-an, menulis status, atau mendengarkan lagu lewat earphone.
Orang yang larut dalam buku yang sedang dibacanya.
Pekerja yang berpakaian rapi dan sibuk dengan smartphone-nya.
Orang-orang yang saling berbincang, tertidur, mengamati jalan, or simply just do nothing.
That’s why bus TransJakarta (atau mungkin kendaraan umum lain) menjadi tempat yang tepat untuk mengamati karakter orang lain, menemukan sesuatu yang baru, atau bahkan untuk belajar tentang kehidupan.

Belajar? How can?
Dengan menggunakan transportasi umum, kita belajar untuk mengantri, menunggu giliran dengan tertib, menghargai orang lain, toleransi, simpati, dan banyak aspek penting dalam kehidupan lainnya.
Sekaligus membuat kita sadar kalau kita tidak hidup sendirian di dunia ini. Ada banyak orang dengan berbagai kepribadian dan sifat berbeda. Itulah sebabnya dibutuhkan rasa pengertian dan toleransi.
Karena kalau kita tidak memiliki hal tersebut, maka saat kaki kita tidak sengaja terinjak oleh orang lain, maka bisa berakhir di kantor polisi dan berbuntut panjang. Tidak sengaja tersenggol, terinjak, terdorong, dan lain sebagainya itu hal yang wajar. Prinsip saya, kalau tidak mau tersenggol, ya, jangan naik kendaraan umum. Naik kendaraan pribadi saja. Atau yang lebih ekstrim lagi, pakai baju berduri. Dijamin, tidak akan ada yang menyenggol karena sudah keburu luka-luka duluan.
Begitu pula dengan masalah memberikan bangku yang kita duduki kepada orang lain yang lebih membutuhkan. Wanita yang lebih tua, ibu dengan anak kecil apalagi yang sedang mengandung, manula, adalah pihak-pihak yang WAJIB kita berikan tempat duduk. Di luar itu, kalau jarak tempuh kita tidak terlalu jauh atau kita tidak sedang kelelahan, apa salahnya memberikan tempat duduk untuk orang lain, tanpa memikirkan untung-ruginya. Berdiri selama beberapa saat tidak akan membuat kaki kita patah, atau tulang kita remuk. Selagi masih diberi kesempatan untuk bisa berdiri, dengan tubuh yang sehat dan anggota badan yang lengkap, kenapa tidak kita coba syukuri?
Saat kebetulan naik bus TransJakarta, cobalah amati sekeliling kita. Pasti akan ada saja hal yang membuat sebal, membuat kita tertawa terbahak-bahak, bahkan mungkin menjadi sarana untuk instrospeksi diri.
Karena belajar tidak hanya bisa dilakukan di kelas. Setuju? Kita bisa belajar di mana saja, melalui setiap hal yang terjadi dalam hidup kita, mulai dari yang sederhana sampai yang paling kompleks sekalipun. Banyak jalan menuju Roma, banyak cara untuk belajar.
Picture : yustisi.com

18 October 2011

Go Slowly and See a Lot



“Your drama has a long way to go before it’s over. So don’t force yourself to go quickly. If you go slowly, you can see a lot more, in more detail, than the people who go quickly. If you ask me who would grow more between those two, I’d say it’s the one who goes slowly and sees a lot.” -Kang Oh Hyuk
Penggalan kalimat yang saya dapatkan ketika menonton serial Korea 'Dream High' ini melahirkan sebuah perenungan baru bagi saya. Pemikiran yang sangat unik. Kembali mengingatkan saya bahwa untuk meraih mimpi, kita tidak bisa memaksa diri untuk berlari tergesa-gesa. Banyak hal yang bisa didapatkan selama perjalanan mencapai mimpi. Hal berharga yang dapat dijadikan pelajaran. Proses yang menempa kita untuk kelak menghargai apa yang berhasil kita raih.
Picture : littlemissinvisible.tumblr.com

17 October 2011

SKS [Sistem Kebut SeJAM]



Kalau SKS yang satunya adalah Sistem Kebut Semalam, coba bayangkan kalau malam itu berubah menjadi jam. Itulah yang saya jalani selama masa SMA dan bahkan terbawa sampai kuliah. Saya tidak tahu apa ada orang lain yang mengalami hal serupa dengan saya, karena saya memang baru akan optimal belajar ketika berada dalam keadaan terdesak.
Biasanya saya akan datang lebih pagi ke sekolah saat ujian berlangsung, kemudian belajar dengan mendengarkan teman-teman saya yang lain belajar. Saya adalah tipe orang yang lebih bisa belajar dengan cara seperti itu ketimbang harus membaca kumpulan soal atau materi.
SKS (baik Semalam / Sejam) tentu saja lebih banyak berakhir dengan kekecewaan. Terkadang, selesai mengerjakan soal ujian, saya akan keluar ruangan dengan raut wajah bahagia karena otak saya masih fresh dalam menyimpan memori pelajaran, sehingga dapat menjawab soal-soal dengan baik. Tapi tentu saja hal tersebut terjadi ketika Dewi Fortuna sedang berpihak kepada saya. Jika sedang kurang beruntung, saya akan keluar dengan lemas dan kata-kata seperti ini yang biasanya terucap "Ah, coba gue belajar lebih lama!" maupun kata-kata lain yang intinya sama, penyesalan.

The conclusion is : SKS is NOT effective! Don't try this at home.
Lantas, kalau SKS tidak disarankan untuk dilakukan, apa yang harus dipersiapkan untuk menghadapi ujian?
1. Buat jadwal belajar sesuai dengan kemampuan kita. Maksudnya, kalau sudah berani membuat jadwal belajar selama dua jam, maka kita harus belajar selama dua jam, tanpa mendiskonnya menjadi satu jam. Discipline is the key to success!

2. Ciptakan suasana belajar yang kondusif. Untuk sementara, selama belajar, jauhkan diri kita dari handphone, internet, atau apapun yang bisa membuat pikiran kita bercabang.

3. Menyicil dari jauh-jauh hari. Dont be such a procrastinator! Dengan menunda-nunda waktu belajar, maka pada akhirnya bahan yang harus dipelajari menjadi menumpuk dan kita sudah terlanjur malas belajar.

4. Belajar bersama teman. Segala sesuatu yang dilakukan bersama teman pasti akan terasa lebih menyenangkan, termasuk belajar. Siapa tahu kita akan lebih memahami materi pelajaran kalau diajari oleh teman, karena menggunakan bahasa yang lebih simpledan akrab di telinga.
5. Buat target nilai. Dengan membuat target nilai, maka kita akan terpacu untuk mencapai nilai tersebut. Kalau perlu tuliskan nama saingan utama kita di kelas dalam hal pelajaran. Bukan berarti kita memusuhi mereka karena merasa tersaingi. Sebaliknya, justru kita bisa belajar dengan teman kita tersebut. Manfaatnya bukan hanya kita menjadi lebih pintar, tapi juga membuat teman kita lebih pintar, karena dengan mengajarkan kita, maka dia akan menjadi lebih mahir dalam materi tersebut.
6. Rileks dan teliti. Belajar sudah, berarti tinggal menunggu waktu mengerjakan ujian. Ingat, segala sesuatu yang dikerjakan dengan diliputi kepanikan pasti akan berakhir kacau. Jadi, rilekskan tubuh dan pikiran kita. Kalau cara belajar kita memang sudah benar, tidak ada alasan untuk takut dan panik lagi. Jangan lupa cek kembali pekerjaan kita, mulai dari hitung-hitungan (mafia + ekonomi), ataupun jawaban yang sudah kita tulis di lembar jawab.
#notetomyself Tidak hanya berbagi tips belajar yang benar. Mulai sekarang, saya harus mempraktekkan cara tersebut. Sudah cukup pengalaman UTS pertama saya di bangku kuliah yang tidak berakhir maksimal.
Picture : facebook.com